Minggu, 25 Februari 2018

ASMARA

Aku benci asmara. Selain memberi rasa senang, asmara juga meninggalkan rasa sakit dan bingung yang luar biasa. Terlalu banyak perasaan yang meliputi asmara, sehingga aku memilih untuk benci. Hanya karena asmara, aku bisa begitu lelah. Teramat lelah melebihi lelahnya kerja fisik berjam-jam. Begitu lelah karena asmara adalah masalah jiwa. Ada yang bilang bahwa kekuatan jiwa bisa melebihi fisik. Segarang apa pun fisiknya, bisa luluh lantah jika jiwanya terluka.

Aku membenci salah satu karunia yang diciptakan Tuhan. Durhaka. Aku benci asmara karena mungkin kisah asmaraku tak semulus kisah mereka yang hampir setiap hari dirundung asmara dengan penuh senyuman dan canda tawa. Bahkan aku iri dengan mereka yang bisa bertengkar karena asmara, tetapi tetap bertahan dalam buayan asmara. Ya, iri, mungkin lebih tepat jika permasalahanku ini disebut dengan iri, bukan benci. Iri karena aku bukan pelaku asmara, tetapi Tuhan memberiku naluri untuk merasakannya. Persoalan klasik.

Terasa tersiksa. Untuk sekarang naluri asmara bagiku adalah siksaan. Sebenarnya bukan persoalan yang rumit, semua penyakit ada obatnya, semua ada jalan keluarnya. Mudah saja. Hanya perlu mendekati lawan jenis yang membuat hatiku bergetar, kemudian siksaan akan berakhir, entah akan berujung kecewa maupun sebaliknya, yang jelas rasa penasaran terhadap perasaan asmara akan terjawab. Tapi, hidup tak semudah logika. Buktinya sampai sekarang aku masih tersiksa karena asmara.

Persoalanku adalah diriku sendiri. Seolah-olah jiwaku terbagi dua, dan keduanya tidak sejalan. Bagian yang satu begitu menginginkan asmara, tetapi bagian yang lain selalu membantahnya. Keduanya tak pernah akur, selalu terjadi perang batin, dan hal ini selalu terjadi hampir setiap hari, sehingga wajar jika aku begitu lelah. Entah apa yang ada di dalam bagian jiwa yang selalu menyanggah asmara, selalu memberi batas terhadap bagian jiwa yang selalu terbuka dengan karunia Tuhan. Banyak hal yang bisa dijadikan bahan spekulasi untuk menyimpulkan wujud dari jiwa tersebut. Mungkin jiwa tersebut merupakan bentuk kumpulan dari sifat pembangkang, pengecut, munafik, keragu-raguan, dll. Tapi, mungkin juga jika jiwa tersebut merupakan bentuk dari berbagai hal yang sebenarnya baik untuk kelangsungan hidupku. Justru karena jiwa tersebut selalu membatasi naluri, aku merasa sepenuhnya menjadi manusia, tidak seperti hewan atau setan yang sebagian besar hidupnya dijalankan dengan nafsu.

Dirikulah yang membuat semua hal bagian dari kisahku menjadi rumit. Aku kira—sebagai pelajar—diriku tidak berbakat menjadi manusia cerdas yang sepatutnya mampu menyederhanakan setiap realitas, juga tidak berbakat untuk terjun ke masyarakat membawa segudang manfaat sebab selalu merumitkan persoalan yang sederhana. Aku disibukkan oleh diriku sendiri. Aku begitu pengecut, selalu menyerahkan segala persoalan kepada waktu, menyerahkan segalanya kepada takdir, termasuk persoalan asmara. Dari dulu aku selalu menyerahkan persoalan asmara kepadanya, tanpa usaha yang jauh dari kata maksimal. Karenanya aku sempat melupakan asmara, pernah menikmati asmara, dan karena itu pula aku sering merasa tersiksa sebab energiku dihabiskan oleh perang batin kedua jiwa yang selalu memperdebatkan asmara dan masih belum mampu berdamai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar