Lambat laun tipu muslihat semakin mudah dikenali. Bukan suatu kepastian, karena masih dalam lingkup prasangka. Hanya menebak niat pihak lain yang sedang berlangsung, beserta akibatnya yang—kepastiannya masih samar—akan terjadi di masa depan. Dari awal sudah muncul keanehan yang ditandai dengan adanya pengklasifikasian bahan bakar minyak (BBM). Alasannya, jenis yang satu bersubsidi, dan yang satu lagi terkesan royal. Kenapa tidak disejajarkan saja dari awal!? Kacau.
Mungkin karena saya suka memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan, maka sistem penjualan BBM yang sudah menyebar di masyakarakat saya anggap tidak sehat (tidak menutup kemungkinan bahwa banyak orang yang berpikiran sama sepertiku). Belum lama pemerintah mengeluarkan jenis BBM baru, pertalite, dengan harga lebih mahal dari premium, tetapi jangkanya tidak terlalu jauh. Sementara, ketika jenis bbm tersebut dikeluarkan, kondisi harga premium di pasaran sedang menanjak pesat. Kronologisnya, harga premium naik drastis, kemudian diturunkan sedikit untuk mencuri senyum para kaum jelata, dan akhirnya mengeluarkan pertalite dengan harga yang sedikit lebih mahal. Memang kualitas pertalite lebih baik dari premium, tetapi tidak lebih baik dari pertamax, hanya membuatku terus-terusan berprasangka buruk.
Mungkin karena saya suka memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan, maka sistem penjualan BBM yang sudah menyebar di masyakarakat saya anggap tidak sehat (tidak menutup kemungkinan bahwa banyak orang yang berpikiran sama sepertiku). Belum lama pemerintah mengeluarkan jenis BBM baru, pertalite, dengan harga lebih mahal dari premium, tetapi jangkanya tidak terlalu jauh. Sementara, ketika jenis bbm tersebut dikeluarkan, kondisi harga premium di pasaran sedang menanjak pesat. Kronologisnya, harga premium naik drastis, kemudian diturunkan sedikit untuk mencuri senyum para kaum jelata, dan akhirnya mengeluarkan pertalite dengan harga yang sedikit lebih mahal. Memang kualitas pertalite lebih baik dari premium, tetapi tidak lebih baik dari pertamax, hanya membuatku terus-terusan berprasangka buruk.
Pikiran burukku berprasangka bahwa kejadian tersebut hanyalah pengalihan isu, menaikkan harga BBM dengan cara terselubung. Tahun ini, 2016, saya sering bulak-balik Bandung-Yogya. Keanehan muncul ketika premium di beberapa titik pom bensin tidak ada, tetapi pertalite makmur bertebaran di mana-mana. Awalnya, saya pikir bahwa premium di beberapa pom bersangkutan habis. Namun, anehnya hal tersebut terjadi berkelanjutan sampai sekarang. Terakhir, Oktober 2016 saya pulang ke Bandung, dan beberapa pom yang saya kunjungi (kata pegawainya) kehabisan premium.
Masih di bulan Oktober, saya sudah di Yogya, coba mengisi BBM di pom terdekat. Pom tersebut saya anggap memberikan fasilitas sangat baik bagi kebutuhan masyarakat. Namun, untuk kali ini, saya merasa aneh, bukan pada pom bensinnya, tetapi mengenai penyediaan premium yang terkesan dianaktirikan. Sambil mengisi bahan bakar kendaraan, saya memberanikan diri untuk basa-basi sama mbak ayu si petugas pom tentang premium yang rasanya berkurang. Komentarnya, dengan ramah dia menyatakan bahwa premium akan diganti dengan pertalite. Aku hanya menyikapinya dengan mengangguk dan bergumam “hmmm...!!???”—penuh tanda seru dan tanda tanya (sedikit tanda cinta karena terpesona oleh petugas pom yang saya tanya), tetapi tidak mempercayainya 100%, karena dia bukan pejabat pemerintah spesialis BBM. Aku menyesal, bukan karena menjadi warga Indonesia yang hanya dengan seonggok BBM bisa menjadi sumber persoalan bangsa, tetapi menyesal karena tidak sekalian tanya nama petugas pom dan minta nomor ponselnya. Hehe... wajar, single yang terkutuk, wanita seperti apa pun kemungkinan besar saya rawat.
Saya coba flashback ke hari-hari sebelumnya, mengenai kondisi beberapa pom bensin yang pernah saya kunjungi. Selain kurangnya premium, di beberapa pom bensin disediakan iklan yang tertera pada papan tidak jauh dari jalur pengisian BBM. Iklan tersebut mempromosikan pertalite, dan tersirat makna untuk menjauhkan masyarakat dari premium. Iklannya lucu, kurang lebih isinya berupa iming-iming untuk menggunakan pertalite, disertai perbandingan harga yang merendahkan premium.
Kemungkinan terburuk adalah premium benar-benar dihapus dari peradaban, kemudian masyarakat dipaksa menggunakan pertalite atau pertamax—bagi para penikmat BBM non-solar. Namanya apa jika hal tersebut bukanlah teknik menaikkan harga dengan cara terselubung? Mudah-mudahan prasangka burukku salah total, dan berharap pemerintah memberikan keputusan yang terbaik (dan benar di hadapan Tuhan) bagi kelangsungan hidup masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar