Hoaks memang menarik. Kita bisa anggap bahwa hoaks adalah suatu kebohongan, dan ini ada hubungannya dengan fitnah. Hasil suatu fitnah tak lepas dari pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan. Sangat setuju jika agama melarang keras fitnah, karena dampak yang dihasilkan sangat tidak berprikemanusiaan.
Dalam Islam telah dijelaskan bahwa salah satu tanda kiamat adalah banyaknya fitnah. Tanda tersebut sedang terjadi sekarang. Hoaks tersebar di mana-mana, terutama di dunia maya dan media massa. Entah sudah berapa banyak berita bohong yang dijajalkan, dan konyolnya masih ada saja orang yang memakan bulat-bulat berita tersebut dan menyebarkannya tanpa analisis terlebih dahulu. Inilah akhir zaman.
Uniknya, sekarang hoaks seolah-olah menjadi primadona. Banyak pihak yang tak malu menggunakan hoaks demi kepentingannya. Salah satunya dijadikan alat politik. Jika diperhatikan, aktifitas politik negeri selalu terbagi menjadi lebih dari satu kubu. Kubu-kubu tersebut, bukannya pusing bersama-sama—gotong royong—untuk memajukan negeri, tetapi saling menjatuhkan demi mendapatkan posisi aman dan nyaman di pemerintahan. Tujuan politik yang terkesan bukan untuk mengabdi kepada negara, melainkan untuk kekuasaan yang selanjutnya akan menguntungkan kepentingan segelintir pihak. Saling menjatuhkan dengan cara membesar-besarkan kesalahan kubu lain, dan yang lebih ekstrim adalah meluncurkan amunisi hoaks supaya dampaknya melingkupi radius yang lebih luas dengan kerusakan yang sangat membekas.
“Seniman menggunakan kebohongan untuk beritakan kebenaran, sementara politik menggunakan kebohongan untuk menutupi kebenaran”—penggalan dialog film V for Vendetta.
Khayalan mengenai dampak hoaks yang akan terjadi, (1) masyarakat percaya begitu saja sehingga salah satu kubu politik diuntungkan dan kubu lain dirugikan, sementara masyarakat tak tahu akan mendapatkan apa—bisa kerugian, keuntungan, atau nothing; (2) masyarakat mengikuti kabar yang beredar, tetapi masyarakat dibuat bingung. Semakin sering dicekoki hoaks, maka pola pikir masyarakat menjadi kusut—tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah; dan (3) masyarakat tidak percaya, bahkan mungkin tidak tertarik untuk melirik/melihat/mendegar/membaca kabar politik yang beredar, sebab bosan terus-menerus dibohongi dan dibodohi. Jika dampak (3) yang dipilih masyarakat, maka hoaks di lingkungan politik pun jadi tidak berguna, kemudian hoaks tidak akan digunakan lagi.
Kisah khayalan hoaks di lingkungan politik tidak berhenti di titik tersebut. Nyatanya dampak (1) dan (2) lebih menarik untuk menjadi bahan khayalan. Khayalan yang membuahkan pertanyaan. Pertanyaan yang menyinggung kepentingan lain. Apa hoaks dalam lingkungan tersebut hanya dijadikan alat politik negeri saja? Mungkin tidak, sebab “mungkin” digunakan untuk pihak lain di luar percaturan politik negeri. Lihat saja dampak (2), ketika pikiran masyarakat menjadi kusut, maka masyarakat sulit untuk berkembang, karena pikiran mereka sudah terjebak dalam kekusutan. Bahkan yang lebih buruk, ketika pikiran kusut memutuskan untuk memilih salah satu antara “hoaks adalah benar” atau “hoaks adalah salah”, masyarakat saling beradu argumen dan mempertahankan bahwa argumennya paling benar. Kemudian, DAARRR....! masyarakat pun saling benci satu sama lain. Yang diuntungkan siapa? Tentu pihak yang senang melihat masyarakat kita tidak berkembang dan saling menusuk.
Dampak (1) dan (2) juga memberi keuntungan bagi bisnis media massa dan dunia maya. Ini bukan bisnis kecil. Ketika lingkungan bisnis mereka diminati banyak orang, maka semakin banyak pula penghasilan (dari iklan) yang didapat. Dalam kasus ini, si pebisnis tak peduli apakah masyarakat dibohongi, dibodohi, dirusak, selama bisnis mereka lancar jaya. Bisa jadi pihak inilah yang sengaja membuat drama hoaks dengan tokoh, alur cerita, dan konflik yang mereka buat sendiri. Demi uang tersayang. Cara bisnis busuk yang payah, seolah-olah tak ada lagi bisnis lain yang lebih sehat dan tidak merusak lingkungan masyarakat.
Ini hanya khayalan. Tak perlu dipikirkan. Khayalan tidak bisa dinyatakan sebagai kebenaran sebelum adanya pembuktian. Khayalan yang tidak terbukti adalah hoaks. Hoaks yang dipercayai masyarakat adalah mitos. Mitos adalah cerita yang berfungsi untuk menggerakkan masyarakat. Maka, politik adalah mitos, karena keduanya mempunyai kedudukan fungsi yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar