Menulis tentang pendakian mulai membosankan. Monoton, dan hikmah yang didapat tidak jauh berbeda. Paling ujungnya tentang pengingat/penambah syukur, tentang kondisi alam, atau tentang ikatan sosial sesama pendaki. Lagi-lagi Lawu jadi tempat tujuan. Pada dasarnya, aku tidak mau aneh-aneh jika melakukan perjalanan sendirian, khususnya dalam pendakian. Hanya dua gunung pendakian yang menurutku aman untuk pendaki sepertiku, Lawu dan Merbabu, hasil pertimbangan kondisi alam pendakian sekaligus jarak dari tempat tinggal dengan lokasi tujuan.
Perbedaan perjalanan kali ini dengan yang dulu adalah niat. Tidak diawali program pengingat/penambah syukur, bukan karena kacaunya pikiran, dan bisa dikatakan tanpa rencana yang matang. Langsung berangkat begitu saja, seperti melakukan aktifitas yang sudah menjadi kebiasaan. Jika minggu sebelumnya terlalu awal memulai pendakian di Merbabu, maka sekarang terlalu malam. Bayangkan saja, habis isya aku baru masak, kemudian dilanjutkan makan, terus minum kopi, prepare untuk pendakian sekitar jam 8, dan berangkat dari rumah sekitar jam 9. Memang dari awal tidak direncanakan, jadi wajar jika terkesan berantakan.
Penampilan dan barang bawaan tidak jauh beda dengan pendakian sebelumnya. Hanya saja kali ini memakai sweater merah, hanya satu lapis baju hangat, tanpa jaket biru dongker berplat biru di lengannya. Asupan gizi yang cocok untuk pendakian Lawu, satu setengah liter air dan satu bungkus biskuit kelapa sisa. Sedikit penambahan, membawa dua ubi rebus yang direbus pakai rice cooker multifungsi kesayangan. Sudah lama aku ngidam ubi, tetapi terhambat menikmati setelah membeli. Mungkin aku timbun sekitar 4 hari. Aku rebus ubi di hari pendakian, sebagai cemilan di rumah, dan bukan dimaksudkan untuk bekal pendakian, karena aku tidak niat mendaki.
***
Keraguan
Dari siang sudah muncul tanda yang tak lazim. Seperti biasa, diawali dengan hujan gerimis di siang yang cerah tanpa kejelasan awan mendung. Kemudian dilanjutkan dengan hujan deras ketika magrib. Setelah isya pun langit masih belum bersahabat untuk melakukan perjalanan. Memang bulan terlihat, tetapi disamarkan dengan awan tipis yang rata luasnya. Senter yang lupa dibawa pun menjadi faktor keraguanku untuk melanjutkan perjalanan, tetapi bukan ketika ingat bahwa senter lupa dibawa, melainkan setelah perjalanan dimulai dan senter sudah dikantongi.
Aku memulai perjalanan melalui jalan Imogiri Timur, karena perjalanan di Imogiri Barat bagiku bukan awal perjalanan, tetapi kekonyolan. Secara jarak memang lebih dekat lewat Imogiri Timur. Sebelumnya melewati Imogiri Barat hanya ingin merasakan suasana berbeda, dan beruntung lewat sana karena mengingatkanku pada senter, sehingga mudah untuk berputar balik menuju rumah. Belum masuk ke jalan Solo, aku baru sadar tentang apa yang aku lakukan. Mulai membuatku ragu, sadar bahwa apa yang aku lakukan tidak didasari kejelasan niat tujuan. Rasa ragu bukan berarti sanggup menghentikan langkahku. Aku ingin melatih ketegasanku. Ketika kaki mulai melangkah, aku harus menyelesaikannya, tak peduli ragu atau hambatan tak jelas yang muncul di tengah perjalanan. Keraguan dan tanpa niat jelas dalam perjalanan tidak menjadikan perjalananku sia-sia. Aku hanya perlu memaksa diri untuk mengambil pelajaran, dan hal tersebut bisa aku rencanakan secara mendadak.
Faktor-faktor penambah ragu bertubi-tubi melemahkan perasaan. Sinar bulan perlahan meredup, kemudian lenyap seutuhnya ditelan awan. Dalam perjalanan dihiasi sinar kilat di langit yang gelap, sangat normal jika seandainya saat itu turun hujan. Traumaku juga kembali meluap, ketika masih di jalan Solo dan putaran roda motor dipercepat. Tiba-tiba di depan ada kendaraan yang berhenti mendadak, karena ada komunitas motor gak jelas menyebrang jalan seenaknya, serasa yang punya jalan. Jantungku sudah berdetak kencang, pikiran sudah melayang ke dunia lain, senyap, ragu bisa berhenti sebelum menabrak kendaraan di depan. Beruntung motorku bisa mengerem dengan normal, tidak seperti biasanya, beberapa sentimeter lagi aku menabrak kendaraan di depan. Biasanya jika rem mendadak, ban belakang motorku ngepot bergoyang dengan suara ngilu karena gesekan ban yang dipaksa berhenti di atas aspal. Laju motor pun kembali pelan, faktor trauma yang belum bisa hilang.
Hal yang selalu aku lupa, di malam minggu adalah waktunya para komunitas motor nongkrong di malam hari. Perjalananku kali ini terlalu malam di malam minggu, membuatku berkhayal akan terjadi yang aneh-aneh dengan komunitas motor, dan terbukti traumaku kembali meluap karena ngerem mendadak ketika salah satu komunitas motor menyebrang seenaknya. Aku tidak benci atau anti dengan komunitas motor. Namun, aku tidak suka dengan komunitas motor yang bertindak sewenang-wenang. Jalan serasa milik pribadi, dan mengganggu kenyamanan pengendara lain. Lebih baik jika setiap komunitas motor tidak hanya nongkrong, tetapi melakukan aktifitas positif yang berdampak baik bagi pihak lain. Entah seperti apa bentuk aksinya, banyak yang bisa dilakukan, entah memperbaiki jalan rusak, menertibkan lalu lintas, atau apapun yang berkesan baik di mata pihak lain.
Dua kali aku masuk pom bensin untuk mengambil uang di atm, dan hasilnya nihil, kata layarnya sedang rusak. Untuk kali ketiga aku masuk ke minimarket yang ada atmnya, dan beruntung di sana normal. Setelah mengambil uang, aku langsung beli rokok untuk persiapan di pendakian. Uang yang aku kasih ada kembaliannya, dan ada nominal seratus rupiah pada jumlah uang kembalian. Baru kali ini aku ditawari untuk mendonasikan uang. Memang pegawai kasirnya cantik, tetapi aku tak peduli, tidak membuatku terhipnotis dengan kecantikan rupa untuk mendonasikan uang, tak peduli gengsi. Rupa hanya sementara, semua orang keriput jika sudah menua. Kasir, “seratusnya mau didonasikan?”. Dengan penampilan pendaki, rambut gondrong, tatapan dingin (tetapi sebenarnya aku sedikit terpesona, haha...), sambil membuka bungkus rokok, aku jawab, “kembaliannya ada enggak?”. Aku anggap dia paham apa yang aku maksud, karena langsung memberi kembalian utuh.
Walaupun hanya seratus rupiah, tetapi aku enggan melakukan donasi. Bukan berarti pelit, hanya saja donasi tersebut tanpa ada keterangan jelas. Seratus rupiah lumayan banyak jika dikali ribu atau juta. Bagaimana jadinya jika donasi tersebut mengalir pada pihak yang gemar melakukan kerusakan di muka bumi? Aku hanya akan menjadi penyumbang aktifitas ketidakbenaran. Jika ada embel-embel untuk anak yatim atau miskin, mungkin aku merelakan uang tersebut, itu juga aku akan terlebih dahulu bertanya untuk meyakinkan bahwa donasi tersebut benar disalurkan pada hal yang baik. Aku juga enggan berdonasi karena pertimbangan harga rokok yang di luar batas normal pasaran. Profit pada penjualan rokok tersebut, jika dikali satu slof, bisa membeli tiga bungkus rokok jenis yang sama. Edan, kapitaslistis yang masih belum disadari kebanyakan masyarakat, dan bodohnya aku terlibat dalam kumparan kebodohan tersebut.
Sekarang jalur Klaten tidak membuatku bingung. Namun, jalur Solo masih merupakan tantangan terbesar dalam perjalanan menuju timur. Anehnya, hanya dalam perjalanan pergi aku selalu tersesat, dan pulangnya lancar jaya. Beruntungnya, walaupun tersesat, aku selalu berakhir di jalan Lawu, jalan provinsi menuju tempat pendakian Lawu. Aku berusaha mengingat jalur Solo yang menjadi jalur kepulanganku dari Lawu di perjalanan sebelumnya. Karena pulang tidak pernah tersesat, dan berharap perjalanan pergi sekarang tidak tersesat jika masuk di jalur pulang tersebut. Ternyata jalur tersebut belok kiri sebelum masuk kota. Aku menemukannya, dengan senang hati masuk ke jalur tersebut. Namun, nyatanya aku semakin tersesat, haha... Konyol, aku menyesal, lebih baik jika aku masuk jalur kota. Kampus ISI Surakarta yang selalu dilewati dalam perjalanan sebelumnya lewat jalur manapun, sekarang sama sekali tidak melewatinya. Aku sedang berada di mana!?
Hujan turun sangat deras, membuat langkah sesatku berhenti di angkringan setempat. Waktu tepat untuk menikmati secangkir kopi hitam. Hujan adalah berkah, dan aku sangat beruntung langkahku terhenti oleh hujan, karena di angkringan aku bisa bertanya arah menuju jalan yang benar. Ternyata aku tidak jauh dari jalan Lawu, sekitar 1 km dari angkringan tempatku berteduh. Seperti yang telah aku singgung, selalu tersesat yang berujung di jalan Lawu. Jika jalan Lawu ditemukan, maka tidak ada tantangan lain kecuali cuaca dingin menjelang base camp pendakian. Lagi-lagi aku kedinginan di area tersebut. Mengendarai motor dengan tangan yang hampir mati rasa. Aku berusaha supaya bisa mengendalikan motor dengan kondisi fisik yang kurang baik. Sambil kedinginan, mentalku pun makin menurun karena bahan bakar yang hampir habis. Bodohnya aku tidak mengisi bensin di pom terakhir. Berharap dalam perjalanan pulang aku tidak kehabisan bensin di tengah jalan, karena akan sangat merepotkan. Kondisi fisik menurun karena telah melakukan pendakian, dan jarak pom bensin terdekat pun sangat jauh dari base camp.
Dalam renungan keraguan, aku putuskan bahwa pendakian Lawu adalah petualangan penutup di semester ini. Itu juga jika di masa depan hatiku tidak memaksa untuk melangkah menapaki alam. Petualangan mempunyai daya tarik tersendiri, dan mungkin aku melanggar apa yang aku putuskan. Tidak ada salahnya jika aku melanggar, karena aku tidak berjanji. Hanya saja ketegasanku patut dipertanyakan jika benar-benar aku telah melanggar.
Keraguan Bukanlah Ramalan Pasti
Aku pikir yang memulai pendakian termalam adalah aku. Ternyata tidak. Sebelum masuk ke area base camp, seperti biasa aku mampir ke rumah penduduk untuk parkir motor. Namun, tidak ada satupun orang yang menghampiriku di depan rumah. Sejenak berdiam diri di gerbang rumah, berharap pemiliknya paham bahwa aku mau parkir di sana. Ketika menunggu, seorang bapak lewat di pinggir jalan menuju base camp. Agak muda, perawakannya bisa dikatakan gagah, badannya prima karena mungkin sering mengolah raga, dan penampilannya seperti pendaki dengan barang bawaan yang lebih ringan daripada yang aku bawa. Sepertinya dia adalah pendaki senior. Aku memberanikan diri untuk menyapa. Ternyata benar dia mau mendaki. Akhirnya, aku bertemu juga dengan pendaki sendirian yang benar-benar sendiri dan berangkat di malam hari. Bingung untuk melanjutkan percakapan, dan aku akhiri sapaan tersebut bahwa aku bakal menyusul.
Tidak ada kejelasan dari pemilik rumah, aku memutuskan untuk parkir di area base camp dan merelakan jika seandainya terkena tetesan hujan dan terik matahari. Untuk kali ini, aku tidak mau berlama-lama di area base camp. Tidak ada basa-basi untuk membiasakan raga dengan cuaca. Tanpa ibadah terlebih dahulu, karena aku sudah melaksanakannya di rumah. Belajar dari pendakian sebelumnya, jika terlalu lama berdiam di area base camp, maka badanku gemetar kedinginan. Lebih baik langsung memulai pendakian supaya badan hangat. Istirahat untuk memulihkan raga karena perjalanan dari Yogya, cukup dilakukan sambil nyambi menyiapkan perlengkapan pendakian.
Sambil menyiapkan diri, aku memperhatikan si bapak tadi. Aku kira dia cukup terkenal, karena banyak kawan-kawan base camp yang menghampirinya untuk berbincang-bincang. Dia mendaki lebih awal daripada aku. Dia keren, tanpa banyak bawa barang. Penampilan sederhana, tetapi aman untuk mendaki. Atributnya sangat pendaki. Ransel adventure yang lebih kecil daripada punyaku, matras ditempel di pinggir ransel seperti gayaku, dan mungkin tanpa membawa sleeping bag dan tenda karena ranselnya tidak penuh. Walaupun sederhana, tetapi dia tidak mau terlihat sombong. Membawa tongkat kayu yang diambil dari kawan-kawan base camp.
Sekitar jam setengah satu malam lebih aku mulai pendakian. Tidak jauh dari gerbang pendakian, akhirnya kami bertemu. Salah satu hal yang aku inginkan adalah bertemu pendaki sendirian, bayanganku bakal asik. Kami berbincang-bincang untuk lebih mengenal. Asalnya dari Purwodadi. Tidak sempat tanya nama, dan kami tidak saling menanyakan nama. Katanya dia sudah lama tidak mendaki, wajar jika agak loyo. Menurutnya loyo, tetapi di mataku dia sangat kuat, bisa mengimbangi langkahku yang secara umur masih muda. Dari gaya bahasanya, dia orang terpelajar yang wawasannya luas. Aku tidak berani tanya lulusan mana, takut tidak sopan. Ceritanya dia mau memutari jalur pendakian. Tidak beda sepertiku, pendaki santai yang hanya naik kemudian langsung turun, tanpa berkemah dan tidur. Bedanya, dia mengawali pendakian dari base camp Cemoro Sewu, dan turun di Cemoro Kandang. Yang membuatku semakin kagum, selain dia cukup berumur, ternyata dia memulai perjalanan dari Cemoro Kandang, parkir motor di sana, kemudian jalan kaki menuju base camp Cemoro Sewu untuk memulai pendakian. Padahal jarak antar base camp lumayan jauh. Sambil bercanda, dia hanya berkomentar bahwa hal tersebut dilakukan untuk pemanasan. Gila! Jika aku yang melakukan hal tersebut, aku akan berkomentar pada diri sendiri bahwa aku menyiksa diri, haha... Pokoknya, dia hebat, dan aku kalah telak dalam hal pendakian “maraton”.
Aku merasa cocok berbincang dengan dia, bukan berarti homo, tetapi sepertinya gaya dan tujuan kami ada sedikit kesamaan, dan tentunya dia lebih baik dalam banyak hal. Dari awal bertemu di jalur pendakian sampai pos 2 lebih, kadang kami jalan bareng, kadang saling meninggalkan, dan setelah pos 3 kami tidak bertemu lagi. Kami bebas, tidak ada tanggung jawab saling menunggu, karena dari awal melakukan pendakian sendirian. Satu hal yang aku kagumi lagi, dia mendaki tanpa senter. Mungkin baginya cahaya bulan sudah cukup menerangi jalan. Jadi ingat penggalan ayat suci, bahwa Allah menjadikan bulan sebagai penerang dan matahari sebagai pelita. Awalnya aku kebingungan dengan ayat tersebut, apa bedanya penerang dan pelita. Setelah mencari makna dari KBBI, ternyata pelita menerangkan apa yang tidak perlu diterangkan lagi. Yang aku simpulkan, bahwa bentuk penerang lain tidak berguna di dalam pelita.
Keraguanku lenyap di tengah pendakian. Kebetulan yang bagiku sangat beruntung karena dalam pendakian cuaca sangat cerah, padahal menurut kawan-kawan base camp dari kemarin turun hujan. Aku anggap pendakian kali ini adalah yang terbaik dilihat dari sudut pandang alam. Tiba-tiba saja awan tipis yang menutupi bulan lenyap, dan langit pun cerah. Pendakianku disertai bulan purnama kedua dari tiga deretan purnama. Tanggal 14 dalam penanggalan hijriah. Kawasan pendakian terlihat terang jelas. Bahkan di malam hari aku bisa melihat lautan awan dari atas. Tidak beda dengan pendakian Lawu sebelumnya, aku juga menyaksikan tarian kilat di tempat lain.
Aku tidak lama beristirahat dan berbincang dengan pendaki lain, karena mengejar subuh di puncak. Lebih nyaman salat di puncak daripada tempat lain. Sebelum sampai puncak, sudah terdengar azan dari bawah, dan beruntung aku bisa sampai puncak pas dengan seruan ikamah. Kali ini kiblatku adalah bulan purnama. Mengesankan, tanpa kebingungan harus menunggu matahari terbit atau melihat arah mata angin dari kompas untuk menentukan arah kiblat.
Penenang hati kali ini berkali-kali lipat. Bisa menyaksikan bulan purnama, bintang, sekaligus matahari dalam waktu bersamaan. Bedanya, suasana puncak ramai padat pengunjung dibanding pendakian sebelumnya. Seperti biasa, aku seperti orang hilang sebatang kara, kebingungan sendirian sambil gemetar kedinginan. Pendaki lain asik berfoto, aku malah asik menggosok tangan supaya hangat. Aku hanya mengambil gambar bulan purnama yang hasilnya kurang baik karena menggunakan kamera ponsel, kemudian mengabadikan momentum sunrise. Berbatang-batang rokok terus menyambung untuk membantu proses penghangatan badan, dan tembakau mentah sama sekali tidak berguna. Dari awal sampai puncak, aku melepaskan sweater, mencoba hal yang sebelumnya tidak aku coba. Bahkan sarung yang biasa jadi penghangat kepala tidak tersentuh sama sekali dari awal pendakian sampai pulang. Rasanya agak sedikit berbeda, tidak terlalu dingin, aneh, padahal secara logika akan lebih hangat jika mengenakan berlapis-lapis pakaian sekaligus sarung.
Pulang
Sama seperti di pendakian sebelumnya, berbagai rencana tidak dilakukan. Tidak mampir di warung untuk ngemil sambil ngopi, atau melakukan aktifitas menulis menggunakan pena di atas kertas. Rencana yang selalu gagal dilakukan dalam pendakian, terutama menulis. Pikiranku hanya cepat pulang, dan terus menggerakan badan supaya tidak kedinginan. Belum jauh aku turun dari puncak, aku bertemu lagi dengan si bapak pendaki dengan tongkatnya. Berbincang-bincang lagi. Katanya dia di pos 3 agak lama, dan sempat membuat air hangat. Kemudian dia menikmati subuh sampai pagi di pos 4 (jika tidak salah ingat), karena menurutnya view di sana adalah yang terbaik untuk pagi hari. Katanya, dia sampai di pos 4 jam setengah lima. Hebat. Berarti tidak jauh dengan jarakku. Padahal kesan yang aku terima dari hasil perbincangan, dia sangat santai, terbukti dengan membuat minuman hangat di pos 3.
Yang sangat aku inginkan dari puncak sampai bawah, adalah bertemu dengan pendaki Yogya dan Bandung. Dari dulu jarang bertemu pendaki yang berangkat dari daerah tersebut, atau mungkin aku kurang banyak menyapa. Lebih sering bertemu dengan pendaki yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Kali ini bertemu pendaki Yogya, dari Atmajaya dan Sanata Dharma. Dengan pendaki Atmajaya tidak banyak berbincang, karena mereka asik dengan kelompoknya. Ikatan sosialnya baik, bahkan ketika mereka mau turun dari puncak, pamitan terlebih dahulu sambil salaman. Obrolan yang agak lama dilakukan dengan pendaki dari Sanata Dharma. Dia hebat, dengan kondisi tangan yang luka karena kecelakan dari keberangkatan di jalan raya, dia masih sanggup melakukan pendakian. Sebagian besar kawan-kawannya sudah meninggalkan dia, hanya ditemani satu orang kawan. Hebat, masih muda penuh semangat, tetapi lebih baik jika tidak memaksakan diri.
Sedikit lagi menuju gerbang base camp, aku bertemu dengan kelompok pendaki yang sebagian besar anggotanya orang tua. Awalnya, aku pikir mereka punduduk setempat yang mau sembahyang di puncak. Kelompoknya di pecah tiga rombongan, dan yang paling belakang 2 orang masih muda sambil bawa bendera. Dengan dua rombongan di depan, kami saling menyapa, tetapi tidak berbincang lama. Berbincang-bincang lama bisa dilakukan dengan rombongan ketiga yang belakang, dan di sanalah rahasia mereka terkuak, haha... Jika tidak salah ingat, mereka rombongan dari Tuban (kemungkinan besar aku salah ingat). Penampilan mereka sangat sederhana, sepatunya sport bukan untuk mendaki, dan ranselnya pun kecil-kecil, bahkan ada yang tidak bawa ransel sama sekali. Dengan rombongan terakhir kami sempat berfoto, dan aku kaku karena tidak biasa difoto. Hasil fotonya saja aku tidak peduli seperti apa, tidak meminta, hanya dijadikan kenang-kenangan buat mereka saja.
Di gerbang pendakian, sejenak aku beristirahat. Menyiapkan barang bawaan supaya nyaman berkendara. Ada 2 orang petugas puskesmas setempat yang menghampiri. Sepertinya mereka sedang melakukan tugas survey, mengisi kuisioner persiapan dan kondisi para pendaki. Aku tak tahu mereka asli dari puskesmas atau hanya penipu berkedok kesehatan. Beberapa kali aku memberi pertanyaan jebakan, dan dari jawaban mereka sepertinya mereka asli dari puskesmas. Aku bingung jawab pertanyaan dari mereka, karena memang persiapan pendaki—baik dari segi kesehatan atau yang lainnya—mempunyai cara yang berbeda, masing-masing punya cara sendiri, dan mungkin berbeda dengan aturan puskesmas. Mungkin mereka bingung dengan jawaban yang aku beri, karena tanpa dasar anjuran dari dokter untuk melakukan pendakian. Bahkan aku lebih banyak menyindir, dan mereka senyum dengan terpaksa. Bukan berarti aku benci, tetapi ada beberapa yang aku sesalkan dari instansi kesehatan.
Aku mencoba memahami dan menyimpulkan dari perbincangan kami. Ada sedikit perasaan jika hal tersebut berujung duit di kemudian hari, mengharuskan para pendaki membayar hanya untuk selembar pernyataan kondisi kesehatan. Aku berkomentar blak-blakan pada mereka, silakan saja jika di kemudian hari para petugas puskesmas menerjunkan anggotanya di kawasan pendakian, aku senang dan mendukung, asal jangan ada bayar-bayaran, hanya akan memberatkan dan membuat rumit para pendaki. Ditambah lagi berkomentar sinis, bahwa dulu aku tes kesehatan waktu membuat SIM C dengan biaya 20 ribu, itu namanya “perampokan”, haha... Mungkin tidak sengaja atau mau mencairkan suasana, ketika aku berkumpul dengan pendaki lain, petugas dari puskesmas berkata bahwa atasan mereka wanita tua, dan pernah mendaki sampai puncak Lawu. Bagiku itu kesempatan untuk menambah sindiran, wajar jika sampai puncak, anak-anak puskesmas kok, semuanya sehat, justru aneh jika tidak mampu sampai puncak.
Aku tidak benci pada hal berbau medis, karena ada baiknya untuk menolong orang-orang sakit, walaupun mengharuskan pasien mengeluarkan sejumlah uang. Yang membuatku aneh sampai bersikap sinis, sekarang pendidikan medis di Indonesia sudah berkembang, fasilitas medis pun bisa dikatakan maju, tetapi anehnya makin banyak orang yang sakit, dan penyakitnya pun makin aneh-aneh. Apa yang sedang dipermainkan!? Lebih membuatku sinis lagi ketika hal yang berbau medis dijadikan ajang bisnis, mengeruk keuntungan dari orang-orang sakit dan—tidak tega jika pasien—golongan miskin. Bahkan sudah bukan rahasia, banyak kejadian bayi ditahan di rumah sakit karena pihak keluarga belum sanggup membayar biaya. Menjijikan. Alangkah indahnya jika hal yang berhubungan dengan medis tidak kenal biaya. Namun, apa daya, banyak pihak mengikuti arus zaman, dan hampir semua hal adalah ladang bisnis di mata mereka, tak peduli jika memberatkan kalangan menengah ke bawah.
Tak ada ujungnya jika membicarakan kerancuan negeri. Mari membicarakan hal lain. Setelah aku diwawancara, aku menghampiri pemuda yang sedang memainkan musik metal. Sepertinya asik berbincang sejenak dengan dia. Baru kali ini tembakau mentahku bisa berguna. Aku senang, ketika menawarkan tembakau dan dia menerima tanpa gengsi malu terlihat orang-orang sekitar. Kami bersama-sama menikmati tembakau, dan katanya tembakauku mirip ganja. Kelihatan, dia jarang melinting tembakau, dan akhirnya aku bantu sampai dia bisa menikmati. Dari obrolan musik metal, obrolan kami berbelok tentang tembakau. Perjumpaan dengan dia aku akhiri dengan menawarkan tembakau sebanyak satu cangkir. Aku senang dia mau menerima, sekaligus aku kasih satu paket kertas rokok yang sempat dia tolak karena mungkin malu, tetapi aku memaksa.
Belum jauh motorku melaju dari base camp, di belakang ada pengendara motor yang membunyikan klaksonnya. Aku kira motorku menghalangi lajunya, karena aku sangat pelan, efek lelah sekaligus memanaskan mesin motor. Ternyata bunyi klakson adalah bentuk sapaan. Aku tidak paham dia siapa, sebagian muka tertutup masker. Yang jelas dia sesama pendaki, dilihat dari atributnya terdapat matras di belakang jok motor, walaupun tanpa carrier. Dia mengacungkan jempol, kemudian melaju kencang meninggalkanku, dan aku balas dengan mengangkat satu tangan sambil menundukkan kepala. Dugaan terbesarku dia adalah si bapak pendaki. Memang benar dia orang yang aku duga, setelah cukup jauh melaju aku melihatnya dengan wajah yang jelas berteduh dari hujan di pinggir jalan. Dilihat dari penampilan luar dan gaya hidup, wajar jika dia menjadi rebutan para wanita. Kendaraan yang jadi seleranya saja motor besar dengan box di kanan kiri. Pantas jika dia disebut adventurer. Untuk kedua kalinya kami saling menyapa melalui gerakan anggota badan. Dia salah satu pendaki yang mungkin aku masih ingat wajahnya di masa depan jika bertemu.
Awal turun hujan, aku tidak menghentikan laju kendaraan, masih gerimis. Aku berhenti ketika hujan makin deras. Baru saja mau pakai ponco, hujan mulai reda, dan aku pun melanjutkan perjalanan tanpa ponco. Tiba-tiba hujan semakin deras. Aku harus berpikir dengan cepat. Melanjutkan perjalanan adalah keputusanku, hujan-hujanan kayak anak kecil, dengan pertimbangan bahwa di daerah Solo sampai Yogya bakal panas, jadi pakaian bakal kering dalam perjalanan. Sekali lagi aku merasa beruntung turun hujan. Karena hal tersebut, yang biasanya ngantuk, aku bisa segar sampai tiba di rumah.
Ada dua hal yang membuatku kesal dalam perjalanan pulang. Pertama, petugas pom bensin yang salah tetapi ngotot karena dia tidak mau merasa bersalah. Dari awal aku bilang 20 ribu, dan dia langsung saja bilang dari nol. Untuk mengingatkan, sekali lagi aku bilang 20 ribu, dan dia malah ngotot “iya, dari nol!”. Apa percakapan kami nyambung? Aku hanya menggelengkan kepala sambil senyum. Dia mengalirkan bensin dari selang dengan harga 20 ribu lebih sekian ratus rupiah, dengan kata-kata penutup yang makin membuatku kesal “sudah, 20 ribu” bernada agak tinggi. Pecat saja jika kerjanya tak beres, hanya akan merugikan. Kedua, bus yang bertindak seperti pemilik jalan raya. Aku sedikit segan menyebut nama busnya, karena mirip dengan salah satu anggota keluarga. Namun, demi kebaikan bersama, dengan terpaksa menyebutkan bahwa bus yang dimaksud bernama Mira berplat nomor S ... Berangkat dan pulang aku bertemu bus dengan nama tersebut, dan aksinya sama-sama membuatku kesal. Sepertinya si sopir tak peduli membuat pengendara lain merasa terganggu. Belok kanan kiri menyalip kendaraan lain seenaknya, ditambah dia bisa berhenti kapan pun di mana pun. Semoga pemilik bus membaca tulisan ini, dan menyadarkan para sopirnya, atau mungkin yang punya bus sifatnya sama saja. Semoga dua hal yang membuatku kesal disadarkan oleh Tuhan, dan bisa membuat pihak lain merasa nyaman.
Sedikit tidak biasa, aku sampai di rumah jam setengah tiga sore, lebih lama dibandingkan perjalanan sebelumnya yang bisa sampai rumah jam setengah dua siang. Kondisi badanku pun tidak terlalu rontok. Sekitar 12 jam sesampainya di rumah, aku bisa pulih dan lancar melakukan aktifitas esok harinya, dengan kaki yang sedikit pincang karena terasa nyeri di bagian tumit kaki kanan.
Dari siang sudah muncul tanda yang tak lazim. Seperti biasa, diawali dengan hujan gerimis di siang yang cerah tanpa kejelasan awan mendung. Kemudian dilanjutkan dengan hujan deras ketika magrib. Setelah isya pun langit masih belum bersahabat untuk melakukan perjalanan. Memang bulan terlihat, tetapi disamarkan dengan awan tipis yang rata luasnya. Senter yang lupa dibawa pun menjadi faktor keraguanku untuk melanjutkan perjalanan, tetapi bukan ketika ingat bahwa senter lupa dibawa, melainkan setelah perjalanan dimulai dan senter sudah dikantongi.
Aku memulai perjalanan melalui jalan Imogiri Timur, karena perjalanan di Imogiri Barat bagiku bukan awal perjalanan, tetapi kekonyolan. Secara jarak memang lebih dekat lewat Imogiri Timur. Sebelumnya melewati Imogiri Barat hanya ingin merasakan suasana berbeda, dan beruntung lewat sana karena mengingatkanku pada senter, sehingga mudah untuk berputar balik menuju rumah. Belum masuk ke jalan Solo, aku baru sadar tentang apa yang aku lakukan. Mulai membuatku ragu, sadar bahwa apa yang aku lakukan tidak didasari kejelasan niat tujuan. Rasa ragu bukan berarti sanggup menghentikan langkahku. Aku ingin melatih ketegasanku. Ketika kaki mulai melangkah, aku harus menyelesaikannya, tak peduli ragu atau hambatan tak jelas yang muncul di tengah perjalanan. Keraguan dan tanpa niat jelas dalam perjalanan tidak menjadikan perjalananku sia-sia. Aku hanya perlu memaksa diri untuk mengambil pelajaran, dan hal tersebut bisa aku rencanakan secara mendadak.
Faktor-faktor penambah ragu bertubi-tubi melemahkan perasaan. Sinar bulan perlahan meredup, kemudian lenyap seutuhnya ditelan awan. Dalam perjalanan dihiasi sinar kilat di langit yang gelap, sangat normal jika seandainya saat itu turun hujan. Traumaku juga kembali meluap, ketika masih di jalan Solo dan putaran roda motor dipercepat. Tiba-tiba di depan ada kendaraan yang berhenti mendadak, karena ada komunitas motor gak jelas menyebrang jalan seenaknya, serasa yang punya jalan. Jantungku sudah berdetak kencang, pikiran sudah melayang ke dunia lain, senyap, ragu bisa berhenti sebelum menabrak kendaraan di depan. Beruntung motorku bisa mengerem dengan normal, tidak seperti biasanya, beberapa sentimeter lagi aku menabrak kendaraan di depan. Biasanya jika rem mendadak, ban belakang motorku ngepot bergoyang dengan suara ngilu karena gesekan ban yang dipaksa berhenti di atas aspal. Laju motor pun kembali pelan, faktor trauma yang belum bisa hilang.
Hal yang selalu aku lupa, di malam minggu adalah waktunya para komunitas motor nongkrong di malam hari. Perjalananku kali ini terlalu malam di malam minggu, membuatku berkhayal akan terjadi yang aneh-aneh dengan komunitas motor, dan terbukti traumaku kembali meluap karena ngerem mendadak ketika salah satu komunitas motor menyebrang seenaknya. Aku tidak benci atau anti dengan komunitas motor. Namun, aku tidak suka dengan komunitas motor yang bertindak sewenang-wenang. Jalan serasa milik pribadi, dan mengganggu kenyamanan pengendara lain. Lebih baik jika setiap komunitas motor tidak hanya nongkrong, tetapi melakukan aktifitas positif yang berdampak baik bagi pihak lain. Entah seperti apa bentuk aksinya, banyak yang bisa dilakukan, entah memperbaiki jalan rusak, menertibkan lalu lintas, atau apapun yang berkesan baik di mata pihak lain.
Dua kali aku masuk pom bensin untuk mengambil uang di atm, dan hasilnya nihil, kata layarnya sedang rusak. Untuk kali ketiga aku masuk ke minimarket yang ada atmnya, dan beruntung di sana normal. Setelah mengambil uang, aku langsung beli rokok untuk persiapan di pendakian. Uang yang aku kasih ada kembaliannya, dan ada nominal seratus rupiah pada jumlah uang kembalian. Baru kali ini aku ditawari untuk mendonasikan uang. Memang pegawai kasirnya cantik, tetapi aku tak peduli, tidak membuatku terhipnotis dengan kecantikan rupa untuk mendonasikan uang, tak peduli gengsi. Rupa hanya sementara, semua orang keriput jika sudah menua. Kasir, “seratusnya mau didonasikan?”. Dengan penampilan pendaki, rambut gondrong, tatapan dingin (tetapi sebenarnya aku sedikit terpesona, haha...), sambil membuka bungkus rokok, aku jawab, “kembaliannya ada enggak?”. Aku anggap dia paham apa yang aku maksud, karena langsung memberi kembalian utuh.
Walaupun hanya seratus rupiah, tetapi aku enggan melakukan donasi. Bukan berarti pelit, hanya saja donasi tersebut tanpa ada keterangan jelas. Seratus rupiah lumayan banyak jika dikali ribu atau juta. Bagaimana jadinya jika donasi tersebut mengalir pada pihak yang gemar melakukan kerusakan di muka bumi? Aku hanya akan menjadi penyumbang aktifitas ketidakbenaran. Jika ada embel-embel untuk anak yatim atau miskin, mungkin aku merelakan uang tersebut, itu juga aku akan terlebih dahulu bertanya untuk meyakinkan bahwa donasi tersebut benar disalurkan pada hal yang baik. Aku juga enggan berdonasi karena pertimbangan harga rokok yang di luar batas normal pasaran. Profit pada penjualan rokok tersebut, jika dikali satu slof, bisa membeli tiga bungkus rokok jenis yang sama. Edan, kapitaslistis yang masih belum disadari kebanyakan masyarakat, dan bodohnya aku terlibat dalam kumparan kebodohan tersebut.
Sekarang jalur Klaten tidak membuatku bingung. Namun, jalur Solo masih merupakan tantangan terbesar dalam perjalanan menuju timur. Anehnya, hanya dalam perjalanan pergi aku selalu tersesat, dan pulangnya lancar jaya. Beruntungnya, walaupun tersesat, aku selalu berakhir di jalan Lawu, jalan provinsi menuju tempat pendakian Lawu. Aku berusaha mengingat jalur Solo yang menjadi jalur kepulanganku dari Lawu di perjalanan sebelumnya. Karena pulang tidak pernah tersesat, dan berharap perjalanan pergi sekarang tidak tersesat jika masuk di jalur pulang tersebut. Ternyata jalur tersebut belok kiri sebelum masuk kota. Aku menemukannya, dengan senang hati masuk ke jalur tersebut. Namun, nyatanya aku semakin tersesat, haha... Konyol, aku menyesal, lebih baik jika aku masuk jalur kota. Kampus ISI Surakarta yang selalu dilewati dalam perjalanan sebelumnya lewat jalur manapun, sekarang sama sekali tidak melewatinya. Aku sedang berada di mana!?
Hujan turun sangat deras, membuat langkah sesatku berhenti di angkringan setempat. Waktu tepat untuk menikmati secangkir kopi hitam. Hujan adalah berkah, dan aku sangat beruntung langkahku terhenti oleh hujan, karena di angkringan aku bisa bertanya arah menuju jalan yang benar. Ternyata aku tidak jauh dari jalan Lawu, sekitar 1 km dari angkringan tempatku berteduh. Seperti yang telah aku singgung, selalu tersesat yang berujung di jalan Lawu. Jika jalan Lawu ditemukan, maka tidak ada tantangan lain kecuali cuaca dingin menjelang base camp pendakian. Lagi-lagi aku kedinginan di area tersebut. Mengendarai motor dengan tangan yang hampir mati rasa. Aku berusaha supaya bisa mengendalikan motor dengan kondisi fisik yang kurang baik. Sambil kedinginan, mentalku pun makin menurun karena bahan bakar yang hampir habis. Bodohnya aku tidak mengisi bensin di pom terakhir. Berharap dalam perjalanan pulang aku tidak kehabisan bensin di tengah jalan, karena akan sangat merepotkan. Kondisi fisik menurun karena telah melakukan pendakian, dan jarak pom bensin terdekat pun sangat jauh dari base camp.
Dalam renungan keraguan, aku putuskan bahwa pendakian Lawu adalah petualangan penutup di semester ini. Itu juga jika di masa depan hatiku tidak memaksa untuk melangkah menapaki alam. Petualangan mempunyai daya tarik tersendiri, dan mungkin aku melanggar apa yang aku putuskan. Tidak ada salahnya jika aku melanggar, karena aku tidak berjanji. Hanya saja ketegasanku patut dipertanyakan jika benar-benar aku telah melanggar.
***
Keraguan Bukanlah Ramalan Pasti
Aku pikir yang memulai pendakian termalam adalah aku. Ternyata tidak. Sebelum masuk ke area base camp, seperti biasa aku mampir ke rumah penduduk untuk parkir motor. Namun, tidak ada satupun orang yang menghampiriku di depan rumah. Sejenak berdiam diri di gerbang rumah, berharap pemiliknya paham bahwa aku mau parkir di sana. Ketika menunggu, seorang bapak lewat di pinggir jalan menuju base camp. Agak muda, perawakannya bisa dikatakan gagah, badannya prima karena mungkin sering mengolah raga, dan penampilannya seperti pendaki dengan barang bawaan yang lebih ringan daripada yang aku bawa. Sepertinya dia adalah pendaki senior. Aku memberanikan diri untuk menyapa. Ternyata benar dia mau mendaki. Akhirnya, aku bertemu juga dengan pendaki sendirian yang benar-benar sendiri dan berangkat di malam hari. Bingung untuk melanjutkan percakapan, dan aku akhiri sapaan tersebut bahwa aku bakal menyusul.
Tidak ada kejelasan dari pemilik rumah, aku memutuskan untuk parkir di area base camp dan merelakan jika seandainya terkena tetesan hujan dan terik matahari. Untuk kali ini, aku tidak mau berlama-lama di area base camp. Tidak ada basa-basi untuk membiasakan raga dengan cuaca. Tanpa ibadah terlebih dahulu, karena aku sudah melaksanakannya di rumah. Belajar dari pendakian sebelumnya, jika terlalu lama berdiam di area base camp, maka badanku gemetar kedinginan. Lebih baik langsung memulai pendakian supaya badan hangat. Istirahat untuk memulihkan raga karena perjalanan dari Yogya, cukup dilakukan sambil nyambi menyiapkan perlengkapan pendakian.
Sambil menyiapkan diri, aku memperhatikan si bapak tadi. Aku kira dia cukup terkenal, karena banyak kawan-kawan base camp yang menghampirinya untuk berbincang-bincang. Dia mendaki lebih awal daripada aku. Dia keren, tanpa banyak bawa barang. Penampilan sederhana, tetapi aman untuk mendaki. Atributnya sangat pendaki. Ransel adventure yang lebih kecil daripada punyaku, matras ditempel di pinggir ransel seperti gayaku, dan mungkin tanpa membawa sleeping bag dan tenda karena ranselnya tidak penuh. Walaupun sederhana, tetapi dia tidak mau terlihat sombong. Membawa tongkat kayu yang diambil dari kawan-kawan base camp.
Sekitar jam setengah satu malam lebih aku mulai pendakian. Tidak jauh dari gerbang pendakian, akhirnya kami bertemu. Salah satu hal yang aku inginkan adalah bertemu pendaki sendirian, bayanganku bakal asik. Kami berbincang-bincang untuk lebih mengenal. Asalnya dari Purwodadi. Tidak sempat tanya nama, dan kami tidak saling menanyakan nama. Katanya dia sudah lama tidak mendaki, wajar jika agak loyo. Menurutnya loyo, tetapi di mataku dia sangat kuat, bisa mengimbangi langkahku yang secara umur masih muda. Dari gaya bahasanya, dia orang terpelajar yang wawasannya luas. Aku tidak berani tanya lulusan mana, takut tidak sopan. Ceritanya dia mau memutari jalur pendakian. Tidak beda sepertiku, pendaki santai yang hanya naik kemudian langsung turun, tanpa berkemah dan tidur. Bedanya, dia mengawali pendakian dari base camp Cemoro Sewu, dan turun di Cemoro Kandang. Yang membuatku semakin kagum, selain dia cukup berumur, ternyata dia memulai perjalanan dari Cemoro Kandang, parkir motor di sana, kemudian jalan kaki menuju base camp Cemoro Sewu untuk memulai pendakian. Padahal jarak antar base camp lumayan jauh. Sambil bercanda, dia hanya berkomentar bahwa hal tersebut dilakukan untuk pemanasan. Gila! Jika aku yang melakukan hal tersebut, aku akan berkomentar pada diri sendiri bahwa aku menyiksa diri, haha... Pokoknya, dia hebat, dan aku kalah telak dalam hal pendakian “maraton”.
Aku merasa cocok berbincang dengan dia, bukan berarti homo, tetapi sepertinya gaya dan tujuan kami ada sedikit kesamaan, dan tentunya dia lebih baik dalam banyak hal. Dari awal bertemu di jalur pendakian sampai pos 2 lebih, kadang kami jalan bareng, kadang saling meninggalkan, dan setelah pos 3 kami tidak bertemu lagi. Kami bebas, tidak ada tanggung jawab saling menunggu, karena dari awal melakukan pendakian sendirian. Satu hal yang aku kagumi lagi, dia mendaki tanpa senter. Mungkin baginya cahaya bulan sudah cukup menerangi jalan. Jadi ingat penggalan ayat suci, bahwa Allah menjadikan bulan sebagai penerang dan matahari sebagai pelita. Awalnya aku kebingungan dengan ayat tersebut, apa bedanya penerang dan pelita. Setelah mencari makna dari KBBI, ternyata pelita menerangkan apa yang tidak perlu diterangkan lagi. Yang aku simpulkan, bahwa bentuk penerang lain tidak berguna di dalam pelita.
Keraguanku lenyap di tengah pendakian. Kebetulan yang bagiku sangat beruntung karena dalam pendakian cuaca sangat cerah, padahal menurut kawan-kawan base camp dari kemarin turun hujan. Aku anggap pendakian kali ini adalah yang terbaik dilihat dari sudut pandang alam. Tiba-tiba saja awan tipis yang menutupi bulan lenyap, dan langit pun cerah. Pendakianku disertai bulan purnama kedua dari tiga deretan purnama. Tanggal 14 dalam penanggalan hijriah. Kawasan pendakian terlihat terang jelas. Bahkan di malam hari aku bisa melihat lautan awan dari atas. Tidak beda dengan pendakian Lawu sebelumnya, aku juga menyaksikan tarian kilat di tempat lain.
Aku tidak lama beristirahat dan berbincang dengan pendaki lain, karena mengejar subuh di puncak. Lebih nyaman salat di puncak daripada tempat lain. Sebelum sampai puncak, sudah terdengar azan dari bawah, dan beruntung aku bisa sampai puncak pas dengan seruan ikamah. Kali ini kiblatku adalah bulan purnama. Mengesankan, tanpa kebingungan harus menunggu matahari terbit atau melihat arah mata angin dari kompas untuk menentukan arah kiblat.
Penenang hati kali ini berkali-kali lipat. Bisa menyaksikan bulan purnama, bintang, sekaligus matahari dalam waktu bersamaan. Bedanya, suasana puncak ramai padat pengunjung dibanding pendakian sebelumnya. Seperti biasa, aku seperti orang hilang sebatang kara, kebingungan sendirian sambil gemetar kedinginan. Pendaki lain asik berfoto, aku malah asik menggosok tangan supaya hangat. Aku hanya mengambil gambar bulan purnama yang hasilnya kurang baik karena menggunakan kamera ponsel, kemudian mengabadikan momentum sunrise. Berbatang-batang rokok terus menyambung untuk membantu proses penghangatan badan, dan tembakau mentah sama sekali tidak berguna. Dari awal sampai puncak, aku melepaskan sweater, mencoba hal yang sebelumnya tidak aku coba. Bahkan sarung yang biasa jadi penghangat kepala tidak tersentuh sama sekali dari awal pendakian sampai pulang. Rasanya agak sedikit berbeda, tidak terlalu dingin, aneh, padahal secara logika akan lebih hangat jika mengenakan berlapis-lapis pakaian sekaligus sarung.
***
Sama seperti di pendakian sebelumnya, berbagai rencana tidak dilakukan. Tidak mampir di warung untuk ngemil sambil ngopi, atau melakukan aktifitas menulis menggunakan pena di atas kertas. Rencana yang selalu gagal dilakukan dalam pendakian, terutama menulis. Pikiranku hanya cepat pulang, dan terus menggerakan badan supaya tidak kedinginan. Belum jauh aku turun dari puncak, aku bertemu lagi dengan si bapak pendaki dengan tongkatnya. Berbincang-bincang lagi. Katanya dia di pos 3 agak lama, dan sempat membuat air hangat. Kemudian dia menikmati subuh sampai pagi di pos 4 (jika tidak salah ingat), karena menurutnya view di sana adalah yang terbaik untuk pagi hari. Katanya, dia sampai di pos 4 jam setengah lima. Hebat. Berarti tidak jauh dengan jarakku. Padahal kesan yang aku terima dari hasil perbincangan, dia sangat santai, terbukti dengan membuat minuman hangat di pos 3.
Yang sangat aku inginkan dari puncak sampai bawah, adalah bertemu dengan pendaki Yogya dan Bandung. Dari dulu jarang bertemu pendaki yang berangkat dari daerah tersebut, atau mungkin aku kurang banyak menyapa. Lebih sering bertemu dengan pendaki yang berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Kali ini bertemu pendaki Yogya, dari Atmajaya dan Sanata Dharma. Dengan pendaki Atmajaya tidak banyak berbincang, karena mereka asik dengan kelompoknya. Ikatan sosialnya baik, bahkan ketika mereka mau turun dari puncak, pamitan terlebih dahulu sambil salaman. Obrolan yang agak lama dilakukan dengan pendaki dari Sanata Dharma. Dia hebat, dengan kondisi tangan yang luka karena kecelakan dari keberangkatan di jalan raya, dia masih sanggup melakukan pendakian. Sebagian besar kawan-kawannya sudah meninggalkan dia, hanya ditemani satu orang kawan. Hebat, masih muda penuh semangat, tetapi lebih baik jika tidak memaksakan diri.
Sedikit lagi menuju gerbang base camp, aku bertemu dengan kelompok pendaki yang sebagian besar anggotanya orang tua. Awalnya, aku pikir mereka punduduk setempat yang mau sembahyang di puncak. Kelompoknya di pecah tiga rombongan, dan yang paling belakang 2 orang masih muda sambil bawa bendera. Dengan dua rombongan di depan, kami saling menyapa, tetapi tidak berbincang lama. Berbincang-bincang lama bisa dilakukan dengan rombongan ketiga yang belakang, dan di sanalah rahasia mereka terkuak, haha... Jika tidak salah ingat, mereka rombongan dari Tuban (kemungkinan besar aku salah ingat). Penampilan mereka sangat sederhana, sepatunya sport bukan untuk mendaki, dan ranselnya pun kecil-kecil, bahkan ada yang tidak bawa ransel sama sekali. Dengan rombongan terakhir kami sempat berfoto, dan aku kaku karena tidak biasa difoto. Hasil fotonya saja aku tidak peduli seperti apa, tidak meminta, hanya dijadikan kenang-kenangan buat mereka saja.
Di gerbang pendakian, sejenak aku beristirahat. Menyiapkan barang bawaan supaya nyaman berkendara. Ada 2 orang petugas puskesmas setempat yang menghampiri. Sepertinya mereka sedang melakukan tugas survey, mengisi kuisioner persiapan dan kondisi para pendaki. Aku tak tahu mereka asli dari puskesmas atau hanya penipu berkedok kesehatan. Beberapa kali aku memberi pertanyaan jebakan, dan dari jawaban mereka sepertinya mereka asli dari puskesmas. Aku bingung jawab pertanyaan dari mereka, karena memang persiapan pendaki—baik dari segi kesehatan atau yang lainnya—mempunyai cara yang berbeda, masing-masing punya cara sendiri, dan mungkin berbeda dengan aturan puskesmas. Mungkin mereka bingung dengan jawaban yang aku beri, karena tanpa dasar anjuran dari dokter untuk melakukan pendakian. Bahkan aku lebih banyak menyindir, dan mereka senyum dengan terpaksa. Bukan berarti aku benci, tetapi ada beberapa yang aku sesalkan dari instansi kesehatan.
Aku mencoba memahami dan menyimpulkan dari perbincangan kami. Ada sedikit perasaan jika hal tersebut berujung duit di kemudian hari, mengharuskan para pendaki membayar hanya untuk selembar pernyataan kondisi kesehatan. Aku berkomentar blak-blakan pada mereka, silakan saja jika di kemudian hari para petugas puskesmas menerjunkan anggotanya di kawasan pendakian, aku senang dan mendukung, asal jangan ada bayar-bayaran, hanya akan memberatkan dan membuat rumit para pendaki. Ditambah lagi berkomentar sinis, bahwa dulu aku tes kesehatan waktu membuat SIM C dengan biaya 20 ribu, itu namanya “perampokan”, haha... Mungkin tidak sengaja atau mau mencairkan suasana, ketika aku berkumpul dengan pendaki lain, petugas dari puskesmas berkata bahwa atasan mereka wanita tua, dan pernah mendaki sampai puncak Lawu. Bagiku itu kesempatan untuk menambah sindiran, wajar jika sampai puncak, anak-anak puskesmas kok, semuanya sehat, justru aneh jika tidak mampu sampai puncak.
Aku tidak benci pada hal berbau medis, karena ada baiknya untuk menolong orang-orang sakit, walaupun mengharuskan pasien mengeluarkan sejumlah uang. Yang membuatku aneh sampai bersikap sinis, sekarang pendidikan medis di Indonesia sudah berkembang, fasilitas medis pun bisa dikatakan maju, tetapi anehnya makin banyak orang yang sakit, dan penyakitnya pun makin aneh-aneh. Apa yang sedang dipermainkan!? Lebih membuatku sinis lagi ketika hal yang berbau medis dijadikan ajang bisnis, mengeruk keuntungan dari orang-orang sakit dan—tidak tega jika pasien—golongan miskin. Bahkan sudah bukan rahasia, banyak kejadian bayi ditahan di rumah sakit karena pihak keluarga belum sanggup membayar biaya. Menjijikan. Alangkah indahnya jika hal yang berhubungan dengan medis tidak kenal biaya. Namun, apa daya, banyak pihak mengikuti arus zaman, dan hampir semua hal adalah ladang bisnis di mata mereka, tak peduli jika memberatkan kalangan menengah ke bawah.
Tak ada ujungnya jika membicarakan kerancuan negeri. Mari membicarakan hal lain. Setelah aku diwawancara, aku menghampiri pemuda yang sedang memainkan musik metal. Sepertinya asik berbincang sejenak dengan dia. Baru kali ini tembakau mentahku bisa berguna. Aku senang, ketika menawarkan tembakau dan dia menerima tanpa gengsi malu terlihat orang-orang sekitar. Kami bersama-sama menikmati tembakau, dan katanya tembakauku mirip ganja. Kelihatan, dia jarang melinting tembakau, dan akhirnya aku bantu sampai dia bisa menikmati. Dari obrolan musik metal, obrolan kami berbelok tentang tembakau. Perjumpaan dengan dia aku akhiri dengan menawarkan tembakau sebanyak satu cangkir. Aku senang dia mau menerima, sekaligus aku kasih satu paket kertas rokok yang sempat dia tolak karena mungkin malu, tetapi aku memaksa.
Belum jauh motorku melaju dari base camp, di belakang ada pengendara motor yang membunyikan klaksonnya. Aku kira motorku menghalangi lajunya, karena aku sangat pelan, efek lelah sekaligus memanaskan mesin motor. Ternyata bunyi klakson adalah bentuk sapaan. Aku tidak paham dia siapa, sebagian muka tertutup masker. Yang jelas dia sesama pendaki, dilihat dari atributnya terdapat matras di belakang jok motor, walaupun tanpa carrier. Dia mengacungkan jempol, kemudian melaju kencang meninggalkanku, dan aku balas dengan mengangkat satu tangan sambil menundukkan kepala. Dugaan terbesarku dia adalah si bapak pendaki. Memang benar dia orang yang aku duga, setelah cukup jauh melaju aku melihatnya dengan wajah yang jelas berteduh dari hujan di pinggir jalan. Dilihat dari penampilan luar dan gaya hidup, wajar jika dia menjadi rebutan para wanita. Kendaraan yang jadi seleranya saja motor besar dengan box di kanan kiri. Pantas jika dia disebut adventurer. Untuk kedua kalinya kami saling menyapa melalui gerakan anggota badan. Dia salah satu pendaki yang mungkin aku masih ingat wajahnya di masa depan jika bertemu.
Awal turun hujan, aku tidak menghentikan laju kendaraan, masih gerimis. Aku berhenti ketika hujan makin deras. Baru saja mau pakai ponco, hujan mulai reda, dan aku pun melanjutkan perjalanan tanpa ponco. Tiba-tiba hujan semakin deras. Aku harus berpikir dengan cepat. Melanjutkan perjalanan adalah keputusanku, hujan-hujanan kayak anak kecil, dengan pertimbangan bahwa di daerah Solo sampai Yogya bakal panas, jadi pakaian bakal kering dalam perjalanan. Sekali lagi aku merasa beruntung turun hujan. Karena hal tersebut, yang biasanya ngantuk, aku bisa segar sampai tiba di rumah.
Ada dua hal yang membuatku kesal dalam perjalanan pulang. Pertama, petugas pom bensin yang salah tetapi ngotot karena dia tidak mau merasa bersalah. Dari awal aku bilang 20 ribu, dan dia langsung saja bilang dari nol. Untuk mengingatkan, sekali lagi aku bilang 20 ribu, dan dia malah ngotot “iya, dari nol!”. Apa percakapan kami nyambung? Aku hanya menggelengkan kepala sambil senyum. Dia mengalirkan bensin dari selang dengan harga 20 ribu lebih sekian ratus rupiah, dengan kata-kata penutup yang makin membuatku kesal “sudah, 20 ribu” bernada agak tinggi. Pecat saja jika kerjanya tak beres, hanya akan merugikan. Kedua, bus yang bertindak seperti pemilik jalan raya. Aku sedikit segan menyebut nama busnya, karena mirip dengan salah satu anggota keluarga. Namun, demi kebaikan bersama, dengan terpaksa menyebutkan bahwa bus yang dimaksud bernama Mira berplat nomor S ... Berangkat dan pulang aku bertemu bus dengan nama tersebut, dan aksinya sama-sama membuatku kesal. Sepertinya si sopir tak peduli membuat pengendara lain merasa terganggu. Belok kanan kiri menyalip kendaraan lain seenaknya, ditambah dia bisa berhenti kapan pun di mana pun. Semoga pemilik bus membaca tulisan ini, dan menyadarkan para sopirnya, atau mungkin yang punya bus sifatnya sama saja. Semoga dua hal yang membuatku kesal disadarkan oleh Tuhan, dan bisa membuat pihak lain merasa nyaman.
Sedikit tidak biasa, aku sampai di rumah jam setengah tiga sore, lebih lama dibandingkan perjalanan sebelumnya yang bisa sampai rumah jam setengah dua siang. Kondisi badanku pun tidak terlalu rontok. Sekitar 12 jam sesampainya di rumah, aku bisa pulih dan lancar melakukan aktifitas esok harinya, dengan kaki yang sedikit pincang karena terasa nyeri di bagian tumit kaki kanan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar