Rabu, 03 Agustus 2016

KISAH DARI SEDIKIT KEINGINAN

Adalah tentang omong kosongku yang kesekian kalinya. Ingin sekali meluapkan kemarahan, tetapi tak ada target pelampiasan. Sebab ini adalah permasalahanku, aku tokohnya, aku penindak, dan aku yang merasakan akibatnya, tak ada campur tangan pihak lain. Ada yang sempat dijadikan kambing hitam karena tak kuat menahan emosi, tetapi setelahnya aku merasa kotor. Tuhan, aku mengadu kepada-Nya, mencaci-Nya, marah mengenai kondisi jalan yang aku tapaki. Setelahnya aku merenung, tersadar bahwa sikapku tidaklah benar, karena Tuhan tidak layak disalahkan, terutama ketika paham bahwa aku hidup dengan nafas yang diberikan oleh-Nya tanpa proses perniagaan.
 
Dalam pandangan manusia yang diperbudak hawa nafsu, mungkin kelakuanku—menyalahkan Tuhan—tidak sepenuhnya salah. Aku terombang-ambing, ketika sedang memahami (1) kitab suci, (2) ajaran nabi, dan (3) ilmu pengetahuan hasil dari pemikiran manusia, yang semuanya aku jadikan pegangan hidup, dan tentunya membuatku bingung jika kehidupanku—setelah mengikuti petunjuk dari ketiganya—ternyata tidak sesuai dengan harapanku. Baiklah jika seandainya aku melepaskan bagian yang ketiga, karena itu lemah jika dibandingkan dengan firman Tuhan. Selanjutnya, aku masih dibingungkan oleh dua sudut pandang, firman Tuhan dan ajaran nabi, yang keduanya tidak bisa diabaikan. Dengan menanggalkan resiko, baiklah jika seandainya aku melepaskan ajaran nabi, karena firman Tuhan masih kuat jika dibandingkan dengannya. Sayangnya, hanya dengan satu pegangan hidup, aku masih dibingungkan. Karena berdasarkan akalku, pernyataan satu mampu melemahkan pernyataan lain dalam satu kesatuan pernyataan (Alkitab), dan ketika nasib hidupku tidak sesuai dengan harapanku setelah mengikuti petunjuknya, maka hawa nafsuku mengamini untuk menyalahkan Tuhan.

---
Imanku lemah, ilmuku sedikit, emosiku labil, belum mampu mengendalikan diri sendiri sepenuhnya, dan akalku belum mampu mencerna dengan baik setiap ajaran yang aku terima.
---

Menyalahkan Tuhan, bagiku omong kosong. Sayangnya aku sedang berusaha menjadi orang yang benar-benar berakal, menjadi pemberontak dalam dominasi kekuasaan hawa nafsu, untuk menjadikan hawa nafsu sebagai hambaku. Jadi, apa pun alasannya, Tuhan tetap tidak bisa disalahkan. Aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Karena di hadapan Tuhan, persona satu tidak bisa menanggung dosa persona lain, masing-masing merasakan akibat dari perbuatannya sendiri.

***

Paham konsep, ingin melakukan, tetapi nyatanya diri tidak sanggup melakukan, itu lebih menyedihkan daripada tidak paham sama sekali. Permasalahanku kecil, tetapi bagiku adalah persoalan besar. Jika aku membicarakannya kepada orang lain, mungkin akan ditertawakan, karena permasalahanku hanya sekadar ingin tidur teratur dan rajin. Simpel, tidur dan rajin, hanya dua kata, bukan merupakan kalimat, dan aku kewalahan menghadapinya. Kedua hal tersebut bisa saja disimpulkan dengan istilah yang lebih sederhana, disiplin atau menguasai diri. Namun, disiplin maupun menguasai diri adalah hal besar, belum sanggup dilakukan. Karena bagian kecilnya saja, tidur dan rajin, masih belum dikuasai.

Semakin dilawan, membuatku semakin tenggelam. Tak ada bentuk perlawanan lain kecuali ditujukan pada antonim tidur teratur dan rajin. Aku melawan ketidakteraturan tidur dan sifat malas. Sesulit apakah sampai digunakan kata “tenggelam” terhadap sifat yang aku lawan? Entahlah, hanya karena sifat buruk tersebut, aku terpancing untuk marah. Aku sendiri tak paham marah kepada siapa, tak ada objek yang layak dijadikan pelampiasan, hanya merasakan bahwa di dalam dadaku bergejolak, sehingga setiap yang aku rasakan melalui pancaindra dan hati, aku menyikapinya dengan kebencian.

***

Aku mengutamakan tidur daripada rajin, karena rajin bisa dilakukan setelah tidur. Tentunya tidur adalah strategiku sebagai langkah awal menuju rajin. Mengenai tidur, memang usahaku belum maksimal, tetapi bagiku cukup lumayan. Aku memenuhi siang dengan aktifitas, menyambut malam dengan obat tidur, mematikan lampu, menjauhkan media elektronik, minum susu, memaksa memejamkan mata untuk terlelap, dan doa kepada Tuhan. Semuanya tidak dilakukan secara bersamaan dalam hari yang sama, kecuali sebagian faktor.

Betapa kasihannya diriku, hanya persoalan tidur saja masih belajar, bersusah payah memejamkan mata untuk terlelap. Sampai membuatku iri terhadap orang yang bisa tidur dengan mudah kapan pun di mana pun. Bukan berarti aku tidak bisa tidur. Aku pasti tidur setiap hari. Permasalahanku adalah tidur di waktu yang tepat. Tepatnya aku ingin terlelap jam 9 malam sampai jam 2 pagi.

Aku simpulkan bahwa penyebab sulit tidur adalah terdapat pikiran yang mengganggu dan kurangnya aktifitas. Tak ada faktor lain yang bisa aku simpulkan, karena hanya dua faktor tersebut yang sedang aku alami. Pikiranku bercabang pada berbagai persoalan yang mesti diselesaikan. Parahnya, aku tidak bisa mengabaikan persoalan lain, untuk kemudian fokus pada satu persoalan. Tak mungkin aku menyelesaikan semua persoalan secara bersamaan, karena masing-masing bidang sangat berbeda. Solusinya, aku memaksakan diri untuk menyelesaikan satu persoalan terlebih dahulu, walaupun prakteknya tetap saja persoalan lain menghantui pikiran, sehingga tidak fokus pada persoalan yang sedang diselesaikan.

Bentuk aksi persoalan yang sedang diselesaikan tidak disertai dengan pengolahan raga. Ada pergerakan, tetapi sedikit, tidak membuat ragaku lelah, jadi aku simpulkan bahwa apa yang aku kerjakan bukanlah aktifitas yang bisa membantuku tidur dengan mudah karena lelah. Aktifitasku berada dalam alam pikiran. Tentang mencari persoalan, pemecahan masalah, dan bagaimana menyajikannya dengan indah. Yang perlu ditekankan dalam hal ini bukanlah aktifitas yang sedang dikerjakan, melainkan sulit tidur dikarenakan banyaknya pikiran tak teratur dan kurangnya aktifitas raga.

Tak mungkin aku mengabaikan persoalan yang sedang digarap, dan tak mungkin melakukan aktifitas raga yang berat karena akan mengganggu daftar kerjaku. Obat tidur pun menjadi pilihan, sekaligus melanggar prinsip hidup sebagai orang yang anti obat kimia berbentuk pil, tablet, kapsul, maupun cairan. Tanpa pengetahuan sedikit pun mengenai obat tidur, aku memberanikan diri untuk berbincang dengan apoteker. Dia menduga bahwa masalahku adalah terlalu banyak pikiran, kemudian menawarkan berbagai macam obat tidur dari yang termurah sampai yang termahal. Aku memilih obat termurah kedua—satu tingkat lebih mahal dibandingkan obat paling murah—supaya efeknya cepat membuatku tidur, dan tidak berani beli yang mahal karena takut timbul efek buruk terhadap ragaku.

Dengan bantuan obat, aku bisa tidur sekitar jam 9 malam. Namun, anehnya tidak nyenyak, hanya mampu terlelap sekitar 2 jam, dan badanku dingin tidak nyaman setelah bangun, disertai dengan kejadian seperti ada yang menyerap di kepala, dari bagian luar ke bagian dalam secara berulang-ulang. Awal-awal mengonsumsi obat, aku bisa tidur dengan lancar, tetapi lama-kelamaan badanku kebal, tak ada efek kantuk sama sekali. Menurutku tidak sehat jika aku terus-menerus mengonsumsi obat tidur. Tidak berani bertindak lebih ekstrim dengan cara menambah dosis obat 2 kali lipat atau lebih untuk sekali minum, atau membeli obat yang lebih mahal. Lebih baik berhenti, dan menggunakan cara lain yang lebih sehat.

Setelah melakukan cara lain dalam agenda mempermudah tidur, aku kembali melakukan cara lama, mengonsumsi obat tidur, karena dengan cara lain tidak berguna. Untuk kali kedua mengenai obat tidur, aku pilih yang paling murah, dan dikonsumsi 2 tablet sekali minum. Sayangnya cara tersebut bernasib sama dengan yang pertama. Badanku kebal. Aku putuskan untuk berhenti mengonsumsi, kemudian cari lagi cara yang lebih sehat. Ketergantungan atau menambah dosis terhadap obat untuk menuntaskan masalah tidur bukan pilihan tepat, hanya akan menghasilkan akibat konyol karena tindakan konyol. Ragaku tak sehat, dan aku tak mau memperburuk keadaan.

Aku penuhi siang dengan aktifitas raga. Harus ada yang dikorbankan. Persoalan yang sedang aku garap menjadi korban, terabaikan dan tak tahu kapan bisa diselesaikan, menjadi martir supaya agenda tidur tepat waktu dapat direalisasikan. Langkah pertama, aku habiskan waktu siang di luar rumah. Entah kemana pun perginya, baik ke kampus maupun memutari jalanan, yang penting aku tidak berdiam diri di rumah. Berhari-hari aku membuang waktu dengan hal tersebut, tetapi hasilnya nihil. Memang aku merasa lelah, merasa kantuk sampai menguap beberapa kali, tetapi tidak mampu membuatku terlelap di malam hari. Hal yang paling menyebalkan, ketika raga terasa lelah, tak mampu lagi melakukan aktifitas berat di malam hari, tetapi mata tidak mampu terlelap ke alam mimpi, tetap tidak bisa tidur walaupun dipaksa dengan cara mematikan lampu dan menjauhkan media elektronik.

Langkah kedua, jogging rutin setiap pagi dengan jarak yang lumayan jauh. Menghabiskan waktu sekitar setengah jam tanpa istirahat, dengan langkah kaki yang lebih cepat daripada jogging yang dilakukan banyak orang pada umumnya. Walaupun di pagi hari berembun sebelum matahari tampak jelas terlihat, aktifitas tersebut mampu membuat bajuku basah dipenuhi keringat. Di samping mencari lelah, jogging aku jadikan cara untuk melancarkan peredaran darah di dalam tubuh. Supaya tubuhku meningkat menuju normal, kemudian berdampak pada siklus hidupku menjadi normal, sehingga aku bisa tidur di waktu normal. Namun, tetap saja aku sulit tidur di malam hari. Malah yang terjadi aku tertidur setelah jogging dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, muncul kesimpulan baru, bahwa tidak hanya tubuh yang harus merasa lelah, tetapi jasmani dan rohani harus sama-sama lelah. Aku lelah untuk menjadi lelah. Aku tinggalkan aktifitas raga karena tidak menghasilkan solusi.

Sejenak aku tak peduli pada misi tidur tepat waktu. Percuma fokus memejamkan mata yang tidak mau terlelap, hanya akan menghabiskan hidup dengan banyak waktu yang terbuang. Biarkan hidupku mengalir, sehingga sebagian diriku terjajah oleh jasadku sendiri, belum sanggup menguasai jasad sepenuhnya. Aku isi waktu malam dengan aktifitas sepadat mungkin, supaya tetap bisa menghasilkan karya. Tak hanya malam, kapan pun mataku terbuka, aku isi waktu sadarku dengan aktifitas. Namun, aktifitas yang dilakukan bukanlah berbagai persoalan yang mengganggu pikiran. Kali ini yang menjadi martir bertambah satu, urusan yang layak dipriotaskan dan misi tidur tepat waktu. Sehingga muncul misi baru, adalah tentang karya yang wajib dihasilkan di setiap detik kehidupanku, baik berupa hubunganku dengan sosial, hubungan dengan Tuhan, maupun berupa karya tampak hasil dari aktifitas raga. Lebih jelasnya, aku melakukan aktifitas yang aku suka, keinginan yang telah lama aku tunda.

Berbulan-bulan aku melakukan apa yang aku suka, tanpa menyentuh sedikit pun urusan yang semestinya diutamakan. Aku harap keputusan tersebut dapat membuatku lupa pada setiap persoalan yang mengganggu pikiran. Sehingga keinginanku sebelumnya, tidur teratur dan rajin, bisa direalisasikan dengan mudah. Walaupun pada kenyataannya muncul persoalan baru, rasa waswas, karena setiap detik aku semakin menua di samping menyelesaikan persoalan yang mesti diutamakan. Aku dihantui oleh nasib masa depanku.

Tiba-tiba aku ingat bahwa minum susu bisa membantu supaya cepat tidur. Pernyataan tersebut entah datang dari mana, aku lupa. Mungkin aku salah menerima pernyataan, dan belum menelusuri keterangan yang membenarkan bahwa minum susu bisa mempermudah tidur. Tak akan ada bukti jika tidak dicoba. Lebih baik aku melakukan hal tersebut. Lagi pula susu bisa menambah asupan gizi di tengah asupan makanan yang tak karuan dalam perantauan. Tidur tepat waktu kembali menjadi misi utamaku.

Dua hari pertama, minum susu bisa membantuku tidur tepat waktu. Mungkin hal tersebut bisa terjadi karena bantuan sugesti. Karena di hari-hari selanjutnya, susu hanya menjadi pemanja lidah di malam hari. Kebiasaan membuka mata sepanjang malam kembali menjadi persoalan fatal. Mungkin susu tidak cukup membantuku untuk tidur. Maka beberapa potong roti ditambahkan sebagai teman hidangan. Roti dan susu merupakan kombinasi yang tepat. Namun, hal tersebut tidak membawa perubahan, hanya menjadi pengganjal perut di malam insomniaku.

Saatnya bersikap tegas. Cara konyol tanpa dasar yang kuat aku jalankan. Tak peduli jika hasilnya akan berbuah kekonyolan. Aku membuat aturan yang harus dipatuhi, harus berbaring untuk tidur tanpa aktifitas apa pun pada jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Tak ada sinar lampu dan media elektronik, hanya keheningan malam dengan penuh harapan mata terlelap. Realitasnya, cara konyol membuahkan hasil yang benar-benar konyol. Walaupun sudah berbaring memejamkan mata, tetap tidak bisa tidur berjam-jam. Benar-benar membuang waktu. Konyolnya, mulai terasa kantuk ketika sampai pada jam 3 pagi, dan di menit-menit selanjutnya, aku pun tertidur dengan bonus bangun kesiangan. Konyol yang mengundang dosa.

Cara yang sama masih digunakan di hari-hari selanjutnya. Sambil terlentang dalam keheningan malam, aku ingat pada satu hal fatal yang aku lupa. Aku lupa berdoa pada Sang Pemilik Tidur. Memang aku mengucapkan doa yang umumnya biasa diucapkan oleh umat muslim sebelum tidur, meminta perlindungan kepada Tuhan dengan menyebut nama-Nya disertai pujian bahwa Dia berkuasa atas kehidupan dan kematian. Namun, aku tidak meminta kepada-Nya untuk memudahkanku tidur dan bangun di waktu yang aku harapkan. Percuma aku melakukan ribuan cara untuk membuatku tidur tanpa meminta pertolongan kepada Tuhan, sebab Dia pemilik “kehendak” pada setiap kehidupan manusia. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, tetapi Tuhan yang Mengizinkan.

Sambil memaksa memejamkan mata disertai doa, tanpa ada gangguan yang bisa merusak usahaku untuk tidur, aku dihadapkan pada kenyataan buruk yang sama seperti sebelumnya. Aku hanya menghabiskan waktu di atas pembaringan berjam-jam tanpa terlelap, dan ketika masuk sekitar jam 3 yang ditandai dengan adanya suara dari masjid sekitar, seketika aku merasa kantuk dan terlelap, kemudian bangun pada jam yang tidak aku inginkan.

Aku marah. Hawa nafsuku mencari jalan untuk membenarkan kemarahanku. Tidur teratur dan rajin tidak aku dapatkan. Riwayat dan ayat yang sebelumnya aku bingungkan, disertakan untuk melawan Tuhan. Dalam suatu riwayat, ada penjelasan mengenai takdir, bahwa setiap manusia sudah dituliskan jalan hidupnya dalam suratan takdir sejak ruh diberikan kepada jasadnya. Dalam ayat, beberapa kali dijelaskan dalam banyak penggalan ayat bahwa Tuhan yang Menghendaki. Takdir dan kehendak. Dalam kendali hawa nafsu, aku menggerutu tentang apa yang Tuhan inginkan pada hidupku, tentang nasibku yang—sementara—terkesan tidak diizinkan untuk melakukan kehidupan baik, tentang akhir ceritaku yang—sementara—terkesan akan berakhir dalam neraka. Apa mungkin yang Tuhan inginkan padaku adalah supaya aku membiarkan keburukan menguasai hidupku?

Hatiku menangis. Bersamaan dengan kemarahan, hatiku menangis. Entah apa yang sebenarnya ditangisi. Seandainya hati bisa berdialog layaknya manusia, aku akan menanyakan tentang apa yang sebenarnya ditangisi. Sejenak aku meredam amarah, dan renungan aku pilih sebagai solusi tepat yang biasa digunakan atas berbagai luapan emosi. Pada saat itu benar-benar dibutuhkan keseimbangan batin, dan selintas aku percaya bahwa keseimbangan itu ada, walaupun ada saatnya aku membantah bahwa keseimbangan sama dengan ketiadaan.

Dalam renungan, hanya pikiran yang mampu berdialog dengan hati. Pikiran berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ketika itu pikiran menyadari bahwa ada emosi lain yang menemani amarah dan tangisan. Aku mengenalnya bahwa emosi tersebut adalah rasa takut. Pikiranku terbuka, kemudian mengakui bahwa sebenarnya amarahku nyata sekaligus palsu. Nyata karena aku benar-benar marah ketika hawa nafsu menguasai diri, dan palsu karena sebagian besar diriku tidak menginginkan amarah, menolak, karena takut dan butuh akan kebesaran Tuhan. Aku butuh nafas, butuh pancaindra, butuh emosi, butuh pikiran, dan semua kebutuhan hidup yang terjadi karena kebesaran Tuhan. Hal tersebut wajar terjadi, karena aku telah mengikrarkan diri sepenuhnya bahwa Tuhan itu ada, dan Dia Maha Segalanya.

Dengan tangisannya, hati menyadarkanku pada hal yang sangat fatal. Dia berhasil melemahkan dominasi hawa nafsu. Sepatutnya aku bersyukur dan tidak layak untuk marah kepada Tuhan. Aku menyadari hal yang hampir lupa, bahwa usahaku untuk tidur teratur belum maksimal. Yang perlu dilakukan adalah terus berusaha, dan membiarkan Tuhan memainkan takdir dan kehendak-Nya.

Takdir dan kehendak adalah hal gaib, semuanya urusan Tuhan. Aku wajib iman terhadap keduanya, tetapi tidak layak ikut campur. Jika ikut campur, maka secara tidak langsung aku merendahkan Tuhan, melakukan hal yang menjadi urusan Tuhan. Dengan kata lain, aku menyejajarkan diriku dengan Tuhan jika aku ikut campur dalam urusan-Nya. Aku tak tahu apa yang terdapat dalam takdir dan kehendak. Seandainya aku sekarang terpuruk, “mungkin” di masa depan nasibku lebih baik. Kata “mungkin” digunakan karena memang sedikit pun aku tidak paham isi takdir. Kata “mungkin” digunakan juga karena adanya kekuatan dari kehendak. Bagi Tuhan sangat mudah untuk memutuskan hal apa pun, kapan pun, di mana pun, karena Dia Maha Kuasa.

***

Tidur teratur dan rajin sangat aku inginkan karena terdapat tujuan yang menguntungkan. Sebagian besar orang melakukan sesuatu karena memiliki tujuan, dan hasilnya akan menguntungkan bagi diri sendiri, maupun bagi orang sekitar yang ujung-ujungnya tetap saja kembali pada diri sendiri—berupa kepuasan batin. Misi tidur teratur dan rajin dilakukan karena adanya pengaruh. Tak tanggung, pengaruh tersebut datang dari kitab suci, ajaran nabi, dan hasil pemikiran manusia. Kesimpulanku berdasarkan ketiga sumber tersebut:

(1) Malam diciptakan sebagai waktu untuk istirahat, dan siang sebagai waktu untuk beraktifitas. Manusia diberi waktu 24 jam dalam sehari, dan tidak mungkin bisa memanjangkan malam menjadi 20 jam kemudian siang menjadi 4 jam, atau berapa pun jumlah pengubahan waktu sesuai keinginan. Jika seandainya waktu malam tidak dimanfaatkan untuk istirahat, maka waktu siang tidak bisa digunakan secara maksimal, bahkan mungkin sama sekali tidak digunakan karena tidur sepanjang siang. Sementara, di sisi lain, sebagian besar orang beraktifitas di siang hari. Sebagai makhluk sosial, manusia “saling membutuhkan” antara yang satu dengan yang lain. Bagaimana bisa memanfaatkan “saling membutuhkan” jika waktu siangnya saja digunakan untuk beristirahat, sementara sebagian besar orang beraktifitas di siang hari dan istirahat di malam hari?

Poin ini berdasarkan 3 sumber, kitab suci, ajaran nabi, dan falsafah manusia. Memang ketiganya tidak ada yang mewajibkan untuk tidur di malam hari. Namun, pada realitasnya, kehidupan menuntut diriku untuk menjadikan siang sebagai waktu untuk beraktifitas, sehingga bagiku sangat perlu beristirahat di malam hari. Tuntutan lain yang sangat menjadi bahan pertimbangan berasal dari kitab suci, firman Tuhan. Sekali lagi, memang kitab suci tidak mewajibkan untuk terlelap di malam hari. Hanya menjelaskan bahwa siang sebagai waktu untuk beraktifitas dan malam untuk istirahat. Hal ini adalah tentang iman, keyakinan yang diikrarkan dan—semestinya—dijalankan sepenuhnya oleh seluruh kehidupan yang dititipkan kepadaku. Jika aku benar-benar beriman kepada Tuhan dan kitab suci yang berisi firman-Nya, maka sepatutnya aku melakukan setiap petunjuk yang berada dalam kitab suci. Memang rumit dalam memahami iman, wajar jika dampaknya mengubah suatu agama menjadi berbagai kelompok, karena pemahaman setiap orang berbeda-beda.

(2) Beribadah di tengah malam atau menjelang fajar. Masih tentang iman, bahwa dalam kitab suci dan ajaran nabi dianjurkan untuk bangun pada waktu tersebut, kemudian mendirikan salat malam. Inti dalam salat malam adalah tentang penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, meminta ampunan, dan memohon pertolongan. Memang tidak diwajibkan, tetapi jika aku benar-benar beriman kepada Tuhan, kitab-Nya, dan utusan-Nya, maka sepatutnya aku menjalankan apa yang dianjurkan.

(3) Keteraturan. Ada suatu pernyataan yang aku hargai, bahwa agama adalah tentang keteraturan. Aku coba memahami pernyataan tersebut, bahwa agama mengubah kehidupan manusia menjadi teratur, baik dalam melakukan aktifitas duniawi, maupun aktifitas yang hubungannya dengan Tuhan. Aku ingin siklus hidupku teratur, dan salah satu faktor keteraturan hidup adalah dengan tidur teratur. Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa aku mengutamakan tidur sebagai langkah awal untuk menjadi rajin. Namun, sebenarnya tidur bukan hanya langkah awal bagi rajin, tetapi langkah awal untuk menjadi teratur, disiplin, menguasai diri, dan semua sifat/istilah yang dapat menunjukkan bahwa kehidupanku baik.

(4) Menyelesaikan persoalan, menambah wawasan, dan olah raga. Banyak yang menyatakan bahwa waktu fajar merupakan waktu nyaman untuk menyelesaikan tugas dan belajar. Aku pun sependapat dengan pernyataan tersebut, karena berdasarkan pengalaman yang dilakukan, memang mudah untuk menghafal, memahami, dan menyelesaikan persoalan di waktu fajar. Dalam waktu tersebut, nyaman juga untuk melakukan olah raga, karena disertai dengan dukungan alam yang nyaman bagi tubuh. Bagaimana bisa aku melakukan semua aktifitas tersebut, sementara energiku terkuras habis karena membuka mata sepanjang malam?

(5) Melawan kemalasan. Entah seperti apa yang dirasakan oleh pihak lain, tetapi yang aku rasakan, ketika tidurku tidak teratur, sehingga akibatnya sebagian siang diisi dengan tidur, maka ketika aku bangun, aku tidak siap untuk melakukan aktifitas, hanya sanggup berdiam diri dalam lamunan. Aktifitas bisa dilakukan setelah beberapa menit aku berdiam diri. Itu juga tidak disertai dengan semangat dan pikiran segar, karena mungkin efek tidur di waktu siang.

(6) Tidur teratur adalah salah satu bagian dari menguasai diri. Sangat ingin aku menguasai diri sepenuhnya. Aku adalah aku, dan berhak menguasai setiap bagian dari diriku, bukan dikuasai oleh tubuh sendiri. Harapanku, ketika aku memprogram diri untuk tidur pada waktu yang ditentukan, maka pada waktu tersebut tubuhku terlelap, dan bangun pada waktu yang ditentukan.

(7) Mayoritas orang sukses dan besar dalam pandangan manusia berdasarkan kehidupan duniawi, mereka adalah orang-orang yang menghargai waktu. Mengawali aktifitas di pagi hari, dan menjadikan malam sebagai waktu beristirahat.

(8) Salah satu kenikmatan hidup adalah pagi hari, dan aku ingin di setiap hariku menikmati indahnya pagi dengan kondisi tubuh yang fit. Di waktu tersebut terdapat embun, udara segar, pemandangan alam, sinar matahari yang nyaman, senyuman, dll. Lebih nikmat lagi jika ditemani kopi hitam hangat dan biskuit.

(7) Mungkin masih banyak poin yang belum aku sadari.

***

---
Tak ada usaha yang sia-sia.
---

Tidur teratur dan rajin bukan hanya sekadar keinginan, tetapi benar-benar ingin direalisasikan. Aku marah ketika usahaku gagal untuk menggapai apa yang aku inginkan. Namun, di samping kemarahan tersebut, ada beberapa hal yang sebelumnya tidak aku sadari. Aku patut berterima kasih pada hati dan pikiran, karena dalam dialog keduanya, berhasil menyadarkanku pada berbagai hal perubahan positif dalam kehidupan. Mungkin sebelumnya aku terlalu fokus pada target, sehingga tidak memperhatikan apa yang aku dapatkan dalam proses.

Kesadaran merupakan perubahan positif yang aku dapatkan selama menjalankan proses misi tidur teratur dan rajin. Bagiku kesadaran bernilai mahal, karena hal tersebut merupakan dasar dari berbagai tujuan yang diinginkan. Bahkan dengan kesadaran bisa menguasai diri, meredam setiap emosi, dan menyadarkan pada sikap yang tidak disadari padahal dilakukan. Sebelum melakukan misi, aku tidak sadar bahwa tidur teratur dan rajin adalah baik bagi kehidupan, dan aku tak peduli. Bersyukur bahwa aku diberikan kesadaran oleh Tuhan, sehingga bisa berusaha mengubah diri menuju kehidupan yang lebih baik.

W. S. Rendra, dalam syairnya menyatakan bahwa kesadaran adalah matahari. Pemahamanku mengenai penggalan syair tersebut, (1) matahari sadar pada tugasnya untuk menyinari kehidupan manusia dari pagi hingga sore, tanpa ada paksaan atau rekayasa manusia. Bahkan pada malam hari, matahari mewariskan sinarnya pada bulan, sehingga muncul estetika malam, perhitungan almanak, dan penerang di kegelapan malam; (2) dalam realitas, matahari merupakan pelita, sehingga manusia tidak memerlukan bentuk penerang lain dalam lingkup pelita. Tidak seperti bulan yang salah satu tugasnya menjadi penerang di malam hari. Dalam lingkup penerang, manusia masih membutuhkan bentuk penerang lain, seperti dinyalakan lampu supaya menambah daya terang terhadap lingkungan. Pernyataan tersebut diambil dari penggalan ayat kitab suci, bahwa matahari sebagai pelita dan bulan sebagai penerang. Dalam pemakaian bahasa, baik untuk komukasi secara umum maupun dalam karya sastra, kadang digunakan kata-kata kiasan. Matahari yang disebutkan oleh W. S. Rendra dalam syairnya bisa dimaknai sebagai kata kiasan, bahwa kesadaran adalah pelita, menerangi apa pun yang tidak disadari oleh diri.

Kesadaran tidak hanya merupakan satu poin penting, tetapi kata tersebut mewakili berbagai hal positif lain yang aku dapatkan. Terutama, aku disadarkan pada berbagai kelemahan yang terdapat dalam diri, sehingga aku tahu apa saja yang perlu diperbaiki. Yang paling fatal, aku disadarkan bahwa imanku lemah, sampai menyempatkan diri untuk marah terhadap Tuhan. Betapa bodohnya diriku, hampir lupa bahwa marah terhadap Tuhan sama saja dengan merendahkan kebesaran-Nya. Kejadian tersebut menyeret hal positif lain, aku disadarkan bahwa diri masih dikuasai hawa nafsu. Secara garis besar, aku belum sanggup menguasai diri sepenuhnya, tak ada kontrol terhadap labilnya emosi. Ujungnya, menyinggung tentang hidupku yang tidak disiplin, dan tentunya menyinggung berbagai macam kekurangan diri. Tak ada ujungnya menyelidiki keburukan, hanya dapat diketahui dalam kehidupan akhirat. Nilai baik dan buruk yang paling jelas merupakan perkara gaib, urusan Tuhan yang Maha Tahu, Adil, dan Bijaksana.

Dalam kemarahan aku melakukan perlawanan terhadap kekuasaan hawa nafsu, dan hal tersebut merupakan kemajuan positif mengenai sikap. Adapun mengenai hubunganku dengan Tuhan, dalam perlawanan hawa nafsu aku disadarkan bahwa setiap manusia diberi cobaan hidup, sehingga wajar jika manusia mengalami masa senang, sedih, terpuruk, kritis, dsb. Aku pun mesti memperbaiki diri mengenai kesabaran. Kesabaranku tidak seberapa, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bumi. Dalam penggalan syair W. S. Rendra, masih kelanjutan syair yang tadi, tertulis bahwa kesabaran adalah bumi. Perhatikan bumi, betapa sabarnya menghadapi apa pun yang terjadi pada setiap bagiannya. Alamnya dieksploitasi, kesuburannya dikebiri, estetikanya dikotori berbagai macam sampah dan kotoran manusia, dan berbagai macam hal negatif yang menimpa bumi. Namun, bumi tetap sabar, bahkan masih menumbuhkan berbagai macam pangan, memberi fasilitas terhadap makhluk hidup, tetap sabar walaupun di hari kiamat nasibnya akan dihancurleburkan.

Dalam agama, kesabaran adalah hal yang ditekankan, dan semestinya dijadikan pegangan hidup. Telah tertulis dalam kitab suci bahwa sabar berat untuk dilakukan, dan bagi para pelaku sabar, diberi penghargaan bahwa Allah bersama mereka. Tidak aneh jika ada penekanan sikap sabar dalam ajaran agama, karena aku sendiri merasakan bahwa bersikap sabar tidaklah mudah. Menurutku, sabar bermanfaat untuk menghambat kemungkinan buruk yang akan terjadi di masa depan terhadap si pelaku dan lingkungan sekitar, memberi kesempatan untuk merenung sehingga paham apa yang sebenarnya terjadi, kemudian paham langkah apa yang mesti dilakukan selanjutnya.

Marah bukanlah solusi, dan semestinya aku bersabar disertai usaha yang kontinu sekaligus lebih baik daripada usaha sebelumnya. Aku kurang berusaha, dan aku hampir lupa bahwa usahaku belum maksimal. Untuk sementara, tak ada rencana lain untuk menjalankan misi tidur teratur, aku bingung apa lagi yang mesti dilakukan. Mungkin karena aku kurang berusaha, kurang pengalaman membaca mengenai cara untuk mempermudah tidur, kurang bertanya dengan cara konsultasi pada ahli yang mampu di bidangnya, sampai aku berani memberikan pernyataan bodoh bahwa tidak ada cara lain supaya tidurku teratur. Usaha bukan hanya persoalan yang harus ditekankan dalam misi tidur, tetapi mesti dilatih dan diterapkan dalam setiap aktifitas di kehidupanku.

Masalah tidur merupakan masalah yang menyadarkanku pada masalah lain. Aku sadar bahwa salah satu faktor sulit tidur teratur adalah karena tidak fokus. Banyak pikiran, tetapi tidak bisa fokus pada persolan yang mesti diutamakan. Bagiku, fokus merupakan hal penting, dan sangat berkaitan erat dengan khusyuk dan konsisten. Persoalan fokus mencakup setiap hal dalam kehidupan, baik tentang menyikapi diri sendiri, tentang hubunganku dengan hal duniawi, maupun tentang hubunganku dengan Tuhan. Tidak akan terjadi kesempurnaan jika tidak didasari oleh fokus. Walaupun pada realitasnya tidak ada manusia sempurna—dalam hal sikap maupun karya yang dihasilkan, dan tidak layak menyandang gelar sempurna karena pada hakikatnya hanya Tuhan pemilik kesempurnaan, tetapi manusia dimudahkan untuk menggapai tujuan jika usahanya disertai dengan fokus.

Demikian gambaran hidupku yang diliputi oleh berbagai kekurangan. Aku sempat tersenyum ketika memperhatikan setiap kekurangan diri, karena masing-masing kekurangan sangat berkaitan erat sehingga menimbulkan satu persoalan besar. Aku tidak akan pernah sampai pada sikap sabar jika belum mampu bersikap fokus/khusyuk, karena berdasarkan firman Tuhan, bahwa sabar berat untuk dilakukan, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Aku tidak akan pernah sampai untuk bersikap bagaimana pun jika tidak disertai dengan usaha. Aku tidak akan pernah sampai untuk melakukan apa pun jika tidak didasari dengan kesadaran, karena kesadaran adalah pelita, menerangi setiap fragmen kehidupan yang sebelumnya tidak disadari.

Kesadaran tidak hanya menyadarkanku pada berbagai kekurangan di dalam diri, tetapi menyingkap kesadaran terhadap perkembangan baik mengenai sikap. Dalam proses misi tidur teratur, tanpa sadar aku melatih diri dalam hal ketegasan. Walaupun dalam realitasnya aku tidak mampu terlelap, tetapi aku tegas pada diri sendiri untuk tidur pada waktu yang ditentukan dengan melakukan berbagai cara. Memang aku sempat marah ketika usahaku tidak berhasil menggenggam target, tetapi ketegasan memaksa diri untuk meredam amarah.

Dari berbagai usaha untuk tidur teratur yang dalam prakternya disertai sikap ketegasan, dalam usaha tersebut terdapat hal-hal positif yang menjadi kebiasaan baik bagi diri. Tidak seperti biasanya aku mengonsumsi susu dan roti, bahkan aku tak peduli mengenai asupan gizi tubuh sendiri. Biasanya aku menyikapi tubuh hanya sebatas supaya tidak lapar. Padahal, aku tidak bisa melakukan aktifitas dengan maksimal jika kondisi tubuhku lemah karena kurang gizi. Dalam usaha, aku juga melakukan olah raga rutin yang sebelumnya hampir tidak pernah dilakukan. Cuci baju saja dititipkan pada pelaku usaha jasa laundry. Pemalas. Terhitung, dalam setahun aku melakukan olah raga tidak lebih dari 10 kali. Itu juga hanya olah raga yang berupa kesenangan menurut diri, seperti melakukan pendakian.

Ketika jenuh menghadapi mata yang tidak mau terlelap, ketegasan memaksa diri untuk melakukan berbagai aktifitas selama mata terbuka, kapan pun waktunya. Aktifitas tersebut menghasilkan berbagai karya baik. Perhatikan kontrakan yang sementara menjadi tempat tinggalku. Yang awalnya aku tak peduli mengenai kerapihan dan kebersihan, sekarang aku menjadi alergi jika melihat tumpukan debu berapa pun banyaknya, alergi jika tata ruang tidak sesuai dengan intuisi estetikaku. Yang awalnya aku pemalas, lebih memilih menitipkan pakaian kotor ke laundry, sekarang tak kenal yang namanya laundry.

Dalam aktifitas yang bisa dikatakan urak-urakan, terdapat aktifitas yang mengharuskanku membaca, karena pengetahuanku belum sampai pada persoalan aktifitas yang dilakukan. Alhasil, aktifitas membaca yang sebelumnya hanya sekadar selingan, lambat laun hal tersebut menjadi kebiasaan, termasuk di dalamnya memahami Alkitab. Wawasanku pun bertambah, mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui.

Tidak mampu terlelap dan bangun dalam waktu yang ditentukan pada malam hari, justru hal tersebut dijadikan kesempatan untuk mendirikan salat malam secara rutin, dan tentunya tidak akan ketinggalan salat subuh berjamaah di musala sekitar. Selain itu, aku bisa menikmati pagi, bisa melakukan olah raga pagi, walaupun dengan kondisi tubuh yang tidak fit karena kehabisan energi sepanjang malam.

Bukankah berbagai aktifitas tersebut merupakan bagian dari tujuan misi tidur tepat waktu? Tuhan bekehendak lain, dan mungkin Dia bermaksud baik untuk kebaikanku. Mungkin aku harus memperhatikan hal-hal kecil sebelum mencapai hal besar yang menjadi tujuan utama, dan mungkin aku harus memahami bahwa tujuan dapat digapai secara bertahap. Satu lagi bonus dari berbagai usaha yang disertai ketegasan, tidak disadari bahwa aku bersikap rajin. Logikanya, jika misi tidur teratur tidak sukses dijalankan, maka rajin sebagai misi yang dinomorduakan pasti tidak disentuh sama sekali. Ternyata logika salah, berbagai aktifitas usaha untuk mempermudah tidur dan aktifitas urak-urakan sebagai selingan kejenuhan karena mata tak kunjung terlelap, semuanya adalah aktifitas yang memperlihatkan sikap rajin. Setuju atau tidak, tetap saja semua aktifitas tersebut adalah bagian dari sikap rajin.

Segala kesadaran tersebut merupakan pengaruh dari kitab suci, ajaran nabi, dan ilmu pengetahuan hasil dari pemikiran manusia. Tentunya segala kesadaran terjadi karena adanya campur tangan Tuhan. Memang aku sempat bimbang dari ketiga pegangan hidup yang mempengaruhi diri, tetapi hal tersebut terjadi karena ilmuku masih kurang, emosiku labil, dan akalku belum bijak dalam menyikapi realitas. Jadi, tak ada alasan untuk berhenti memahami ketiga unsur tersebut, dan tak ada batasan umur dalam memahaminya. Sampai kapan pun aku harus tetap belajar dan berpikir. Dalam memahami, aku mesti membatasi diri dengan iman, karena pemikiran manusia terbatas, tidak mampu memahami apa yang menjadi urusan Tuhan.

Sepatutnya aku bersyukur. Walaupun belum sanggup tidur teratur, masih beruntung setiap hari aku diizinkan untuk tidur dan bangun, sehingga bisa meminta ampunan kepada Tuhan dan memperbaiki diri.
 
Tak ada usaha yang sia-sia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar