Rabu, 20 April 2016

SEMANIS PAHIT

Mengenalnya adalah keberuntungan
Jutaan kenangan manis menyertai hubungan
Manis yang berujung pahit
Berkali-kali rasa pahit melilit
Tapi pahitnya berbuah manis
Tanpa pahit tak akan paham makna murni sepenggal manis

Canda tawa senang membara
Rela berlalu tanpa firasat luka
Ada saatnya dihiasi duka
Tapi hati memaksa lupa
Hingga suatu saat berakhir di ujung cerita
Duka luka pun tak pernah lupa

Dulu aku diubahnya menjadi besi
Nyali berbentur dengan sekeras apapun kehidupan bumi
Setelahnya aku menjadi banci
Membawaku singgah ke titik sepi
Mungkin itu balasan atas kesalahanku di masa lalu
Tapi kenapa seolah-olah yang bersalah hanyalah aku

Aku tidak berpengalaman dalam masalah ini
Bukan berarti buta masalah hati
Aku paham berbagai rasa
Kenal berbagai emosi jiwa
Memang terkadang aku lupa diri
Tapi setelah sadar terucap maaf sambil menanggalkan harga diri

Akhir cerita adalah bentuk jemu dirinya atas kesalahanku yang tak kunjung sirna
Atau mungkin ada alasan lain untuk menempatkanku di bagian lupa
Aku tidak sesempurna malaikat
Atau iblis yang konsisten membuat jiwa-jiwa sesat
Tapi pikiran dan hatiku lunak
Bukan kah mulutnya mampu bernada lembut supaya aku mengolah sikap, bukan mengakhiri cerita sambil memendam luka dalam benak…!?

Aku tidak membencinya
Bahkan ingin dekat lagi dengannya
Tapi aku tidak mau lagi mengenalnya
Jika ingat diriku rusak karena keputusannya
Bimbang antara suka dan duka
Karena tidak hanya pahit, manis pun kadang masih terasa yang membuat pintu hati terbuka

Akhir cerita adalah keinginannya
Kan kujadikan akhir cerita jadi sepenuhnya
Sajak ini adalah bentuk terakhir terima kasihku untuknya
Aku mengenal empat fase bentuk lain kehidupan hasil dari hubungan dengan dirinya
Fase manis sebagai awal, campuran manis-pahit fase kedua, dan sempat mengira jika pahit adalah fase akhir
Nyatanya takdir berkata lain, pahit melebur jadi manis murni di dalam cangkir

Sekarang aku merasa hidupku sempurna
Semakin kenal berbagai rasa dan emosi jiwa
Hal itu kujadikan energi untuk menaklukan dunia
Bukan untuk menebar pahit sehingga menambah korban duka lara
Dan sekali lagi aku siap menerima cinta
Kan kukenalkan manis murni tanpa melalui fase manis-pahit yang berpotensi mengakhiri cerita

Aku hanyalah bagian kecil dari nada
Jiwa lainlah yang mampu menjadikanku musik sempurna
Jika ada yang merasa satuan nada tak sesuai telinga
Maka nikmatilah bunyi bising yang diterima
Sebab aku tidak akan berhenti menelan hanya karena sepotong pahit, bahkan jika diancam dengan serulit
Rasa pahit adalah bumerang bagi para penebar pahit, dan alat bangkit bagi korban yang hatinya sakit

-Marwan Hadid-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar