Sabtu, 30 April 2016

PENDIDIKAN FORMAL PINCANG

Tentang memaknai istilah “terpelajar”, lazimnya merupakan gelar dari masyarakat bagi orang-orang yang mengenyam dunia pendidikan. Aku sendiri tidak terlalu bangga jika mendapatkan gelar tersebut, karena terombang-ambing antara perasaan senang dan tanggung jawab. Kadang aku merasa takut untuk menyelesaikan studi strata-1. Takut ketika mendapatkan gelar dan terjun dalam masyarakat, tetapi tidak membawa manfaat sama sekali. Bagiku gelar sarjana adalah beban. Di samping harus bermanfaat bagi pihak lain, sebagai sarjana terpelajar mesti menjadi contoh baik bagi masyarakat melalui sikap. Beban yang sangat besar bagi pemalas dungu. Mungkin yang menyebabkan gelar sarjana nilainya turun kasta atau kurang dihargai karena makna dasar sarjana dilupakan oleh para sarjana.

---
Kelak, akan diminta pertanggungjawaban atas ilmu yang diterima.
---

Yang namanya ijazah dan gelar adalah kuno, kebiasaan yang pasti didapatkan setelah menyelesaikan studi, dan sebagian besar di zaman sekarang kedua hal tersebut hanya menjadi tiket, bahkan sebagian nasibnya tergeletak tanpa sentuh. Realitas kini, sarjana belum tentu berilmu, hanya jadi modal gengsi bagi sebagian pihak. Mungkin dari 100 % sarjana hanya 15 % yang benar-benar berilmu, bahkan mungkin kurang. Itu juga belum tentu semuanya berdampak baik bagi masyarakat, mungkin dipakai untuk kesenangan pribadi, atau ilmunya ditinggalkan karena bekerja di tempat yang tidak ada hubungannya dengan ilmu yang dimiliki.

---
Sepintar apapun Anda, jika tidak membawa manfaat pada pihak lain, maka tidak berguna. Jika tidak percaya, coba saja hidup sendiri dengan kepintaranmu di tengah gurun tanpa orang lain.
---

Aku sadar, memang gelar dan isi ijazah tidak menjamin masa depan, tetapi dari kedua hal tersebut bisa menjadi salah satu penilaian berfungsi atau tidaknya otak seseorang. Aku juga paham, pendidikan formal bukan hanya tentang 1+1=2, atau tentang menghafal nama presiden pertama Indonesia. Salah satu tujuan pendidikan formal supaya siswa dapat berpikir, menata logika, bagaimana menyikapi realitas diri dan sekitar. Karena hal itu, semisal program studi yang diambil adalah Sastra Arab, maka tidak wajib bergulat dalam bidang Sastra Arab di masyarakat, bisa melakukan apapun yang bisa dilakukan dan bermanfaat. Namun, rasanya sayang, lebih dari 3 tahun bersusah payah dalam bidangnya di pendidikan formal, tetapi apa yang diusahakan terbuang percuma setelah mengantongi ijazah dan gelar. Usaha yang sia-sia.

---
Nilai angka bukan hal utama, tetapi bisa menjadi tanda bahwa otak Anda berfungsi.
---

Kontroversial pendidikan kita. Pesan dariku sebagai pelajar gagal yang menyesal, bagi siapa pun jangan melupakan makna dasar pendidikan formal. Apapun kondisi yang terjadi—seperti contoh lazimnya paham racun pendidikan yang dimaksudkan untuk ijazah kemudian sebagai persyaratan kerja—di masa kini, jangan pernah melupakan belajar, karena inti dari pendidikan adalah untuk belajar. Memang berpikir adalah aktifitas membosankan dan memalaskan, tetapi hal tersebut merupakan konsekuensi yang harus rela diterima bagi para pelajar. Jika tidak mau berpikir, maka tidak usah sekolah, karena sekolah tidak memberi jaminan kerja layak. Simpel, jangan dibuat rumit!

Belajarlah, jadikan diri ahli dalam bidang yang dipelajari, dan lebih baik lagi jika ujungnya memberi manfaat bagi pihak lain. Bayanganku, jika semua penduduk Indonesia yang duduk di strata-1 atau di tingkat apapun belajar dengan serius sampai menjadi ahli, dan keahliannya dimanfaatkan untuk kebaikan sekitar, mungkin Indonesia akan menjadi negara maju dalam jangka 10 tahun. Logis, kan!? Misal, semua sarjana medis, semua sarjana pertanian, sarjana teknik, humaniora, dll ahli di bidangnya, kemudian menyebar rata di Indonesia untuk mengabdikan diri, menyumbangkan ilmu/keahliannya, maka kemapanan dalam bidang-bidang tersebut merata di Indonesia. Walaupun bagiku hal tersebut (hampir) mustahil untuk dilakukan, karena umumnya di zaman sekarang tidak mau bekerja tanpa imbalan. Otaknya sudah teracuni uang. Hidup untuk uang, dan uang untuk hidup, masa bodoh nasib pihak lain. Banyak yang lupa bahwa harta tidak akan dibawa ke dalam kubur.

Semoga apa yang aku bicarakan tidak sepenuhnya benar. Mari berharap supaya kita semua selalu menuju ke arah yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar