Rabu, 06 Juli 2016

SUKA DUKA BANDUNG

Bandung mengalahkan sistem kekebalan tubuhku. Padahal aku lahir dan tumbuh besar di sana. Suhu di Bandung kabupaten bagian timur selalu mampu membuatku flu jika aku pulang kampung. Mungkin berbeda dengan suhu yang berada di Bandung kota, karena biasanya di suatu wilayah besar memiliki perbedaan suhu di masing-masing bagian wilayahnya, dan lazimnya suhu wilayah kota bisa membuat gerah penduduknya.
 
Aku setuju jika ada orang yang menyatakan bahwa suhu di tempatku sejuk, dan setuju juga jika ada yang menganggapnya dingin. Suhu udara berdampak pada air sumur maupun bak, dan aku “minta ampun” pada dinginnya suhu air di rumah. Hampir mirip air yang berada di base camp pendakian.Tidak seperti di Bantul yang aku berani mandi rutin di waktu fajar, di Bandung mandi siang pun malas aku lakukan. Bayangkan saja, jam 12 siang dengan cuaca cerah, suasananya seperti jam 8 di kampus FIB UGM, dan suhu airnya tetap dingin tidak berubah.
 
Sedikit perbandingan dengan Bantul, suhunya cukup dingin, tetapi bagiku dinginnya pas. Di tengah malam aku masih berani berpakaian singlet, dan tidak kedinginan, kecuali jika mau tidur. Kata penduduk aslinya sih dingin, tetapi bagiku biasa saja, tidak panas dan tidak dingin. Hanya menjelang tidur aku agak merasakan dingin, minimal menggunakan kaos lengan pendek supaya suhu tubuh normal. Lumayan sering juga aku merasakan gerah di Bantul, padahal malam hari, sampai membuatku keluar rumah. Berbeda dengan kampung halaman, rasanya aku tidak pernah merasakan gerah, atau mungkin lupa kapan terakhir kali merasakan gerah. Jika dibandingkan dengan Yogya kota, suhu Bantul dan Yogya kota perbedaannya sangat mencolok, dan tentunya suhu Bantul jauh lebih rendah, jadi tidak perlu dijelaskan bagaimana suhu Yogya kota.
 
Bandung, flu ini membunuhku. Selalu saja flu kambuh jika aku pulang kampung. Flu adalah salah satu penyakit sederhana yang bagiku persoalan besar. Aku tak tahan dengan flu, perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menyedot ingus di dalam hidung berkali-kali, dan kepalaku terasa berat. Lebih tidak nyaman lagi jika sedang berkumpul dengan banyak orang, atau sedang salat berjamaah, ahh... rasanya ingus setara dengan penyiksaan. Lebih tersiksa lagi jika disertai dengan bersin yang tak kunjung berhenti. Aku sampai pasrah bersin tersebut keluar dari lubang manapun, dan tak peduli jijik ketika bersin keluar dari hidung membawa serta ingus. Mudah dibayangkan mukaku ketika terkena flu seperti apa, suram, mendung, gelap, merana, kantung mata menghitam, dan ahh... sudahlah...
 
Mungkin persoalan tersebut tentang adaptasi. Hampir semua makhluk hidup—yang aku tahu—beradaptasi dengan lingkungannya. Seandainya aku tinggal lebih lama di Bandung, mungkin tubuhku bisa menyesuaikan, dan tidak ada lagi yang namanya flu. Atau mungkin persoalan tersebut tentang pengolahan raga, karena aku sendiri sadar bahwa aktifitasku di kampung halaman sangat minim, bisa dikatakan pemalas. Melakukan aktifitas jika mau melakukan, tanpa rencana, dan bukanlah rutinitas. Banyak kemungkinan yang bisa disebutkan, tetapi yang pasti sampai saat ini aku selalu terkena flu jika pulang kampung.
 
Yang aku duga dan sangat diyakini, sensor tubuhku terhadap suhu alam abnormal. Selalu panas, tetapi jika masuk ke wilayah dingin—seperti gunung pendakian—langsung drastis berubah kedinginan. Ketika masih ngekos di sekitar Yogya kota, hampir tiap pulang dari kampus sampai tidur, penampilanku tanpa baju, kadang sedikit sopan pakai singlet. Selalu gerah walaupun di musim hujan. Pemilik kos sering bertanya basa-basi, “enggak dingin?”. Begitu juga di Bantul, yang bagi penduduk asli dan teman-teman kampus udaranya dingin, bagiku biasa saja, suhunya pas. Namun, ketika pergi ke area pendakian, masih di jalan menjelang sampai ke base camp sudah gemetar kedinginan. Gemetar yang tidak ada obatnya, bahkan rokok pun tidak membantu, kecuali jika kaki mulai melakukan pendakian. Dugaanku, abnormalnya sensor tubuh terhadap suhu alam merupakan gejala dari suatu penyakit. Entah apa penyakitnya, aku tak mau tahu, karena aku tidak siap menerima kenyataan tentang kondisi tubuhku, supaya bisa melakukan aktifitas dengan bebas tanpa takut dibayangi penyakit tubuh.
 
Walaupun selalu dihantui flu jika pulang kampung, tetapi Bandung—khususnya kampung halaman—bagiku tetap indah. Kapan lagi bisa menghirup udara segar dengan bebas, hanya di kampung halaman aku sangat menikmatinya, sampai lupa syukur saking biasa di setiap harinya disuguhi udara segar. Untuk wisata pemandangan alam pun tidak susah. Di semua arah mata angin—umumnya arah utara dan selatan—dari rumah ada tempat untuk menikmati alam, dan jaraknya dekat. Satu lagi yang aku kagumi, yaitu langit cerah di malam hari. Saking cerahnya, langit berwarna hitam pekat bersih, sambil disuguhi kerlip bintang-bintang yang jelas terlihat. Tidak seperti di Yogya kota, rasanya hampir setiap hari langitnya kurang cerah, karena mungkin efek dari cahaya lampu pemukiman. Adapun di Bantul, langit malamnya agak mendingan, cerah jelas, tetapi tetap lebih jelas di Bandung.
 
Bandung, membuatku malas ganti alamat KTP.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar