Baru saja mau berhenti dari aktifitas menulis, eh malah di pagi selasa yang cerah sekali lagi aku menerima berkah dari Allah melalui tangan tetangga. Bulan Mei berkali-kali aku terima kejutan luar biasa. Agak bingung menyikapinya, karena ada sisi negatif yang mesti ditafakuri di balik berkah yang patut disyukuri. Di bulan Mei aku banyak menyisakan nasi, sampai dibuang karena basi, terlalu lama disimpan karena perut sudah tak kuat menampung terisi berkah dari para tetangga. Bahkan untuk pertama kalinya aku mengalami telur rebus basi karena terlalu lama tidak dimakan. Entah berapa banyak nasi basi yang aku buang. Sangat disayangkan, dan aku merasa bersalah. Cukup untuk menikmati penyesalan, tak perlu berlama-lama, aku hanya perlu mengubah strategi supaya tidak ada lagi makanan yang terbuang.
Salah satu tujuanku menulis ini adalah sebagai bentuk ucapan terima kasih pada warga Bantul, terutama masyarakat Tegal Jejeran 2 dan sekitarnya. Aku bingung membalas kebaikan mereka, dan untuk kali ini hanya mampu membuat tulisan untuk ditujukan pada mereka. Aku awali cerita dari akhir April yang masih aku ingat. Malam minggu aku nongkrong depan rumah kontrakan, tempatnya mirip gazebo beratapkan pohon. Waktu ngobrol, lewat Hasan si anak bungsu Pak Wintolo yang punya kontrakan, dia pulang dari tempat pengajian tetangga sebelah, ikut ibunya mengaji. Sambil malu-malu, dia meninggalkan sebungkus makanan di pinggir tempat dudukku. Aku mengingatkan, “San, ini makanannya tertinggal!”. Kebetulan ibunya juga lewat, katanya buat mas Marwan. Hmm... aku sambil tersenyum. Jika dia cewek dewasa, mungkin langsung aku lamar hari itu juga, haha...
Salah satu tujuanku menulis ini adalah sebagai bentuk ucapan terima kasih pada warga Bantul, terutama masyarakat Tegal Jejeran 2 dan sekitarnya. Aku bingung membalas kebaikan mereka, dan untuk kali ini hanya mampu membuat tulisan untuk ditujukan pada mereka. Aku awali cerita dari akhir April yang masih aku ingat. Malam minggu aku nongkrong depan rumah kontrakan, tempatnya mirip gazebo beratapkan pohon. Waktu ngobrol, lewat Hasan si anak bungsu Pak Wintolo yang punya kontrakan, dia pulang dari tempat pengajian tetangga sebelah, ikut ibunya mengaji. Sambil malu-malu, dia meninggalkan sebungkus makanan di pinggir tempat dudukku. Aku mengingatkan, “San, ini makanannya tertinggal!”. Kebetulan ibunya juga lewat, katanya buat mas Marwan. Hmm... aku sambil tersenyum. Jika dia cewek dewasa, mungkin langsung aku lamar hari itu juga, haha...
Pulang nongkrong, aku melamun sejenak di atas kursi. Tumben ada yang mengetuk pintu tengah malam. Ternyata dia Pak Mardi, sambil membawa sepiring nasi beserta lauknya, dan salah satu lauknya adalah sambal kesukaanku. Aku bersyukur sekaligus bingung, karena masih ada sisa nasi di rumah yang belum aku makan, dan kemungkinan esoknya akan basi jika tidak segera dimakan. Strategi konyol pun aku rancang, harus memakan habis sepiring nasi pemberian tetangga malam itu juga, kemudian dilanjutkan makan nasi pribadi pagi hari. Beruntung tidak ada makanan yang terbuang di bulan April, walaupun perutku sudah kewalahan menerima asupan.
Di bulan Mei aku mulai membuang makanan. Ahh... berdosa, aku harus segera mencari solusi supaya tidak ada lagi makanan yang terbuang karena basi. Di samping kebaikan para tetangga, di Tegal ada tradisi yasinan rutin mingguan dan tahlil jika ada yang meninggal. Setiap malam jumat, asupan giziku bervariasi, dan ada saatnya aku dibuat kenyang. Aku agak lupa apa saja yang telah aku terima dari para tetangga. Hanya akan menuliskan yang aku ingat, dan mohon maaf jika ada pihak yang tidak aku sebutkan karena lupa kelengkapan cerita. Awal Mei, aku diundang tahlilan untuk 40 harian wafatnya keluarga Pak RT. Ujungnya, aku bergabung di dapur dengan para pemuda untuk ikut membantu, istilah mereka “laden”. Di dapur aku makan, dan pulangnya juga bawa makanan yang harus cepat-cepat dimakan. Harus ada yang dikorbankan, dan makanan yang telah aku masak harus rela berakhir di kantong sampah.
Di hari minggu, setelah aku pulang dari pendakian, dan terbangun di malam hari setelah lelap tidur karena kelelahan, ada yang ketuk pintu. Dia Ahmad, anak kedua Pak Wintolo, membawa sekantong—mungkin isi 3 kg—beras merah hasil tani bapaknya. Sebelumnya, di hari sabtu ketika siap pergi mendaki, Pak Wintolo menawarkan beras merah, tetapi aku tunda, karena takut merepotkan. Aku senang sambil malu-malu, baru kali ini merasakan beras merah, dan makin senang lagi karena gratis, haha...
Malam jumat yasinan di tempat Pak RT. Selain dapat makanan di tempat, pihak Pak RT juga memberi bingkisan untuk dibawa pulang. Siangnya, pulang jumatan, pihak masjid juga memberi bingkisan untuk dibawa pulang, katanya sedekah dari orang, entah siapa orangnya. Dalam dua hari tersebut aku sama sekali tidak masak nasi. Perut kenyang diisi berbagai bingkisan dari tetangga dan sekitarnya.
Dari hari minggu sampai senin aku tidak masak, bahkan sampai sekarang. Tadi malam aku diundang untuk menghadiri acara tahlil dan pengajian dalam rangka “khaul” salah satu keluarga besar tetangga. Kali ini aku tidak ikut laden di dapur, karena selalu bingung mau bantu apa. Para pemuda yang laden semuanya pada gesit tanpa komando, dan aku kebingungan karena tidak ada satu pun lahan yang bisa aku bantu, kecuali ketika membagi makanan ke tamu. Makanya, untuk kali ini aku hanya nongol sebentar ke dapur, kemudian pergi duduk dengan para tamu. Tradisi Bantul, jika ada acara seperti itu pasti ada makan-makan, kemudian pulangnya bawa bingkisan. Perutku kenyang, sekaligus bawa oleh-oleh yang bisa aku timbun di rumah. Paginya, tumben ada yang bertamu mengucapkan salam. Ternyata Pak Wintolo, bawa makanan, satu bungkus ketan kesukaanku yang siap untuk dimakan. Katanya baru bikin tadi malam, haha... Alhasil, sampai detik ini aku belum masak, karena tidak lapar, haha... Aku orang yang paling senang dan paling beruntung di dunia, tak ada alasan untuk menikmati kesedihan. Makin betah saja tinggal di Bantul.
Karena rahmat Allah melalui tangan para tetangga, laci tempat makananku sekarang penuh dengan timbunan makanan. Dominasi oleh beras, mungkin cukup untuk persediaan 2 bulan lebih. Hal lainnya adalah gula dan teh. Teh yang aku timbun ada 2 jenis, dan keduanya adalah kesukaanku, teh tjatoet dan teh tang. Bisa diseduh masing-masing, dan jika ingin merasakan sensasi berbeda, keduanya dicampur dengan perbandingan setengah banding satu. Itu adalah rahasiaku dulu waktu kerja di warung makan, mencampur teh tjatoet dan teh tang, dan rasanya pun bikin ketagihan.
Terima kasih banyak bagi semua pihak yang telah membuatku senang dengan makanan. Semoga terus diberi keberkahan melimpah oleh Allah. Dan aku harus introspeksi diri, bersikap cerdas ketika banyak berkah yang aku terima, supaya tidak ada satu biji nasi pun yang sia-sia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar