Kamis, 19 Mei 2016

MENGEJAR BADAI; MERBABU

Salah satu prinsip hidupku sekarang adalah alam bukan untuk ditaklukan. Judul yang dipilih memang agak menyinggung maksud menantang alam. Namun, jangan tergesa-gesa menyimpulkan suatu perkara sebelum memahami seluruh informasi perkara tersebut. Aku tidak bermaksud menantang alam, hanya saja dugaanku tentang tempat tujuan salah total. Alam tidak bisa ditebak dan masa depan adalah misteri. Persentase ketepatan dugaan 0%, keberuntungan 100%, dan atas kehendak Tuhan semua hal bisa terjadi.

Perjalanan menuju Merbabu masih merupakan program pengingat dan penambah syukur. Nyatanya aku masih belum mampu melawan sisi burukku. Padahal beberapa kali aku sengaja menenggelamkan diri dalam zona ketidaknyamanan, supaya sadar atas nikmat yang aku punya, sehingga aku harus menyikapi syukur dengan aksi, melakukan aktifitas dengan porsi waktu yang padat di setiap harinya, terutama tentang menyikapi hubungan dengan Tuhan.

***

Pergi Setengah Hati

Perasaanku sudah tidak nyaman sebelum memulai perjalanan. Diselingi hujan tanpa kejelasan awan mendung ketika mau keluar rumah untuk memulai perjalanan, melihat cuaca daerah sekitar gunung Merapi dan Merbabu dari Yogya yang diselimuti awan hitam tebal dari bawah sampai atas, dll. Itu semua hanya perasaan, adakalanya bisa jadi bahan pertimbangan dan bisa diabaikan, yang jelas masa depan adalah misteri dan urusan Tuhan.

Persiapanku setengah matang, yang penting tidak mentah, berusaha menjadi seseorang yang menghargai waktu. Tidur yang sangat panjang dari pagi hingga siang, dan menyiapkan barang bawaan di siang hari supaya tidak berangkat terlalu sore. Sayangnya aku masih melanggar rencana. Berangkat sore, padahal rencana berangkat menjelang sore supaya bisa menikmati sore di base camp pendakian.
Penampilan masih sama seperti pendakian sebelumnya. Bedanya, yang biasa disertakan dan tidak disertakan dalam pendakian sebelumnya, kali ini semuanya lengkap dibawa/dipakai. Menyertakan syal biru dan pisau yang lupa dibawa ketika pendakian Lawu. Bahkan yang biasanya hanya pakai satu baju hangat, kini sweater merah dan jaket biru dongker berplat biru di lengan semuanya dipakai sekaligus dua rangkap. Berdasarkan pengalaman beberapa kali pendakian Merbabu yang lalu, di sana terkenal dingin, jadi wajar jika sekarang pakai dua rangkap baju hangat, untuk jaga-jaga karena aku pendaki santai dan berangkat sendiri. Komposisi pakaian yang menjadi unik dalam pendakian, karena kaos sebagai lapis paling dalam dan jaket bagian luar keduanya basah karena keringat dan hujan, kemudian sweater yang dipakai sebagai lapis tengah berfungsi sebagai penetralisir tingkat kebasahan, menyerap basah bagian luar dan dalam. Adapun bekal makanan, tidak jauh beda dengan sebelumnya, bawa setengah bungkus biskuit kelapa sisa yang sudah dikerumuni semut dari rumah, air dua liter, dan penambahan satu bungkus nasi putih polos yang lauknya satu bungkus mi rebus kering.

Beberapa penyebab yang membuatku ragu, seperti yang telah disebutkan, dimulai ketika mau berangkat dari kontrakan Bantul. Hujan secara tiba-tiba dengan awan yang tidak lazim sebagai penyebabnya. Allah Maha Segala, bisa mematahkan teori ilmiah yang dirumuskan manusia. Hari-hari sebelumnya memang langganan hujan sore, tetapi tidak setiap hari. Aku hanya perlu menunggu hujan berhenti, kemudian berangkat. Di jalan Tamsis-Yogya, melihat gunung Merapi dan sekitarnya termasuk Merbabu, terlihat awan hitam yang sangat tebal dari bawah gunung hingga ke atas sangat tinggi. Menyeramkan. Sayangnya aku tidak ambil gambar kejadiannya, malas berhenti berkendara. Baru bisa ambil gambar setelah sampai di UGM, itu juga awannya sudah datang di langit UGM terbawa angin dari utara ke selatan, jadi tidak bisa menggambarkan kondisi awan yang tadi aku bicarakan. Karena awan tersebut, sempat turun hujan di sekitar UGM, tidak lama.
Sebenarnya aku tidak bisa mengingat dengan jelas rute perjalanan. Tanpa melihat peta sebelum berangkat atau dipandu GPS dalam perjalanan, beruntung bisa sampai dengan selamat tanpa nyasar. Penampilan sedikit basah karena sempat melawan hujan gerimis dan terkena cipratan air yang terlindas mobil. Agak kesal pada mobil yang terkesan sengaja melaju di jalur yang terdapat genangan air sampai membuatku basah, tetapi aku abaikan, lagi pula hal yang wajar, diam di rumah saja jika tidak mau basah dan kotor. Sampai di kawasan base camp tidak terlalu malam. Sebelum benar-benar masuk area base camp, aku mampir sejenak di angkringan setempat, dan itu adalah salah satu rencanaku sebelum berangkat. Mengisi perut dengan asupan gizi seadanya, mencuri informasi dari pedagang angkringan, membiasakan badan dengan cuaca ditemani secangkir teh hangat, dll.

***

Pendakian

Aku awali cerita pendakian dengan sedikit bumbu dramatis. Dari sudut pandang kondisi alam dan cuaca, pendakian Merbabu kali ini adalah yang terburuk daripada pendakian-pendakian Merbabu sebelumnya. Dulu pernah sekali mengalami pendakian buruk, karena menemani beberapa cewek, dan disertai hujan dari sebelum sampai base camp hingga naik turun gunung, tetapi beruntung di puncak dapat matahari. Pendakian tersebut tidak lebih buruk daripada yang sekarang. Badai! Anggap saja bahwa aku mendadak jadi pengejar matahari, segera pulang dan berharap di perjalanan dapat kehangatan matahari.

Di kawasan base camp, sedikit basa-basi dengan penjaga parkir. Tanya tentang kondisi alam dan pendaki di Merbabu. Karena informasi yang aku dapat, keraguanku lenyap, percaya diri untuk menikmati alam dalam pendakian, ditambah yakin karena dukungan langit cerah sebelum memulai pendakian. Sejenak aku istirahat, menyiapkan barang, dan ibadah. Tempat yang aku jadikan base camp adalah masjid. Pasti semua pendaki Merbabu paham masjid di sekitar base camp daerah Wekas. Aku tidak memilih base camp—dalam arti sebenarnya—karena bingung mau melakukan apa. Jika bareng kawan pasti mampir base camp untuk makan dan persiapan. Di Wekas, banyak rumah yang dijadikan base camp dan parkiran, seperti penginapan daerah pantai Parangtritis, haha... Tidak seperti Lawu yang menjadikan base camp sebagai tempat istirahat sekaligus registrasi, di Wekas melakukan registrasi di pos sebelum masuk tempat parkir dan base camp.
Lumayan lama diam di masjid, sekitar satu jam lebih, menikmati suasana malam yang jarang aku rasakan, sambil menikmati beberapa isapan tembakau. Tidak seperti di Lawu, aku tidak kedinginan ketika berdiam di masjid, padahal di teras. Ibadah fokus tanpa gemetar kedinginan. Airnya memang dingin, tetapi tidak membuatku kedinginan. Tanganku tidak keriput. Pokoknya aku sehat sejahtera.

Pendakian dimulai sekitar jam setengah sembilan malam. Masih di area pemukiman sudah membuat nafasku tersendat dan pegal di bagian kaki. Wajar, hal yang biasa, selalu mudah lelah di awal pendakian. Aku bertemu beberapa kelompok pendaki. Kelompok dari Temanggung, Kulon Progo-Yogya, beberapa kelompok dari Magelang, Semarang, UIN Semarang, dll. Beberapa kelompok ajak pergi bareng, bahkan menawarkan tenda. Mereka semuanya baik-baik. Seperti biasa, aku seperti sudah kenal lama sama mereka. Diselingi obrolan, kepedulian, candaan, dan semua hal yang menggambarkan hubungan sosial yang baik. Selalu ada saja satu pertanyaan yang menghiasi pendakian dan membuatku bingung, “kok sendirian?”. Aku tidak bermaksud menerima pengakuan “hebat” karena melakukan pendakian sendiri, dan jelas tidak benar lagi jika maksudku untuk sombong. Tujuan utama adalah menambah dan mengingat syukur. Tidak perlu dijelaskan secara rinci tujuan pendakian sendirian, lebih baik Anda rasakan sendiri, dan cari pelajaran/hikmah dari apa yang Anda lakukan.

Tawaran baik dari beberapa pendaki bukan untuk dimanfaatkan demi keuntungan pribadi. Aku tolak sebagian besar tawaran, bukan karena sombong, tetapi aku tidak mau membuat mereka repot. Biarkan mereka bersenang-senang dengan kelompoknya sendiri. Canda tawa sejenak dalam perjalanan bagiku sudah sangat membuatku senang, membuatku merasakan kehangatan hati. Supaya tidak melukai niat baik mereka, kadang aku jalan bersamaan, dan jika mereka minta istirahat, aku tinggalkan sambil pamit.

Untuk menuju pos 2 tidaklah lama, sekitar satu jam lebih, dan aku bingung harus melakukan apa. Tenda tidak ada, kompor untuk masak pun tidak punya. Memang di luar dugaan, karena rencanaku sampai di sekitar puncak jam 3 lebih, dan ternyata aku terlalu cepat memulai pendakian. Aku putuskan untuk diam sejenak menikmati pos 2. Gelar matras dan duduk senderan pada pohon. Sendirian menikmati alam, dan memperhatikan beberapa kelompok pendaki yang bersenang-senang dengan caranya sendiri. Badanku belum kedinginan, masih panas normal efek dari perjalanan, tanganku saja masih sanggup membuat beberapa lintingan tembakau. Tembakau yang dibawa cukup berguna, tetapi tidak masksimal, karena di waktu selanjutnya aku sama sekali tidak bisa membuat lintingan tembakau, kecuali saat turun gunung.

***

Kekonyolan

Semua kekonyolan diawali dari pos 2. Aku tidak bisa mengambil gambar kondisi pos 2, karena malam hari. Hanya bisa ambil gambar siang hari ketika turun gunung, itu juga kurang jelas karena turun kabut.

Bagian pertama, tentang kondisi jalur pendakian. Sebelum masuk pos 2, aku anggap track pendakian nyaman. Licin sedikit wajar, karena sore tadi hujan, dan hari sebelumnya juga hujan. Namun, track setelah pos 2, perlahan semakin ancur ketika kaki terus melangkah menuju puncak. Sebelum sampai ke pertigaan tower, dihadapkan dengan jalan tanjakan berbatu. Itu masih wajar, aku masih bisa melangkah aman. Yang paling gila adalah tanjakan setelah pertigaan tower. Kondisinya berbatu, basah, dan ada beberapa bagian yang tidak bisa dilangkahi kaki, kecuali loncat atau memanjat berpegangan pada dahan pohon. Bahkan aku hampir jatuh dan mungkin akan menyebabkan cedera berat, ketika berpegangan pada dahan pohon dengan satu tangan, siap memanjat, malah kakiku terpeleset. Beruntung dengan kondisiku yang mulai menurun, aku bisa menggelantung dengan satu tangan pada dahan pohon.

Aku kira track tersebut semakin lama semakin ancur. Yang aku masih ingat, dulu nyaman untuk didaki. Setiap pendakian ke Merbabu, aku selalu merasa adanya perbedaan pada kondisi track pendakian. Mungkin cuman perasaanku saja, dan tidak sesuai dengan realitas. Hal yang membuatku aneh, jalur berbatu tersebut terlihat berbeda di malam dan siang, dan di siang hari kondisinya aku kira lebih bersahabat.

Bagian kedua, tentang aku yang tersesat. Baru kali ini aku tersesat dalam pendakian. Mungkin karena aku terlalu fokus pada isi pikiran, dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Sebenarnya, sebelum memutuskan untuk berdiam diri di pos 2, awalnya aku langsung melanjutkan pendakian, dan berniat istirahat di tempat antah-berantah sendirian. Aku jalan di bagian kanan—mungkin arah mata angin timur—di area pos 2 mencari jalur pendakian. Memang jalurnya ditemukan, tetapi aku ragu, entah kenapa hatiku menolak. Bahkan ketika awal masuk jalur tersebut, tiba-tiba aku mendengar teriakan riuh para pendaki seolah-olah melarangku untuk masuk ke sana. Aku pikir itu tidak ditujukan padaku, lagi pula buat apa mereka semua berteriak peduli padaku, dan teriakan mereka juga tidak jelas karena aku sambil mendengarkan musik dengan suara yang lumayan keras.

Perjalanan dalam jalur tersebut aku lanjutkan, dan lagi aku dibuat bingung. Rumput di pinggir jalur rapat menutupi langkah kaki. Itu memang aneh, lazimnya jalan yang sering terinjak selalu bersih tanpa tertutup rumput. Berarti jalur tersebut jarang dilewati orang-orang. Aku tidak menghentikan perjalanan, karena pikiranku berbisik bahwa banyaknya rumput di musim hujan adalah wajar. Semakin membuatku yakin ketika di langkah selanjutnya aku melangkah di jalur yang tidak ada rumputnya, tetapi tidak lama. Pokoknya, sekian meter tertutup rumput, sekian meter bersih, bertemu rumput lagi, bersih lagi, terus berulang di langkah selanjutnya.

Aku simpulkan bahwa jalur tersebut adalah jalur air pipa, karena ada pipanya, haha... Perjalananku kembali ragu ketika bertemu bak penampung air. Aku heran, sejak kapan ada bak di jalur pendakian? Walaupun ragu, aku tetap melanjutkan pendakian. Aku pikir wajar jika banyak perubahan, karena sekitar setahun aku tidak menapaki Merbabu. Ditambah yakin lagi untuk memulai perjalanan ketika melihat sampah bungkus makanan ringan. Mungkin sekitar satu kilo aku berjalan di jalur—yang salah—tersebut. Langkahku terhenti ketika jalan semakin menurun dan buntu. Berdiam diri sebentar, berpikir sejenak mengingat kondisi jalur yang sudah dilalui. Memang aneh, jalan yang tidak terlalu menanjak, bahkan banyak dataran dan menurun. Kemudian, aneh dengan jalur yang tertutup rumput, dan adanya bak di jalur pendakian. Lebih baik kembali ke pos 2 untuk menenangkan pikiran, dan memperhatikan lingkungan sekitar. Setelah di pos 2, ternyata benar aku tersesat, karena jalur yang benar ada di sebelah kiri.

Malam hari, berdiam diri sendirian di tengah gunung ketika tersesat di jalur yang salah, hassh.... Apa aku takut? Mungkin, sedikit, dan mungkin sangat takut karena aku kembali ke pos 2 dari jalur tersesat dengan kecepatan penuh, haha...

Kesesatan belum selesai, aku hampir tersesat lagi ketika memulai pendakian dari pos 2 setelah berdiam lama di sana. Mungkin belum jauh kaki melangkah, aku bertemu pertigaan. Lagi-lagi jalur yang aku pilih hampir tertutup rumput. Kali ini aku harus lebih peka, belajar dari kesalahan sebelumnya. Aku berdiam diri sejenak, melangkah pelan, dan ketika melihat belokan ke kiri, aku langsung masuk ke sana penuh keyakinan. Jalan yang bersih dari rumput aku temukan, dan langkah selanjutnya semakin membuatku tenang.

Perjalanan malam yang tidak jelas. Turun kabut sehingga tidak bisa melihat lingkungan dengan baik. Tower saja tidak kelihatan, dan aku tidak tahu apa sudah melewati tower atau belum. Setelah aku melewati pertigaan tower—yang tempatnya aku sadari di siang hari, aku kembali berbelok ke jalur yang salah. Sebenarnya tidak salah, kedua jalur sama saja karena akan berujung di jalur yang sama, tetapi secara tidak sadar aku masuk ke jalur kiri kemudian belok ke kanan—masuk ke jalur kanan—yang akan berujung berputar-putar. Untungnya aku tidak berputar-putar, karena ketika belok kanan, aku melihat keramik bertuliskan “in memoriam....” sehingga aku berputar balik dan masuk ke jalur asal-asalan—dan sebenarnya jalur benar—karena ketidakjelasan pikiran setelah lihat keramik tersebut. Cukup menakutkan, aku singgah di tempat yang pernah menjadi tempat gugurnya seorang pendaki.

Bagian ketiga, tentang cuaca. Bagiku cuaca selalu menjadi perhatian utama untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pendakian. Lebih baik aku disebut pengecut daripada menantang alam dengan cuaca buruk. Awan tebal yang sebelumnya aku lihat dari Yogya, tidak mengurungkan niatku pergi. Bukan bermaksud mengejar badai, tetapi aku pikir jika hujan di siang hari, maka malamnya bakal cerah, karena awan mendungnya sudah habis. Ternyata di luar dugaan, dan aku anggap bahwa cuaca di pendakian kali ini berdasarkan pengalamanku adalah yang terburuk.

Berharap bulan dan bintang terlihat, tetapi sampai pagi sedetikpun tidak muncul, padahal di awal langkah pendakian hampir terlihat jelas. Di pos 2, selain bermaksud berdiam diri, aku juga mengawasi cuaca. Menunggu kabut lenyap, supaya aku bisa melanjutkan pendakian dengan nyaman. Sejenak kabut menghilang, tetapi kembali turun lagi, bahkan sempat hujan gerimis. Rencana mau bermalam di area puncak, tetapi gagal karena kondisi cuaca. Aku berangkat sekitar jam setengah tiga ketika gerimis berhenti. Dalam pendakian kembali turun gerimis. Malas mengeluarkan ponco, dan aku lawan cipratan air sampai jaketku cukup basah.

Kabut tak kunjung hilang, malahan jarak pandang semakin pendek. Aku tidak sadar sudah sampai mana, bahkan aku tidak sadar sudah melewati tower. Sedikit lagi sampai puncak, setelah melewati tower dan jalur berbatu kedua yang paling curam, sejenak aku beristirahat di dataran yang cukup luas. Angin dan kabut semakin tidak bersahabat. Aku kira itu kondisi terburuk, dan ternyata tidak, karena belum jauh kaki kembali memulai langkah, aku diterpa angin yang lebih besar disertai kabut dengan kandungan air yang efeknya mampu membuat pakaian basah. Padahal aku baru saja diminta oleh sekelompok pendaki untuk memandu mereka, sepertinya mereka baru kali ini ke Merbabu. Belum seratus meter aku memandu, malah aku nyerah duluan, karena badai yang tidak layak untuk dilawan. Aku meminta mereka untuk melanjutkan pendakian jika berani, dan aku memilih untuk mengakhiri pendakian. Kondisinya sangat buruk, sampai ranselku bergoyang tertiup angin. Beruntung mereka ikut keputusanku untuk berdiam di jalur yang ada sela-selanya, menunggu kondisi cuaca agak bersahabat. Sedikit khawatir pada mereka, sampai aku bilang bahwa percuma untuk mengejar sun rise, karena di atas tidak akan mendapatkan matahari, bahkan hanya akan bertahan diri melawan badai. Terpaan angin bagiku wajar. Entah kemarau atau hujan, beberapa kali pendakianku selalu diterpa angin yang dimulai dari pos 2. Mungkin Merbabu adalah jalur angin. Namun, untuk kali ini anginnya lebih menggila, dan ditambah gila lagi karena disertai kabut tebal basah.

Entah berapa lama aku berlindung di sela-sela jalur, yang jelas sampai langit mulai siang aku masih bertahan di sela-sela. Ketika kondisi cuaca cukup bersahabat, aku bilang pada kelompok tadi, jika ingin melanjutkan pendakian, silakan sekarang, tetapi aku tidak ikut. Kondisi badanku mulai menurun, karena lama berdiam diri sehingga badan sangat kedinginan. Melanjutkan perjalanan juga percuma, tidak akan mendapatkan sinar matahari, malah akan semakin kedinginan di puncak. Aku lebih memilih untuk mundur sedikit ke belakang cari dataran, gelar matras, dan tiduran dalam sleeping bag. Menghangatkan diri sejenak lebih baik. Namun, nyatanya hanya sedikit hangat, dan selanjutnya gemetar kedinginan di dalam sleeping bag. Seperti orang mati dalam kantung mayat, sebatang kara di atas gunung menunggu ada yang menjemput, haha... Agak takut mati kedinginan sih, karena kondisi badanku saat itu adalah yang terburuk daripada di pendakian yang lain, dan sebenarnya pilihan terbaik adalah menggerakkan badan supaya hangat. Namun, siapa yang paham ajal selain Tuhan, tak peduli jika mati kedinginan, yang penting aku berusaha memulihkan energi dan sedikit menghangatkan badan dengan cara tiduran.

***

Kebaikan

Dari sudut pandang cuaca alam, aku tidak bisa menikmati perjalanan. Namun, aku merasakan hal positif yang jarang—bisa dikatakan belum pernah—aku rasakan. Aku merasakan ikatan sosial yang lebih baik dibanding dengan sosial di pendakian yang lain. Sebagian sudah diceritakan, bahwa aku bertemu beberapa kelompok, dan banyak yang menawarkan mendaki bersama sekaligus menawarkan tenda. Dari semuanya, ada tiga kelompok yang bagiku paling berkesan. Pertama, kelompok dari Semarang. Dari awal bertemu, kami sudah bisa bercanda lepas. Ajak jalan bareng dan menawarkan tenda, bahkan kami sempat jalan bareng sebentar. Sayangnya aku tinggalkan sebelum pos 2, karena takut merepotkan mereka. Ketika aku duduk istirahat di pos 2, bertemu mereka lagi, dan lagi menawarkan jalan bareng dan tenda, tetapi aku basa-basi (menolak) supaya mereka pergi duluan saja, nanti aku menyusul. Saking baiknya, mereka kasih tahu warna tenda, supaya aku tidak kebingungan jika seandainya aku sampai di tempat mereka nge-camp. Dialog konyol yang masih aku ingat, “+ Sendirian mas? – Iya. Kalian bertiga? + Iya. Masnya bersatu?”. Kata “bersatu” itu loh yang baru aku dengar.

Kelompok kedua berasal dari Wekas. Anak-anak SMP tingkat akhir berjumlah 4 orang. Di saat aku duduk bersandar pada pohon di pos 2, salah satu dari mereka menghampiriku untuk meminjam korek. Sambil basa-basi, akhirnya bocor informasi tentang aku yang menyendiri. Kurang dari 5 menit, orang yang pinjem korek datang lagi, dan menawarkan tenda, bahkan sambil maksa. Dua kali lebih dia bulak-balik memaksa untuk tidur di tendanya. Aku tidak menolaknya, atau mungkin juga menolak dengan cara yang halus, karena memang aku tidak mau berlama-lama di pos 2. Baru saja aku mau pergi, gulung matras dan merapihkan barang bawaan, dia dengan temannya datang lagi, dan kali ini dengan ajakan yang sangat memaksa. Akhirnya aku terima tawaran mereka, tidak enak rasanya jika telus menolak. Mungkin selama 1 jam lebih aku di tenda mereka, diisi dengan obrolan dan canda tawa.

Kelompok ketiga berasal dari Magelang, daerah tepatnya aku lupa. Awalnya aku mau langsung melanjutkan pendakian setelah mampir di tenda tadi. Namun, kondisi badanku mulai kedinginan, karena terlalu lama berdiam diri, dan cuaca pun sedang turun kabut. Kebetulan belum jauh aku melangkah, ada sekelompok pendaki yang menyalakan kayu bakar, istilah kerennya api unggun. Aku mampir sejenak untuk menghangatkan badan. Jarang-jarang aku bakar-bakaran dalam pendakian. Ternyata aku keenakan. Badanku hangat dan tiba-tiba mengubah rencana untuk menunda pendakian. Sambil menghangatkan badan di depan api, di sana kami bertukar obrolan, seperti ngobrol dengan kawan yang sudah lama kenal. Mereka sangat baik, bahkan ketika kami ngobrol tentang rokok, salah satu dari mereka menawarkan rokoknya, dan bukan rokok biasa, Cigarillos, salah satu rokok royal favoritku. Ketika turun hujan gerimis, mereka mengajakku ke tendanya untuk melanjutkan obrolan, sedikit ada unsur paksaan. Menawarkan cemilan, dan mungkin aku yang paling banyak makan daripada mereka sebagai pemiliknya. Aku tinggalkan mereka setelah jam setengah tiga, untuk melanjutkan pendakian yang terlalu lama tertunda. Awalnya diajak bareng, tetapi aku lebih memilih sendiri, takut merepotkan mereka. Kami bertemu lagi setelah aku turun dari gunung. Ternyata mereka tidak melakukan pendakian dini hari, karena lebih memilih untuk tidur, hanya salah satu dari mereka yang ke puncak sendirian dini hari, dan anehnya tidak bertemu denganku.

Umumnya, aku bertemu banyak orang. Tidak pernah merasa kesepian. Penuh dengan canda tawa dan obrolan. Bahkan orang tua pun—yang pengalaman mendakinya lebih banyak—aku ajak ngobrol, bertemu ketika aku turun dari gunung, sambil melinting tembakau masing-masing. Ternyata tidak hanya aku yang membawa tembakau mentah, haha...

***

Pulang

Dingin yang tak kunjung sirna membuatku keluar dari sleeping bag untuk menggerakan badan. Itu juga atas pertimbangan bahwa angin hampir hilang, walaupun masih ditemani kabut tebal. Saatnya sarapan, makan nasi dan mi yang aku bawa, berharap bisa memulihkan kondisi badan. Setelah merapihkan barang bawaan, aku merenung sejenak untuk memutuskan kelanjutan pendakian. Memang cuaca agak bersahabat, dan posisiku tidak jauh dari puncak, tetapi aku pikir hanya akan menjadi perjalanan konyol jika pendakian dilanjutkan, karena di puncak berkabut. Lagi pula tujuan utamaku bukan puncak, dan beberapa kali sudah merasakan puncak, jadi tidak ada rasa penasaran untuk menikmati puncak. Akhirnya aku pulang, dan baru kali ini tidak mengikuti nafsu “rasa ingin” untuk menapaki puncak.

Aku mendadak jadi pengejar sinar matahari. Tidak mau berlama-lama menikmati kawasan pendakian, dan memang tidak banyak yang bisa dinikmati karena turun kabut. Hanya di kawasan tower cuaca agak mendingan, dan di sanalah aku bisa mengambil gambar yang hasilnya lumayan bening.


Di pos 2, aku dibuat kaget karena monyet-monyet turun mencari sisa makanan. Jika tidak salah ingat, dulu pernah ada kawan yang bilang bahwa di sana ada monyet. Namun, dalam beberapa kali pendakian Merbabu, aku tidak pernah melihatnya, dan baru kali ini aku percaya apa yang dibicarakan kawan. Jumlah monyetnya banyak. Bentuknya hampir mirip dengan monyet yang suka diajak ngamen di perempatan jalan. Namun, badannya berisi, berotot, dan kepalanya mirip hanoman, menyeramkan. Aku sedikit takut, melihat jumlah mereka yang bisa saja aku mati dikeroyok monyet. Ternyata monyetnya juga takut. Aku melakukan gerakan dalam jarak 10 meter dari posisi monyet, dan mereka menjauh ketakutan.
Sayangnya monyet-monyet tidak ada dalam gambar yang aku ambil. Mungkin karena efek kabut. Padahal jarak aku mengambil gambar tidak jauh dengan monyet. Tidak hanya di pos 2 monyet berada. Di pertengahan jalur antar pos 2 dan pos 1 ada monyet juga. Itu lebih menakutkan lagi, karena aku benar-benar sendirian, tidak seperti di pos 2 yang jika terjadi hal buruk bisa minta tolong ke pendaki lain. Beruntung tidak terjadi hal-hal yang aneh.

Sesuai rencana, aku tidak berlama-lama di kawasan Merbabu. Di area base camp, hanya ambil motor kemudian pulang. Aku benar-benar membutuhkan matahari. Untuk perjalanan kali ini, aku tidak merasakan ngantuk dalam perjalanan pulang. Dari Merbabu sampai kontrakan Bantul tidak istirahat, kecuali sekali berteduh menunggu hujan reda. Rasa capek aku tumpahkan ketika sampai rumah. Seperti biasa, aku hibernasi 24 jam penuh. Kakiku rontok, tetapi tidak terlalu parah, lebih rontok ketika aku melakukan perjalanan ke Lawu.

***

Hikmah

Pelajaran yang aku dapat dibagi pada tiga sudut pandang, kawasan pendakian, waktu, dan nikmat hidup. Lebih baik jangan melakukan pendakian ketika masih musim hujan. Secara alam, tidak banyak yang bisa dinikmati, hanya berpotensi mencelakakan diri. Kecuali bagi orang-orang yang hobinya melakukan pendakian di musim hujan. Ya, setiap orang berbeda-beda. Adapun aku, dari dulu sudah memutuskan untuk tidak melakukan pendakian jika kondisi cuacanya buruk. Untuk pendakian kali ini, aku tidak bermaksud untuk mengejar badai, hanya saja kenyataan cuaca tidak sesuai dengan yang aku perkirakan.

Dari sudut pandang waktu dan nikmat hidup, sebenarnya keduanya tidak bisa dipisahkan. Hal tersebut adalah hikmah dalam menyikapi kehidupan di luar pendakian, dan tentunya aku sadari ketika masih/setelah pendakian dilakukan. Aku disadarkan bahwa banyak waktuku yang terbuang sia-sia. Tidak digunakan semaksimal mungkin dalam hal kebaikan. Begitu juga nikmat hidup, tidak digunakan sebaik mungkin dalam hal kebaikan. Jika dibandingkan dengan kondisi pendakian, nikmat hidupku sangat nyaman ketika berada di rumah. Aktifitas apa yang telah dilakukan? Karya apa yang telah dihasilkan? Semuanya nol, tak bermanfaat. Termasuk dalam hal ibadah. Dalam pendakian aku tidak bisa melakukan ibadah dengan baik. Tidak senyaman ketika berada di rumah. Namun, yang terjadi, ketika aku menikmati kenyamanan di rumah, bukannya porsi ibadahku dilebihkan secara ketepatan waktu dan fokus, melainkan hampir lupa kepada Tuhan karena tenggelam dalam kenyamanan.

Banyak pelajaran yang aku dapat, tetapi malas nulis. Lebih baik Anda melakukan pendakian sendiri, dan cari sendiri pelajaran dari apa yang Anda rasakan. Idealisme setiap orang berbeda-beda, dan tentunya pasti berbeda jawaban/kesimpulan dari apa yang dirasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar