Senin, 09 Mei 2016

GIE - EROSS & OKTA

Sampaikanlah pada ibuku
Aku pulang terlambat waktu, ku akan menaklukkan malam
Dengan jalan pikiranku

Sampaikanlah pada bapakku
Aku mencari jalan atas semua keresahan-keresahan ini
Kegelisahan manusia

Retaklah
Malam yang dingin

Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka-teki malam
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka-teki keadilan

Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya
Hakikat manusia

Akan aku telusuri
Jalan yang setapak ini
Semoga kutemukan jawaban
***
Sekarang bukan tentang tafsir syair, tetapi cerita diriku yang merasa tersindir oleh lirik lagu, dan sedikit berhubungan dengan penafsiran syair. Hanya beberapa lirik yang dibahas, tidak semua. Sebelumnya, dulu sering putar lagu tersebut, tetapi tidak terlalu perhatikan liriknya. Tiba-tiba saja waktu dalam perjalanan menuju kontrakan aku menyanyikan sebagian liriknya, dan setelah dipikir ternyata aku merasa tersindir. Lagu yang jarang dinyanyikan, dan entah kenapa mulut bernyanyi lagu tersebut.

Aku tak paham apa maksud si penulis lirik, dan mungkin tidak sesuai dengan pemahamanku. Lirik tersebut meluapkan perasaan seseorang yang sedang resah karena kondisi sekitar, membuatnya selalu gelisah, dan akhirnya tentang pencarian jati diri untuk menghadapi persoalan yang mengganggu pikirannya. Aku siapa, harus jadi apa, dan harus berbuat apa?.

Pertama kali aku merasa tersindir ketika menyanyikan penggalan lirik “berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya”, dan kebetulan yang pertama kali dinyanyikan oleh mulut. Sedikit mirip apa yang biasa aku lakukan. Menjadikan pantai dan gunung sebagai tempat perenungan, sendirian, menumpahkan bagian-bagian pikiran. Ditambah sesuai lagi dengan adanya lirik “aku pulang terlambat waktu, ku akan menaklukkan malam”, karena biasanya aku berkelana di malam hari.

Berkelana dan menikmati alam sendirian selalu membuatku sadar sekaligus menambah sikap syukur. Hampir segala beban pikiran terbayang di depan pandangan buram (ketidaksesuaian pandangan dengan pikiran), dan di depan bayangan beban terdapat hamparan alam yang luasnya mengalahkan beban. Paham maksudku? Pikiran kusutku sangat kecil di hadapan alam. Tidak hanya itu, berbagai solusi pun terbayang lebih mudah karena bantuan keindahan alam, kesunyian, desiran ombak, bintang di langit yang cerah, lampu pemukiman, dan lautan awan ketika berada di atasnya.

*Bingung bagaimana cara membedakan alam yang dimaksud dengan alam sesuai kamus. Soalnya, halaman rumah saja termasuk alam, dan tempat berpijak rumah juga berada di alam. Alam yang dimaksud adalah alam bebas, jauh dari pemukiman. Mudah-mudahan semua orang paham, dan aku hanya membuat semuanya rumit, haha...

Persoalan yang paling banyak jadi bahan renungan adalah tentang “hakikat manusia”. Aku tidak tahu maksud penulis pada penggalan lirik tersebut. Apa mungkin kelanjutan dari lirik sebelumnya, dan jika benar berarti “hakikat manusia” yang dimaksud adalah tentang diri sendiri, “hidupku untuk apa?”. Namun, aku memaknai penggalan tersebut lebih umum, “kehidupan untuk apa?”, yang menyatakan bahwa hal tersebut ditujukan bagi diri sendiri, seluruh manusia, bagaimana aku bertindak untuk diri, bagaimana menyikapi pihak lain, bagaimana hubungan antarpribadi, dan yang paling utama menyikapi hubungan dengan Tuhan.

Kadang aku aneh pada diri sendiri, kenapa harus penuhi kepala dengan pikiran yang bukan untuk keperluan pribadi, padahal diri sendiri saja belum layak dikatakan mapan dalam segala bidang. Pikiran tentang religi, sosial, politik, dan umumnya budaya. Seperti pada tulisan Biarlah Hidup Begini Adanya, kehidupan yang baik itu seperti apa? Seandainya semua orang baik (dalam artian secara umum di bidang apapun dan merata), maka mungkin hidup itu tidak menarik, tidak ada pertanian, tidak ada hukum, dan mungkin instansi pendidikan pun tidak laku, karena semuanya sudah baik.

Ujungnya aku berpikir tentang diriku harus bagaimana, jadi seperti apa. Sebagai orang yang beriman terhadap Tuhan, akhirnya aku memutuskan untuk kembali bergaul dengan agama, mencari jawaban tentang makna hidup. Jawaban sementara yang aku dapat bahwa hidup itu untuk beriman kepada Allah, berserah diri sepenuhnya, dan sebagian poin adalah tentang hubungan sesama manusia. Hubungan dengan Tuhan dan manusia bisa dikatakan tidak bisa dipisahkan. Tidak bisa sepenuhnya berhubungan dengan Tuhan dengan meninggalkan urusan dunia. Namun, segala aktifitas harus ditujukan kepada Tuhan.

Jawaban sementara bukan berarti jawaban utama. Buktinya aku masih dibingungkan harus menjadi apa. Bingung menempatkan hidup supaya baik dan benar menurut Tuhan. Ada keraguan, jika misalnya jadi pengusaha kaya, apa profesi tersebut baik dan benar di hadapan Tuhan? Jika misalkan profesi baik dan benar di hadapan Tuhan adalah menjadi ahli agama, dan semua orang berbondong-bondong mengambil profesi tersebut supaya mendapat rida-Nya, maka siapa yang urus listrik, siapa yang jualan di pasar, siapa yang bertani, dll. Urusan Tuhan itu gaib, rahasia, tidak ada ujungnya jika terus dipikirkan, tidak ada jawaban pasti. Tuhan hanya memberi petunjuk dalam kitab dan sunah melalui rasul-Nya. Bodohnya, aku masih saja memenuhi pikiran tentang hal yang lingkupnya urusan Tuhan.

Ketika kepalaku hampir meledak karena terlalu penuh dengan pikiran-pikiran yang sebenarnya tidak lebih baik daripada aksi, biasanya aku jadikan pantai menjadi tempat pelarian di malam hari (kadang sore), dan mendaki gunung adalah pelarian yang tingkatnya lebih tinggi daripada pantai. Memang pikiran tidak lebih baik daripada aksi, tetapi tidak ada keindahan bertindak jika tidak diawali dengan pemikiran. Sebenarnya berpikir juga aksi, malas-malasan juga aksi, tetapi dalam masyarakat aksi dimaknai sebagai aktifitas nyata, baik nyata berupa berlangsungnya aktifitas, maupun nyata dalam bentuk hasilnya, dan sebenarnya berpikir juga nyata, hanya saja tidak dirasakan pihak lain, dan bermalas-malasan lebih nyata lagi, hasilnya juga bisa dilihat orang lain. Rumit ya? Aku juga bingung. Berarti para ahli filsafat makna bahasa bisa dikatakan super hebat, bisa merumuskan apa yang sulit aku rumuskan. Aku sendiri tidak tertarik jadi ahli filsafat makna bahasa, hanya membuang-buang waktu dengan kerumitan. Lebih baik jadi pengguna bahasa pada umumnya yang seenaknya mengeluarkan nada bermakna dari mulut. Yang penting saling memahami dalam komunikasi dengan batas-batas etika. Bahasa itu mengikuti penggunanya, berkembang sesuai kebiasaan pemakai. Makanya, aku sedikit aneh jika ada tugas menulis yang mesti disesuaikan dengan kamus dan aturan gramatikal, tidak dibolehkan memakai bahasa pergaulan sehari-hari, padahal kamus dan aturan gramatikal berasal dari komunikasi sehari-hari masyarakat. Bagaikan anak yang mengatur orang tuanya, karya yang mengekang pembuatnya, konyol. Entahlah rumit... Sudah melantur, ditambah pusing karena pikiran sendiri.

Yang jelas aku tidak akan meninggalkan kebiasaan berpikir, walaupun bagi banyak orang apa yang aku pikirkan tidak penting, dan akan kucoba pecahkan sehingga didapat jawaban dari segala pikiran yang mengganggu. Karena berhenti sebelum mendapat jawaban sama halnya dengan mengakhiri permainan tanpa usaha, losers, kecuali permainan berhenti karena cedera atau ajal tiba. Kalau kata liriknya Homicide, “lebih baik mati terlupakan daripada selamanya dikenang orang karena menyerah”. Sebentar lagi aku akan ubrak-abrik sistem buruk buatan manusia yang mencoba mengontrol manusia dengan cara rendahan dan membuat banyak orang menjadi rendah, tunggu melepaskan ikatan dari instansi. Opo manehh... Ora penting... Urang sok lieur lamun nyerat pasualan nu aya di jero sirah. Mikir wae geus lieur, komo deui mun diserat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar