Jumat, 20 Mei 2016

DUA JENIS HEWAN NOKTURNAL KEMBALI BERTAMU

Bulan Mei yang luar biasa. Dua jenis hewan berbeda dunia bertamu dan berani manampakkan diri di depan muka. Hewan pengerat yang gemarnya mencari timbunan makanan, si tikus imut, tetapi lumayan menjijikan. Kemudian hewan aerodinamik, kelelawar, si anti daratan, haha... Istilah aerodinamik sepertinya cocok bagi hewan tersebut. Jika diperhatikan, kedua jenis hewan tersebut hampir memiliki kemiripan. Atau mungkin dulunya mereka sama, dan klan kelelawar berinovasi supaya bisa menguasai langit, kemudian keduanya berencana menginvasi darat dan langit. Mungkin juga di masa depan mereka berinovasi lagi, supaya bisa berenang dan menginvasi lautan. Hassh... ngawur. Setelah aku singgung bahwa kedua hewan tersebut lama tak nongol, sekarang malah muncul, seakan-akan mereka membaca tulisanku sebelumnya.

Dua kali kelelawar masuk rumah, di hari yang berbeda. Belum terlalu malam, masih di bawah jam 10. Mungkin tersesat, karena dia masuk lewat pintu belakang. Mungkin dia cari kabel tempat biasanya dia menggelantung yang telah aku tata ulang lebih rapih. Sedikit ngeri sih. Bagaimana jadinya jika tiba-tiba menggigit leherku? Dibanding senang karena dia bertamu, aku malah dibuat waspada, dan jengkel karena kotoran atap berjatuhan diobrak-abrik oleh kepakan sayapnya. Aku hanya membuka semua pintu keluar supaya keluar secara mandiri. Agak lama kelelawar keluar, sambil aku memperhatikannya di atas kursi dan menghisap lintingan tembakau. Mungkin dia bingung, dan tak berani masuk area terang. Hanya di atap yang gelap dia bulak-balik terbang. Aku pun tepuk tangan ketika dia berhasil menemukan jalan menuju luar.

Adapun tikus, lagi-lagi yang bertamu masih muda belia. Entah kenapa berturut-turut rombongan tikus yang bertamu hanya anak-anaknya. Bukan berarti yang besar tidak pernah muncul, justru dulu tikus besarlah yang paling rajin datang, sampai meninggalkan jejak, lemari kecil plastik dibuatnya bolong. Sudah dua anak tikus yang berhasil aku usir dari rumah. Tikus pertama aku hempaskan dengan sapu ke luar rumah. Dia berani bermain-main di tempat yang terang, sampai naik ke atas rice cooker di hapadanku. Lucu sekali sikapnya, dan lebih lucu lagi jika aku berhasil menendangnya.

Yang lebih mengganggu adalah tikus kedua. Setiap malam aku tidak bisa tenang memikirkan timbunan makanan. Terdengar bunyi “kresek...kresek..”, seperti sedang berusaha menjebol makanan yang ada di dalam plastik keresek.Tikus kedua lari terbirit-birit ke luar rumah sendiri, ketika aku mengeluarkan satu bagian lemari tempat timbunan makanan yang menjadi tempat favoritnya. Dia meninggalkan bekas, satu bungkus plastik makanan bolong. Beruntung bungkusnya dua lapis, dan lapis dalam masih aman.

Aku kira tikus terakhir adalah yang kedua. Ternyata tidak, dan aku tak tahu berapa banyak jumlah mereka. Satu lagi tikus kecil muncul setelah kepergian yang kedua. Yang nampak satu tikus, dan mungkin masih ada lagi tikus lain yang bersembunyi. Tikus ketiga sulit dikeluarkan dari rumah, merepotkan. Tempat favoritnya seperti yang ditempati tikus kedua, tempat timbunan makanan. Dasar tikus, apa dia tak berpikir bahwa timbunan makanan adalah persediaan asupan gizi untukku, bukan dimaksudkan sebagai pakan hewan pengerat!? Tak punya akal, opo piye!? Jika disebut tak punya akal, tetapi cerdas, bisa mengetahui makanan yang aku sembunyikan.

Aku coba mengusirnya dengan cara seperti yang dilakukan pada tikus kedua. Di siang hari, aku keluarkan bagian lemari yang menjadi tempat makanan ke dekat pintu depan. Memang terbirit-birit ketakutan, tetapi tidak ke luar rumah, malah menuju kursi dan bersembunyi di dalamnya. Entah bagaimana cara mengusirnya, dan aneh bisa betah di rumah, padahal kondisi rumah rapih dan bersih, kecuali bagian kamar yang aku jadikan gudang. Setiap malam aku sengaja membuka pintu belakang, dan menghalangi jalan menuju ruang kamar gudang dengan tabung panjang yang dimiringkan ke arah luar rumah. Biasanya cara tersebut cukup ampuh. Ketika tikus berlari menuju kamar gudang, otomatis arahnya dialihkan ke luar. Namun, sayangnya kali ini aku dihadapkan dengan tikus cerdas. Dia paham, menghindari tabung, dan mencari sela-sela untuk masuk ke kamar gudang.
 
Saking kesalnya, akhirnya aku pakai cara terakhir. Menaburkan kapur barus di setiap sudut ruangan, bahkan di setiap kursi aku masukkan masing-masing 2 biji. Tak peduli jika rumah bau mayat, yang penting tikus bisa menjauh dari rumah. Belum 24 jam, tikus sudah kebingungan. Mungkin efek dari aroma kapur barus yang mampu membuat pusing kepala. Aku saja sebagai manusia bisa pusing. Caraku sudah berhasil membuat tikus tidak nyaman untuk berdiam diri di rumah. Namun, sampai sekarang dia masih bertahan melawan ketidaknyamanan, bulak-balik mencari tempat yang menurutnya nyaman, mungkin. Silakan saja jika nekat menantang aroma kapur barus, asalkan jangan mati di dalam rumah, karena akan semakin jijik aku memandangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar