Para mahasiswa pendatang di Yogya mungkin tidak asing dengan pemberian tajil gratis—yang umumnya—diselenggarakan di masjid-masjid. Menunya macam-macam. Ada yang sekedar menu pembuka ringan, dan ada juga yang sepaket dengan makanan pokok. Aku sendiri tidak terlalu tertarik untuk terlibat dalam pemburuan tajil. Lebih nyaman di tempat sendiri, beli atau masak. Kadang ikutan cari tajil gratis jika ada teman yang ajak. Seperti tahun lalu ketika teman-teman kuliah masih banyak yang tinggal di Yogya, kami jadi pemburu tajil, bisa dikatakan sering, hanya asik-asikan saja.
Tahun ini, aku benar-benar malas cari tajil gratis. Bukannya sombong karena tidak mau menerima sedekah dari pihak lain, tetapi memang aku lebih nyaman di tempat sendiri. Lagi pula menurutku sedekah lebih baik diberikan kepada pihak yang tepat, seperti fakir, miskin, yatim, musafir, dll. Selama aku masih sanggup beli makanan sendiri, sepertinya aku tidak layak untuk menerima sedekah. Jika seandainya aku terima sedekah, maka sedekah itu bagiku hanyalah hadiah, karena aku tidak termasuk kriteria penerima sedekah yang tepat.
Untuk menu buka puasa tahun ini, kadang aku makan di luar jika tidak sempat pulang kontrakan sebelum magrib, kadang masak jika ada waktu luang yang cukup untuk masak. Namun, yang terjadi setelah beberapa hari puasa berlangsung, malah tajil yang datang sendiri ke rumah. Aku bimbang menyikapinya. Senang dan bersyukur karena aku bisa buka puasa tanpa masak, tetapi malu karena aku merasa merepotkan pihak pemberi, dan bingung bagaimana membalas kebaikan tersebut. Jika aku membalasnya dengan memberi makanan, kemungkinan besar tidak tepat, karena di rumah pemberi pasti banyak makanan. Jika aku membalasnya dengan uang, lebih tidak tepat lagi, tidak sopan. Sempat aku memintanya untuk tidak sering-sering memberi, tetapi setelah dipikir ulang, seolah-olah aku menolak rezeki dari Allah dan menolak niat baik orang yang memberi.
Yang utama, aku sangat berterima kasih kepada Allah atas segala pemberian-Nya melalui tangan orang lain. Untuk Pak Win sekeluarga, terima kasih sebanyak-banyaknya. Semoga Allah membalas lebih atas kebaikannya. Kebaikan yang aku terima lebih dari cukup, bisa buka puasa tanpa masak, perut penuh, dan bisa merasakan masakan rumah di perantauan. Bagiku, masakan rumah adalah yang terbaik dari segi rasa maupun kesehatan. Hmmm... Jadi kangen rumah di kampung halaman...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar