Keindahan kata-kata tidak bisa dibatasi oleh rima, diksi, gaya bahasa, atau hal lain yang lazim berada dalam karya sastra. Aku sendiri kadang menilai keindahan tuturan berdasarkan maknanya. Entah siapapun penuturnya, setiap penggalan obrolan yang aku dengar dan aku terima pelajaran darinya, maka kata-kata tersebut bagiku indah, bahkan sebagian aku jadikan prinsip hidup.
Di suatu malam, ketika tetanggaku—sekaligus yang punya kontrakan—di Bantul sedang mengolah hasil taninya, aku menghampirinya untuk berbincang. Hal tersebut, cukup sering dilakukan, dan aku harap tidak mengganggu. Tujuanku bukan hanya sekadar menghabiskan waktu malam dengan obrolan, atau mengakrabkan diri dengan penduduk setempat, tetapi memperhatikan apa yang dia kerjakan, dan berharap mendapatkan pelajaran yang bisa dimanfaatkan.
Yang namanya ngobrol, tidak aneh jika temanya berantakan, saling ganti antara tema yang satu dengan yang lain. Ketika obrolan sampai pada isu politik dan sosial sekitar, dan aku—mungkin—bersikap kritis sehingga orang yang diajak bicara terpancing untuk bersikap bijak, maka keluarlah dari mulutnya, “yang penting aksi”. Wajar jika dia bijak, karena secara umur, pengalaman hidup, pendidikan, dll, dia lebih mapan. Mungkin sikap bijaknya ditujukan untuk meredam ocehanku yang labil. Karena hal itu, seketika aku merenung, kemudian aku pahami maksudnya dalam lamunan sambil terlentang di atas kasur, dan sekarang menjadi salah satu prinsip hidup.
---
“Yang penting aksi”, -Wintolo.
---
Jika dihubungkan dengan perilaku sosial, makna kata-kata tersebut mengkritik berbagai macam sikap, sekaligus memberi solusi. Untuk sementara, berikut yang bisa aku simpulkan dan mungkin di masa depan akan bertambah:
1. Kritik bagi pihak yang senangnya hanya bicara
Bicara itu bagus, dan merupakan salah satu faktor penting untuk melakukan aksi. Posisi “bicara” berada setelah “berpikir”. Biasanya, aktifitas bicara terjadi jika akan melakukan aksi yang melibatkan lebih dari satu pelaku. Ada juga aksi yang tidak melalui proses bicara, maksudnya dari aktifitas berpikir—melangkahi aktifitas bicara—kemudian langsung melakukan aksi, dan biasanya tidak melibatkan pihak lain, walaupun hasilnya terdapat kemungkinan untuk dirasakan orang lain.
Bicara itu bagus, dan merupakan salah satu faktor penting untuk melakukan aksi. Posisi “bicara” berada setelah “berpikir”. Biasanya, aktifitas bicara terjadi jika akan melakukan aksi yang melibatkan lebih dari satu pelaku. Ada juga aksi yang tidak melalui proses bicara, maksudnya dari aktifitas berpikir—melangkahi aktifitas bicara—kemudian langsung melakukan aksi, dan biasanya tidak melibatkan pihak lain, walaupun hasilnya terdapat kemungkinan untuk dirasakan orang lain.
Hari ini banyak orang pintar. Peradaban maju adalah pertanda bahwa bangsanya pintar, karena peradaban dibangun oleh bangsa. Tentunya kepintaran terjadi karena adanya faktor, sebagian di antaranya adalah keinginan dan fasilitas. Khusus mengenai faktor fasilitas, dunia sedang dimudahkan oleh adanya media informasi elektronik, baik berupa radio, tv, internet, dll. Tidak seperti zaman dulu, buku saja sulit dicari.
Sayangnya, walaupun banyak yang pintar dan tentunya tidak bodoh, tetapi masih banyak pihak yang goblok. Bodoh dan goblok memiliki perbedaan yang tipis, tetapi tetap saja berbeda. Bedanya, bodoh sama dengan tidak/belum tahu, dan goblok sama dengan tahu tetapi masa bodoh. Contoh goblok; sudah tahu api panas, malah sengaja bermain api; sudah tahu merokok itu bahaya bagi tubuh, tetapi tetap saja hobi merokok; sudah tahu surga dapat dicapai dengan cara mengabdi kepada Tuhan, tetapi tak pernah ibadah; dll.
Perhatikan diri sendiri dan orang sekitar, sering bicara yang baik-baik kepada orang lain, hobinya menasihati, tetapi yang bicara tidak melakukan apa yang dia bicarakan. Memang tidak semua orang seperti itu, tetapi realitasnya banyak yang bersikap seperti itu. Sikap macam apa itu!? Hasilnya, hanya menjadi kekosongan kata-kata. Gunanya, hanya memberi tahu orang yang diajak bicara, itu juga jika yang diajak bicara melakukan aksi dari apa yang dibicarakan. Jika yang bicara dan diajak bicara tidak melakukan aksi, maka semuanya tidak berguna.
2. Utamakan aksi
Bisa karena biasa. Jika biasanya hanya bicara, maka bisanya hanya sekadar bicara, dan sampai anak cucu pun hobinya hanya bicara. Lebih baik biasakan aksi daripada bicara, dengan catatan jika keterangan—cara beserta maksud—aksi sudah jelas (tak perlu dibicarakan lagi).
Bisa karena biasa. Jika biasanya hanya bicara, maka bisanya hanya sekadar bicara, dan sampai anak cucu pun hobinya hanya bicara. Lebih baik biasakan aksi daripada bicara, dengan catatan jika keterangan—cara beserta maksud—aksi sudah jelas (tak perlu dibicarakan lagi).
Banyak hal yang bisa dihasilkan oleh aksi. (1) Sebagai kritik dan ajakan terhadap pihak lain. Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa hari ini banyak yang pintar, maka kemungkinan besar kritik/ajakan terhadap pihak lain melalui kata-kata tidaklah berguna, sangat berpotensi disikapi sebagai “angin lalu”. Dengan aksi, pelaku bisa memberikan contoh kepada pihak lain, sehingga pihak lain terketuk hatinya untuk kemudian melakukan apa yang dilakukan pelaku. Contoh, mengenai kesadaran dan kedisiplinan terhadap sampah. Jika seandainya kita ingin pihak lain sadar untuk membuang sampah pada tempatnya, maka tak perlu menghabiskan energi untuk bicara, tetapi berilah contoh dengan membuang sampah pribadi ke tempat sampah, dan buang juga sampah pihak lain ke tempat sampah tanpa minta imbalan. Lebih baik lagi jika membuang sampah pihak lain di depan orangnya. Mau tak mau, jika pihak lain masih punya hati, dia akan merasa malu sebab apa yang kita lakukan, kemudian tumbuh kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.
(2) Aksi menghasilkan sesuatu yang nyata dan perubahan. Lakukan apa pun yang ada di dalam pikiran, tanpa banyak bicara. Kecuali, jika belum paham cara/keterangan apa yang ingin dilakukan , maka mesti bicarakan terlebih dahulu dengan pihak lain yang paham. Tanpa aksi, sampai kapan pun semua pikiran hanyalah sebuah perencanaan, tidak ada hasil nyata yang bisa dirasakan.
Misal, kita ingin jalan gang rumah rapih, maka lakukan aksi untuk merapihkan jalan, jangan tunggu keputusan pemerintah desa setempat untuk memberikan bantuan berupa tenaga, material, ataupun finansial. Masih mending jika pemerintah desa setempat cepat tanggap untuk memberikan fasilitas. Namun, jika misalkan permintaan kita pada pemerintah tidak direspon dengan baik, sehingga “menggantung” berbulan-bulan, maka jalan gang tidak ada perubahan, tetap tidak rapih.
Misal lain, kita mengeluh pada pemerintah tentang pelayanan pendidikan, karena ingin pelayanan pendidikan mapan dalam bidang fasilitas kelas, kurikulum, pengajar, dsb. Mengeluh tidak ada gunanya, apalagi jika disertai menjelek-jelekkan pemerintah, hanya akan menambah dosa. Lebih baik lakukan aksi dengan cara menjadikan diri kita hebat, supaya nanti kita bisa menjadi bagian dari pemerintah di bidang pendidikan, sehingga kita bebas mengatur/mengubah pelayanan pendidikan sesuai idealisme masing-masing. Atau, cara lain, membuat instansi pendidikan sendiri.
Misal lagi, kita mengeluh pada pemerintah bahwa presiden dan antek-anteknya tidak becus kerja sehingga menyebabkan negara sembrawut. Yang perlu dilakukan bukanlah mengeluh, demo, protes, dll, karena belum tentu menghasilkan perubahan, dan kemungkinan besar tidak ditanggapi oleh pihak pemerintah. Lebih baik lakukan aksi, jadikan diri kita hebat, kemudian di masa depan jadilah presiden, dan atur pemerintah sesuai idealisme masing-masing.
Misal lagi, jika ingin kaya, maka bekerjalah dengan rajin dan cerdas. Jika yang dilakukan hanya merenung sambil mengeluh, maka sampai kapan pun tetap mejadi renungan, sedikit pun tidak menjadi uang.
Misal lagi, banyak jika disebutkan semua...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar