Jumat, 28 September 2018

MEMBAWA TANYA

Hidup adalah pilihan. Pintar-bodoh, baik-buruk, senang-sedih, surga-neraka, dll, bahkan paras pun sekarang bisa diubah sesuka hati. Memang hal tersebut bukanlah pernyataan mutlak, karena bisa dibatalkan oleh takdir. Tapi takdir adalah urusan Tuhan, manusia tidak mampu menjamahnya. Manusia hanya mampu berusaha untuk dapat menggenggam tujuan dari suatu pilihan.

Hal yang patut dicermati dalam pilihan adalah konsekuensi. Selalu terdapat plus-minus di dalamnya, dan sudah sepatutnya disadari ketika memutuskan pilihan mana yang akan diambil. Maka tidaklah layak jika mengeluh terhadap apa yang telah dipilih. 

Adalah lazim jika dihadapkan rasa bingung ketika menentukan pilihan yang akan menentukan masa depan. Bingung karena bentuk keinginan lebih dari satu, dan harus memilih salah satu setelah melalui pertimbangan. Tidak mungkin menyelam sambil bernafas.

Ini merupakan secuil persoalanku. Banyak keinginan, tapi merasa tidak mampu untuk dijalankan bersamaan. Selalu butuh pengorbanan. Harus ada sebagian jati diri yang dikorbankan. Dengan mengenyampingkan istilah kebutuhan—yang sering menang perdebatan di hadapan keinginan, bagiku keinginan adalah bagian dari jati diri. Karena keinginan berasal dari diri, dan jati diri dibentuk dari berbagai keinginan.

Bukan perkara mudah untuk membuang sebagian jati diri. Yang selalu terjadi adalah aku berlarut-larut dalam kebingungan sambil melakukan apa yang bisa dilakukan. Melakukan suatu aksi yang disertai dengan kebingungan selalu jauh dari kata totalitas. Bukan gayaku. Aku tidak menikmatinya. Aku ingin semuanya berakhir sebaik mungkin melalui pergerakan yang total. Masalah hasil? Itu bukan urusanku, dan di tahap itulah aku baru mengakui takdir. Serakah? Aku tidak menganggap bahwa memiliki banyak keinginan adalah serakah. Dunia ini begitu luas. Aku hanya menginginkan sebagian kecil darinya. Apakah salah?

Sangat disayangkan bahwa hidup berbatas waktu. Selain konsekuensi dari pilihan, faktor waktulah yang menjadi salah satu pemicu diriku diterpa kebingungan. Seandainya tak ada waktu, mungkin semua keinginan bisa diusahakan. Tidak mungkin aku membunuh waktu, sebab akulah yang pasti terbunuh. Tapi waktu juga patut disyukuri. Dengan waktu, tanpa disangka sering terjadi proses penyisihan terhadap sebagian keinginan yang sebelumnya menjadi bahan kebingungan.

Gelar sarjana membawa tanya. Aku tidak menyalahkan diriku karena menenggelamkan diri pada dunia strata-1. Sejak dulu sudah dipertimbangkan resikonya. Hanya saja mencoba tidak peduli akan tanda tanya yang terletak setelah gelar didapat. Memang dari awal punya tujuan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, semakin matang kedewasaan, tujuan awal malah menjadi semu. Inilah hidup. Selalu mendapatkan kejutan di masa depan.

Aku ingin bergerak di bidang tani, ternak, musik, seni rupa, menulis prosa, pengabdian masyarakat, dan tak kapok ingin lagi meneruskan pendidikan formal. Itu hanya sebagian keinginan. Di sisi lain, usiaku hampir menembus kepala tiga disertai lemahnya kekuatan mental dan finansial. Hayoh, apa belum cukup kusut?! Saran terbaik dari seorang guru adalah melakukan semuanya, atau memilih sebagian yang sekiranya tidak akan merusak diri sendiri. Tapi, inilah kelemahanku, hampir tak berkutik di hadapan pilihan. Aku tak mau lagi memasrahkan semuanya kepada waktu. Umurku sudah berani untuk menolaknya. Tak ada lagi sikap mengulur waktu untuk mendapatkan takdir.

Seandainya melanjutkan pendidikan formal, maka hampir semua keinginan yang lain tak akan terjamah. Sudah seharusnya fokus. Kemungkinan yang akan terjadi, aku akan bergumul dalam proses perkuliahan sambil meratapi usia dan masa depan, kemudian akan diakhiri lagi dengan tanda tanya.

Nilai kumulatif akademisku di tahap-tahap sebelumnya tidak pernah bagus. Tentunya bukan penggila ilmu pengetahuan. Bukan pula tentang mendapatkan gelar atau lembaran ijazah, sebab sampai saat ini ijazah sebelumnya belum berguna selain untuk syarat melanjutkan pendidikan formal. Begitu juga bayanganku di masa depan, seandainya perkuliahan selesai, gelar maupun lembaran tanda kelulusan tak akan digunakan untuk menunjang karir, sebab ingin melakukan segala keinginan yang sebenarnya tidak perlu menggunakan seperangkat tanda kelulusan pendidikan formal.

Motivasiku untuk melanjutkan pendidikan adalah karena aku bodoh, dan untuk mendapatkan berbagai kesenangan. Walaupun bukan penggila ilmu, dan kadang mengeluh dalam menjalani pendidikan formal, tapi aku selalu mendapatkan kenikmatan tersendiri. Kenikmatan yang membuatku candu. Aku senang bertemu banyak orang yang tidak terikat dengan rutinitas pekerjaan kantor—orang-orang yang menyenangkan. 

Sebagian persoalan dunia pendidikan ternyata membuatku candu. Nikmat rasanya jika terdapat persoalan yang membuatku tertantang, kemudian bisa menyelesaikannya walaupun dengan proses yang tidak sederhana dan hasil kurang memuaskan. Mengenai tantangan, ada satu hal yang ingin diselesaikan, warisan dari tahap pendidikan sebelumnya. Sebenarnya sudah berusaha diselesaikan, tapi merasa kurang puas, terasa ada bagian-bagian hilang yang perlu diselesaikan. 

Adapun mengenai motivasi bahwa aku bodoh, dengan pendidikan formal pola pikirku akan lebih matang. Bisa dibayangkan aku yang lulusan SMP, lulusan SMA, dan sarjana. Aku melanjutkan pendidikan formal supaya tetap belajar. Banyak orang berkata bahwa belajar bisa di mana pun dan kapan pun. Aku mengakuinya, pernyataan yang tidak salah. Tapi mungkin aku hanya bisa belajar dari pengalaman hidup, hanya belajar dari permasalahan masa lalu. Belum tentu aku bisa mempelajari suatu hal yang belum aku ketahui, mempelajari hal yang bukan bagian dari masa laluku. Bagi orang lain mungkin mudah belajar sendiri tanpa bantuan pihak lain seperti instansi pendidikan formal. Hal itu bagiku tidak mudah. Aku butuh motivasi yang kuat, suruhan, bahkan ancaman dari pihak lain.

Harapan terbesarku dari pendidikan formal adalah aku bisa membawa manfaat besar bagi diri sendiri dan pihak lain, entah bagaimana pun caranya. Juga, ingin meruntuhkan kebiasaan keluarga yang biasanya terhenti pada tahap strata-1, karena itu bukanlah tahap akhir pendidikan, dan pendidikan itu penting. Ilmu tidak berat untuk dibawa kemana-mana. Sayangnya pilihan ini selalu membuatku khawatir. Mau sampai kapan aku berkutat di dunia pendidikan, sementara aku harus tetap meneruskan hidup dengan cara memperkuat finansial. Dilema klasik.

Seandainya aku memilih pilihan selain pendidikan formal, mungkin dua atau lebih keinginan bisa dilakukan. Tentu fokus salah satu, dan yang lainnya merupakan sampingan. Aku pun bisa memaksakan diri untuk belajar—di luar instansi formal. Yah..., memaksakan diri, pernyataan tepat bagi orang sepertiku yang belum cukup mandiri untuk belajar sendiri.

Tentu semua keinginan punya tujuan. Tujuan utama tetap manfaat. Dengan bertani (termasuk ternak) aku ingin menginspirasi, dan ingin membantu pihak lain dari penghasilan yang didapat. Bertani adalah hal yang kurang diminati oleh generasi sekarang. Bahkan lulusan pendidikan di bidang tani pun belum tentu bertani. Bagaimana akan ada regenerasi jika kondisinya seperti ini? Mungkin satu abad kemudian semua pasokan pangan negeri ini berasal dari impor. 

Aku ingin membuktikan bahwa bertani itu menjanjikan dari sudut pandang keuntungan. Bertani tidak harus selalu mempunyai lahan yang luas, modal tinggi, dan kerja (sangat) keras untuk mendapatkan hasil luar biasa. Yang diperlukan adalah konsisten berusaha, jauhi kemalasan, dan kreatif. Tentu ilmu pengetahuan dan penelitian pun diperlukan, tapi porsinya tidak lebih besar dari praktik lapangan.

Negara ini kaya dengan alamnya. Masih banyak lahan kosong yang bisa dianggap tanah tak berguna. Paling diisi rumput liar, kebun yang bisa disebut kebun-kebunan dengan alasan hasil tani dibiarkan begitu saja—sekadar menjadi penghias lahan kosong, dan yang lebih parah adalah gersang. Lalu, kenapa masih banyak pengangguran, masih banyak para pengeluh yang beranggapan sulit mencari pekerjaan. Mungkin karena pola pikir mereka terlalu sederhana, atau sengaja membatasi luasnya peluang usaha, menganggap bahwa pertanian itu bukan lahan pekerjaan. Mungkin karena gengsi, takut lelah dan terkena sinar matahari, atau mungkin karena alasan-alasan lain. There is no free lunch. Semua perlu usaha. Sebagian besar jumlah penghasilan sebanding dengan apa yang diusahakan.

Harapanku ingin bisa mendapatkan penghasilan besar dari pertanian, melebihi penghasilan dari pekerjaan yang menjadi primadona di mayoritas masyarakat sekarang. Penghasilan yang cukup untuk diri sendiri, keluarga, untuk masa depan di hari tua, dan untuk membantu pihak lain. Sangat besar pula harapan supaya masyarakat bisa menikmati kehidupan sangat layak hasil dari tani. Aku ingin membuktikan bahwa dengan lahan kecil, modal minim, dan kreatifitas bisa menghasilkan penghasilan luar biasa dari tani. 

Seandainya aku bergerak di bidang seni dan sastra—karya tulis prosa dan musik, mungkin aku bisa melakukannya sambil bertani. Aku masih bisa belajar, tapi tidak untuk pendidikan formal. Untuk membuat karya harus selalu mengembangkan pengetahuan, harus ada inspirasi dan referensi. 

Dari dulu aku selalu ingin menjadi guru. Konyolnya, guru yang dimaksud tidak jelas. Ketika SD, ingin menjadi guru SD; masuk SMP, ingin jadi guru SMP; dst. Ketika masuk jenjang strata-1, idealismeku berubah. Aku tetap ingin menjadi guru, tetapi di luar instansi formal dan tidak memiliki nilai komersil. Pikiran bodohku berbisik, bahwa pendidikan belum layak dijadikan lahan komersil dalam kondisi masyarakat sekarang ini. 

Dunia pendidikan sekarang kenyataannya disediakan bagi orang-orang mampu secara finansial dan mental—termasuk berprestasi. Padahal makna dasar pendidikan dimaksudkan supaya dapat mencerdaskan anak bangsa, memperkuat mental, dan selanjutnya diharapkan mampu mandiri dalam memperkuat finansial. Memang pada tahap pendidikan dasar dan menengah disediakan sekolah gratis. Tapi untuk jenjang yang lebih tinggi, tidak ada yang gratis kecuali bagi masyarakat dengan kondisi perekonomian lemah, berprestasi, dan terlanjur pintar. Itu juga butuh seleksi, tidak bisa lolos begitu saja untuk mendapatkan bantuan atau beasiswa. Tidak ada kesempatan bagi kalangan yang memiliki keinginan tapi tidak cukup dalam hal mental dan finansial. 

Aku tidak bisa menggantungkan hidupku dengan menjadi guru reguler di instansi pendidikan formal. Tidak bisa disebabkan idealismeku yang tadi disebutkan, serta perkiraan jumlah penghasilan/ongkos/upah/buruh yang akan didapat. Tidak bisa dipungkiri bahwa seorang guru pun butuh makan, butuh menghidupi keluarga, membutuhkan finansial untuk memenuhi kebutuhan material dan hal yang bersifat mental. Aku kira di zaman sekarang ini belum pernah mendengar yang namanya murni pengabdian dalam dunia pendidikan, karena sudah dibalas dengan imbalan, sehingga kiranya tidak cocok lagi jika diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Mungkin ada yang benar-benar mengabdi, tapi aku belum pernah mendengarnya. Aku akan menjadi guru di suatu instansi jika kekuatan finansialku tidak lagi membutuhkan imbalan. Alternatif lain, menjadi guru di instansi dengan jam kerja yang sedikit, sehingga bisa memperkuat finansialku melalui bidang lain, atau menjadi guru di luar instansi secara suka rela. 

Masih ada cara lain untuk menjadi guru, dan aku tidak akan terbebani dengan istilah pengabdian murni atau komersil. Aku bisa menjadi guru melalui seni dan sastra. Tentunya bidang ini bersifat komersil, tetapi tidak ada tuntutan kepada orang lain untuk menikmatinya. Tidak seperti pendidikan formal yang masyarakat terasa dituntut untuk melaluinya demi selembar ijazah sebagai syarat penunjang karir. Aku bisa menulis apa pun yang ada di pikiran, atau menyampaikan berbagai pesan melalui musik. Bidang ini tidak akan dijadikan profesi utama. Industri musik dan karya tulis penuh dengan spekulasi. Hal ini karena persaingan yang sangat ketat, dan setiap orang punya selera. Aku tidak bisa memaksa orang lain untuk membeli karya yang aku buat. Seni dan sastra bukanlah sembako yang selalu dicari masyarakat. Untuk masalah finansial, mungkin aku akan menitikberatkan bidang lain yang jumlah penghasilannya lebih menjanjikan. Memang hampir semua hal penuh dengan spekulasi, tapi bisa diperkirakan.

Seandainya aku bergerak di bidang pengabdian masyarakat, entah apa yang akan terjadi, yang jelas tidak bisa melanjutkan pendidikan formal, dan tidak bisa fokus untuk memperkuat finansial. Sebenarnya semua yang aku inginkan merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat, hanya saja yang dimaksud pada bidang ini lebih tepat menyentuh persoalan masyarakat dan lingkungan, sifatnya pun non-komersil. Aku ingin mengelola sampah. Persoalan masyarakat, bahkan dunia. Semakin modern peradaban, semakin makmur masyarakat, semakin tinggi pula sampah yang dihasilkan. Tapi sangat disayangkan bahwa sebagian masyarakat kurang peduli dengan masalah ini, bahkan ada yang tidak peduli. Seandainya tidak ada penanganan yang mapan, mungkin berabad-abad kemudian dunia ini dipenuhi sampah. 

Aku ingin menangani persoalan sampah sampai ke akar-akarnya. Butuh perjuangan yang besar, apalagi didukung dengan kurangnya finansial—bisa dikatakan hampir tanpa modal. Untuk menangani masalah ini memang harus dimulai dari akarnya, bukan dari batang, ranting, daun, ataupun buahnya. Tujuannya supaya tidak tumbuh lagi, dan masalah pun selesai. Tapi bukan berarti tidak akan ada lagi sampah. Harapannya supaya sampah dikelola dengan baik, sehingga tidak ada yang buang sampah sembarangan dan tidak menggunung di tempat penampungan akhir.

Yang dimaksud diawali dari akar adalah melakukan dialog dengan masyarakat secara langsung. Kemudian setiap masyarakat bisa membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah, dan dikirim ke tempat penampungan yang telah disediakan. Di tempat penampungan, sampah diolah menjadi berbagai produk, atau dibakar sampai musnah jika sekiranya sampah tidak bisa diolah. Minimal satu desa punya satu tempat penampungan dan pengolahan. Aku kira tidak akan ada sampah yang tersisa, karena setiap sampah—organik maupun anorganik—bisa diolah. Sampah organik bisa menjadi pakan atau pupuk, sementara sampah anorganik bisa dijadikan produk lain yang berguna dan memiliki nilai jual. Ujung-ujungnya tetap komersil, tapi fokusnya bukan di sana. Bidang ini tidak didasari bisnis, tetapi pengabdian yang hasilnya diharapkan memiliki nilai komersil. Berbeda dengan bidang tani yang didasari dengan bisnis, kemudian hasilnya diharapkan bisa membawa manfaat.

Aku kira tekadku sudah mantap untuk menjalankan bidang ini. Resikonya sudah diperhitungkan. Tapi guruku berhasil membuatku ragu. Dia memberikan perumpamaan mengenai lilin. Kenapa aku harus menerangi lingkunganku, sementara diriku sendiri terbakar? Dulu aku berpikir bahwa menerangi pihak lain adalah hal positif. Keuntungan yang akan aku dapat adalah nilai positif bagi banyak orang termasuk diriku sendiri. Tapi pemikiranku sekarang berbeda. Apa gunanya jika cara yang aku lakukan dapat menghancurkan diri sendiri? Cara yang mulia, tapi tidak tepat. Seperti halnya membunuh semua politikus dan keluarganya untuk mencegah terjadinya korupsi, karena semua politikus berpotensi menjadi koruptor, begitu juga keluarganya karena diduga mempunyai sifat yang sama. Konyol. Cara yang bagus tapi tidak tepat, karena belum tentu setiap politikus akan menjadi koruptor, begitu juga keluarganya.

Untuk melakukan pengabdian ternyata tidak boleh melupakan diri sendiri. Mungkin harus terlebih dahulu membangun pondasi finansial yang kuat, sehingga aku bisa memenuhi hak untuk kebutuhanku, dan memenuhi kewajiban untuk membagi kebaikan kepada pihak lain.

Semua konsekuensi dalam setiap keinginan membuatku bingung. Semuanya tidak membuatku takut, tapi aku belum tahu harus memilih yang mana. Aku tetap ingin melakukan semuanya.

Selamat tinggal. Sampai jumpa, Yogyakarta.


Dari tempat perenungan. Terakhir kali. Berharap bisa kembali. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar