Rabu, 11 Mei 2016

SWEET MEMORIES MEMBUATKU SEJENAK MENIKMATI KEROMANTISAN

Melawan sisi romantis tidak semudah yang dibayangkan. Kadang aku tenggelam di dalamnya ketika mencoba melepaskan bagian-bagian romantis yang tidak perlu di dalam diri. Aku sempat singgung di tulisan sebelumnya bahwa romantis tidak sepenuhnya buruk, melainkan berkah yang patut disyukuri, dengan catatan realistis harus diutamakan. Kurang lebih aku yang sekarang seperti itu, tidak sepenuhnya membuang bagian romantis, atau mungkin porsi romantisku masih lebih banyak daripada realistis dengan isi romantis yang tidak penting. Masing-masing orang mempunyai pandangan sendiri mengenai romantis, mencari sendiri makna romantis sekaligus cara merealisasikannya. Hubungan dengan Tuhan pun bisa dijadikan romantis, tergantung bagaimana cara setiap orang menyikapi.

Aku sengaja tidak menyertakan tv di kontrakan, gadget pun seadanya, menekan kesenangan—yang sebenarnya kekosongan belaka—supaya tidak merajalela. Media hiburan berupa laptop, dengan isi hiburan yang miskin mengenaskan; gitar elektrik dan bass elektrik; dan ponsel non-smart phone (java) dengan pemutar musik, radio, kamera, internetan pun hanya mampu buka tulisan, gambar, atau sebatas yang mampu dijalankan java. Belum lama ini bawa ponsel android, karena ponselnya nganggur di rumah. Itu juga tidak membawa banyak perubahan mengenai hiburan di kontrakan Bantul. Kapasitas penyimpanan data virtual yang sangat minim sehingga tidak mampu install banyak aplikasi, dan tidak mampu membaca font Arab dengan benar sebagai tujuan utama penggunaan, malas utak-atik. Akhirnya, ponsel android kembali membangkai, karena tidak banyak membantu.

Biasanya aku dihibur dengan musik, kadang video yang mudah bosan sekali tonton, dan kadang juga main game—koleksi lawas—yang dimainkan musiman dan sangat mudah bosan, paling lama hanya bertahan satu bulan kurang. Musik pun membuatku bosan, dari ratusan musik yang aku simpan, hampir semuanya bosan didengar, karena terlalu sering didengar lewat mp3 player. Belum lama ini aku punya hiburan baru. Radio, media tua yang masih ada penggemarnya, dan aku nyalakan melalui aplikasi ponsel tua. Belum lama aku bergaul dengan radio, itu juga karena ketidaksengajaan ketika iseng nyalain radio dan menemukan program yang cocok. Isi programnya tetap musik, tidak beda dengan yang biasa diputar lewat aplikasi mp3 player, tetapi rasanya mempunyai khas tersendiri, dan musiknya pun sebagian besar tidak ada dalam daftar koleksiku.

Hiburan baru bukan berarti dinikmati setiap hari. Hanya seminggu sekali aku mendengarkan radio. Program radio yang jadi hiburan baruku adalah Sweet Memories di Retjo Buntung. Biasa aku dengar selasa malam jam 9—lebih, jarang mendengarkan tepat waktu—sampai jam 12. Jenis musiknya lawas, softly, sendu mendayu, umumnya English, memberiku suasana baru di selasa malam sekaligus tenggelam dalam dunia romantis. Coba bayangkan, di rumah sendirian, lampu dimatikan, ditemani secangkir kopi/teh, rokok, cemilan, cahaya remang-remang yang masuk melalui ventilasi rumah dari luar dan cahaya laptop jika dinyalakan, sambil mendengarkan musik softly lawas dari radio. Cukup sempurna untuk dikatakan romantis. Kadang aku menikmati lamunan sambil mendengarkan lagu, isapan rokok, kopi/teh, dan tugas sejenak ditinggalkan.

Terima kasih Sweet Memories, program radio yang memberi warna baru untukku di malam Bantul-Yogya, walaupun hanya di selasa malam aku mendengarkan. Kata penyiarnya, radio Retjo Buntung sudah streaming, bisa dinikmati di mana pun. Suatu saat, ketika sudah meninggalkan Yogya, mungkin Sweet Memories masih aku jadikan program kesayangan lewat streaming, sejenak menikmati susana romantis di selasa malam. Atau mungkin tidak, karena aku berencana meninggalkan musik sepenuhnya. Entahlah, masa depan adalah misteri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar