Penggalan lirik Homicide, “dilanda kemiskinan-kemiskinan filsafat”. Bagiku lirik-lirik Homicide berisi bagian-bagian yang menggelitik. Banyak penggalan lirik yang aku suka, dan salah satu penggalan lirik lain yang bagiku menarik adalah “arsitek bahasa”. Untuk menjadi keren tidak perlu kuliah di arsitektur, medis, atau yang berkenaan dengan eksak. Kuliah di bahasa atau sastra tak kalah keren. Di bahasa-sastra bisa bertindak sebagai arsitek, merancang bahasa supaya indah dalam tuturan atau makna. Bisa juga bertindak sebagai dokter, menganalisis persoalan batin kemudian membuat obat berupa kata-kata yang mampu meredamkan resahnya pikiran dan hati. Atau berlagak mengotak-atik logika seperti yang biasa dilakukan kaum matematika, mengurai satuan bahasa, memaknai unsur bahasa, melakukan analisis “jika ...., maka ....”. Dan hal yang sangat fatal, semua bidang ilmu memerlukan bahasa; tak akan terjalin hubungan Tuhan-manusia tanpa bahasa; tak ada hubungan antar sesama manusia tanpa bahasa; tak ada dialog batin tanpa bahasa; “mungkin”—sebab Allah lebih mengetahui terhadap apa-apa yang tidak diketahui makhluk-Nya.
Sayangnya Homicide memutuskan untuk berhenti berkarya. Memang personilnya masih melakukan “kebiasaan lama”, tetapi rasanya karya yang dihasilkan berbeda dengan Homicide. Disayangkan juga ketika sadar bahwa ilmu bahasa-sastra dipandang sebelah mata. Wajar, sebagian saudara sebangsa sedang dilanda demam eksak, medis, teknik, ekonomi-bisnis, atau disiplin ilmiah yang sekilas tampak berpotensi dapat mengeruk banyak uang dalam dunia kerja. Padahal, ahh... aku tak tega menyebutnya, Anda simpulkan sendiri, aku harap Anda paham realitas masyarakat—sekarang—ketika menyelesaikan tahap pendidikan formal, apa pun bidang ilmu dan bentuk ijazahnya.
Seperti biasa, aku ngawur ke berbagai arah ketika berbicara mengenai suatu persoalan. Mari arahkan kembali pada kemiskinan filsafat—yang sebenarnya masih berstatus ngawur dari tema yang dibicarakan. Tidak sedikit pihak yang hanya sekadar menggunakan bahasa, tetapi lupa makna dasar dari bahasa yang dituturkan. Alhasil, terjadi penyimpangan dalam menyikapi suatu bahasa, dan terjadi penyimpangan pada berbagai aspek kehidupan. Bingung? Aku coba jelaskan argumenku mengenai hal tersebut, mudah-mudahan ringan untuk dipahami. Contoh kecil dari bahasa yang mulai terjadi penyimpangan dalam menyikapinya adalah “pendidikan”. Makna dasar dari pendidikan adalah mencari ilmu, upaya untuk mengetahui hal yang sebelumnya belum diketahui, syukur-syukur jika menjadi ahli. Namun, perhatikan apa yang terjadi pada sebagian masyarakat, pendidikan disikapi sebagai jalan untuk mendapatkan pekerjaan, yang penting dapat ijazah dengan nilai memuaskan, entah bagaimana pun cara mendapatkan nilainya. Makna dasar, tanpa dasar tak akan ada pijakan, tak akan ada atas, dan tanpa dasar tak akan ada yang namanya terapan.
Tidak aneh jika terjadi penyimpangan, karena tatanan kehidupan masyarakat sedang sakit, dan anehnya masyarakat menyepakati dalam bentuk tak tertulis untuk terjebak dalam tatanan tersebut. Seperti ketika korporat mengharuskan masyarakat memiliki persyaratan tanda sah pendidikan formal untuk bisa bekerja, masyarakat setuju-setuju saja, dan tidak peduli dampak yang akan terjadi dari permainan korporat tersebut. Anda simpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi dalam masyarakat.
Dari persoalan kecil tersebut, aku paham apa yang difirmankan Tuhan dalam kitab-Nya, walaupun mungkin belum sepenuhnya memahami. Sering kali dalam penggalan ayat terdapat kata “pikir/akal”, biasanya berbentuk “.... apakah kamu tidak berpikir”; “.... apakah kamu tidak menggunakan akal”; “.... supaya kamu berpikir”. Yang aku pahami, bahwa penggalan ayat tersebut merupakan bentuk sindiran supaya manusia menggunakan akal, atau sindiran ketika manusia melakukan kebodohan yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Akal manusia lebih canggih daripada processor komputer keluaran terbaru, tetapi mengapa realitas yang terjadi sebagian besar masyarakat kalah dengan seonggok sirkuit yang disusun oleh tangannya sendiri.
Filsafat adalah salah satu aktifitas penggunaan akal. Seseorang menyimpulkan fenomena yang dirasakan oleh pancaindranya dalam proses filsafat. Aku pikir, entah disadari atau tidak, semua orang melakukan aktifitas filsafat. Kadang aku aneh terhadap orang yang bersikap sinis pada filsafat, dianggap suatu hal yang tak penting, tak berguna. Padahal, setuju atau tidak, orang tersebut sedang melakukan aktifitas filsafat, karena jika tidak, berarti orang tersebut tidak hidup.
Kemiskinan filsafat merupakan tanda bahwa orang tidak mau berpikir. Yang penting hidup, senang, menjalani setiap detik nafas kehidupan sesuai dengan alur romantismenya tanpa perhitungan yang matang. Dampaknya, tatanan kehidupan pun sembrawut, di sisi lain serba benar, dan di sisi lain serba salah. Mungkin lama-kelamaan dampaknya semakin memburuk, sampai lupa bahwa sebenarnya diri adalah manusia.
Semakin ngawur. Tema yang sedang dibicarakan sebenarnya menyinggung refleksi diri. Murid adalah cerminan dari gurunya; anak adalah cerminan dari orang tuanya; karya adalah cerminan dari pembuatnya; seseorang merupakan cerminan dari temannya; dll. Refleksi diri melingkupi bidang yang sangat luas. Untuk kali ini, aku ingin menuliskan keresahan pikiranku mengenai refleksi diri yang berorientasi pada kepemimpinan.
Bentuk kepemimpinan yang melibatkan lebih dari satu orang merupakan refleksi diri. Jika suatu perusahaan besar terdiri atas ketua, bagian produksi, logistik, keamanan, marketing, dll, maka setiap hal tersebut sudah dimiliki oleh masing-masing manusia. Dalam menjalani kehidupan, diri dituntut untuk memimpin brainware, software, dan hardware pribadi, sehingga mau tidak mau diri harus menentukan sikap yang akan dilakukan. Supaya bisa kenyang, diri harus memerintahkan tangan untuk mengambil makanan ke dalam mulut, kemudian mulut diperintahkan untuk mengunyah sampai ditelan ke dalam perut, dst. Setiap orang merupakan organisasi bagi partisi-partisi yang secara lahiriah maupun batin menyatu di dalam diri. Fenomena tersebut mengharuskan adanya manajemen. Bisa menjalani hidup dengan baik, sebab manajemen diri dilakukan dengan baik, begitu pun sebaliknya. Manajemen berasal dari brainware, software bertindak sebagai perasa dan penilai etik, dan hardware adalah penindak.
Berbicara dalam lingkup yang lebih besar, terdapat sabda rasul yang familier di kalangan muslim, bahwa setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Aku tak paham apakah setiap muslim menjadikan sabda tersebut sebagai prinsip hidup, atau hanya menyikapinya sebagai angin lalu. Sebelumnya, aku sendiri tidak menjiwai sabda tersebut, hanya sekadar menyikapi bahwa itu adalah sabda rasul, karena sedang dikacaukan oleh glamornya tokoh-tokoh ternama dalam negeri beserta karyanya, juga tokoh asing yang biasa ditulis dalam LKS Sekolah Dasar, dan alasan yang paling kuat adalah aku malas untuk menggunakan akal. Padahal, jika sabda tersebut ditelaah lebih dalam, kemudian dipraktikkan dalam kehidupan, maka dampak yang dihasilkan berpotensi menjadikan tatanan kehidupan sangat baik (dalam hal kebaikan), setidaknya kehidupan baik tersebut terjadi pada diri sendiri.
Jika sabda tersebut dijadikan prinsip hidup, mungkin tidak ada yang namanya korupsi dalam lingkup pemerintahan, tidak ada aktifitas keuntungan sepihak, atau tidak ada aktifitas saling merugikan dalam lingkup umum. Karena setiap orang sadar, bahwa setiap keputusannya akan dimintai pertanggungjawaban, entah oleh sesama manusia, atau oleh Tuhan sebagai penilaian final di hari akhir. Sehingga muncul dampak baik, setiap orang melakukan kebaikan sebaik mungkin, supaya mendapatkan penilaian baik dari sesama manusia dan Tuhan. Namun, sangat disayangkan bahwa realitas umum yang terjadi adalah antonim dari kebaikan. Banyak pihak yang senang melakukan keburukan, karena mungkin tidak sadar atau tidak tahu malu bahwa di kemudian hari dirinya akan dipermalukan. Seolah-olah lupa bahwa pertanggungjawaban itu benar-benar nyata.
Kepemimpinan melingkupi beberapa bagian, berupa memimpin diri sendiri, memimpin pihak/bentuk lain dalam keluarga, kelompok, organisasi, ataupun dunia kerja. Berada di bagian mana pun, tetap saja diri bertindak sebagai pemimpin. Bukan berarti pemimpin organisasi hanya yang menjabat sebagai ketua, tetapi anggota pun adalah pemimpin atas pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Jika sadar mengenai isi sabda rasul, mungkin tidak ada karyawan yang berleha-leha, bekerja hanya sesuai dengan apa yang ditawarkan tanpa melakukan pekerjaan dengan maksimal, dan tak peduli jika perusahaan tempat dia bekerja untung, rugi, atau bangkrut.
Intinya, dalam menilai diri, tinggal lihat saja pribadinya, apakah sudah baik dalam memimpin diri sendiri atau belum. Lihat dari sudut pandang kedisiplinan dan rasa tanggung jawabnya. Misal, jika ingin memilih pejabat pemerintahan, lebih baik pelajari dulu kehidupan pribadinya, dari berbagai sudut pandang sifat yang biasa dilakukannya, supaya ketika menjadi pejabat tidak merugikan. Jika ingin menerima karyawan/pekerja, lebih baik pelajari dulu si calon berdasarkan sifat yang biasa dilakukan, supaya tidak berujung merugikan usaha yang dibangun dengan keringat pribadi. Jika ingin menikahi seseorang, lebih baik pahami dulu orangnya berdasarkan sifat yang biasa dilakukan, supaya dapat memimpin keluarga dengan baik.
Ternyata tidak mudah menuliskan apa yang dipikirkan, tetap saja penyajiannya kacau. Mungkin karena aku terlalu banyak bicara, sehingga lupa bagaimana caranya menulis. Dari tadi aku menyediakan contoh yang isinya pandangan diri terhadap pihak lain. Adapun pandangan terhadap diri sendiri, sering kali diri menginginkan sesuatu tanpa berkaca pada kemampuan pribadi. Maksudnya, belum sanggup memimpin diri, tetapi ingin sesuatu lain di luar diri. Inginnya menikah, tetapi memimpin diri sendiri saja belum sanggup, padahal jiwa yang dipimpin dalam ikatan pernikahan akan bertambah. Wajar jika tak kunjung menikah, atau jika terjadi pernikahan, maka wajar jika hubungan tidak harmonis, bahkan sebagian pihak memilih perceraian sebagai solusi. Inginnya punya usaha yang besar, tetapi tidak berkaca pada diri sendiri dalam hal kepemimpinan diri, padahal di dalam usaha yang besar akan menambah urusan yang akan dipimpin. Wajar jika tidak pernah sampai untuk memiliki usaha yang besar, atau jika memaksakan diri membuka usaha, maka tidak lama usahanya jatuh bangkrut. Inginnya jadi pejabat, tetapi memimpin diri sendiri dan keluarga saja tidak becus, padahal jadi pejabat harus memimpin banyak jiwa. Wajar jika tak pernah terpilih jadi pejabat, atau jika memaksakan diri menjadi pejabat, maka tatanan kehidupan masyarakat pun menjadi rancu.
Jika tidak salah ingat, dinyatakan dalam penggalan Firman Tuhan, bahwa setiap orang diberi urusan sesuai dengan kemampuannya. Kurang lebih maksud di dalam ayat seperti itu. Jika diri ingin melangkah ke tahap yang lebih besar, ada baiknya perhatikan terlebih dahulu tahap yang sedang dijalani, apakah sudah dirasa mampu memimpin tahap tersebut atau belum? Jika mampu, maka berpotensi untuk melangkah ke tahap yang lebih besar, karena Tuhan hanya memberikan persoalan yang mampu dijalani oleh diri yang bersangkutan. Memang Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pemurah, sampai rela Memberikan skenario kehidupan kepada makhluk-Nya sesuai kemampuannya.
Aku ingin punya rumah yang besar, tetapi mengurus indekos ukuran 3x4 m saja tidak becus. Barang-barang berserakan tak tertata, debu pun tebalnya 0,5 mm. Ahh.. sepertinya rumah besar yang aku inginkan tetap berupa angan-angan saja, tak akan pernah menjadi nyata. Jika seandainya datang keajaiban, ternyata tiba-tiba diberi rumah yang besar oleh anonim, mungkin dalam jangka sebulan rumah tersebut bertranformasi menjadi kandang babi.
Kepemimpinan -> pertanggungjawaban=dampak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar