Saya dikenalkan bahasa sejak lahir sampai jenggotan seperti sekarang. Terus-menerus belajar, baik secara natural tanpa embel-embel pendidikan formal, tanpa dicekoki teori SPOK, teori morfem, kata, frasa, klausa, dsb.; dan bahasa tersebut dapat saya gunakan—khususnya dalam hal komunikasi sebagai fungsi primer suatu bahasa. Ada juga belajar secara formal, yang saya rasa tak pernah putus disuguhi materi bahasa sejak SD sampai perguruan tinggi. Namun, anehnya, perbandingan kualitas dari dua metode tersebut jauh berbeda. Dari segi hasil, natural lebih berbobot dibandingkan formal, atau mungkin saya tidak menyadari saja bahwa formal telah mempengaruhi pengetahuan kebahasaan—termasuk pemakaiannya—di dalam diri.
Satu kutipan yang saya sukai mengenai bahasa, tetapi lupa sumbernya, dan mungkin secara kelengkapan tuturan terdapat kekeliruan, bahwa “masyarakat tidak mau dibebani oleh bahasa”. Dengan kata lain, bahasalah yang harus patuh terhadap penutur, dan bahasa tersebut secara natural akan berkembang, berubah, atau mungkin musnah. Tak ada pengekangan terhadap masyarakat dengan cara harus mematuhi aturan kebahasaan yang dibukukan oleh segelintir orang.
Linguistik atau ilmu bahasa sudah disinggung sejak zaman filsuf Yunani—sebelum masehi—yang ketenarannya melebihi para nabi, dan tidak menutup kemungkinan bahwa kajian linguistik telah ada jauh sebelum lahirnya para filsuf tersebut. Rasanya bukan manusia jika tidak memiliki pandangan pro-kontra terhadap realitas yang diterimanya, sebab sekelas Tuhan pun bisa jadi bahan perdebatan. Linguistik pun kena imbasnya, untuk sementara saya merasa bahwa linguistik berperan pro-kontra atau plus-minus. Kebaikannya, supaya bahasa dapat dipahami oleh penggunanya, dan di sisi lain penutur dapat belajar bahasa asing melalui sekelumit teori bahasa. Kamus pun merupakan hasil dari linguistik, dan sangat berguna bagi para pelajar/pemakai bahasa yang bersangkutan.
Sayangnya linguistik dapat menyebabkan kebingungan yang mendalam. Sejak zaman SD, saya kesulitan untuk memahami SPOK, bahkan sampai sekarang tidak tahu secara mendetail mengenai hal tersebut. Materi linguistik terus diulang dalam setiap tahap pendidikan formal, sampai SMA, dan saya tetap kesulitan untuk memahami materi tersebut. Mungkin karena saya bodoh, terlalu malas berpikir, jadi tidak pernah mudah untuk memahami seluk beluk linguistik. Atau mungkin kesulitan terjadi karena saya belum memahami pelbagai istilah dan kegunaannya yang berada di dalam linguistik. Sampai akhirnya, di perguruan tinggi saya berurusan lagi dengan disiplin ilmu tersebut—disertai segala macam kerumitannya. Dan bodohnya, bidang itulah yang saya ambil untuk keperluan tugas akhir—adalah bentuk lain dari bunuh diri; berenang dalam kolam kelemahan daya pikir. Namun, jangan dulu mengambil kesimpulan yang aneh-aneh. Setiap keputusan/perilaku/pilihan dalam kehidupan selalu mempunyai alasan/maksud/tujuan. Anggap saja, berdasarkan alibi optimis, saya sedang memasukkan diri ke dalam kandang singa, dengan harapan singa tersebut dapat saya makan, hehe.... Setidaknya, kematianku berada dalam kondisi perlawanan terhadap hal yang bagiku menakutkan.
Kata, saya tidak kesulitan untuk menggunakannya, bahkan hal tersebut terjadi sebelum dikenalkan dengan linguistik. Saya bisa mengubahnya dengan bebas menjadi nomina, verba, adjektiva, tanpa harus paham dengan istilah infleksi, derivasi, kategori gramatikal, dan berbagai macam istilah yang berada dalam morfologi. Namun, itu semua menjadi rumit ketika saya berusaha menjadikan linguistik sebagai teman (atau mungkin musuh yang selalu dilawan untuk diruntuhkan). Adalah sebuah kekonyolan, ketika “kata” yang oleh anak kecil bebas dan mudah untuk digunakan—tentunya dipahami dalam komunikasi, menjadi bahan perdebatan dalam kajian linguistik. Satu buku morfologi bahasa saja bisa mencapai puluhan halaman, bahkan ada yang tembus sampai nominal ratusan. Masih mending jika buku tersebut ringan untuk dipahami, tetapi bagi saya buku tersebut berisi aahhh... sudahlah...! Tambah pedas lagi jika ada satu argumen yang tidak sesuai dengan argumen lainnya. Kemudian pedas tersebut dikalikan dengan sejumlah nominal pedas, ketika berurusan dengan kata bahasa Arab—khususnya verba—yang akar katanya saja tidak bisa diucapkan—pasti ada ruas, dan disertai kategori gramatikal yang sebagiannya masih diperdebatkan. Saya hampir menyerah.
Ketakutanku—yang masih berada dalam dunia ilusi—adalah terjebak dalam kerumitan linguistik, tetapi lupa akan tujuannya—berupa manfaat dalam hal pemahaman bahasa oleh siapa pun dan semestinya mudah dipahami. Ilmu pengetahuan tanpa manfaat adalah sia-sia. Idealnya, teori adalah bentuk sederhana dari sebuah realitas, bukan sebaliknya—realitas dirumitkan oleh berbagai teori yang kepastiannya tidak pasti (sebab ilmu pengetahuan terus berkembang). Beruntunglah bagi kaum ilmu pasti, karena bergumul dalam satu bahasa (bahasa mereka; simbol-simbol gitu...), sehingga teori dan pengaplikasiannya pun berpotensi kecil menjadi penyebab perdebatan.
***
Ketakutanku—yang masih berada dalam dunia ilusi—adalah terjebak dalam kerumitan linguistik, tetapi lupa akan tujuannya—berupa manfaat dalam hal pemahaman bahasa oleh siapa pun dan semestinya mudah dipahami. Ilmu pengetahuan tanpa manfaat adalah sia-sia. Idealnya, teori adalah bentuk sederhana dari sebuah realitas, bukan sebaliknya—realitas dirumitkan oleh berbagai teori yang kepastiannya tidak pasti (sebab ilmu pengetahuan terus berkembang). Beruntunglah bagi kaum ilmu pasti, karena bergumul dalam satu bahasa (bahasa mereka; simbol-simbol gitu...), sehingga teori dan pengaplikasiannya pun berpotensi kecil menjadi penyebab perdebatan.
Kata, sesuatu yang sederhana, tetapi mampu menghambatku untuk terbang bebas. Sampai beberapa kali terpikirkan, “seandainya ini..., seandainya itu..., mungkin itu mudah...”, tetapi anehnya pikiran tersebut sampai sekarang tidak mampu membuatku berpaling dari pesona “kata”. Mungkin ini yang dinamakan cinta. Ketika tidak mudah dimengerti, ketika merasa kecewa karena banyak waktu dan tenaga yang terbuang (hampir percuma), ketika selalu muncul bahan yang patut diperdebatkan, ketika menjadi penyebab galau sampai depresi sehingga menghabiskan banyak rokok dan kopi—kemudian insomnia di malam hari, walaupun muncul berbagai masalah, tetapi kata tetap menjadi pilihan yang terpilih. Saya tertarik dengan pesonanya, dengan alasan bahwa dia mempesona—sulit dijelaskan, karena cinta adalah ketika kau bingung menjelaskan alasan atas pertanyaan “kenapa cinta?”. Seandainya ada alasan, mungkin hanya sekadar mengada-ada yang tidak ada. Seperti, mungkin karena kata sulit ditaklukan; kalau mudah ditaklukan, bisa jadi mudah bosan, sehingga ditinggalkan, untuk kemudian dilupakan.
Kata, saya belum mau menyerah. Saya akan terus berusaha memahaminya, sampai paham berbagai unsur pembentuk yang membuatnya begitu mempesona. Baru sedikit saya memahaminya; terkadang dia memiliki satu jasad dengan satu jiwa; terkadang satu jasad tersebut beraliansi dengan jasad lain tak bernyawa, kemudian memberi kehidupan bagi jasad tersebut dan saling mempengaruhi; terkadang satu jasad memiliki dua jiwa atau lebih; terkadang menggandakan diri, parsial atau total, sehingga jiwanya pun berubah; terkadang berupa lebih dari satu jasad yang saling ketergantungan, sehingga jika satu jasad mati, maka matilah semuanya; terkadang satu jiwa dirasuki unsur gaib suprasegmental, sehingga menimbulkan beragam jiwa; dan masih banyak ragam pesona yang belum disebut dan belum dipahami. Mudah-mudahan tidak membuatku jadi gila.
Kata, saya belum mau menyerah. Saya akan terus berusaha memahaminya, sampai paham berbagai unsur pembentuk yang membuatnya begitu mempesona. Baru sedikit saya memahaminya; terkadang dia memiliki satu jasad dengan satu jiwa; terkadang satu jasad tersebut beraliansi dengan jasad lain tak bernyawa, kemudian memberi kehidupan bagi jasad tersebut dan saling mempengaruhi; terkadang satu jasad memiliki dua jiwa atau lebih; terkadang menggandakan diri, parsial atau total, sehingga jiwanya pun berubah; terkadang berupa lebih dari satu jasad yang saling ketergantungan, sehingga jika satu jasad mati, maka matilah semuanya; terkadang satu jiwa dirasuki unsur gaib suprasegmental, sehingga menimbulkan beragam jiwa; dan masih banyak ragam pesona yang belum disebut dan belum dipahami. Mudah-mudahan tidak membuatku jadi gila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar