Sabtu, 18 Juni 2016

PENTINGNYA MOTIVASI

Di kampung tempatku ngontrak ada tetangga baru. Dia kerja di tetangga yang juga statusnya warga baru. Aku sudah diberi kabar oleh tetangga lain di awal kedatangan dia, tetapi kurang lebih 6 bulan tidak pernah berjumpa. Akhirnya, kami bisa bertemu, langsung berbincang-bincang tanpa kenalan, karena mungkin masing-masing dari kami sudah tahu nama, tahu dari obrolan para tetangga. Beberapa kali aku ajak mampir ke tempatku, dan aku senang dia bersedia mampir di penawaran yang kesekian kalinya jauh dari penawaran pertama.

Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang obrolannya panjang, bahkan aku hampir tidak diberi kesempatan untuk bicara. Telingaku panas, dan hatiku sempat berbisik untuk memintanya pulang karena sudah hampir pagi, tetapi aku tahan, karena baru pertama kali dia bertamu. Lebih panas lagi ketika aku menganggap bahwa dia merasa paling tahu segalanya, dan aku di matanya adalah pihak yang paling tidak punya wawasan. Itu hanya selintas pikiran negatifku ketika kami melakukan obrolan. Aku bisa bicara ketika obrolan dia melambat. Seketika dia pun diam, dan berubah tak banyak bicara sampai dia pulang.

Kesannya aku memojokkan dia ya? Jangan dulu tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Aku malah bersyukur kedatangan tamu semacam itu. Banyak pelajaran yang aku terima.

(1) Aku bisa belajar jadi seorang pendengar. Belajar menjadi seseorang yang merendahkan diri di hadapan Allah. Menahan diri untuk sabar mendengarkan ketika hati mulai berontak. Karena jika aku tidak sabar dan membuat tamuku tersinggung, maka detik itu juga aku menjadi sombong, merasa bahwa diri hebat dan orang lain rendah. Sebagai manusia, aku tidak patut menyombongkan diri, walaupun terhadap orang yang secara status sosial dianggap lebih rendah.

---
Hanya Allah yang paling hebat. Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali atas izin Allah.
---

(2) Aku bisa belajar untuk menilai diri. Aku jadikan tamuku sebagai cermin diri. Satu sifatku yang baru aku sadari, bahwa aku tidak jauh beda dengan tamuku. Banyak bicara. Aku pendiam, tetapi jika melakukan obrolan bersama teman yang bagiku nyaman, maka aku banyak bicara, sok tahu, dan terkesan tidak memberikan kesempatan kepada teman untuk bicara. Mungkin banyak temanku yang menjadi korban, telinganya panas karena aku terlalu banyak bicara. Karena hal itu, aku disadarkan, dan sekarang berusaha mengubah diri supaya menjadi lawan bicara yang mampu membuat nyaman.

(3) Banyak nasihat keluar dari bibirnya. Telingaku panas dan hati berontak menandakan bahwa aku benci nasihat. Aku tidak mau menjadi orang yang benci nasihat (terutama yang isinya baik), karena banyak orang yang benci nasihat hidupnya susah. Dari obrolan tersebut, aku bisa belajar menjadi orang ahli penerima nasihat. Hampir setiap nasihat berisi hal yang baik-baik, dari siapa pun orangnya. Satu nasihat yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang motivasi. Kata-kata yang paling aku ingat dalam obrolan, menurutnya, “motivasi datang dari diri sendiri”.

Sambil meredam emosi setelah dia pulang, aku merenung, mencoba mengambil pelajaran, mencerna setiap kata yang dia keluarkan dari bibirnya terutama tentang motivasi. Tidak banyak yang keluar dari bibirnya tentang motivasi. Namun, karena hal itu, aku bisa mengembangkan apa yang dimaksud olehnya, menyimpulkan tentang motivasi hasil dari dialog hati dan pikiran dalam perenungan, bahkan hasilnya bercabang menyinggung persoalan lain. Setiap orang pasti butuh motivasi. Misal, makan dimotivasi oleh lapar supaya tidak lapar, belajar dimotivasi oleh karena ingin menambah wawasan supaya tidak bodoh, bekerja dimotivasi oleh karena ingin mendapatkan sesuatu supaya dapat yang diinginkan, dll. Aku sependapat dengan apa yang dikatakan tamuku, bahwa motivasi datang dari diri sendiri. Namun, aku menambahkan, bahwa motivasi tidak akan muncul tanpa adanya faktor lain yang memicu lahirnya motivasi. Di dalam motivasi, ada 3 bagian yang merupakan satu kesatuan. Sebut saja A (penindak), B (aktifitas), dan C (pemicu motivasi). Si A melakukan B karena ingin mendapatkan C. Walaupun motivasi datangnya dari diri si A yang membuatnya melakukan aktifitas B, tetapi yang bertindak sebagai pemicu motivasi adalah C.

***

Sesi Curhat

Akhir-akhir ini hidupku senyap. Tanpa semangat untuk menjalani kehidupan. Aku pikir dalam beberapa bulan terakhir aku tidak menghasilkan karya yang bermanfaat. Untuk diri sendiri saja tidak bermanfaat, apalagi untuk orang lain. Seperti potongan sampah yang menjijikan, tidak menarik bagi siapa pun. Waktuku berantakan, tanpa agenda tertulis yang tertata. Bukan berarti aku tidak mempunyai pemicu motivasi. Cita-citaku cukup banyak, dan tentunya karena hal tersebut tujuan hidupku jelas, sehingga tahu jalan mana yang mesti aku langkahi. Apa mungkin cita-cita—sebagai pemicu motivasi—tidak cukup kuat untuk memicu diri? Mungkin benar. Aku bingung mencari hal lain yang bisa memotivasiku untuk kembali bersemangat. Satu pikiran bodohku adalah mencari pasangan hidup. Asmara tak mampu dicerna dengan baik oleh logika. Apa pun bisa terjadi karena asmara. Seakan-akan dunia dalam genggaman.

Aku tidak mau tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Tergesa-gesa datangnya dari setan, dan kemungkinan hasilnya akan buruk. Aku jadikan asmara sebagai opsi yang mesti direnungkan terlebih dahulu. Dalam perenungan, aku menjalani hidup dengan cara urak-urakan, semaunya, tak ada agenda yang tertata. Semua aktifitas dilakukan secara spontan. Beruntung aku memutuskan untuk merenung. Karena dalam masa itu, secara tidak sengaja aku membaca tulisan yang membuatku sadar. Kesimpulanku, bahwa asmara tidak tepat untuk dijadikan pemicu motivasi utama. Memang kemungkinan besar aku bisa melakukan aktifitas dengan penuh semangat dan berpotensi menghasilkan karya hebat dikarenakan asmara. Namun, sebagai orang yang tidak sanggup melepaskan agama (keyakinan bahwa Pencipta itu nyata), ada satu hal besar yang akan menjadi korban, adalah hubunganku dengan Tuhan.

Bukankah tidak ada satu pun yang berhak paling dicintai selain Allah? Bukankah manusia diciptakan untuk mengabdi dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah? Jika seandainya aku menjadikan asmara sebagai pemicu utama motivasi, maka secara tidak langsung ada sesuatu yang lebih hebat dibandingkan Allah. Jika pemikiran ini adalah salah satu hidayah-Nya, maka aku adalah orang yang paling beruntung dan patut bersyukur. Berharap apa yang aku pikirkan tidak salah di hadapan Allah.

Ok, kembali lagi pada A (penindak), B (aktifitas), dan C (pemicu motivasi). Sekarang aku paham, yang berhak mengisi C adalah Tuhan, dan tak tergantikan. Adapun segala hal selain Tuhan, baik berupa cita-cita, asmara, dll, semuanya adalah pengisi B. Misal, yang awalnya “aku (A) -> belajar (B) -> supaya pintar (C)”, menjadi “aku (A) -> ingin pintar dengan cara belajar (B) -> supaya Allah Mencintaiku (C)”. Karena hal tersebut, aku tahu kelemahanku di mana. Aku telah sadar bahwa hanya Allah yang berhak menjadi pemicu motivasi, tetapi hidupku masih kurang bersemangat untuk melakukan aktifitas baik. Hal tersebut menandakan bahwa Allah belum cukup kuat menjadi pemicu motivasi, dan secara tidak langsung dapat dinyatakan bahwa imanku lemah, bahkan mungkin imanku palsu. Aku harus berusaha memperbaiki kelemahanku. Tidak ada ukuran yang menjadi batas iman, batas minimal maupun maksimal, tak ada batasan. Manusia tidak pernah tahu apakah imannya sudah baik sesuai yang diinginkan Allah. Yang merasa telah cukup beriman, bagiku dia adalah orang paling bodoh, bahkan dialah orang yang paling tidak beriman. Nilai pahala, iman, dan segala nilai perkara gaib adalah urusan Tuhan, tidak ada satu manusia pun yang tahu. Yang bisa dilakukan manusia adalah melakukan hal baik sebaik mungkin, dan berharap apa yang dilakukan dapat diterima oleh Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar