Aku siapa dan untuk apa, entah lah, karena setiap detik yang aku lalui adalah proses. Nyatanya aku hanyalah seonggok daging yang pandai membuang-buang waktu dan uang. Dalihnya saja terkesan baik, cari inspirasi lah, dinginin kepala lah, cari warna kehidupan, hasshh... semuanya omong kosong. Kemudian sadar bahwa telah banyak waktu dan uang yang terbuang percuma. Ya, percuma, atau perlu disisipkan kata “mungkin”, karena—sekali lagi—hidupku adalah proses.
Kesan luarnya saja sepintas terlihat bahwa diriku berada dalam kehidupan baik. Bicara ini-itu, tulis ini-itu, padahal setiap tulisanku adalah romantisme. Senyata apa pun tulisan kisah, tetap saja disajikan dengan campuran romantisme, sehingga bisa menyamarkan tokoh dan apa yang sebenarnya terjadi. Terlalu sering aku bermuka dua, sampai aku tak tahu diriku sebenarnya seperti apa. Jawaban sementara yang paling masuk akal atas pertanyaan “sebenarnya aku seperti apa?”, adalah aku bermuka dua. Memang jalan yang aku pilih tidak murni atas kemauan sendiri, karena bermuka dua terjadi sebab aku harus menyesuaikan diri dengan lawan bicara, menyesuaikan diri dengan kondisi, dan yang paling fatal adalah bahwa diri diliputi kemunafikan.
Aku sedang bermain dadu dengan waktu, dan taruhannya adalah nasib. Detik, hari, bulan terasa cepat berlalu. Bisa jadi karena aku menikmati perjudian, atau takut atas nasib masa depanku. Realitasnya sampai sekarang aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, dengan kesadaran yang baru disadari bahwa aku telah melalui waktu berbulan-bulan. Aku hanya mendapatkan kerugian dalam perjudian dengan waktu, dan waktu tak pernah rugi karena dia tegas, bijak, sekaligus kebal nasib. Akhirnya aku pun semakin resah. Kalender tahunan yang sebelumnya aku tak peduli, bahkan beberapa kali aku lupa bahwa “sekarang hari apa?”, sekarang kalender menjadi pajangan wajib di dinding bagian dalam kepala.
***
Menyesatkan Diri
Minimal satu kali dalam seminggu aku harus keluar dari “kandang”. Bukan suatu keharusan, tetapi jika sayang dengan mental sendiri, maka seluruh pancaindra harus merasakan dunia luar, dan lebih baik lagi jika bentuk objeknya bervariasi. Tidak banyak aku meluangkan waktu untuk ke luar rumah, sehingga banyak waktu aku sisihkan untuk berdiam diri di rumah. Alasannya, supaya dapat meraih tujuanku sesegera mungkin. Namun, hasilnya nol, malah semakin banyak waktu dan uang terbuang sia-sia tanpa karya bermanfaat bagi diri dan pihak lain.
Aku muak jika terus-menerus membicarakan kegalauan. Setidaknya, aku harus mendapatkan pelajaran dari banyaknya waktu dan uang yang terbuang, apa pun bentuknya. Beberapa kali aku mengunjungi sudut-sudut Yogyakarta. Menjalani setiap langkah dengan kondisi kepala yang runyam. Aku sedang berkendara, tetapi yang ada di dalam pikiran adalah hal lain—wujud yang aku inginkan—di luar bagian-bagian perjalanan. Efeknya, perjalanan pun selalu dilakukan dengan ketidakjelasan arah tujuan.
Entah kebodohan atau passion yang sedikit pun tidak ada bagusnya, bahwa aku selalu menyesatkan diri dalam perjalanan. Tujuanku adalah arah mata angin, barat, utara, timur, selatan, dsb. Kebodohan macam apa yang tujuan perjalanannya bukan merupakan tempat, melainkan arah mata angin. Masih mending jika seandainya aku paham jalan atau daerah, atau minimal bawa GPS, tetapi sayangnya apa yang dicari dalam perjalanan pun aku tak paham. Tujuanku hanya sebatas jalan, kemudian pulang.
Bagiku Yogyakarta penuh dengan sudut-sudut menarik jika dijadikan tempat untuk menikmati alam. Sangat disayangkan belum ada yang bersedia untuk memberdayakan secara sungguh-sungguh, sehingga wajar jika kurang terekspos, atau kurang ditata jika seandainya sudah mulai diberdayakan untuk diekspos. Aku sempat menyesatkan diri ke wilayah barat laut, menuju bagian barat jalan Godean. Setelah beberapa kilo menelusuri keramaian kota, akhirnya tampak juga hamparan pertanian dengan background deretan gunung kecil atau mungkin bukit. Udaranya segar, dan seketika segenap gerah di tubuhku pun luntur. Aku tak paham sedang berada di Sleman atau Kulon Progo, yang jelas pulangnya tembus ke jalur provinsi Kulon Progo.
Hampir sampai di Goa Maria, perasaan mulai tak nyaman. Lingkungan sana banyak anjing, jalan setapak, dan kondisi lingkungan terasa aneh, senyap, seperti berada di alam sadar lain. Rencana pun dialihkan ke kebun kopi yang kebenarannya hanya sekadar aku dengar dari cerita. Namun, keadaan tak memihak, waktu hampir berubah petang. Jalur antah-berantah pun aku pilih, entah akan berujung di mana, yang penting menuju arah tenggara-selatan, dengan hasil ditemukannya jalur provinsi Kulon Progo.
Dalam penyesatan diri, beberapa kali aku benar-benar tersesat, khususnya ketika perjalanan diarahkan ke bagian selatan Yogyakarta (bagian Bantul). Entah di Kasongan atau di Kasihan (tak paham nama regional), lebih dari satu kali aku menapaki jalan aspal yang berujung, alias buntu. Bukan buntu dalam arti sebenarnya, tetapi aspalnya terbatas, kemudian dilanjutkan dengan jalan setapak non-aspal. Aku seperti anak ayam yang tertinggal dari rombongan induknya, memutar arah tujuan sambil dipandang oleh penduduk sekitar dengan tatapan aneh.
Begitu juga ketika aku masuk ke daerah Dlingo. Niatnya ingin menembus Gunung Kidul dari Bantul bagian timur, tetapi malah beberapa kali masuk ke jalur yang memaksaku berputar balik karena jalan aspalnya terbatas. Sedikit malu sama penduduk sekitar, apalagi jika ekspresi mereka seakan-akan menertawakanku, sehingga aku senyumi saja setiap orang yang memandangi wajahku, biar semua senang.
Menyesatkan diri di Dlingo cukup menyenangkan. Jalurnya bung, anggap saja seperti jalur dalam film Initial D—mengendarai Toyota Trueno AE86 dengan skill yang tepat di jalur yang tepat pula. Aku sendiri agak sedikit tertantang. Dengan pura-pura mengabaikan plang peringatan untuk tertib (pelan dan ramah) sambil berusaha melupakan trauma berkendara, aku nikmati lika-liku naik-turun perjalanan dengan kecepatan yang berpotensi mengantarkanku ke rumah sakit terdekat. Aku menikmatinya, dan di jalanan datar aku rihat sejenak untuk melinting tembakau kebanggaan dengan sedikit malu-malu walaupun sepi, kemudian menjiwai nafas gumpalan asap sambil tersenyum berlagak pemenang balapan liar. Busuk. Sayangnya gambar yang diambil hanya dua wujud alam tanpa jalanan tersebut, padahal di sana terdapat kali romantis yang aku abaikan begitu saja.
Jalur menyenangkan tidak hanya berada di Dlingo dan sekitarnya. Banyak jalur hampir serupa, khususnya jalur yang jauh dari perkotaan atau pusat pemerintahan daerah, entah di Sleman, Kulon Progo, Bantul, atau di Gunung Kidul. Mungkin yang paling dikenal oleh para pelajar rantau adalah jalur Wonosari menuju daerah wisata pantai. Perlu ditekankan, seenak apa pun jalanan untuk digilas habis, tetapi jika merupakan fasilitas publik, maka setidaknya para pengendara tidak meresahkan pengguna jalan lain. Jalan umum bukan sirkuit balapan. Aku juga mengaku salah ketika bertindak gila di jalur yang rasanya gatal jika tidak mencapai kecepatan 100 km/jam dan memiringkan motor di tikungan. Anggap saja kesalahanku adalah bentuk kekanak-kanakan, atau katakan saja goblok, karena paham etik tetapi bertindak masa bodoh.
Masih daerah selatan, ada satu tempat yang biasa aku jadikan tempat bertapa di siang hari. Parangtritis, tetapi bukan di bagian pantainya, melainkan warung di bukit yang terdapat banyak tempat penginapan. Aku tidak di pantai, tetapi sepanjang pantai dari timur sampai barat beserta pengunjungnya terlihat jelas, cocok buat kencan. Renunganlah yang aku selalu rela untuk pergi ke sana. Rasanya sudah lama tidak mampir, terakhir mungkin sekitar dua atau tiga bulan yang lalu.
Masih daerah selatan, ada satu tempat yang biasa aku jadikan tempat bertapa di siang hari. Parangtritis, tetapi bukan di bagian pantainya, melainkan warung di bukit yang terdapat banyak tempat penginapan. Aku tidak di pantai, tetapi sepanjang pantai dari timur sampai barat beserta pengunjungnya terlihat jelas, cocok buat kencan. Renunganlah yang aku selalu rela untuk pergi ke sana. Rasanya sudah lama tidak mampir, terakhir mungkin sekitar dua atau tiga bulan yang lalu.
Di sana aku mendapatkan dua hal yang tidak biasa aku dapatkan. Lidahku merasakan kopi yang tidak biasa aku rasakan. Mungkin karena aku terbiasa menyeduh kopi instan sendiri, satu merk tak bervariasi, maka ketika merasakan kopi lain, lidahku sedikit bergembira. Sepertinya kopi tersebut berasal dari pasar tradisional, dan mungkin produksinya diberi campuran cocoa. Bukan kopi kelas atas, tetapi mungkin yang membuatnya jadi gurih adalah pengolah minumannya—nenek tua yang mampu membuat bibirku tersenyum setelah sekian lama terbujur kaku.
Mataku juga melihat hal yang tidak biasa aku lihat. Cukup jauh dari batas laut dan darat, terlihat seperti ada sesuatu sedang mengambang di atas air. Aku kira itu mercusuar, tetapi rasanya aneh, karena baru kali ini aku melihatnya. Jika sebenarnya yang aku lihat adalah kapal nelayan, rasanya itu juga mustahil, karena sebelumnya tidak pernah aku melihat kapal nelayan di deretan pantai Parangtritis. Sepintas bahwa yang aku lihat sama sekali tidak bergerak. Namun, setelah sejenak mengabaikan, ternyata berpindah tempat, melaju pelan dari barat menuju timur. Dugaanku itu adalah kapal berukuran besar, transportasi laut yang menuju bagian timur pulau Jawa atau sekitarnya.
“Life is Like a Boat”, - Rie Fu, judul lagu yang teringat ketika aku merasa bahwa kapal tersebut seperti sedang mencoba menyampaikan sesuatu ke arah pandanganku. Kapal yang berlayar adalah gambaran dari kesabaran, ketegasan, fokus, konsisten, serta di dalamnya terdapat bentuk kepemimpinan dan kepercayaan dari para pelayar. Kapal tidak melaju secepat pesawat, hanya melaju pelan mengarah tujuan. Kapal tak goyah melawan ombak dan kencanganya hembusan angin lautan, menghadapi berbagai tantangan, fokus untuk sampai pada tujuan, konsisten melaju walaupun pelan sehingga semakin lama didera tantangan. Mengagumkan, seolah-olah kapal tidak peduli terhadap apa pun yang mengganggu perjalanan.
Melaju pelan sekaligus diterpa ganasnya alam, apa mungkin itu adalah kode supaya aku menyadari bahwa kehidupan selalu mendapatkan cobaan? Cobaan yang tidak mampu menenggelamkan jika disertakan kesabaran, ketegasan, fokus, dan konsisten, tanpa mengutamakan kecepatan dalam meraih tujuan, tetapi menonjolkan usaha walaupun dalam proses yang terkesan lamban. Atau mungkin aku dituntut untuk terus melangkah walaupun sendirian, dan ketika langkah semakin jauh, maka diri pun semakin kuat. Entahlah, aku hanya mengada-ada yang tidak ada.
Masih banyak tempat yang bisa diceritakan, tetapi untuk apa jika ujungnya hanya menjadi kekosongan kata-kata. Ada yang lebih penting dari sekadar menikmati sebuah perjalanan, yakni pelajaran, kesadaran, dan tak kalah penting adalah melawan kemalasan—beranjak dari kenyamanan singgasana. Terkadang aku menyadari begitu saja kebodohanku di kehidupanku sebelumnya; adalah bentuk kesadaran tanpa dilandasi pelajaran, dan muncul ketika disertakan renungan dalam perjalanan, tentunya kondisi isi kepala tidak fokus terhadap apa yang sedang dijalankan. Terkadang mendapatkan kesadaran ketika memperhatikan fenoma yang terasa oleh pancaindra dalam perjalanan; adalah bentuk kesadaran yang dilandasi pelajaran, dengan kondisi kepala yang benar-benar sadar.
***
Resah dan Marah
Langkahku berputar dalam rumitnya labirin kehidupan tanpa menemukan jalan keluar. Berulang-ulang aku memenuhi waktu berdiam diri di rumah dengan alasan menyelesaikan persoalan agar segera meraih tujuan, kemudian mewajibkan diri keluar rumah minimal satu kali dalam seminggu untuk menyegarkan jiwa dan raga. Namun, berbulan-bulan waktu berlalu, aku tidak mendapatkan apa-apa, atau mungkin tidak menyadari bahwa aku telah mendapatkan banyak hal. Sampai akhirnya sadar bahwa aku sedang berada di semester baru, sadar hampir separuh semester telah aku jalani dengan kekosongan, dan sadar bahwa waktu target tujuan hanya tersisa tidak lebih dari dua bulan. Mungkin karena sebelumnya aku tidak berteman dengan kalender, membuatku seolah-olah belum lama menjalani kehidupan. Aku sudah tak kenal hari libur, dan tak kenal hari kerja. Bagiku semua hari adalah sama. Rasanya lebih menyenangkan ketika menjalani dunia pendidikan secara aktif. Walaupun hari-hari akademik terasa menyebalkan, tetapi setelahnya aku bisa merasakan betapa nikmatnya hari libur, dan lebih nikmat lagi jika liburnya berada dalam hari akademik.
Resah, marah, bingung, segala macam gangguan pikiran yang sebenarnya aku buat sendiri, semuanya muncul bersamaan. Dihantui waktu, aku pun marah, dan aku sangat butuh kemarahan. Aku tak pernah sanggup untuk benar-benar marah. Mungkin karena sifat dasarku, atau katakan saja bahwa aku adalah pengecut. Ketika aku tak bisa menahan amarah, setelahnya aku merasa bersalah, dan berujung memperbaiki kondisi supaya target kemarahanku bisa melupakan kejadian marah yang sempat aku luapkan.
Dengan kemarahan, aku bisa menyentuh kerjaanku yang terabaikan, penuh semangat dan terkesan cerdas. Namun, seperti yang telah disebutkan, aku tidak bisa memainkan amarah, tak lama perlahan-lahan semangat kerjaku luntur. Kemarahan semakin terlupakan ketika aku dituntut untuk mencari biaya hidup sendiri. Aku butuh biaya untuk memenuhi segala macam keperluan dalam perantauan. Di umurku yang idealnya mencari biaya hidup sendiri, aku malu meminta uang secara langsung ke orang tua. Biasanya, secara rutin dalam hitungan bulan rekeningku selalu bertambah tanpa adanya pemberitahuan, dan tidak salah lagi bahwa pengirim adalah orang tua. Namun, akhir-akhir ini, tidak ada uang lebih untuk biaya pendidikan dan sewa tempat. Aku malu untuk bertanya kepada orang tua, pertanyaan yang sebenarnya secara tidak langsung tersirat makna permintaan. Mau tidak mau, aku harus memutar otak untuk mengisi pundi-pundi rupiah, dan korbannya adalah mengabaikan target utama yang ingin segera aku dapatkan.
Sepatutnya aku bersyukur, belum pernah aku merasa susah dalam hal kebutuhan hidup. Entah melalui tangan orang tua, atau mencari dengan keringat sendiri, rasanya rezeki mudah didapat. Tidak banyak, tetapi setidaknya cukup untuk membiayai kebutuhan yang diprioritaskan. Dulu, ketika masih disubsidi secara penuh oleh orang tua, aku coba mencari uang sendiri untuk membeli sesuatu yang diinginkan (tidak terlalu dibutuhkan), dan prakteknya tidak sulit. Begitu juga sekarang, ketika benar-benar butuh uang, aku hanya perlu mencari timbunan barang di gudang yang masih layak diperjualbelikan. Hanya dalam jangka waktu sekitar dua minggu, biaya yang mesti dikeluarkan untuk kelangsungan hidup bisa tercukupi. Aku sadar bahwa itu hanya sementara, karena timbunan barang akan habis terjual, dan kemungkinan besar di masa depan harus memutar otak lebih keras supaya bisa menutupi biaya hidup. Yah... masa depan, tak perlu resah menghadapi hal yang lingkupnya misterius. Jika tak ada barang, maka masih ada jasa, hanya perlu mengeluarkan sedikit keringat untuk memanfaatkan keahlian. Atau, jika perlu, buat sendiri barang yang sekiranya mudah terjual untuk diperjualbelikan.
Hal lain yang aku dapatkan dari mencari biaya hidup sendiri adalah melatih manajemen dan belajar bagaimana menjadi pedagang baik nan cerdas. Manajemen penggunaan uangku buruk. Mungkin karena aku tak peduli jika seandainya kehabisan uang, tinggal minta ke orang tua. Tentunya aku pun tak pernah menabung, karena tanpa menabung saja aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Namun, sekarang semuanya berubah. Jika tetap ingin hidup dengan baik, maka kenalilah pengeluaran, pemasukan, dan menyisihkan sebagian uang untuk menabung. Keperluanku tidak hanya sebatas biaya pendidikan, sewa rumah, dan mengisi perut. Suatu hari aku pasti membutuhkan biaya lain, entah untuk mengurus kendaraan, biaya kesehatan, biaya ini, biaya itu, dan aku sadar bahwa suatu hari akan menikah, sehingga memaksaku untuk menyiapkan dana pembangunan rumah dan biaya hidup keluarga.
Waktu semakin terbagi, dan tentunya semakin berkurang karena masing-masing urusan memiliki porsi waktu sendiri. Namun, aku senang, aku merasakan warna baru di dalam hidupku, melupakan sejenak kejenuhan pikiran yang sebelumnya berputar dalam urusan itu-itu saja. Aku patut bersyukur, tidak hanya melalui hati, tetapi juga sikap, melakukan aksi sebaik mungkin terhadap urusan yang mesti diprioritaskan. Sayangnya praktek tidak semudah bicara. Sikap syukur menyebabkan diriku benar-benar melupakan kemarahan yang digunakan supaya dapat menyelesaikan persoalan utama dengan segera, dan itu tidaklah baik. Yang salah bukanlah syukur, melainkan diriku yang belum sanggup mengendalikan diri sendiri sepenuhnya. Aku benar-benar butuh marah, dengan cara tidak menghilangkan sikap syukur yang wajib aku pelihara.
Kemarahan merupakan sikap yang aku jadikan pengganti motivasi. Persoalan utama tak kunjung selesai karena sampai sekarang aku tidak mendapatkan motivasi, tetapi aku bisa menyentuhnya dengan kemarahan. Atau mungkin marah adalah salah satu bentuk dari motivasi. Sangat disayangkan bahwa kemarahanku tidak stabil dan sulit dimunculkan secara sengaja. Dari hal tersebut, aku dapat pelajaran bahwa marah itu penting. Tak perlu dicaci atau dilenyapkan di dalam diri, tetapi gunakan sesuai porsi kebutuhan dan tidak merugikan.
Sudah lama aku tidak surfing internet, membuka blog-blog secara random dengan menekan link next blog pada bar bagian atas blogspot. Seperti telah diskenariokan dengan sempurna, kebetulan terbuka blog berisikan penggalan tulisan yang sedikit merangsang semangat hidup. Mumtazhaya, “jika ingin menjadi orang penting, maka pentingkanlah suatu hal. Jika ingin menjadi orang penting dalam suatu hal, maka pentingkanlah hal tersebut.”, kurang lebih maksud penggalan tulisan seperti itu. Kemudian aku ingat kisah hidup masa laluku, ketika aku mementingkan suatu hal, selalu ada orang meminta bantuan kepadaku mengenai urusan yang ada hubungannya dengan apa yang aku pentingkan. Bukan tentang ketenaran, bukan tentang nikmatnya mendapatkan pujian, atau tentang nikmatnya mendengar orang-orang menyebut namaku, tetapi rasanya senang jika bisa bermanfaat bagi sesama manusia. Blog mumtazhaya, aku patut berterima kasih kepadanya, karena mengingatkanku pada hal yang sempat aku lupa.
Ketika semangat hidup mulai terangsang, aku merancang siasat untuk menumbuhkan kembali sikap marah. Menjadi antagonis, aku bersikap sinis terhadap siapa pun, termasuk sinis terhadap diri sendiri. Sanggup atau tidak aku menanggung sikap yang tidak dijiwai, aku ragu. Memaksakan diri untuk tidak peduli jika hasilnya tetap buruk, karena diriku yang sekarang sedang buruk, jadi tidak ada kerugian jika seandainya nasibku semakin buruk.
Hampir lupa bahwa esok adalah hari libur nasional, hari raya yang secara adat dijadikan momen berkumpul keluarga. Jika aku tidak pulang dari perantauan, maka peran antagonisku gagal, karena di sana pasti terjadi interaksi sosial. Begitu juga jika aku pulang, peran antagonisku akan luntur. Namun, aku memilih untuk pulang, dan entah apa yang akan terjadi. Seandainya terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dan negatif, maka kepulanganku anggap saja sebagai hari terakhir aku memperlihatkan muka kepada keluarga. Hasilnya, dengan menyertakan antagonis saat pulang, aku tidak merasakan hubungan harmonis dengan keluarga, bahkan aku mengecewakan mereka, aku telah bersikap durhaka. Kini peserta judi tidak hanya aku dan waktu, melainkan bertambah dengan sikap buruk, dan nasib yang aku pertaruhkan semakin sulit dimengerti. Kemungkinan aku kalah dalam perjudian, karena lawanku ada dua. Atau katakan saja peserta perjudian dua banding satu, karena pikiran negatifku menyangka bahwa waktu dan sikap buruk beraliansi. Jika aku kalah, dan nasibku dikuasai pihak lain, maka semua usaha yang aku bangun akan roboh, dan semua mimpi penghias hidup tak akan pernah terwujud.
***
Welcome to the Jungle (Slowly Version)
Aku meninggalkan rumah tanpa pamit, dan tak ada kejelasan kapan aku akan pulang. Aku seperti kerasukan setan saat berkendara, dan muncul sedikit harapan untuk bertemu kematian, supaya kisah duniaku sampai pada titik akhir. Aku sedang memunculkan setan di dalam diri, dengan cara menjadikan setan berada di bawah kontrolku. Atau mungkin setan sedang melakukan tipu muslihat, supaya aku menyangka bahwa aku sedang memainkan dirinya, padahal sebenarnya setanlah yang sedang mempermainkan diriku.
Baru saja meninggalkan Bandung Raya, langit meneteskan hujan di setiap langkah perjalanan. Welcome to the jungle, dengan senang hati aku hadapi rimba jalanan. Aku mengesampingkan trauma berkendara, mengabaikan licinnya jalanan, dan mencoba tak peduli terhadap kondisi ban yang tidak stabil. Ketika aku melihat kendaraan di depanku dirasa tidak beres, hatiku berbisik, “mati, mati, mati...”. Benar saja hal buruk terjadi, dua bus berlawanan arah hampir tabrakan di jalur tanjakan, dan aku berada di belakangnya. Sedikit terkejut, sambil menggerutu dengan senyuman, “hah... kematian”. Kemudian terjadi lagi kejadian hampir serupa setelah melaju beberapa kilometer, dan hatiku kembali berbisik, “mati, mati, mati...”. Hasilnya, satu kaca spion bus terlempar patah mengarah kepadaku. Rasa kaget pun mampu menghelakan nafasku.
Dalam perjalanan, sekali lagi aku melihat orang gila si pembersih sampah. Momen yang tepat, aku melihatnya ketika dia sedang membersihkan sampah di pinggir jalan, bertindak dingin di depan orang-orang waras sekitar yang mengabaikannya sekaligus mengabaikan sampah. Sekarang aku ingat di mana tempat dia beroperasi, sekitar daerah Kersamanah, Sukamerang, Garut. Dengan melihatnya dua kali di waktu yang jauh berbeda, aku simpulkan bahwa dia benar-benar nyata. Anehnya, dia beroperasi di wilayah yang sama, seakan-akan dia dapat menentukan bahwa wilayah tersebut adalah rumahnya. Orang gila yang mulia, membuatku malu karena tidak bisa segila dirinya. Gila berbentuk positif, memberikan dampak baik bagi lingkungan, dan menjadi contoh bagi setiap orang.
Hujan tak kunjung reda sepanjang tujuh wilayah administratif, bahkan semakin deras ketika perjalanan semakin jauh. Terakhir kali aku merasakan hal serupa sekitar 3 tahun yang lalu. Bedanya, dulu perjalanan di siang hari, perlengkapan berkendara cukup aman, dan disertai restu orang tua. Sekarang dilakukan malam hari, dengan membiarkan hujan membasahi setiap bagian tubuhku. Apa yang sedang terjadi dengan alam dan buruknya kondisi perjalanan, terkesan sedang memberi pertanda kepadaku. Mungkin hal tersebut terjadi karena kesan durhaka yang aku tinggalkan di rumah. Atau mungkin alam sedang menangisi kebodohanku, kebodohan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Aku sadar bahwa yang telah dan sedang dilakukan tidaklah baik. Aku benar-benar tidak sanggup memelihara kemarahan dan peran antagonis. Egoku perlahan luluh, mencoba memaafkan diri supaya tidak bersikap buruk dan menghentikan kegilaan dalam perjalanan. Welcome to the Jungle berubah menjadi nyanyian versi slowly. Aku tak sanggup berperan buruk terhadap orang tua, dan aku perlahan-lahan takut kematian. Bukan mati yang aku takutkan, tetapi aku takut nyawaku hilang dengan cara konyol, mati dalam keadaan tidak membawa manfaat dalam kehidupan, mati dalam kekosongan dan berakhir dalam keburukan.
Di wilayah Cilacap, aku berhenti di warung kopi yang jauh dari pemukiman. Sejenak menikmati segelas kopi hitam dengan menjadi diri sendiri yang tidak diada-ada—bersikap ramah saling menyapa dengan pemilik warung dan pengunjung lain. Mungkin itu bukan diri sendiri, melainkan masih berupa wujud lain dalam peran bermuka dua. Ponselku berdering pertanda masuk pesan. Dilihat sekilas, aku tahu kalau pesan tersebut dari ibuku, tetapi aku mengabaikannya, tak sanggup untuk membacanya, dan bingung untuk menyikapinya. Aku hanya berpura-pura tak menerima pesan, kemudian akan memberanikan diri untuk membaca dan membalas jika di hari lain aku menerima pesan.
Setelah kopi habis, hujan masih turun deras. Tak ada alasan untuk berlama-lama di warung, sehingga aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hujan, aku menikmatinya, membiarkan diri basah kuyup dan melawan rasa dingin. Lidahku tiba-tiba melantunkan lagu Gie (Eross & Okta) dengan nada pelan ketika tubuh mulai bergetar kedinginan. Aku teringat keluarga, berharap orang tuaku paham bahwa sikap burukku adalah jalan untuk membuka harapan atas pencapaian setiap mimpi, dan berharap perjalananku benar-benar merupakan langkah untuk mendapatkannya. Hujan mampu mencairkan suasana, mampu mengubah diriku supaya berhati-hati dalam perjudian, supaya aku tetap di bawah kontrol kesadaran.
---
Hujan, wujudmu adalah air suci
Kau menampakkan sisi baik dari bentuk abrasi
Meredam keburukan bersimbol api
Menekan amarah dalam denyutan urat nadi
---
Aku paham kau bukanlah Tuhan
Tapi tak pernah terdengar keluhan ketika bertugas meneteskan berkah bagi kehidupan
Melunturkan setiap kotoran-kotoran kebodohan
Bertindak sebagai penumbuh sekaligus pangan
---
Tak lelah kau berusaha membuatku sadar akan kebaikan
Terkesan memaksa supaya aku mengambil secuil pelajaran
Kau adalah kepatuhan, meneteskan diri pada waktu dan tempat yang ditentukan
Kau adalah kesabaran, menelan setiap cacian manusia yang dikuasai kesombongan
---
Hujan, aku tak pandai merangkai kata-kata
Tak pandai menentukan diksi dan rima untuk memuja
Memang kau tak pantas menjadi berhala, tapi mohon terimalah ucapan terima kasih
Dan demi keindahanmu, tolong sampaikan ketulusanku kepada Sang Maha Pengasih
***
Kemarahan, aku masih membutuhkannya. Aku tidak akan melenyapkannya, bahkan merasa bahwa kemarahanku masih kurang. Aku akan berhenti menggunakannya ketika menemukan cara lain yang lebih baik untuk menjalani proses kehidupan baik. Kemarahan yang aku pilih tidaklah sia-sia, karena sekarang aku dikenalkan rasa malu. Sebelumnya, aku tak tahu malu ketika membiarkan diri berlama-lama menyelesaikan tahap pendidikan, berlama-lama untuk tidak mandiri dengan cara menggantungkan sebagian hidup kepada orang tua, tak tahu malu ketika diri semakin tua tetapi masih berbentuk biji. Sekarang aku malu. Satu-satunya cara menghilangkan rasa malu adalah melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Adapun perjudianku bersama waktu, dengan memasang nasib sebagai taruhanku, aku belum menyelesaikannya. Beberapa kali aku kalah, tetapi bukan berarti aku belum pernah menang, dan belum ada keputusan siapa pemenangnya karena perjudian belum berakhir. Taruhan yang sementara aku menangkan adalah berbagai bentuk pelajaran. Aku mendapatkan pelajaran untuk memahami perniagaan, managemen, kemandirian, kemarahan, kesadaran, kesabaran, cobaan hidup, malu, semakin mengenali berbagai rasa dan emosi jiwa, dll. Perjudian yang menyenangkan. Berharap nasib yang aku taruhkan tidak berpindah tangan ke pihak lain disebabkan aku kalah—salah menebak jumlah angka pada dadu.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar