Sudah lama rasanya tidak kepoin akun social network orang yang pernah jadi partner cinta-cintaan. Adalah rahasia umum, ketika menyukai seseorang, maka ingin tahu segala macam seluk-beluk tentang dirinya. Jadi, wajar—khususnya zaman sekarang—jika akun social network orang yang disukai selalu menjadi penghias browser di saat internetan. Untuk sementara, setelah berbulan-bulan menghancurkan diri karena susah—atau katakan saja gagal—move on, sekarang saya berhasil sembuh dari penyakit kepo, dan sembuh dari labirin kisah masa lalu, walaupun masih ada saja bekas-bekas kenangan yang kadang teringat. Maklum, cinta pertama, yang kata banyak orang susah untuk dilupakan. Apalagi jika ditambah sajian lagu Cinta Pertama – BIP, “apa kabarmu, hai cinta pertama, ceritakanlah dulu, selepas kau dari aku....”, atau yang lebih sendu lagi, First Love – Nikka Costa, hasshhh.... rasanya ingatan asmara masa lalu langsung mendominasi pikiran dan hati.
Semakin berusaha untuk melupakan, maka semakin sulit untuk dilupakan, itulah cinta pertama. Hanya dengan kesibukanlah ingatan tersebut bisa dilupakan, walaupun terkadang masih saja selintas teringat.
Sudahlah, bukan bermaksud ingin bernostalgia dengan kisah masa lalu. Saya hanya takut ingat kembali berlarut-larut kisah tersebut beserta tokohnya, sebab efeknya yang sangat buruk bagi kehidupan pribadi. Karena sekarang saya sedang mengingatnya, terlintas begitu saja di dalam pikiran, ingatan yang sebenarnya mampu mengubah emosi jiwa. Menulis adalah salah satu cara yang saya lakukan untuk meredam emosi—berbentuk rindu, senang, atau apa pun bentuknya, supaya tidak tenggelam hanya dalam satu titik emosi, supaya semuanya seimbang. Kalau emosi tak seimbang, hasilnya berbahaya, bisa jadi kena DO sama perguruan tinggi yang bersangkutan sebab skripsi tak kunjung kelar. Hehe... lagi mesra-mesranya sama skripsi, dan hidupku kembali bercahaya, yeee... mari tepuk tangaaan...! Saya cinta-cintaan sama skripsi saja, karena sampai saat ini dia setia, dan saya merasa bahagia setiap kali menyentuhnya. Bahkan dia mampu menanamkan rindu paling dalam, sampai membuatku insomnia akut. Saya rela menghabiskan waktu untuk dirinya, rela membaca mentahannya berulang-ulang sekaligus merevisinya supaya dapat tersaji dengan indah—setidaknya sudah berusaha sebaik mungkin jika seandainya hasil pengerjaan buruk, rela menyisihkan uang untuk keperluan buku yang berkenaan dengan dirinya, rela galau berkepanjangan karena memikirkannya, pokoknya rela.
Kembali tentang kepo di social network, sedikit mengulang bahwa saya sudah lama tidak melakukan kepo terhadap orang yang pernah/telah/sedang disukai. Mari menjadi nyata, dengan perlahan menjauhkan diri dari dunia maya, khususnya dalam dunia pertemanan sekaligus asmara. Memang tidak mudah, berkali-kali saya sempat menonaktifkan social network, terus menggunakannya kembali, dan sekarang malah rajin membiarkan satu tab browser diisi situs social network—satu-satunya yang aktif dikunjungi dan terkesan ketinggalan zaman. Belum sanggup saya menghapusnya secara permanen, karena alasan kontak pertemanan dapat terjaga melalui situs tersebut.
Mengenai kepo dan solusi penyembuhannya, supaya tidak terjadi kepo adalah dengan cara menghapus pertemanan. Namun, hal tersebut bukan solusi ampuh, karena masih ada cara lain untuk tetap melakukan kepo. Kebetulan saya pernah melakukan kerjasama proyek (gagal) bersama orang yang dulu selalu saya kepoin, dan memerlukan email serta akun social network bersama. Dari social network itulah saya masih bisa kepo. Dengan senang hati akun tersebut dihapus secara permanen. Lambat laun penyakit kepo dapat sembuh, dan perlahan menghapus ingatan dari orang yang sepatutnya dilupakan. Sebenarnya dengan cara menghapus pertemanan dan menghapus permanen akun bukanlah cara terbaik. Seperti yang telah disinggung, cara yang cukup ampuh untuk menghapus ingatan adalah dengan cara menyibukkan diri.
Kisah kepo hampir mencapai titik. Baru-baru ini saya iseng cek nomor ponsel pribadi di search engine internet, dan ternyata hasilnya bertebaran. Hal tersebut sangat mengganggu, karena bagiku nomor ponsel adalah bagian dari privasi—hanya orang-orang tertentu yang boleh tahu. Nomor ponsel yang terbaca dari search engine berasal dari blog proyek lama. Dari situ saya ingat bahwa masih ada sisa-sisa kenangan yang belum terhapus, tidak hanya blog, akun di social network yang lain juga masih ada. Baiklah, saya siap menghapus semuanya tanpa sisa, kecuali alamat email yang sampai sekarang saya tidak tahu cara menghapusnya.
Menjelang detik-detik penghapusan berbagai social network termasuk blog, malah teringat teman asmara masa lalu, dan muncul rasa penasaran untuk mengetahui kabar tentang dirinya, tentunya dengan cara kepo. Akhirnya, musnah sudah rekor untuk tidak kepo dalam waktu yang lama. Padahal, bisa saja saya menghapus akun tanpa mampir kepo terlebih dahulu. Namun, entahlah, sulit dijelaskan, intinya peristiwa kepo terjadi lagi. Ketika melakukan kembali hal tersebut kepada orang yang pernah disukai, setelah lama tidak melakukannya, rasanya seperti ada yang mencengkram hati dengan kuat secara mendadak, dan cengkraman itu benar-benar terasa, bukan hanya kiasan. Mungkin hal tersebut adalah campur aduk emosi antara senang, sedih, rindu, sakit, dll, karena tidak hanya rasa sakit yang saya rasakan ketika hubungan berakhir, tidak hanya benci, melainkan saya juga mengalami rasa senang sebelum akhir hubungan sehingga masih merasakan potongan rindu sampai sekarang.
Sedikit melenceng dari pembicaraan, tidak baik menghakimi mantan hanya pada sisi buruknya saja disebabkan berakhirnya hubungan. Karena sebelum hubungan berakhir, “banyak waktu” yang dilalui dengan kesenangan, dan akhir hubungan hanya terjadi dalam “satu waktu”.
Saya tidak sanggup untuk kepo lebih dalam. Hanya dengan melihat sekilas saja sudah cukup membuat diriku lemah. Tanpa mampir kanan-kiri lagi blog proyek lama beserta seperangkat social network pun berhasil dihapus selama-lamanya, sehingga kemungkinan untuk melakukan kepo untuk kesekian kalinya pada teman asmara masa lalu sangat kecil. Saya cukup senang dengan hidupku yang sekarang, dan tidak mau lagi merasakan keterpurukan hidup berkepanjangan hanya karena seonggok kisah asmara yang tidak penting.
Semakin berusaha untuk melupakan, maka semakin sulit untuk dilupakan, itulah cinta pertama. Hanya dengan kesibukanlah ingatan tersebut bisa dilupakan, walaupun terkadang masih saja selintas teringat.
Sudahlah, bukan bermaksud ingin bernostalgia dengan kisah masa lalu. Saya hanya takut ingat kembali berlarut-larut kisah tersebut beserta tokohnya, sebab efeknya yang sangat buruk bagi kehidupan pribadi. Karena sekarang saya sedang mengingatnya, terlintas begitu saja di dalam pikiran, ingatan yang sebenarnya mampu mengubah emosi jiwa. Menulis adalah salah satu cara yang saya lakukan untuk meredam emosi—berbentuk rindu, senang, atau apa pun bentuknya, supaya tidak tenggelam hanya dalam satu titik emosi, supaya semuanya seimbang. Kalau emosi tak seimbang, hasilnya berbahaya, bisa jadi kena DO sama perguruan tinggi yang bersangkutan sebab skripsi tak kunjung kelar. Hehe... lagi mesra-mesranya sama skripsi, dan hidupku kembali bercahaya, yeee... mari tepuk tangaaan...! Saya cinta-cintaan sama skripsi saja, karena sampai saat ini dia setia, dan saya merasa bahagia setiap kali menyentuhnya. Bahkan dia mampu menanamkan rindu paling dalam, sampai membuatku insomnia akut. Saya rela menghabiskan waktu untuk dirinya, rela membaca mentahannya berulang-ulang sekaligus merevisinya supaya dapat tersaji dengan indah—setidaknya sudah berusaha sebaik mungkin jika seandainya hasil pengerjaan buruk, rela menyisihkan uang untuk keperluan buku yang berkenaan dengan dirinya, rela galau berkepanjangan karena memikirkannya, pokoknya rela.
Kembali tentang kepo di social network, sedikit mengulang bahwa saya sudah lama tidak melakukan kepo terhadap orang yang pernah/telah/sedang disukai. Mari menjadi nyata, dengan perlahan menjauhkan diri dari dunia maya, khususnya dalam dunia pertemanan sekaligus asmara. Memang tidak mudah, berkali-kali saya sempat menonaktifkan social network, terus menggunakannya kembali, dan sekarang malah rajin membiarkan satu tab browser diisi situs social network—satu-satunya yang aktif dikunjungi dan terkesan ketinggalan zaman. Belum sanggup saya menghapusnya secara permanen, karena alasan kontak pertemanan dapat terjaga melalui situs tersebut.
Mengenai kepo dan solusi penyembuhannya, supaya tidak terjadi kepo adalah dengan cara menghapus pertemanan. Namun, hal tersebut bukan solusi ampuh, karena masih ada cara lain untuk tetap melakukan kepo. Kebetulan saya pernah melakukan kerjasama proyek (gagal) bersama orang yang dulu selalu saya kepoin, dan memerlukan email serta akun social network bersama. Dari social network itulah saya masih bisa kepo. Dengan senang hati akun tersebut dihapus secara permanen. Lambat laun penyakit kepo dapat sembuh, dan perlahan menghapus ingatan dari orang yang sepatutnya dilupakan. Sebenarnya dengan cara menghapus pertemanan dan menghapus permanen akun bukanlah cara terbaik. Seperti yang telah disinggung, cara yang cukup ampuh untuk menghapus ingatan adalah dengan cara menyibukkan diri.
Kisah kepo hampir mencapai titik. Baru-baru ini saya iseng cek nomor ponsel pribadi di search engine internet, dan ternyata hasilnya bertebaran. Hal tersebut sangat mengganggu, karena bagiku nomor ponsel adalah bagian dari privasi—hanya orang-orang tertentu yang boleh tahu. Nomor ponsel yang terbaca dari search engine berasal dari blog proyek lama. Dari situ saya ingat bahwa masih ada sisa-sisa kenangan yang belum terhapus, tidak hanya blog, akun di social network yang lain juga masih ada. Baiklah, saya siap menghapus semuanya tanpa sisa, kecuali alamat email yang sampai sekarang saya tidak tahu cara menghapusnya.
Menjelang detik-detik penghapusan berbagai social network termasuk blog, malah teringat teman asmara masa lalu, dan muncul rasa penasaran untuk mengetahui kabar tentang dirinya, tentunya dengan cara kepo. Akhirnya, musnah sudah rekor untuk tidak kepo dalam waktu yang lama. Padahal, bisa saja saya menghapus akun tanpa mampir kepo terlebih dahulu. Namun, entahlah, sulit dijelaskan, intinya peristiwa kepo terjadi lagi. Ketika melakukan kembali hal tersebut kepada orang yang pernah disukai, setelah lama tidak melakukannya, rasanya seperti ada yang mencengkram hati dengan kuat secara mendadak, dan cengkraman itu benar-benar terasa, bukan hanya kiasan. Mungkin hal tersebut adalah campur aduk emosi antara senang, sedih, rindu, sakit, dll, karena tidak hanya rasa sakit yang saya rasakan ketika hubungan berakhir, tidak hanya benci, melainkan saya juga mengalami rasa senang sebelum akhir hubungan sehingga masih merasakan potongan rindu sampai sekarang.
Sedikit melenceng dari pembicaraan, tidak baik menghakimi mantan hanya pada sisi buruknya saja disebabkan berakhirnya hubungan. Karena sebelum hubungan berakhir, “banyak waktu” yang dilalui dengan kesenangan, dan akhir hubungan hanya terjadi dalam “satu waktu”.
Saya tidak sanggup untuk kepo lebih dalam. Hanya dengan melihat sekilas saja sudah cukup membuat diriku lemah. Tanpa mampir kanan-kiri lagi blog proyek lama beserta seperangkat social network pun berhasil dihapus selama-lamanya, sehingga kemungkinan untuk melakukan kepo untuk kesekian kalinya pada teman asmara masa lalu sangat kecil. Saya cukup senang dengan hidupku yang sekarang, dan tidak mau lagi merasakan keterpurukan hidup berkepanjangan hanya karena seonggok kisah asmara yang tidak penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar