Karena terpukau hampir ketagihan, dan penasaran perbedaan mendasar kupat tahu Yogya dengan kampung halaman, maka sekali lagi aku coba datang menikmati kupat tahu di tempat yang sama. Suasana selalu laris, dua kali aku ke sana selalu disertai pembeli lain. Nunggu pesanan pun lama. Makanan yang baik dibuat dengan penuh cinta, wajar jika lama menunggu. Aku pikir warung tersebut lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas gila profit. Sebenarnya kualitas juga berujung profit, tetapi kepuasan penjual dan pelanggan berlangsung harmonis.
Setelah hidangan disajikan, aku perhatikan perbedaan apa yang terdapat pada kupat tahu, sambil mengingat keras kupat tahu kampung halaman karena sudah lama tak mencoba. Tidak berbeda dengan dugaanku di tulisan sebelumnya, perbedaan paling mencolok adalah kuah atau bumbu. Kupat tahu punya Yogya kuahnya encer. Sementara punya kampung halaman, jika tidak salah ingat, kuahnya kental yang didominasi kuah kacang, dan rasa kecapnya lebih kuat di lidah. Perbedaan kedua adalah tahu, bahasa Inggrisnya 'know', haha... menurut google translate. Mungkin sama saja, tetapi seingatku punya kampung halaman berupa tahu berkulit kuning yang digoreng terlebih dahulu sampai hampir kering kulitnya. Apalah arti perbedaan, karena tujuanku makan adalah untuk mencapai kenyang memanjakan perut yang berbunyi, dan tak lupa cocok di lidah, dan (lagi) jangan lupa asupan gizi digunakan untuk ibadah, dan (lagi-lagi) daripada bermewah-mewah memanjakan lidah, lebih baik sisihkan harta untuk sedekah, dan (lagi-lagi-lagi)....
Baru kali ini aku foto makanan. Padahal sebelumnya aku sering berkomentar buruk pada orang-orang yang suka membagikan foto makanan di sosmed. Yang penting aku tidak sambil selfie, supaya tidak sepenuhnya nelan ludah sendiri.
KUPAT TAHU


Tidak ada komentar:
Posting Komentar