Telinga kiri mendengar ilusi
Bahwa bumi kesenangan abadi
Telinga kanan tak kunjung aman
Terancam nada, dunia sekadar jerat khayalan
Banyak jasad berserakan
Alam disertai kekayaan
Kesenangan tersedia instan
Tapi tetap merasa bosan
Bukan karena frustrasi
Atau terlalu sering berdiam diri
Hanya merasa sirkulasi kehidupan berupa putaran
Tanpa ujung yang dapat berhenti dengan kematian
Memang salah jika hidup untuk mati
Tapi nyatanya semua orang berakhir dalam peti
Dan rasanya kehidupan seperti bui
Bercucuran keringat hanya demi sepotong roti
Apa kehidupan untuk mengejar wawasan, kecerdasan, kemuliaan
Apa untuk mengejar kesenangan, kemewahan, kebanggaan
Bentuk tanya apapun tak mengubah takdir kematian
Dan arti kehidupan tetap menjadi rahasia Tuhan
Kesenangan dunia tidaklah mutlak
Ketika kesengsaraan semakin marak
Kesenangan terpetak-petak
Kesedihan pun beranak-pinak
Senang sedih bukanlah pilihan
Langkah setiap jiwa menuju kesenangan
Sampai kapan pun kesedihan dianaktirikan
Karena senang selalu diutamakan
Tak perlu mencela kehidupan dunia
Di dalamnya pernah merasakan tawa
Merasakan pula indahnya cinta
Tanpanya puisi ini tak pernah ada
Baik benar prinsip hidup
Walaupun bergumul dalam kumparan jiwa-jiwa korup
Lebih baik rindu mati untuk menghentikan ketidakpastian
Berharap jawaban dari Tuhan pemberi kehidupan
-Marwan Hadid-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar