Minggu, 10 Juli 2016

SALAH SATU KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN NEGATIF

Ada yang bilang bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Banyak tawaran manis yang disuguhkan di bulan Ramadhan. Sedikit di antaranya, terbuka lebar pintu penghapusan dosa, dan ibadah pun ganjarannya berlipat-lipat, dengan catatan syarat dan ketentuan berlaku. Di bulan Ramadhan melakukan perbuatan buruk sama saja dengan bohong. Dengan kata lain, keberkahan berlaku bagi orang yang beriman, beramal saleh, atau umumnya menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Ada juga yang bilang bahwa di bulan Ramadhan setan diikat. Menyinggung pernyataan tersebut, aku ingat satu pertanyaan teman ketika SMA kepada penceramah, “kenapa masih ada orang yang melakukan perbuatan dosa, padahal setan diikat?”. Pertanyaan yang bagiku brilian, sangat berpotensi merontokkan iman bagi para pemikir yang lemah iman. Beruntung si penceramah cerdas, dengan memberi jawaban bahwa orang yang melakukan perbuatan dosa di bulan Ramadhan berarti dirinya sudah menjadi setan. Aku kira yang mempunyai pertanyaan cerdas seperti itu hanya temanku, tetapi perkiraanku tidak tepat. Ternyata, di waktu-waktu selanjutnya, cukup banyak di tv aku lihat orang-orang bertanya seperti apa yang ditanyakan temanku.

Di berbagai ceramah dan karya tulis, banyak yang menyinggung tentang keutamaan bulan Ramadhan. Aku sendiri menyikapinya basi, karena tema yang sama selalu diulang-ulang setiap tahun, tak bervariasi, tetapi ada baiknya juga, karena bisa mengingatkanku ketika lupa, dan mungkin sangat bermanfaat bagi pihak lain yang belum tahu. Namun, aku belum pernah mendengar/membaca yang isinya sama dengan apa yang aku pikirkan. Mungkin karena isi pikiranku tidak bersumber pada riwayat ilmu agama yang dapat dipertanggungjawabkan, hanya menyimpulkan dari realitas masyarakat sekitar, jadi wajar jika aku belum menemukan isi ceramah atau tulisan yang sesuai dengan pikiranku. Mungkin ada sih, tetapi yang jelas sampai sekarang aku belum menemukan karena kurangnya pengalaman membaca dan mendengarkan ceramah.

Sempat aku tulis di tulisan sebelumnya, bahwa terkadang (mungkin sering) aku memikirkan hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Hal tersebut, terjadi juga di bulan Ramadhan kali ini, dan tentunya apa yang aku pikirkan melibatkan bulan Ramadhan. Salah satu keutamaan bulan Ramadhan yaitu ditampakkannya orang-orang munafik, terutama orang-orang munafik yang berlabel Islam. Coba saja berkaca pada diri sendiri dan orang-orang sekitar, orang munafik mudah dilihat ketika bulan Ramadhan, tidak sulit seperti di bulan-bulan lain. Berikut rincian sementara orang-orang munafik yang aku rangkum:

(1) Tampak jelas setan yang bisa dilihat

Mungkin aku salah memahami salah satu surat di kitab suci, tetapi aku pikir yang aku pahami cukup logis bagi akal diri sendiri. Bagiku setan itu adalah sebutan/sifat bagi pelaku ketidakbenaran, dan pelakunya tidak hanya makhluk gaib (jin), melainkan bangsa manusia termasuk di dalamnya. Pernyataan tersebut adalah pemahamanku dari surat an-Nās. Isi suratnya tentang perintah untuk meminta perlindungan kepada Allah dari bisikan jahat (setan) yang bersembunyi ke dalam dada manusia. Di akhir ayat, dijelaskan bahwa bisikan tersebut berasal dari golongan jin dan manusia.

Berbahagialah bagi para setan dari golongan jin, karena di bulan Ramadhan tidak lagi menjadi kambing hitamnya mulut-mulut manusia. Pada umumnya, banyak orang menyalahkan keburukan pada setan (makhluk ghaib). Padahal sebenarnya tidak menyadari bahwa manusia juga bisa menjadi salah satu bagian dari setan.

Seperti apa sih setan yang tampak? Lihat saja orang-orang—khususnya muslim—yang masih melanggar aturan Allah di bulan Ramadhan. Banyak contohnya, tak perlu disebutkan. Yang biasanya orang-orang bisa menyamarkan bentuk setannya di hari-hari luar Ramadhan, tetapi tipu daya mereka di bulan Ramadhan tidak berguna. Orang-orang munafik di bulan Ramadhan terlihat jelas.

(2) Mengikuti hawa nafsu

Bukankah salah satu anjuran di bulan Ramadhan adalah menahan hawa nafsu? Apa yang dimaksud dengan hawa nafsu? Berdasarkan pemahamanku, hawa nafsu adalah segala keinginan yang berasal dari dalam diri. Namun, dalam sebagian riwayat, terkesan membedakan antara hawa nafsu dengan keinginan berbentuk penyerahan diri kepada Allah. Memang agak rumit membedakannya. Yang aku pahami dan mungkin kurang tepat, bahwa hawa nafsu merupakan bentuk keinginan yang hubungannya dengan kecintaan pada hal duniawi, dan tentunya sangat berbeda dengan keinginan yang bentuknya merupakan penyerahan diri kepada Allah. Bisa dikatakan bahwa hawa nafsu merupakan penyumbang terbesar dalam pengubahan manusia menjadi setan.

Memang sepintas terlihat banyak yang melakukan puasa dengan menjauhkan diri dari perbuatan dosa, menjauhkan diri dari perbudakan hawa nafsu. Namun, jika berkaca pada diri sendiri sambil menanggalkan ego, akan sadar bahwa sebenarnya diri masih dikuasai hawa nafsu. Contohnya, banyak jika disebutkan satu persatu. Sebagian kecil contohnya, Ramadhan dijadikan ajang memperbanyak jam tidur, padahal sepatutnya memperbanyak ibadah, berusaha memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Contoh lain, masih saja ada yang menunda pelaksanaan salat di bulan Ramadhan, bahkan yang lebih parah adalah meninggalkan salat. Ada riwayat yang menyatakan bahwa salah satu ciri orang munafik adalah menunda salat, dan dilaksanakan dengan cepat ketika salat tersebut dilaksanakan.

Apa gunanya puasa Ramadhan jika hanya demi formalitas supaya dilihat baik oleh orang lain? Orang yang hanya menahan lapar di bulan Ramadhan, tetapi tidak memperhatikan bentuk ibadah lainnya karena masih mengikuti hawa nafsu, orang seperti itu layak dikatakan munafik.

(3) Mengeluh dalam beribadah

Kadang aku aneh, kenapa hanya di bulan Ramadhan masyarakat salat berjamaah di masjid, dan kebanyakan hanya di waktu isya sekaligus taraweh. Bukannya tidak boleh, bukan merupakan kesalahan, lagi pula tidak ada yang melarang. Hanya saja, kenapa hanya di waktu itu masjid terkesan makmur. Dari peristiwa itu saja sudah menyinggung bentuk kemunafikan. Seandainya benar-benar mengharap rida Allah, semestinya salat berjamaah di masjid dilakukan kapan pun, tidak hanya terikat waktu isya dan bulan Ramadhan.

Ada yang lebih parah daripada hal tersebut, yakni sebagian manusia yang menjadi peserta dadakan (hanya di bulan Ramadhan) salat berjamaah, kemudian mengeluh ketika proses ibadah berlangsung karena hal sepele, seperti—contoh kecilnya—lamanya bacaan di setiap rakaat. Coba renungkan, orang seperti itu datang ke masjid untuk melepas rindu kepada Allah, atau hanya mengikuti arus terhadap apa yang dilakukan mayoritas masyarakat. Lebih konyol lagi ketika ada orang yang pilih-pilih masjid supaya mendapatkan penyelenggara salat berjamaah dengan jangka waktu yang cepat. Aku sempat mendengar ceramah, bahwa salah satu ciri orang munafik adalah tidak betah berlama-lama di masjid. Pernyataan tersebut, jika dihubungkan dengan contoh yang telah disebutkan, bagiku sangat berhubungan.

(4) Perlahan-lahan jumlah jamaah di masjid menurun

Salah satu fenoma menggelitik di bulan Ramadhan, peserta salat isya dan taraweh berjamaah memenuhi masjid di hari-hari awal, tetapi jumlahnya semakin menurun di pertengahan bulan sampai akhir. Dugaan positifnya, mereka yang tidak hadir, melaksanakan salat di tempat lain, atau melaksanakan taraweh di tengah malam, atau pulang kampung. Dugaan negatifnya, memang sudah saatnya mereka berubah menjadi setan, menjadi budak kemalasan. Lebih parah lagi ketika tiba malam takbiran, jamaah semakin menurun jumlahnya. Yang sebelumnya berjumlah puluhan/lebih, menjadi kurang dari belasan di malam takbiran. Pada kemana!?

Orang yang bisa konsisten melakukan salat berjamaah di masjid sampai akhir Ramadhan, bahkan dilanjutkan di bulan-bulan selanjutnya sampai bertemu bulan Ramadhan lagi atau sampai mati, orang tersebut tidak layak dikatakan munafik. Adapun orang yang sebaliknya, tidak aneh jika tanda-tanda munafik terlihat di wajahnya.

(5) Banyak yang bergembira di hari terakhir Ramadhan

Hal yang wajar jika hari raya disambut dengan penuh suka cita. Bahkan beberapa pihak sampai menyiapkan makanan yang banyak serta pakaian bagus sekaligus baru. Namun, jika direnungkan, justru berakhirnya Ramadhan adalah hal yang menyedihkan, karena kapan lagi bisa bertemu bulan yang penuh berkah, ganjaran berlipat-lipat, dan pintu pengampunan dosa terbuka lebar. Hanya terjadi 1 bulan sekali dalam setahun.

Hal tersebut, mengenai sikap sangat gembira atas berakhirnya Ramadhan, membuatku berpikiran negatif, bahwa banyak yang menganggap Ramadhan sebagai bulan penyiksaan. Terasa tersiksa menahan dahaga, lapar, syahwat, dll. Sehingga, ketika Ramadhan berakhir, banyak yang bergembira karena bisa melakukan apapun yang ingin dilakukan, tanpa ada rasa sungkan dilihat orang lain (berbeda ketika bulan Ramadhan masih berlangsung). Jika dugaan negatifku benar, maka yang terjadi sebenarnya adalah orang-orang melakukan puasa di bulan Ramadhan karena hanya formalitas saja, mengikuti arus, dan mungkin sebenarnya Ramadhan tidak diharapkan. Label munafik cocok bagi pelaku tersebut.

***

Tidak ada gunanya menjadi orang munafik, tidak ada sedikit pun keuntungan yang dapat diambil. Allah menyindir kepada orang-orang munafik dalam surat al-Baqarah, bahwa mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, tetapi sebenarnya mereka tidak berhasil menipu, melainkan menipu dirinya sendiri dalam keadaan tidak sadar.

Aku bukan ahli agama, dan mungkin pemikiranku sesat. Ambil baiknya dan abaikan buruknya. Lebih baik lagi jika meminta nasihat kepada ahli agama yang mampu. Menuju kesempurnaan dalam kebaikan tidaklah mudah, bahkan hampir mustahil. Tidak ada batas bagi kebaikan dan keburukan. Mari bersama-sama melatih diri dan berusaha melakukan yang terbaik dalam kebaikan, karena hanya itulah yang bisa manusia lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar