Seperti biasa, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dan seperti biasanya, aku hidup dengan kebiasaan yang biasa, terasa buruk di setiap detiknya. Aku tidak berubah. Beberapa kali aku merencanakan supaya diri terbebas dari kebiasaan buruk, tetapi hanya berakhir dengan keburukan. Ya, karena aku tidak berubah. Rencana hanya sekadar rencana, dan tidak berharga karena tanpa disertai realitas.
Hidupku bukan tanpa mimpi. Banyak yang aku inginkan. Sayangnya sebagian keinginan tidak pernah terwujud. Bahkan lebih buruk lagi sebab keinginan seolah-olah tidak pernah menjadi motivasi. Keinginan hanya sebatas bayangan, kemudian berlalu tanpa bekas; keinginan terbayang lagi, kemudian berakhir dengan cerita yang sama. Itulah hidupku, selalu berputar dalam derita yang sama. Aku pasrah jika dianggap bodoh, karena tidak pernah belajar dari sejarah. Ada yang bilang bahwa orang yang tidak belajar dari masa lalunya ditakdirkan untuk mengulang nasib serupa.
Sekarang aku tak tahu berada dalam golongan mana. Mungkin sebagai orang yang tidak pandai bersyukur, atau mungkin orang yang menyatakan syukur dengan cara berbeda. Bukan maksud untuk membela diri, sebagian keinginanku untuk sementara terwujud. Sebagian kebiasaan buruk berhasil ditinggalkan. Walaupun di masa depan bisa saja kebiasaan tersebut kembali dilakukan, tetapi aku berharap banyak supaya melupakannya, dan tidak pernah mengulanginya. Namun, hal yang membuatku masih mengeluh adalah sebagian lain dari kebiasaan buruk masih aku pertahankan. Kata ”pertahankan” aku pilih karena memang tidak pernah sehari pun kebiasaan tersebut bisa aku tinggalkan. Bukan berarti tidak mau, sudah jelas aku ingin terlepas, tetapi seperti napas, kebiasaan buruk dengan sendirinya bergerak dalam tubuh. Setiap kali aku berbicara pada diri sendiri untuk tidak melakukan kebiasaan tersebut, hasilnya semakin kuat dorongan untuk melaksanakan apa yang tidak aku inginkan. Memang rumit, tetapi itulah kenyataan. Hal yang sangat konyol adalah ketika memaksakan diri berhenti berjam-jam untuk tidak melakukan kebiasaan buruk, hari itu juga tubuhku sakit. Semakin heran lagi ketika aku menyerah dan kembali melakukan keburukan dengan harapan bisa sembuh, tetapi hasilnya malah bertambah sakit. Entahlah. Mungkin aku diciptakan untuk menjadi konyol.
Aku bingung untuk memilih bersyukur atau bungkam. Sebagian kebiasaan buruk telah terlepas, tetapi aku merasa hidup sebagai orang yang buruk karena kebiasaan buruk lain yang masih dilakukan. Bukankah karena nila setitik rusak susu sebelanga? Walaupun banyak kebiasaan buruk telah ditinggalkan, tetapi jika masih melakukan keburukan lain, semuanya seolah-olah tak berguna. Secara verbal aku tidak bersyukur terhadap apa yang aku dapatkan, karena aku ingin benar-benar terlepas dari semua kebiasaan buruk, baik yang telah disadari maupun belum. Itulah hal yang sempat aku singgung sebagai bentuk syukur dengan cara berbeda. Aku tidak puas dengan apa yang sementara telah diperoleh, disertai keinginan untuk mendapatkan lebih banyak dalam hal kehidupan positif. Namun, bisa saja aku bertindak gegabah, karena bisa jadi apa yang aku simpulkan adalah kesalahan besar, dan mungkin apa yang aku jalani adalah bentuk dari keserakahan. Wajar jika tulisan ini memusingkan, sebab aku sedang berada di alam tidak waras. Jika aku waras, maka aku tidak melakukan satu pun kebiasaan buruk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar