Pergantian bulan April-Mei bertepatan dengan akhir pekan yang—untuk sementara—cerah. Happy new moon! Kadang aku aneh, kenapa umumnya perayaan dilakukan pada tanggal lahir dan tahun baru, tetapi tidak untuk detik baru, menit baru, jam, hari, minggu, bulan, semester, dst. Entahlah. Akhir pekan biasanya aku isi dengan melakukan aktifitas konyol, tidak diisi agenda aktifitas khusus. Kadang nongkrong bareng kawan jika ada yang ajak, kadang di rumah malas-malasan, ngobrol santai dengan tetangga, dan kadang diisi dengan melakukan aktifitas yang sebenarnya diagendakan untuk hari-hari di luar weekend. Sederhananya, melakukan aktifitas dadakan, tergantung suasana hati. Jika tawaran aktifitas terasa cocok, maka dilakukan, dan jika hati menolak, maka semewah apapun aktifitas tujuan tidak dilaksanakan.
Untuk sementara, I am a healthy man. Tidur dalam waktu yang tepat, mandi di waktu fajar, jogging pagi rutin dari Tegal Jejeran 2 sampai stadion Sultan Agung, dan sebagian besar aktifitas hampir mirip yang dilakukan ibu rumah tangga sehari-hari. Hal tersebut bukan untuk tujuan lain, melainkan untuk melatih diri menjadi manusia baik dan benar. Mau tak mau aku pasti menua jika tidak mati muda, dan gaya hidupku mesti diperbaiki supaya menjadi orang tua yang baik. Tujuan paling utama adalah menyikapi rahmat Allah dengan cara menjaga segala pemberian-Nya melalui aksi, bukan sekadar kekosongan kata-kata, walaupun belum sepenuhnya aku bisa konsisten dengan segala aktifitas baik di setiap harinya.
***
Cara Pemalas Membuat Rencana
Sempat bingung untuk mengisi kegiatan di akhir pekan. Apa ajak nongkrong kawan, berkeliling ke semua kawan yang berada di Yogya, menyelesaikan tugas, atau tidur seharian sampai mata bengkak. Setelah timbang-menimbang, semua tawaran aktifitas tersebut tidak dilakukan. Sedang malas nongkrong bareng kawan, karena aktifitas yang dilakukan selalu monoton, kurang bervariasi. Menyelesaikan tugas pun malas, aku bukan robot, tak ada salahnya menyisihkan hari di setiap minggunya untuk mendinginkan otak. Lebih baik aku berkelana sendirian, walaupun akhirnya tetap saja ditemani keramaian. Awalnya terlintas pantai sebagai tempat tujuan, tetapi rasanya bosan. Akhirnya gunung pun aku pilih, lagi pula sudah lama tidak mendaki. Menapaki gunung bukan hobiku, bahkan menyesal ketika kaki sudah terlanjur melangkahi gunung, tetapi selalu ada rasa untuk kembali melakukan pendakian. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan, dan mungkin banyak pendaki merasakan pula apa yang aku rasa.
---
Berkelana sendiri adalah salah satu caraku untuk mengingat/menambah rasa syukur terhadap Tuhan Pemberi Nikmat. Dalam perjalanan, aku bisa mengingat bagian-bagian lupa dan durhaka terhadap nikmat kehidupan yang aku punya.
---
Berkelana sendiri adalah salah satu caraku untuk mengingat/menambah rasa syukur terhadap Tuhan Pemberi Nikmat. Dalam perjalanan, aku bisa mengingat bagian-bagian lupa dan durhaka terhadap nikmat kehidupan yang aku punya.
---
Awalnya mau berangkat jumat sore, tetapi cucian belum kering. Hebat kan, yang biasanya ke laundry, dan sekarang aku nyuci sendiri!? Itu adalah balasan bagi semua pihak yang meragukan kemandirianku, dan perlawanan bagi setan yang selalu mengajakku bermalas-malasan, haha... tak penting. Perjalanan aku tunda sabtu siang, dan berharap bisa sampai ke base camp pendakian sore hari. Bodohnya aku kembali mencuci pakaian di sabtu pagi setelah jogging, sehingga harus menunggu kering jemuran yang kian bertambah, dan membuatku lemas sampai terlelap ke alam mimpi sekitar 2 jam setelah zuhur. Perjalanan pun tertunda, dan bisa direalisasikan sabtu sore dengan tujuan pendakian yang belum diputuskan.
Beberapa opsi gunung membuatku bingung. Akhirnya, diputuskan untuk pergi ke Lawu (lagi, untuk kesekian kalinya), dengan pertimbangan bahwa gunung tersebut cukup bersahabat untuk para pendaki. Aku tidak membawa banyak bekal, tanpa kompor, tanpa tenda yang biasa kawan-kawan sebut dengan istilah dome, dan tanpa rencana yang jelas, haha... Ransel hanya diisi matras, sleeping bag, sarung, senter, hal kecil lainnya, asupan gizi pun hanya air satu setengah liter dan satu bungkus biskuit kelapa yang dibeli di tengah perjalanan. Gunung Lawu cocok bagi pendaki santai sepertiku, karena track di sana rapih tertata, dan hampir di setiap pos ada warungnya, bahkan di sekitar puncak pun ada warung legendaris. Kondisi pendakian Lawu yang bersahabat bukan berarti puncak mudah digapai. Beberapa pendaki terhenti di tengah jalan tak melanjutkan pendakian.
Sabtu sore, satu barang pun belum dimasukkan ke dalam ransel. Dengan tergesa-gesa memasukkan barang yang sekiranya akan dibutuhkan. Memang dasar pemalas. Sampai pisau dan syal (biasa disebut slayer) lupa dibawa, dan beruntung tidak dibutuhkan ketika melakukan pendakian. Kostumku tidak jauh beda dengan kostum di pendakian-pendakian sebelumnya. Kebiasaan yang tidak sengaja menjadi khas. Ransel klasik tentara berwarna hijau yang ditempeli matras di sampingnya, sweater merah dan kadang jaket sport biru dongker berplat biru di lengannya, kaos dan akhir-akhir ini berturut-turut dalam pendakian pakai kaos hijau lengan panjang, celana jeans hitam, sepatu coklat, sarung tangan motor, sarung yang menjadi penghangat kepala dan leher dalam pendakian, topi merah, dll. Apalah arti penampilan di alam bebas, tidak berguna untuk adu gengsi. Yang penting nyaman dan aman untuk menghadapi pendakian.
![]() |
| Kostum pendakian di waktu dan/atau tempat lain. |
Sedikit perbedaan adalah tidak disertai syal biru yang lupa dibawa, dan penambahan tas selempang kecil berwarna hitam. Ada satu barang yang selalu dibawa ketika mendaki, tetapi sekali pun tidak pernah dipakai sampai sekarang, sleeping bag. Barang tersebut tak pernah dipakai, hanya dibawa untuk jaga-jaga, karena masa depan adalah misteri, siapa tahu sangat dibutuhkan. Aku jarang tidur dalam pendakian. Walaupun misalnya terpaksa harus beristirahat lama, aku hanya menggelar matras kemudian tiduran berbantalkan ransel. Ada juga satu barang yang sangat aku inginkan, tetapi belum tertarik untuk membeli. Kamera kecil beresolusi tinggi dengan kapasitas penyimpan data yang besar. Buat pengendara sepeda motor, supaya setiap langkah dapat didokumentasikan.
Memulai perjalanan di sore hari adalah hal yang cukup fatal. Karena jalan tidak sejelas siang, dan bisa dikatakan bahwa aku lupa jalan dari Yogya menuju Lawu, takut salah jalan. Catatan rute menuju Lawu sudah lama hilang, karena ponsel lawasku pernah reset, sehingga catatan di draft semuanya hilang tak berbekas. Wajar ponsel lawas, tidak seperti ponsel android yang otomatis saving data ke server. Dalam perjalanan, di jalan Solo melihat ke arah timur cukup membuatku ragu, karena terlihat mendung yang cukup tebal. Sampai magrib biasa saja, belum terjadi hal aneh yang bisa menghambat perjalanan, dan sejenak ibadah di pom sebelum masuk daerah Klaten.
***
Jebakan Labirin
Jalan Klaten kota menuju Solo selalu membuatku bingung. Harus berputar berliku-liku, dan aku tak paham kapan harus belok untuk bertemu jalan utama menuju Solo. Pernah beberapa kali tersesat ketika melakukan perjalanan yang mengharuskanku melewati Klaten, belok ke jalan yang salah, sehingga bertemu lagi jalan satu arah menuju Yogya. Hal tersebut, memaksaku berputar mengulang perjalanan dari awal perempatan jalan satu arah, merepotkan. Beruntung kali ini tidak salah belok, karena mengikuti kendaraan berplat nomor yang aku kira akan menuju ke arah Solo.
Belum keluar dari “labirin” Klaten, aku disambut hujan lebat dua kali. Daerah yang beruntung, di perpindahan musim masih bisa merasakan hujan lebat. Hujan pertama, aku berteduh di rumah kosong renovasi bersama pengendara lain. Beberapa menit kemudian datang seorang bapak mendorong motornya, dan berhenti singgah di tempat aku berteduh. Awalnya aku tak mau menyapa, dan akhirnya aku sapa setelah dia beberapa kali bulak-balik untuk menghidupkan motor. Aku sarankan dia untuk membawa motornya ke tempat berteduh, dan aku menawarkan jasa untuk perbaiki. Apa sikap yang dia timbulkan? Marah tak jelas! Hal tersebut tidak membuatku membalas sikap buruknya, kembali menawarkan bantuan, dan lagi-lagi disikapinya dengan buruk. Sikapnya mengurungkan niatku untuk membantu, dan semakin membuatku malas ketika tercium bau alkohol dari mulutnya. Aku pun menjauh kembali ke dalam bangunan, lebih baik menikmati selinting tembakau. Tiba-tiba dia menghampiri dan menawarkan motornya untuk diperbaiki. Dalam benakku, apa yang dia mau!? Ketika memperbaiki motor, dia malah bicara melantur tak jelas, mungkin efek dari alkohol. Alhasil, aku setengah hati untuk memperbaiki, dan sebelum motornya bisa hidup, aku putuskan untuk pergi meninggalkan dia sendiri, daripada buang waktu menolong pemabuk tak jelas. Mungkin itu contoh bagi para pemabuk yang dihinakan Tuhan. Semoga dia mendapatkan hidayah untuk bertaubat.
Belum lama setelah kembali memulai perjalanan, turun lagi hujan lebat untuk kedua kalinya, dan aku singgah di toko yang sudah tutup. Hati sedikit berbisik bahwa semua kejadian tersebut adalah pertanda buruk. Namun, aku sanggah, siapa yang tahu masa depan selain Tuhan. Semua kejadian tersebut aku sikapi dengan bersyukur dan menikmati setiap langkah perjalanan dengan senyuman, tidak mengurungkan niatku pergi ke Lawu. Aku pun melanjutkan perjalanan dengan memakai jas hujan. Semakin lama perjalanan tertunda tidaklah baik, takut parkiran dan base camp tempat tujuan telah tutup karena larut malam. Uniknya, belum keluar dari daerah Klaten disambut dengan alam yang cerah. Jalan aspal pun tak ada bekas basah terkena hujan. Jika tidak salah daerah Delanggu, nama tepatnya aku lupa, pokoknya yang teringat ada penggalan ...nggu ..nggu apa lah, dan mungkin itu juga salah ingat. Hahh... Klaten memang “sesuatu”. Jas hujan pun aku lepas di daerah Kartasura, supaya nyaman dalam perjalanan.
Terlepas dari jeratan Klaten tidak membuatku senang, karena di depan terdapat tantangan rute yang lebih membingungkan. Solo lebih rumit daripada Klaten, bahkan aku sempat tersesat, walaupun ujungnya tanpa sengaja bertemu dengan jalan utama menuju Lawu. Jangankan jalan, nama daerah saja membuatku bingung. Sampai sekarang aku tak paham mana Solo dan mana Surakarta. Ditambah kacau lagi ketika ada nama daerah yang dibulak-balik, Kartasura (x Surakarta). Kalau daerah bernama Olos belum pernah dengar, dan mungkin tidak ada. Bisa menembus Solo adalah keberuntungan yang patut disyukuri, karena sebelumnya sangat berpotensi berputar-putar tanpa ujung dalam jalanan Solo. Sempat membuatku bingung, dulu tidak jauh dari Kartasura langsung bertemu dengan ISI Surakarta. Dalam perjalanan ini bertemu perguruan tinggi itu juga, tetapi setelah lama menapaki jalanan Solo. Mungkin dulu melewati jalan pintas sehingga terkesan cepat, karena dipandu oleh kawan yang paham rute, atau mungkin cuman perasaan saja.
Sesampainya di jalan Lawu, jalan provinsi, aku baru bisa tenang. Memang masih banyak pertigaan, tetapi tidak terlalu berarti, tidak serumit Solo. Jika benar-benar bingung, bisa langsung tanya ke penduduk setempat, dan tentunya penduduk paham arah mana yang mesti aku pilih. Kondisi jalan Lawu sampai base camp bagiku sangat nyaman, sehingga motorku dipacu keras di jalanan. Sudah sangat lama tidak menggila mengendarai motor. Bertindak seperti pembalap di jalan lurus yang sepi, belok dengan memiringkan motor di setiap tikungan, menaklukan beberapa tanjakan. Di siang hari aku tidak berani melakukan hal tersebut, begitu juga di malam hari jika kondisi lingkungan terlihat cukup ramai. Traumaku cukup parah, tetapi masih berani mengendarai sepeda motor. Bahkan aku kalah telak dengan pengendara cewek dalam hal kecepatan, padahal performa motorku lebih baik.
***
Kenikmatan Perlahan Meredup
Sangat disayangkan karena malam hari telah tiba dalam perjalanan. Padahal pemandangan alam di sepanjang jalan menjelang base camp sangat baik. Seandainya masih siang, mungkin nongkrong sebentar menenangkan hati, atau mengambil gambar untuk dokumentasi. Di balik keindahan alam siang hari, terdapat cuaca malam yang menyeramkan. Kekuatan jasadku dibuatnya perlahan menurun. Tidak biasa dengan udara dingin di sekitar pegunungan. Aku pikir dingin kampung halaman Cicalengka kalah dibandingkan dengan dingin kawasan Lawu dan sekitarnya. Tanganku kedinginan, mulai keriput, hampir mati rasa. Beruntung masih bisa dikendalikan supaya tidak jatuh ketika mengendarai motor.
Akhirnya base camp ditemukan, tetapi kok rasanya beda. Apa mungkin sudah renovasi, atau aku salah jalan? Setelah bertanya ke penduduk, katanya ada lagi satu base camp di sebelah sana (buta arah mata angin). Sampai sekarang, aku tak paham nama setiap base camp pendakian. Aku tak pandai mengingat nama, walaupun sering bertemu/berkunjung dengan pemilik nama. Sebelum jalan lagi, sejenak menikmati sebatang rokok, berharap mengobati dingin yang melewati batas, dan nyatanya rokok tidak banyak membantu, saking dinginnya. Bahkan aku merasa tidak sedang memegang rokok, dan sempat jatuh dari tangan tanpa sadar, karena tangan hampir mati rasa.
Sesampainya di base camp, langsung mendaftarkan nama diri. Tulisanku kacau, hampir tak bisa menulis, karena kedinginan, padahal sambil menghisap rokok. Tak lupa salat dulu sebelum mendaki. Salat yang sangat tidak fokus, sambil gemetaran dan pikiran tertuju pada rasa dingin. Gemetar kedinginan bisa hilang setelah memulai langkah pendakian sekitar 100 meter.
***
Perbedaan
Sebelum sampai di base camp, sebelum melihatnya, aku langsung masuk ke rumah penduduk yang tak jauh dari base camp. Sudah biasa parkir motor di sana. Anehnya, setelah masuk rumah, tidak biasanya motor yang parkir sangat sedikit, sekitar 3 motor. Aku kira hari itu tidak diminati para pendaki untuk mendaki di Lawu. Setelah tanya yang punya rumah, semakin membuatku aneh, karena dia bilang hari itu banyak yang mendaki.
Aku dibuat kaget ketika awal melihat base camp. Sangat ramai, tidak seperti biasanya. Dulu pernah datang ke base camp tidak terlalu malam, dan kondisinya sepi, hanya bertemu penjaga base camp 2 orang. Pernah juga datang tengah malam lebih, dan kondisi di sana sangat sepi, bahkan base camp tutup. Sekarang sangat berbeda, penuh keramaian, mungkin 24 jam non stop. Konyolnya, sekarang halaman base camp menyediakan parkiran, hampir semua pendaki parkir kendaraan di sana, dan aku seperti orang bodoh terlanjur parkir motor di rumah penduduk. Hal tersebut tidak membuatku menyesal, karena motorku bisa terhindar dari tetesan hujan dan terik matahari.
Sistem pendakian Lawu diperketat, sampai KTP ditahan. Isi form pendaftaran pun harus jelas, kapan berangkat dan kapan pulang. Hebat. Uang 20 ribu melayang seketika, 10 ribu untuk parkir, dan 10 ribu untuk pendakian. Niat mendaki supaya irit, malah habis lebih dari 50 ribu, sudah termasuk biaya transportasi dan konsumsi. Namun, sistem tersebut ada bagusnya. Katanya uang pendaftaran bisa jadi asuransi jiwa. Para pendaki pun bisa aman, karena ada jaminan tanggung jawab dari pihak pengelola. Kata penjaga base camp, sistem yang baru belum lama dilakukan. Jika tidak salah, dimulai setelah terjadinya kebakaran tahun lalu yang memakan korban jiwa.
***
Pendakian
Ceritanya, aku diam sejenak di kawasan base camp untuk membiasakan badan terhadap kondisi cuaca, dan istirahat setelah perjalanan yang cukup lama. Namun, semakin lama berdiam diri, hanya membuat kondisi badanku semakin menurun. Tanganku mati rasa. Berbatang-batang isapan rokok tidak banyak memberi perubahan. Lebih baik pendakian dimulai sebelum kondisi raga semakin memburuk.
Baru saja mau berangkat, ada dua wanita memulai pendakian. Aku tunda pendakian, supaya jarakku dengan mereka berdua cukup jauh, takut ada yang salah paham bahwa aku mengikutinya. Setelah dirasa cukup lama, aku mulai pendakian, sendirian, dimulai pada jam 11 malam. Hanya diterangi senter dan percikan bara rokok. Apa aku takut? Hmm... tidak, mungkin juga ia. Sempat istirahat beberapa kali setelah sampai separuh pendakian lebih. Di tengah gunung malam hari duduk sendirian, sepi, dan membuatku waspada jika ada bunyi-bunyi tak lazim. Kadang setan berbisik menakut-nakuti, tetapi aku sikapi bisikan dengan membalasnya dalam hati. Di dalam hati aku berdialog dengan bisikan setan, untuk membuktikan siapa pemenangnya. Jika aku takut, maka aku kalah, dan jika sebaliknya, maka setan yang kalah.
Mungkin belum sampai 10 menit dari memulai pendakian, ketemu dua wanita tadi. Sambil nafas terengah-engah karena sudah lama tidak mendaki, aku basa-basi pada mereka, mudah-mudahan jodoh, haha... Mereka mahasiswa dari Solo, jika aku tidak salah ingat dari UNISRI (mungkin aku salah ingat). Sedikit basa-basi khawatir, kenapa tidak ajak teman pria, dan aku puji mereka “hebat”. Aku tidak fokus dengar jawaban dari mereka, yang masih ingat mereka bilang sudah pernah mendaki Lawu. Lalu aku tinggalkan mereka, takut ada yang salah paham. Sejenak aku istirahat untuk membiasakan diri. Ketemu lagi sama mereka, aku biarkan saja supaya agak jauh di depan, tetapi malah mereka berhenti tidak jauh dari tempat aku berhenti. Awalnya mau aku ajak bareng, biar mereka ada teman pria. Aku tidak menawarkan diri, nunggu mereka yang meminta. Sepertinya mereka tidak butuh aku, karena setelah memulai kembali pendakian, situasi kami biasa saja. Mau menawarkan diri, aku mikir dua kali, takut bikin aku repot dan membuat mereka curiga. Aku tinggalkan saja untuk kedua kalinya, dan untuk selama-lamanya karena tidak bertemu lagi.
---
Pesanku pada siapa pun, alam bukan untuk ditaklukan. Sudah menjadi kodrat bahwa manusia bergantung pada alam, dan secara tidak langsung menyatakan bahwa alam lebih kuat daripada manusia.
Khusus untuk para pendaki wanita, setidaknya ditemani satu pria yang mampu menjaga dalam pendakian. Hal yang lebih mengkhawatirkan, sebagian kejahatan terjadi karena adanya kesempatan.
---
Aku bertemu dengan kelompok pecinta alam dari SMA. Lupa dari daerah mana. Jumlahnya sampai dua truck. Mayoritas mereka adalah wanita. Aku hanya tersenyum, membayangkan bagaimana nasib para pria yang menjaga wanita dalam pendakian. Berdasarkan pengalaman, wanita yang jarang mendaki cukup merepotkan, apalagi jika jumlahnya banyak. Mudah-mudahan dugaanku salah. Aku juga salut, baru kali ini tahu ada kelompok pecinta alam SMA yang jumlah anggotanya begitu banyak, dan didominasi wanita. Pendakianku sempat tersendat beberapa kali karena macet, segan untuk menyalip dan jenuh untuk mengikuti dari belakang. Beruntung tidak lama sampai ke pos 2, dan dengan senang hati aku salip semuanya.
Dalam proses pendakian aku bertemu banyak orang baru. Kenalan, ngobrol-ngobrol, dan bercanda. Sempat memutuskan untuk jalan bareng dengan beberapa kelompok yang baru dikenal, tetapi tidak berlangsung lama. Aku malas menunggu, aku tinggalkan mereka jika meminta istirahat, dan akhirnya aku jalan sendiri lagi. Wajar jika aku lebih cepat, karena mendaki sendirian, dan tidak punya tanggung jawab untuk menunggu teman. Aku tidak pandai mengingat nama, jadi lupa nama masing-masing dari mereka. Dari sekian kelompok, ada 3 kelompok yang bagiku berkesan. Walaupun nama orang dan asal daerahnya lupa, tetapi mungkin di kemudian hari masih ingat mukanya. Kelompok pertama berjumlah 3 orang, bertemu di pos 3. Mereka sangat baik, kami seperti sudah saling mengenal sejak awal bertemu. Sayangnya aku tinggalkan ketika kembali memulai pendakian bersama mereka, dan bertemu kembali setelah aku turun dari puncak. Kelompok kedua bertemu di pos paling atas. Mereka kelompok yang dibentuk dadakan dari base camp, salah satu dari mereka pendaki sendiri seperti aku. Kami naik ke puncak bersama-sama, dan berpisah ketika mereka memutuskan untuk memandu dua orang bule. Aku malas ikut mereka, karena rencanaku langsung pulang tidak lama setelah matahari naik agak tinggi. Kelompok ketiga bertemu di puncak. Mereka dua orang, dan lebih dulu turun puncak daripada aku. Sempat ajak bareng turun, tetapi aku malas. Ketika aku turun, kami bertemu lagi. Beberapa kali jalan bareng disertai obrolan, dan beberapa kali berpisah. Mereka sangat kuat, turun gunung dengan sangat cepat, seperti tidak merasa pegal di bagian kaki. Berbeda denganku yang jalan pelan tetapi pasti, karena faktor kaki yang sudah tidak kuat diajak cepat.
---
Tidak akan merasa sendirian dalam pendakian, walaupun mendaki diawali sendiri. Banyak bertemu orang baru dengan penuh kepedulian, serasa teman lama. Tidak ada yang namanya kesepian, dan membuktikan bahwa kesepian hanya sekadar perasaan. Itulah salah satu bentuk nikmat yang patut disyukuri.
---
Bertemu dengan banyak orang selalu disertai basa-basi yang basi. Pasti saja ada komentar “kok sendirian?”. Aneh, dan tidak pernah dengar komentar “kok rame-rame?”. Aku selalu jawab “lagi mau sendiri”, dan jika kesal aku jawab “biar ada yang nanya, kok sendirian?”, haha... Pendaki sendirian sudah lazim ditemukan, bukan hanya aku. Di beberapa pendakian sebelumnya, aku selalu bertemu orang yang mendaki sendiri.
Sampai di puncak sekitar jam 4 pagi. Cukup cepat, karena aku mendaki sendiri, dan tidak sering istirahat. Istirahat pun tidak pernah lebih dari 10 menit. Beruntung cuaca cerah, walaupun katanya sekitar jam 8 malam sempat turun hujan. Bintang di langit yang cerah, bulan yang hampir sabit, lampu pemukiman, pemandangan kilat di tempat lain, kesunyian, semuanya menenangkan hati, hal yang jarang aku rasakan. Aku juga bisa merasakan indahnya matahari terbit. Para pendaki lain sibuk foto-foto, dan aku bingung kayak orang hilang sambil menahan dingin. Aku tidak berminat foto diri sendiri, lebih suka ambil gambar alam. Kesibukanku di puncak adalah menahan dingin. Sangat dingin. Salat subuh pun gemetaran, menjadi imam dengan nada bacaan solat yang naik turun tak jelas karena gemetar kedinginan. Tembakau yang aku bawa tidak berguna, bara apinya tidak bisa lama menyala, hanya dua kali sedotan kemudian mati. Beruntung bawa rokok bungkusan yang bara apinya bisa tahan lama, jadi aku bisa sedikit menghangatkan badan, walaupun bisa dikatakan tidak banyak membantu. Sayangnya tidak ada kopi hangat. Sekitar 2 jam lebih aku menahan dingin. Matahari yang sudah naik cukup tinggi tidak mampu menghangatkan badan. Aku pun memutuskan untuk menanggalkan sarung dan sweater, membiasakan diri dengan dingin, berharap dingin bisa hilang.
Dingin yang tak kunjung hilang. Semakin lama berdiam diri, hanya menambah kondisi tubuhku menurun kedinginan. Lebih baik gerak, tidak berlama-lama di puncak, langsung turun tanpa santai-santai di atas gunung. Berbagai rencana tidak dilakukan, hanya sedikit mendokumentasikan gambar yang bagiku menarik. Awalnya mau ngopi, makan, dan tidur di warung puncak, tetapi jadi tidak berminat karena aku mau langsung turun. Bahkan aku tidak singgah di warung setiap pos. Jajan pun hanya dilakukan ketika ada seorang ibu yang bawa barang dagangan di jalan menuju pos 3. Sedikit tidak tega melihat ibu yang mengais rezeki sampai rela mendaki gunung. Aku merasa tertipu, katanya gorengan masih hangat, tetapi nyatanya dingin seperti diambil dari kulkas. Mungkin benar dari bawah masih panas, tetapi menjadi cepat dingin karena faktor cuaca dalam perjalanan. Harganya cukup mahal, seribu untuk satu gorengan. Aku memaklumi harga yang ditawarkan, karena sebanding dengan tenaga yang digunakan si penjual.
***
Pulang
Perjalanan turun lebih cepat dibandingkan dengan mendaki. Mungkin separuh lebih cepat. Sesampainya di bawah, sebelum keluar dari gerbang masuk, aku sejenak duduk istirahat, memandangi gerbang sambil beres-beres barang bawaan. Tanpa lama-lama, tanpa menyentuh setetes air pun untuk membersihkan diri, aku langsung pulang.
Dalam perjalanan, tidak ada sedikit pun niat untuk menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Pikiran hanya untuk segera sampai ke rumah. Jasadku sudah tidak kuat. Ngantuk di jalan, bahkan sempat memejamkan mata ketika mengendarai motor. Beruntung langsung sadar dan tidak menabrak pengendara lain. Dua kali singgah di pom bensin untuk tidur, dan tidurnya tidak pernah nyenyak, tetapi nyaman. Seperti gembel sebatang kara. Tak ada rasa malu sedikit pun mengenai penampilan. Aku pikir orang lain paham bahwa aku telah melakukan pendakian.
Ada hal yang membuatku selalu penasaran jika pergi ke Lawu. Di tulisan sebelumnya, aku pernah singgung bahwa ketika masuk ke area Solo, suasananya mendadak mistis. Tiba-tiba kondisi sekitar senyap seperti dalam dunia lain, dalam dunia mimpi, dan sempat melihat tulisan loji. Anda cari sendiri di internet apa yang dimaksud loji dalam lingkup satanic. Begitu juga aku rasakan di sepanjang jalan Lawu, terutama yang dekat dengan base camp pendakian. Aku tak tahu nama daerahnya, yang jelas dekat dengan deretan hotel. Di sana terdapat beberapa rumah besar dengan halaman luas. Mirip hotel, tetapi tidak ada tanda yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut adalah hotel, dan kondisinya pun sepi. Aku selalu berkhayal jika tempat tersebut adalah tempat pemujaan setan. Ya, aku selalu tertarik dengan hal yang berbau satanic. Informasi sementara yang aku dapat dari internet, rumah pemujaan setan biasanya besar mewah, dan kondisinya sepi. Khususnya di daerah eropa, rumah tersebut letaknya berada di hutan, jauh dari pemukiman warga.
Dua kali istirahat di pom bensin bisa menghilangkan rasa ngantuk, tetapi tidak menghilangkan lesu. Aku kendarai motor dengan pelan, asal selamat sampai tujuan. Kecepatanku dinaikkan saat masuk daerah awal Klaten timur. Merasa tertantang ketika beberapa pengendara wanita menyalipku dengan kecepatan penuh. Aku enggak mau kalah oleh wanita, tanpa peduli trauma aku kejar semua pengendara yang tadi menyalip. Tak peduli trauma bukan berarti sepenuhnya berani. Seringkali hati merasa terkejut kaget tanpa sebab yang jelas, pikiranku dikacaukan dengan bayangan kejadian buruk yang belum tentu akan terjadi, dan gaya berkendaraku masih terasa kaku. Namun, aku berhasil menyalip semua pengendara wanita yang aku tandai. Setelah sampai bandara Yogya, laju motorku dipelankan, menikmati detik-detik akhir perjalanan.
Setelah sampai di rumah, aku hanya bisa berbaring di atas kursi, kemudian malam hari pindah ke atas kasur. Kakiku benar-benar rontok, sulit bergerak, lumpuh selama 24 jam lebih dari awal sampai rumah. Untuk masukin motor, tutup jendela, dan nyalain lampu, rasanya berat dilakukan. Dua hari aku tidak makan, hanya makan sisa gorengan yang aku beli dari gunung Lawu. Bukan karena tidak punya uang, tetapi rasanya nafsu makanku hilang.
***
Hikmah
Seperti yang direncakan dari awal, perjalanan tersebut untuk mengingat/menambah rasa syukur. Di setiap pendakian, ketika kaki terlanjur melangkah, selalu disertai rasa menyesal, selalu ingat bahwa kamar pribadi lebih baik. Membuatku sadar bahwa aku kurang bersyukur dalam kehidupan sehari-hari. Kadang lupa syukur pada nikmat barang yang aku punya, lupa pada orang sekitar yang aku kenal, dan lupa syukur pada nikmat sehat raga.
Secara umum dapat dikatakan bahwa aku adalah pemalas akut. Nikmat barang dan nikmat sehat jarang aku gunakan sebaik mungkin di setiap harinya. Banyak waktu yang terbuang percuma. Di samping tidak digunakan sebaik mungkin, barang-barang yang aku punya jarang dirawat. Rumah berantakan, lantai penuh debu, dll. Adapun nikmat sehat, selama ini aku pertanyakan sudah berapa banyak karya bermanfaat yang dihasilkan. Ibadah tidak maksimal, dan tidak ada satu pun karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Selama ini kemana saja? Yang dilakukan selama ini apa?
Selain itu, dengan melakukan perjalanan sendiri, aku jadi sadar bahwa kurang bersyukur terhadap orang-orang sekitar yang aku kenal. Aku harus lebih bersikap ramah dan bersahabat terhadap mereka, karena mereka adalah salah satu nikmat dari Tuhan yang aku punya. Aku bukan siapa-siapa tanpa mereka. Kekayaan, ketenaran, kepintaran, dsb tidak berguna jika hidup tanpa orang lain.
Pokoknya pendakian sendiri ke Lawu menyadarkanku pada banyak syukur yang sebelumnya lupa.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar