Selasa, 19 April 2016

TERIMA KASIH UNTUK MASYARAKAT JEJERAN 2 BANTUL

Sebenarnya tulisan ini saya mau tulis di saat sudah meninggalkan Yogya. Ditulis dalam satuan cerita penuh tentang semua penduduk asli tanah D. I. Yogyakarta yang mengharuskanku mengeluarkan ucapan terima kasih kepada mereka dan kepada Sang Maha Kuasa. Namun, untuk sekarang, saya tidak bisa membendung rasa terima kasihku pada sebagian pihak yang peduli padaku. Bisa dikatakan bahwa tulisan ini bagian kecil dari tulisan yang akan ditulis nanti, dan ditulis karena paksaan diri sendiri yang disertai ketulusan sekaligus senang hati.
 
Saya merasa jadi orang paling beruntung di dunia. Entah berapa banyak dosaku kepada Allah, saking banyaknya tidak bisa menghitung dosa-dosa yang saya perbuat, tetapi Allah masih memberiku kenikmatan tak terhingga. Mungkin saya orang yang paling “kepedean” di dunia. Kepedean beda halnya dengan pede (percaya diri). Dengan kata lain, kepedean adalah sikap yang menunjukkan bahwa setiap perlakuan pihak lain merasa ditujukan bagi diri sendiri, walaupun belum tentu ditujukan kepada diri sendiri. Namun, tidak selamanya kepedean adalah buruk. Selama sikap tersebut merupakan bentuk luapan rasa terima kasihku kepada pihak lain terutama kepada Allah, maka bagiku hal tersebut adalah sikap positif. Hal tersebut, dapat membuatku selalu bersikap rendah hati kepada orang lain, selalu memaksaku untuk mengucapkan terima kasih, mendorongku untuk selalu bersikap baik kepada semua orang, dan selalu membuatku ingat kepada Allah yang memberi nikmat.
 
Semua bagian tulisan selanjutnya merupakan bentuk kepedean yang saya rasakan, sekaligus pandanganku yang disertai pikiran positif terhadap masyarakat Jejeran 2, dan tentunya mengharuskanku bersyukur kepada Allah. Sekitar 2 bulan saya pulang ke kampung halaman. Dalam masa itu, saya sama sekali tidak memikirkan para tetangga di Bantul, tak peduli apa yang terjadi di sana. Namun, membuatku terkejut setelah kembali ke Bantul, di minggu pertama saya tiba sudah membuatku merenung karena kebaikan masyarakat. Sebagian nikmat Tuhan bisa sampai kepada seseorang melalui tangan orang lain. Seperti itulah yang saya rasakan, baru seminggu saja saya tiba di Bantul, saya sudah berani menyatakan bahwa saya adalah orang paling beruntung di dunia.
 
Di tulisan sebelumnya, sudah saya singgung mengenai jamuan baik pemuda kepada saya ketika mampir ke tempat nongkrong pemuda di malam hari dalam agenda menjaga ikatan sosial. Di luar dugaan, ternyata mereka peduli padaku, terlihat dari respon mereka tentang kepulanganku yang cukup lama ke Bandung. Padahal pikiran busuk saya berbisik bahwa mereka akan bersikap sinis padaku. Beruntungnya pikiran busuk tersebut sirna ketika menghadapi sikap mereka yang sebenarnya. Pemuda kampung yang tidak terikat hubungan kampus, bagiku mereka adalah teman seumur hidup. Sampai kapan pun menjadi teman, tidak dibatasi oleh lulus kuliah atau pulang kampung yang dapat memberikan jarak pertemanan. Dengan kata lain, teman kampus adalah teman sementara, berbeda dengan teman kampung. Beruntung saya memutuskan untuk pindah kontrakan ke Bantul, walaupun jauh dengan kampus, tetapi banyak hal positif yang saya dapat, salah satunya teman seumur hidup.
 
Pihak lain yang peduli padaku adalah para tetangga pinggir rumah. Bentuk peduli mereka adalah sapaan sekaligus pertanyaan serius mengenai kepulangan saya ke Bandung. Saya bingung jawab apa, walaupun akhirnya saya jawab sejujur mungkin tentang diriku yang sakit, dan selebihnya karena kondisi keluarga yang membutuhkan keberadaanku ketika nenek sakit repot sampai 3 kali pulang pergi rawat inap ke rumah sakit. Saya tidak peduli mereka percaya atau tidak. Hal tersebut adalah pernyataan raguku terhadap sikap nampak dari para tetangga yang bertanya. Namun, sikap tetangga tersebut semakin membuatku merasa bahwa mereka sangat peduli. Ada beberapa orang tua yang (mungkin) tidak sengaja mengeluarkan pernyataan dalam percakapan bahwa saya harus cari teman, terdengar nada perintah “golek konco”. Karena hal tersebut, saya beranggapan bahwa mereka kira saya pulang ke Bandung karena kekurangan teman, mereka anggap bahwa saya kesepian. Bahkan ada yang bilang (mungkin bercanda) bahwa saya sakit rindu keluarga, haha... konyol yang membuatku tersenyum senang. Padahal temanku di Yogya hampir berada di setiap sudut tanah Yogya. Kata “kesepian” tidaklah cocok bagi kondisiku yang sebenarnya. Walaupun saya heran dengan penyataan tetangga, tetapi aku anggap bahwa mereka sangat peduli padaku, sampai rela memikirkan kondisi/nasib hidupku di Yogya.
 
Saya heran mengenai bentuk kepedulian mereka yang secara tidak langsung menyatakan bahwa saya kesepian di kontrakan Bantul. Padahal, sebelum saya pulang, pada sebagian tetangga sudah saya jelaskan bahwa saya sakit sambil menunjukkan luka, dan di kemudian hari kemungkinan saya pulang tanpa pamit. Namun, saya kira informasi tersebut tidak menyebar ke tetangga lain. Mungkin mereka beranggapan saya kesepian karena sebelum pulang ke Bandung saya selalu ada di rumah, sehingga berujung kesalahpahaman. Sebenarnya saya jarang keluar rumah karena luka gejala diabetes. Pergi keluar rumah hanya semakin membuat lukaku parah. Walaupun menurutku para tetangga salah paham tentang diriku, tetapi kesalahpahaman tersebut bagiku bentuk kepedulian mereka, bentuk perhatian yang positif.
 
Pihak yang menurutku (spesial) peduli adalah tetangga pemilik kontrakan, dan tulisan ini sebagian besar ditujukan kepadanya. Pak Wintolo sekeluarga, saya sangat berterima kasih kepadanya. Belum satu bulan saya di Bandung, Pak Win langsung tanya kabar tentangku lewat sms. Hal yang menurutku tidak perlu, karena saya sudah jelaskan bahwa ada luka yang harus disembuhkan. Namun, tanya kabar lewat sms bagiku adalah bentuk kepedulian, jarang-jarang ada yang menanyakan kabarku ketika lama tak jumpa. Sms tersebut juga adalah kesempatanku untuk memberitahukan bahwa saya akan lebih lama di Bandung karena sakitnya nenek.
 
Awal tiba di kontrakan, saya dibuat heran dengan adanya yang berbeda di sekitar kontrakan, padahal saya belum masuk rumah. Walaupun lantai depan rumah penuh debu, tetapi saya lihat ada beberapa bekas bahwa sebelumnya lantai ada yang bersihin tanpa saya minta. Dulu, di awal saya pindah ke Bantul, kejadian serupa pernah terjadi, di saat musim hujan, setiap pulang dari kampus pasti lantai terlihat bersih, ada yang bersihin. Dugaan pertama saya, hal tersebut dilakukan oleh Pak Win sekeluarga, dan dugaan lain adalah tetangga lain pinggir rumah. Saya tidak pandai menyikapi kebaikan tersebut dengan kata-kata. Hanya bisa mengucapkan terima kasih, dilanjutkan dengan pernyataanku kepada Pak Win “terima kasih sudah bersihin, tapi jangan terlalu baik, saya malu, biar saya saja yang bersihin”. Sebenarnya saya takut ucapan saya melukai niat baik Pak Win sekeluarga, tetapi saya harap mereka paham apa yang saya sampaikan. Cukup sering ucapan tersebut saya luapkan langsung di depan Pak Win, tetapi Pak Win selalu membalasnya “saya tidak tahu siapa yang bersihin”. Namun, saya tidak mau kalah, saya balas “siapapun yang bersihin, tolong sampaikan ucapan terima kasih dari saya”.
 
Orang-orang di Jejeran 2 sangat baik, dan membuatku bingung untuk membalas kebaikan mereka. Dari awal pindah ke sana, saya sudah menawarkan diri, apapun permintaan masyarakat kepada saya, saya akan melakukannya selama saya mampu. Terutama saya menawarkan diri untuk membagi ilmu yang saya punya. Namun, sepertinya ilmu yang saya punya tidak lebih baik daripada yang dimiliki orang-orang di sana, sangat sedikit yang minta bantuan, dan itu juga jarang terjadi, sehingga sampai sekarang saya kurang bermanfaat bagi para tetangga. Karena hal tersebut, saya bingung bagaimana membalas kebaikan tetangga yang telah saya rasakan. Tidak ada hal yang saya punya untuk dibagi, kecuali ilmu, senyuman, dan ucapan terima kasih.
 
Kembali cerita tentang Pak Win, selain dia menanyakan kabar ketika saya masih di Bandung, dia juga orang pertama yang menyapaku ketika pertama kali tiba di kontrakan. Dengan nada yang lumayan keras bersemangat, dia mengucapkan salam di depan pintu. Sayangnya saya sedang salat, dan ucapan salamnya disambut oleh temanku yang kebetulan main ke kontrakan di hari pertama saya tiba. Hal tersebut membuatku mempercepat salat, dan langsung menghampiri Pak Win yang sedang berbincang dengan temanku.
 
Belum lama setelah hari pertama saya tiba, saya sudah menyiapkan uang sewa untuk bayar kontrakan yang sangat telat dari masa tenggang. Beberapa kali tidak ada momentum yang tepat untuk bayar. Sampai akhirnya, ketika berada di belakang rumah, kebetulan Pak Win ada di sana mau pergi, dan langsung saya tahan untuk menunggu. Komentar dia pada uang sewa yang saya beri, bahwa dia akan gunakan uang tersebut untuk beli tempat penampungan air. Sebelumnya saluran air langsung dari sumur melalui pompa listrik, dan hanya di tampung ember kecil. Sebenarnya saya tidak terlalu butuh penampung air, dan saya tidak pernah minta lebih tentang fasilitas kontrakan, karena fasilitas yang saya rasakan sudah lebih dari cukup. Hanya dalam jangka waktu seminggu setelah tiba di Yogya, dan kebetulan saat itu saya pergi tak pulang sekitar 2 hari, penampung air yang dia bicarakan sudah terpasang, dan saya menikmatinya, tidak perlu sering menghidupkan pompa mesin hanya untuk setetes air.
 
Saya kira, setiap uang sewa yang saya beri tidak dinikmati oleh Pak Win sekeluarga, tetapi sebagian uang tersebut digunakan untuk kontrakan yang saya tempati. Saya tidak tahu hal yang sebenarnya mengenai pemakaian uang sewa, tetapi yang saya rasakan uang tersebut sebagian berputar dan dinikmati oleh saya. Sebenarnya mengenai fasilitas kontrakan ujung-ujungnya untuk dia sendiri, kan tidak selamanya saya ngontrak di sana, tetapi memang dasar saya orangnya kepedean, jadi saya merasa hal yang dia lakukan ditujukan untuk saya, haha... Bisa dikatakan bahwa saya ngontrak gratis di sana. Uang sewa yang abnormal, sangat murah dibadingkan uang sewa pada umumya. Uang listrik saja urunan, dan uang yang saya sumbangkan sangat kecil, rata-rata hanya 30 ribu setiap bulan untuk listrik 900 watt, padahal pemakaian listrik saya cukup banyak. Kadang saya memberi 50 ribu, tetapi dia tidak mau terima. Uang listrik bulan kemarin saja dia tidak mau terima. Hah... sangat baik, dan membuatku bingung menyikapinya bagaimana.
 
Cerita kebaikan masyarakat Jejeran 2 saya batasi sekian, karena sebagian besar cerita akan saya tulis di tulisan masa depan yang saya rencanakan, itu juga jika saya masih hidup. Special thanks to Pak Wintolo sekeluarga atas kebaikannya, umumnya untuk semua masyarakat Jejeran 2. Semoga hidup mereka penuh berkah tanpa batas. Saya berharap mereka tidak pernah mengenal kesedihan. Semoga Jejeran 2 menjadi sentral dunia dalam hal menyikapi kehidupan baik, karena bagiku etika masyarakatnya lebih baik daripada lingkungan yang diisi oleh orang-orang terpelajar di perguruan tinggi.
 
Jika kebetulan tulisan ini dibaca oleh “karyawan pemerintah”, saya minta tolong supaya Jejeran 2 lebih diperhatikan. Sebagian besar penduduk adalah petani, dan saya minta tolong kepada pemerintah untuk membantu mereka menjadi petani terkaya di Indonesia. Serta, saya minta berdayakan para pemuda, karena Indonesia tidak akan menyesal jika mereka—sebagai pemuda ulet dan penuh potensi—diberdayakan demi kemajuan Indonesia. Sebenarnya mereka tidak terlalu membutuhkan bantuan pemerintah, karena yang saya perhatikan setiap orang sudah mapan, bahkan tata pemukiman pun rapih. Namun, jika dibandingkan dengan kehidupan para anggota DPR yang makan nasi bersumber dari para petani, maka kemapanan warga Jejeran 2—yang sebagian besar berprofesi petani—kalah telak.
 
Sedikit tambahan paragraf tak penting karena isinya mengenai saya sendiri, tetapi berharap ada manfaatnya bagi pihak lain. Hal yang paling konyol, ketika Tuhan memberi nikmat besar kepadaku melalui tangan-tangan orang lain, malah sikap saya tidak baik kepada-Nya. Belum mampu memasrahkan diri kepada Tuhan yang menjadikanku ada. Waktu salat saja masih sering ditunda, tidak dilaksanakan pada waktu yang tepat. Semoga orang lain tidak sepertiku, semoga perhatian orang lain terhadap Tuhan dilebihkan. Semoga saya juga tidak sepertiku yang sekarang, semoga saya memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Memasrahkan diri kepada Tuhan, sama halnya membuat kehidupan masyarakat menuju ke arah yang lebih baik, karena ajaran Tuhan selalu berisi hal baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar