Setelah akhir pekan sebelumnya ke Lawu, akhir pekan seminggu setelahnya aku berencana pergi ke Merbabu. Maksudnya mau melakukan pendakian rutin, padahal minggu sebelumnya menyesal karena kaki rontok 24 jam lebih sehabis pendakian. Memang pendakian mempunyai daya tarik tersendiri. Penuh penyesalan yang disertai dengan ingin kembali melakukan. Rumit untuk dijelaskan.
Merbabu dipilih karena bagiku kondisinya cukup bersahabat, track nyaman kedua setelah Lawu. Persiapan yang aku lakukan sangat buruk, baru mulai dilakukan setelah isya, dan berangkat sekitar jam 8 malam lebih. Mau sampai base camp jam berapa!? Hal tersebut karena hujan dari sore sampai magrib, dan menyebabkanku santai-santai. Lebih baik waktu diisi dengan cuci baju, daripada nunggu hujan yang tidak tahu kapan akan berhenti, dan bodohnya tanpa melakukan persiapan barang bawaan pendakian.
Sempat ragu untuk pergi, bahkan aku santai-santai menyeduh kopi sejenak menikmati malam di kontrakan sebelum berangkat. Walaupun sebelumnya hujan, tetapi aku melihat langit cerah, sehingga membuatku yakin pergi mendaki. Di setiap langkah perjalanan, sepertinya rasa ragu tak kunjung hilang, perasaan yang berbeda dengan pergi ke Lawu. Setelah melewati samsat Sleman, jam sudah melewati jam 9 malam, dan baru di Sleman saja udaranya sudah dingin. Aku perkirakan sampai di base camp sekitar jam 12 malam. Memang langit cerah, tetapi udaranya pasti sangat dingin. Membandingkan dengan Sleman, aku kira cuaca Merbabu lebih dingin. Belajar dari perjalanan sebelumnya, ke Lawu sudah kedinginan dalam perjalanan, padahal masih di bawah jam 10 malam. Aku juga belajar dari pendakian sebelumnya di Merbabu, masih sore tetapi udara sudah membuatku kedinginan. Pergi ke Merbabu aku batalkan. Jika dilanjutkan hanya akan menjadi perjalanan yang konyol. Sampai base camp sekitar jam 12 malam, dan mungkin sudah mati kedinginan sebelum memulai perjalanan.
Sambil memutar balik arah ke Bantul, aku merencanakan tujuan baru, pantang pulang sebelum kotor, haha... Pantai di Gunung Kidul sepertinya asik, dan tujuan aku arahkan ke jalan Wonosari dengan semangat. Namun, perjalanan tidak berlangsung lama, rasa ragu menghantui, aku memutar balik arah tujuan sebelum sampai ke bukit bintang. Aku pikir perjalanan tersebut hanya akan membuang waktu, tenaga, dan uang. Lebih baik ke Parangtritis saja yang jaraknya lebih dekat dengan kontrakan. Bagiku di malam hari semua pantai sama saja. Pemandangan hanya langit beserta hiasannya, dan pemandangan hamparan bumi semuanya buram. Aku putuskan pergi ke Parangtritis. Mampir kontrakan dulu untuk menyeduh kopi supaya di sana tidak beli (karena harganya kurang bersahabat), dan ganti jaket yang lebih cocok untuk menikmati pantai, biar lebih modis, haha...
Aku bingung cari tempat yang cocok. Bulak-balik pantai bagian timur dan barat. Aku putuskan untuk masuk di bagian timur, tempat utama yang biasa dikunjungi wisatawan. Namun, rasanya tidak nyaman, penuh pengunjung, padahal hampir jam 12 malam. Tempat tujuan berpindah agak barat. Sebelumnya aku sudah ke sana bulak-balik di pinggir jalan, tetapi sepertinya tidak ada jalan masuk ke pantai. Setelah tanya ke tukang parkir setempat, aku memberanikan diri masuk ke jalan arah pantai yang aku kira buntu. Akhirnya ditemukan juga tempat yang sepi, mungkin pengunjungnya kurang dari 10 orang.
Barang bawaanku tidak jauh beda dengan sebelumnya, masih dilengkapi atribut pendaki. Matras digelar di luar batas pasir basah, kemudian tiduran sambil berbantalkan ransel yang berisi sleeping bag. Cuaca yang cerah, ditemani nada gamelan dari sebelah barat, kesunyian, dan bintang-bintang nampak jelas sampai beberapa kali terlihat—yang biasa orang sebut—bintang jatuh. Sedikit informasi mengenai bintang, jika aku tidak salah ingat, dalam al-Qur`an Allah berfirman bahwa bintang dijadikan perhiasan langit, dan sebagai alat yang dilemparkan pada setan supaya tidak bisa menembus langit. Memang nyaman menikmati bintang di malam yang cerah dalam kesunyian, cocok jika dinamakan perhiasan langit. Mungkin juga yang selama ini aku anggap bintang jatuh sebagai meteor yang bergesekan dengan atmosfer adalah benar-benar bintang jatuh sebagai alat pemusnah setan yang mencoba menembus langit. Entahlah, aku bukan ahli perbintangan. Sayangnya tidak ada bulan, jadi aku tidak bisa menggoreskan pena. Waktu diisi oleh lintingan tembakau, kopi, menulis kerangka tulisan di ponsel, dan lamunan yang menghadap ke arah langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar