Kamis, 29 Maret 2018

IMBALAN ADALAH HARGA MATI

Di zaman yang katanya maju ini terdapat suatu kejanggalan. Ketika suatu pertolongan selalu dibayar dengan imbalan. Uang adalah media umumnya, dan materi lain adalah alternatifnya. Seolah-olah sikap sukarela tidak berguna. Bagaimana bisa menuju ikhlas jika setiap usaha selalu diganti dengan imbalan? Seandainya menolak ketika ditawarkan imbalan, tolakan tetap tak berguna, sebab pemberi imbalan sangat memaksa. Niat sukarela pun ternoda.

Fenoma ini menguak persoalan lain. Ternyata dunia ini hampir sepenuhnya terbalik. Niat baik yang ditawarkan terkesan tidak menarik sama sekali, bahkan mungkin lebih buruk lagi karena dianggap sebagai modus untuk menjalankan tindak kriminal. Apakah tidak lagi tersedia lahan untuk melakukan kebaikan dengan sukarela? Apakah harus dilabeli dengan harga supaya dapat terlihat sebagai niat baik? Sungguh menggelikan, 2 hal dengan kualitas yang sama, salah satunya sangat menarik di depan banyak mata hanya karena dilabeli harga, dan satunya lagi tertolak sebab tak berharga. Tak berharga!? Sampah tertolak karena tak berharga, dan hanya bisa diterima bagi yang bisa melihat harga pada barang tak berharga. 

Sikap sukarela bukan berarti tak berharga, hanya saja sampai kapan pun tidak bisa dibeli dengan sejumlah harga. Terserah jika tertolak di masyarakat karena tidak dilabeli harga. Tak peduli karena yakin suatu hari hal yang sebelumnya tertolak akan diterima dan banyak dicari. Idealisme bukanlah barang murahan yang bisa luluh lantah sebab faktor tuntutan zaman—yang sebenarnya merupakan bentuk idealisme yang disepakati kalangan mayoritas. Dan bukan berarti aku tidak suka imbalan, apalagi bersikap sombong dengan cara menolak imbalan. Di kehidupan ini tidak ada yang gratis. Aku sangat menyukai imbalan, tapi bentuknya bersifat mental.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar