Pada akhirnya, aku pun mengakui bahwa hidup adalah proses, tak mampu menemukan alasan untuk membuktikan kesalahan atas pernyataan tersebut. Walaupun alasan dicari secara paksa, demi sebuah pembenaran, aku hanya akan mendapatkan ketiadaan, membuang waktu, rasa lelah, dan berujung pada kekecewaan. Pembenaran adalah proses untuk mencapai kebenaran, dan proses tersebut akan berhenti manakala tak bisa lagi menemukan alasan untuk menyalahkan.
Aku seorang pembangkang. Aku malu mengatakannya, dan selalu menganggap bahwa menjadi pembangkang adalah penyakit. Anggap saja, dengan cara mengatakan aib pribadi, hal tersebut merupakan salah satu bentuk penyesalan—sadar bahwa pembangkang tidaklah baik. Tak mudah untuk mengubahnya, karena hal tersebut merupakan intuisi diri yang melahirkan watak, dan sedikit menyalahkan takdir. Serta, tak mudah mengubah karena ada saat di mana aku membutuhkannya, sehingga dipelihara, untuk digunakan sebagai senjata dalam perlawanan ketidakbenaran. Pembangkang bagai pedang bermata dua, aku bisa melukai dan dilukai, sehingga perlu pengendalian yang waras supaya pedang tersebut hanya terbatas sebagai alat untuk melukai.
Bukti dari pembangkanganku adalah bersikap ragu atas jawaban final mengenai proses, tak mau menerima. Mengakui dan menerima merupakan dua hal yang berbeda. Bisa saja mengakui, tetapi hati tak menerima; atau sebaliknya, tak mengakui ketika menerima. Pikiranku menggerutu bahwa makna proses terlalu umum. Tak akan pernah mengerti hakikat suatu proses jika tidak berada dalam ranah kontekstual. Bisa jadi proses tersebut untuk menuju kesenangan, kebahagiaan, kepuasan, kehidupan kekal, atau menuju pada pengabdian yang suci. Hmmm..., rasanya alasan “pengabdian suci” terlalu romantis, penuh dengan kepalsuan. Yang aku tahu, dan mungkin tidak sepenuhnya benar, hanya ada dua hal besar mengenai tujuan sekaligus nasib yang selalu dibayangkan manusia, yakni untung dan rugi. Akui saja, keuntunganlah yang selalu diinginkan oleh sebagian besar manusia. Hanya persona dengan keimanan tingkat tinggi—sampai mati rasa dan lupa emosi—yang berhak menyandang gelar pengabdian suci.
Mungkin karena efek iklim, ditandai dengan seringnya langit mendung dan rintik hujan, jiwaku menjadi lemah, melankolis. Jijik aku membayangkannya. Lebih suka membayangkan diriku yang senang mendengarkan musik cadas, funky, kaya ritme, musik yang penuh perlawanan; atau diri yang bersikap sinis dengan campuran easygoing. Perlahan-lahan telinga membuka ruang bagi musik yang ringan untuk didengar, slowly, penuh dengan ratapan. Sampai akhirnya, telinga pun menolak ketika music player mengeluarkan nada garang. Sial, perasaan mulai dipengaruhi. Begitu besar peranan nada, adalah salah satu alasanku yang berkeinginan untuk meninggalkan musik, demi mengurangi asupan nada, supaya mampu mengontrol diri.
Melankolis menyebabkan pikiran jenuh untuk melaju ke masa depan, sehingga terdiam dan mundur, kemudian membuka pecahan memori lama yang tersebar dalam sel-sel otak. Sambil menghisap rokok dengan tatapan kosong mengarah pada tetesan hujan di waktu sore menjelang malam, berbagai lembaran senang, sakit, sedih, dsb., semuanya terbayang pada layar belakang mata. Sebagian kenangan membuatku rindu. Kiranya hal tersebut perlu diimbangi dengan musik, tetapi telinga memaksa untuk mendengarkan nada sendu-mendayu, sehingga bukan keseimbangan yang didapat, melainkan semakin tenggelam dalam kerapuhan.
Tak banyak yang bisa aku lakukan. Terjebak hujan dalam perjalanan, tak bisa melaju untuk menyegarkan pikiran dan perasaan, tak mau memaksa beranjak karena malas basah-basahan. Lebih baik aku menikmatinya, menikmati segala macam kenangan yang direstui oleh hati. Biarlah, lagi pula hanya sejenak aku meracuni diri dengan kenangan. Percuma melawan, karena hati tidak menyukai dusta. Menggerakan bagian lain dalam diri yang tidak sesuai dengan suasana hati bagaikan demonstrasi, penuh dengan kekacauan. Jika hati dikacaukan, maka berpotensi besar mengacaukan segalanya, karena hati adalah pusat pemerintahan. Hanya akal yang mampu menyentuhnya, tetapi tragis, kondisinya sedang tidak berbeda dengan hati. Berharap ada pihak yang datang menawarkan alkohol, atau bentuk apa pun bagian dari narkotik, supaya jiwaku kacau tak sadarkan diri, supaya tidak dikuasai oleh kenangan, sebab rokok sudah tidak mampu menenangkan.
Aku seorang pembangkang. Aku malu mengatakannya, dan selalu menganggap bahwa menjadi pembangkang adalah penyakit. Anggap saja, dengan cara mengatakan aib pribadi, hal tersebut merupakan salah satu bentuk penyesalan—sadar bahwa pembangkang tidaklah baik. Tak mudah untuk mengubahnya, karena hal tersebut merupakan intuisi diri yang melahirkan watak, dan sedikit menyalahkan takdir. Serta, tak mudah mengubah karena ada saat di mana aku membutuhkannya, sehingga dipelihara, untuk digunakan sebagai senjata dalam perlawanan ketidakbenaran. Pembangkang bagai pedang bermata dua, aku bisa melukai dan dilukai, sehingga perlu pengendalian yang waras supaya pedang tersebut hanya terbatas sebagai alat untuk melukai.
Bukti dari pembangkanganku adalah bersikap ragu atas jawaban final mengenai proses, tak mau menerima. Mengakui dan menerima merupakan dua hal yang berbeda. Bisa saja mengakui, tetapi hati tak menerima; atau sebaliknya, tak mengakui ketika menerima. Pikiranku menggerutu bahwa makna proses terlalu umum. Tak akan pernah mengerti hakikat suatu proses jika tidak berada dalam ranah kontekstual. Bisa jadi proses tersebut untuk menuju kesenangan, kebahagiaan, kepuasan, kehidupan kekal, atau menuju pada pengabdian yang suci. Hmmm..., rasanya alasan “pengabdian suci” terlalu romantis, penuh dengan kepalsuan. Yang aku tahu, dan mungkin tidak sepenuhnya benar, hanya ada dua hal besar mengenai tujuan sekaligus nasib yang selalu dibayangkan manusia, yakni untung dan rugi. Akui saja, keuntunganlah yang selalu diinginkan oleh sebagian besar manusia. Hanya persona dengan keimanan tingkat tinggi—sampai mati rasa dan lupa emosi—yang berhak menyandang gelar pengabdian suci.
***
Mungkin karena efek iklim, ditandai dengan seringnya langit mendung dan rintik hujan, jiwaku menjadi lemah, melankolis. Jijik aku membayangkannya. Lebih suka membayangkan diriku yang senang mendengarkan musik cadas, funky, kaya ritme, musik yang penuh perlawanan; atau diri yang bersikap sinis dengan campuran easygoing. Perlahan-lahan telinga membuka ruang bagi musik yang ringan untuk didengar, slowly, penuh dengan ratapan. Sampai akhirnya, telinga pun menolak ketika music player mengeluarkan nada garang. Sial, perasaan mulai dipengaruhi. Begitu besar peranan nada, adalah salah satu alasanku yang berkeinginan untuk meninggalkan musik, demi mengurangi asupan nada, supaya mampu mengontrol diri.
Melankolis menyebabkan pikiran jenuh untuk melaju ke masa depan, sehingga terdiam dan mundur, kemudian membuka pecahan memori lama yang tersebar dalam sel-sel otak. Sambil menghisap rokok dengan tatapan kosong mengarah pada tetesan hujan di waktu sore menjelang malam, berbagai lembaran senang, sakit, sedih, dsb., semuanya terbayang pada layar belakang mata. Sebagian kenangan membuatku rindu. Kiranya hal tersebut perlu diimbangi dengan musik, tetapi telinga memaksa untuk mendengarkan nada sendu-mendayu, sehingga bukan keseimbangan yang didapat, melainkan semakin tenggelam dalam kerapuhan.
Tak banyak yang bisa aku lakukan. Terjebak hujan dalam perjalanan, tak bisa melaju untuk menyegarkan pikiran dan perasaan, tak mau memaksa beranjak karena malas basah-basahan. Lebih baik aku menikmatinya, menikmati segala macam kenangan yang direstui oleh hati. Biarlah, lagi pula hanya sejenak aku meracuni diri dengan kenangan. Percuma melawan, karena hati tidak menyukai dusta. Menggerakan bagian lain dalam diri yang tidak sesuai dengan suasana hati bagaikan demonstrasi, penuh dengan kekacauan. Jika hati dikacaukan, maka berpotensi besar mengacaukan segalanya, karena hati adalah pusat pemerintahan. Hanya akal yang mampu menyentuhnya, tetapi tragis, kondisinya sedang tidak berbeda dengan hati. Berharap ada pihak yang datang menawarkan alkohol, atau bentuk apa pun bagian dari narkotik, supaya jiwaku kacau tak sadarkan diri, supaya tidak dikuasai oleh kenangan, sebab rokok sudah tidak mampu menenangkan.
***
Aku merasakan kekosongan di dalam diri, tanda bahwa perasaan mulai mengebiri akal waras. Bukan teman yang aku butuhkan, karena kapan pun aku bisa menemukannya, entah itu teman kampus ataupun penduduk lokal. Bukan pula berbagai kesenangan yang didasari oleh uang, karena aku masih merasakan kekosongan ketika memegang dan menggunakannya. Tak peduli sepadat apa pun waktu yang aku paksakan untuk diisi kesibukan, tetap saja aku terjatuh dalam kekosongan. Sekarang aku paham, sudah menjadi sifat dasar manusia tidak pernah merasa cukup; selalu ingin mendapatkan lebih, bahkan hampir lupa akan sikap syukur.
Akal waras dipaksa gerak untuk menyelidiki gatra apa yang mampu menyebabkan diri merasa kosong, dan pengisi apa yang sesuai dengan ketentuan gatra tersebut. Sempat terpikirkan bahwa aku rindu asmara, dan tersirat teman asmara masa lalu sebagai tokohnya, karena hanya itulah yang selalu terpikirkan ketika diri sedang jatuh dalam perasaan. Tidak..., aku pikir hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena ada perasaan lain yang serupa. Dua hal yang serupa tetap saja berbeda, hanya mempunyai kemiripan, tetapi tak akan pernah sama, karena wujudnya lebih dari satu. Tak ada sinonim yang mutlak. Mungkin saja dalam penggunaan pada konteks apa pun mempunyai kesamaan makna, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa wujudnya tetap berbeda. Tak heran jika dominasi sinonim diimbangi oleh homonim, dan dikacaukan oleh keberadaan derivasi.
Bukan hanya sekali aku bersikap aneh ketika melihat lawan jenis karena tertarik oleh—sekilas—kepribadiannya. Sikap aneh yang muncul begitu saja, tak terkendali. Dalam kisah asmara sebelumnya, tanpa disadari aku bersikap kekanak-kanakan, atau tidak mencerminkan sikap dewasa ketika diri menjalani kehidupan dewasa, dan hal tersebut menjadi tanda bahwa asmara memang tidak masuk akal. Katakan saja, untuk sekarang aku tertarik pada penampilan luar lawan jenis, karena aku tidak mengenalnya, tidak tahu nama, bahkan sebagian orang yang aku perhatikan hanya bertemu satu kali. Bukan berarti paras atau sikap royal pada bagian luar yang membuatku tertarik. Justru wujud royal itulah yang tidak minat aku pandang. Kepribadian dan penampilan luar memang mempunyai tempat masing-masing. Namun, penampilan luar merupakan cerminan diri, setidaknya cerminan dari sedikit kepribadian, dan mungkin dugaanku dalam menilai orang salah total.
Maksud dari pembicaraanku, mungkin benar kekosongan terjadi karena merindukan asmara, tetapi tokohnya tidak dimiliki oleh individu tertentu, dan alasannya pun tidak menentu. Hanya rindu asmara, kemudian tidak bisa dijelaskan lebih dalam lagi bentuk asmara seperti apa yang dimaksud. Ketertarikan terhadap seseorang, yang kemudian menjadi bentuk asmara, tidak pernah bisa diberi alasan dengan jelas. Seandainya ada alasan, berarti seseorang tersebut bukanlah objek dari rasa suka, melainkan rasa suka ditujukan terhadap alasan. Seandainya suka seseorang karena paras, berarti paras itulah yang disukai, dan rasa suka menjadi hilang ketika keindahan paras mulai memudar; atau rasa suka tetap ditujukan pada paras, tetapi pemilik paras adalah orang yang berbeda.
Aku kira, aku bisa melupakan asmara dalam waktu yang sangat lama. Merasa hebat ketika menyatakan bahwa asmara adalah omong kosong, dan aku tidak berminat lagi untuk memulainya. Namun, itu merupakan pernyataan masa lalu. Sebab kali ini aku menginginkannya, seolah-olah tak peduli mengenai diri yang pernah hancur berlarut-larut karenanya, dan karena itulah selalu muncul pertanyaan “kenapa aku ingin?”. Mungkin asmara adalah naluri, layaknya lapar, haus, bernafas, senang, sedih, atau semua hal yang tidak bisa dijelaskan alasannya secara pasti.
Ada hal aneh yang bisa melemahkan pernyataan naluri, karena terdapat pihak yang tidak mengalami pernikahan seumur hidupnya. Alasannya sederhana, terlalu sibuk, kemudian meninggal. Seandainya aku diizinkan untuk bertemu dengan orang seperti itu, ingin aku tanyakan, apa tidak menikah sama dengan tidak pernah merasakan asmara? Karena bisa saja menjalani asmara tanpa pernikahan. Seandainya tidak pernah menyentuh asmara, pertanyaanku, apa benar tidak pernah merasakannya sama sekali, walaupun hanya rasa suka dalam benak yang tidak diluapkan? Apa benar karena sibuk, sampai lupa asmara, atau tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaan?
Naluri asmara dan adanya lawan jenis adalah kehendak Tuhan, tetapi aku tak paham tujuannya untuk apa. Mungkin benar jika lawan jenis diciptakan sebagai teman hidup, dan naluri asmara diciptakan untuk kesenangan. Namun, memang dasar pembangkang, terlintas di benakku kemungkinan lain bahwa kedua hal tersebut diciptakan sebagai cobaan hidup, diciptakan sebagai ranjau penuh pesona. Ketika dikaitkan dengan religi, seluk beluk asmara menjadi kacau, karena terjadi pelemahan atas pengabdian terhadap Tuhan. Dalam religi, ada pernyataan bahwa hidup adalah tentang pengabdian, untuk mengabdi pada Pencipta. Karena itulah, jika kekosongan batin berhasil dibenahi oleh asmara, berarti pengabdian terhadap Tuhan terlemahkan, karena ada sosok lain yang lebih mampu mengisi batin daripada Tuhan.
Aku sedang mencari-cari alasan untuk melemahkan asmara, tetapi tetap saja aku merasakan kekosongan. Keberadaanku adalah sebagai hamba-Nya yang lemah iman, sekaligus berusaha menolak kenyataan atas diriku yang butuh asmara. Munafik. Semuanya semakin rumit. Aku tak tahu lagi harus berperan seperti apa. Terjebak dalam kondisi yang saling terikat.
Mungkin benar jika “proses” terikat konteks dapat memunculkan kejelasan makna. Begitu juga manusia, akan bermakna jika mengikatkan diri pada konteks, entah bentuknya berupa hubungan antar sesama manusia, dengan bentuk lain, atau dengan Pencipta. Dan tidak bisa hanya memilih salah satu bentuk, karena ketika memilih salah satunya, otomatis terikat aturan untuk berurusan dengan semua bentuk. Jika tidak ingin terikat aturan, solusi ampuh adalah dengan cara hidup sendiri dalam dunia yang diciptakan sendiri. Namun, rasanya mustahil, karena aku belum menemukan orang yang mampu hidup dalam kekosongan, tak mampu untuk tak peduli akan kehampaan, karena naluri itu sendiri yang—disadari atau tidak—selalu mencari-cari makna kehidupan.
Perasaan lebih condong kepada asmara. Sekarang aku membutuhkannya, dan membenarkannya, didasari alasan bahwa kehidupan saling terikat untuk mencapai makna kehidupan. Kemungkinan besar aku akan menjatuhkan diri dengan sengaja pada asmara, dan berharap Tuhan tidak murka karena keinginanku untuk merasakan secuil kesenangan dunia. Sialnya, muncul persoalan lain sebab aku terlalu lama tak peduli mengenai asmara yang sempat aku cerca. Aku tidak tahu bagaimana cara mendekati lawan jenis—dalam arti yang membuatku tertarik; bagaimana cara memulainya dan menjalaninya senatural mungkin.
Aku tertahan oleh batas-batas yang aku buat sendiri, dan tidak bisa menerobos batas tersebut padahal aku sendiri yang membuatnya. Dulu diriku hancur karena proses asmara, kemudian semakin hancur ketika proses tersebut berakhir, dan sekarang aku menghancurkan diriku sendiri karena hilang akal mengenai cara untuk mendapatkan keinginan berupa asmara. Aku tak paham sampai kapan persoalan dapat berakhir, karena di dalam persoalan terdapat persoalan, dan setiap akhir persoalan disambut oleh persoalan lain. Mungkin waktulah yang dapat menghadapi semua kenyataan. Aku ingat karena waktu, aku lupa karena waktu, dan perasaan hampa dengan harapan bertemu asmara pun datang dengan sendirinya karena waktu. Mungkin cara terbaik adalah menyerahkan persoalan asmara pada waktu, proses berjalan secara natural, dan aku tak peduli entah hasilnya akan berujung lupa, entah akan bertambah ingin, akan berlarut-larut merasakan kekosongan, atau mungkin secara magis tiba-tiba aku mendapatkannya. Lagi pula percuma aku peduli, karena cara memulainya pun aku benar-benar tidak tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar