Sabtu, 16 April 2016

MENJAGA IKATAN; TIDAK ADA YANG MESTI DIPERTAHANKAN

Halo Yogya...! Setelah beberapa minggu berkutat dalam kehidupan Bandung, akhirnya bisa merasakan lagi udara Yogya. Perjalanan Bandung-Yogya yang diawali niat untuk merasakan suasana berbeda dengan menggunakan kereta, malah berujung penuh kejenuhan, karena tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan. Dulu saya sudah memutuskan untuk tidak lagi naik kereta, bahkan pulang ke Bandung saja lebih memilih bus, tetapi memang hidupku enggak jelas, kembali mencoba hal yang tidak saya jiwai. Mungkin hal tersebut saya lakukan karena tergiur kondisi kereta lokal Bandung yang berubah drastis lebih nyaman daripada kondisinya yang dulu. Kemarin di Bandung cukup padat kegiatan, dan salah satu kegiatan mengharuskanku menggunakan alat transportasi kereta lokal. Semoga kereta api Indonesia selalu mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik.
 
Sedikit informasi mengenai kereta lokal Bandung, pada masa awal penertiban pelayanan kereta api, baik dari segi kereta api maupun peraturan wilayah stasiun, banyak masyarakat merasa keberatan. Wajar, karena kereta api lokal Bandung merupakan salah satu alat transportasi merakyat, dan kebetulan banyak masyarakat yang perekonomiannya bergantung pada lingkup kereta api. Intinya, banyak pihak yang hidupnya bergantung pada kereta api lokal, sehingga tidak siap ketika adanya penertiban yang (menurutku) dilakukan secara paksa. Saya pikir awalnya pihak pemerintah memberi himbauan secara baik-baik kepada masyarakat, supaya mereka bisa mempersiapkan diri ketika perekonomiannya harus banting setir, walaupun tetap saja akhirnya dihiasi dengan protes anarkis oleh masyarakat. Hampir setiap hal harus ada pengorbanan, dan sekarang hasilnya dapat dinikmati banyak orang. Nilai dari saya untuk kereta api lokal Bandung yang sekarang adalah 8, dengan pertimbangan pelayanan, ketertiban, kebersihan, kedisiplinan, dan jadwal padat di setiap harinya yang bisa dimanfaatkan masyarakat tanpa harus menunggu lama datangnya kereta.
 
Kembali ke inti cerita, saya sudah menyiapkan berbagai agenda sebelum tiba di Yogya. Beres-beres kontrakan adalah agenda wajib jika saya pergi dalam waktu yang lama. Biasanya, jika kontrakan ditinggalkan lama, maka saya disambut kontrakan dengan debu yang cukup tebal. Seperti itulah kontrakan saya, di samping sebagai tempat berlindung, sekaligus merangkap jadi salah satu alat untuk melatih saya bersikap disiplin. Misal, seminggu saja malas bersih-bersih, maka harus rela merasakan ketidaknyamanan hidup. Di kontrakan Bantul saya berstatus sebagai pemuda rumah tangga yang hidup sebatang kara. Jangan pernah coba menyingkat istilah pemuda rumah tangga jadi PRT loh, soalnya berpotensi terjadi kesalahpahaman, saya harap Anda paham apa yang saya maksud.
 
Agenda lain adalah menjaga ikatan sosial. Bagiku hal tersebut sangat penting, karena pada umumnya manusia saling membutuhkan, jadi jangan pernah sombong dalam lingkup sosial. Saya berencana untuk mampir ke beberapa kawan yang masih tersisa di Yogya. Kelompok pertama adalah kawan-kawan se-Sastra Arab, karena merekalah kawan yang harus diutamakan di wilayah perantauan kampus. Supaya mudah bertemu, saya pergi ke pusat perkumpulan kawan Sastra Arab, dan kebetulan sepeda motorku dititipkan di sana, sekalian ambil motor. Bagaikan ibu kota di suatu negara, tempat yang saya tuju adalah ibu kotanya teman-teman Sastra Arab. Sebenarnya tempat berkumpul pernah beberapa kali pindah, dan menurutku yang sekarang adalah tempat berkumpul terakhir, karena hampir semua kawan telah lulus dan pulang ke kampung halaman. Tempat berkumpul tidak pernah direncakan sama sekali oleh semua kawan, terjadi begitu saja jadi tempat berkumpul, tidak dibuat secara sengaja. Dalam seminggu pertama, saya selalu mampir ke sana, berharap merasakan canda tawa dan menikmati kenangan kebersamaan. Saya pikir pertemuan tersebut cukup mewakili semua kawan Sastra Arab dalam hal menjaga ikatan, tidak perlu memaksakan diri untuk mencari kawan yang tidak nongol sama sekali.
 
Kelompok lain adalah kawan-kawan di sekitar kontrakan Bantul. Salah satu alasanku memutuskan untuk tinggal di Bantul karena rindu suasana desa sekaligus rindu hubungan sosial yang sehat. Di indekos sebelumnya saya merasakan kehidupan yang kurang sehat. Dalam 3 tahun saya tidak kenal tetangga dan penduduk asli, hanya kenal keluarga yang punya indekos dan para pedagang, sangat tidak sehat. Setelah pindah ke Bantul, saya tidak bisa jadi orang pemurung di kamar pribadi, memaksaku harus rutin ke luar rumah di setiap harinya, minimal sapa tetangga. Hal tersebut tidak hanya didasari oleh keinginanku untuk merasakan sosial yang sehat, tetapi memang adat di sana menurutku mengharuskan setiap warganya untuk berhubungan dengan baik.
 
Untuk menjaga ikatan dengan warga, maka saya memutuskan mampir ke tempat nongkrong pemuda di malam hari. Hampir setiap malam kondisi di sana sepi, jam 9 malam tanda-tanda kehidupan berkurang drastis, kecuali para kodok, jangkrik, dan hewan malam lainnya. Namun, hal tersebut tidak berlaku di ujung pojok utara kampung, selalu diisi keramaian para pemuda di setiap malamnya. Awalnya heran ketika tuan rumah tidak ada di sana, hanya diisi oleh kawan-kawan kampung tetangga. Ternyata dia sedang yasinan rutin malam jumat di kampung. Membuatku malu, karena saya tidak ikut serta dalam yasinan di minggu pertama saya tiba di Yogya. Sebenarnya karena lupa hari, lebih tepatnya salah menghitung hari. Saya kira hari pertama datang di Yogya adalah hari senin, padahal sebenarnya hari selasa, jadi waktu yasinan pun saya anggap dilaksanakan esok hari. Dasar pengangguran sejati, sampai lupa tanggal. Beruntungnya kawan-kawan sekampung setelah pulang dari acara tidak salah paham kepadaku, maksudnya salah paham bahwa saya menghindar dari yasinan rutin. Bahkan salutnya mereka menjamuku dengan baik.
 
Kelompok terakhir dalam agenda menjaga ikatan adalah semua kawan yang dikenal di kawasan perantauan, di luar kelompok Sastra Arab atau tetangga kampung. Cukup sulit mendatangi mereka, karena kebanyakan mereka sibuk dengan urusan pribadinya, tidak sepertiku yang kapan pun bisa ditemui. Beberapa kawan bisa ditemui, dan membuatku kaget ketika dengar informasi dari mereka. Ternyata lumayan banyak kawan yang telah ujian skripsi, padahal saya pergi dari Yogya hanya sekitar 2 bulan, dan progres skripsi mereka masih jauh dari selesai sebelum saya pergi. Selain itu, banyak informasi lain yang saya dapat dari kawan-kawan, tetapi bukan hal menarik, yang penting tujuanku menjaga ikatan sudah terlaksana.
 
Sebenarnya masih banyak agenda lain, tetapi dalam tulisan ini mau dibatasi hanya 3 agenda. Agenda terakhir adalah gilas habis penulisan skripsi, agenda wajib yang selama ini saya jadikan agenda sekunder. Keputusanku untuk kembali ke Yogya disertai dengan pertimbangan yang berat. Nenekku belum pulang dari rumah sakit, dan sebenarnya keberadanku masih sangat dibutuhkan di Bandung. Maka dari itu, pergi ke Yogya harus menghasilkan hal yang sangat baik, minimal skripsi bisa selesai dalam waktu yang singkat, supaya saya bisa kembali ke Bandung jika seandainya keluarga masih membutuhkan jasaku.
 
Menyelesaikan skripsi jadi membuatku sangat terpacu ketika menyadari bahwa kehidupanku di Yogya yang sekarang hanya sekedar omong kosong. Hal tersebut saya sadari ketika menjalankan agenda menjaga ikatan sosial di minggu pertama. Kesadaran yang muncul begitu saja dalam benak, seperti ada bisikan bahwa apa yang saya lakukan tidaklah baik. Sederhananya, tidak ada satu pun hal yang mesti saya pertahankan di tanah Yogya. Awalnya, saya mau menjalankan beberapa aktifitas untuk mengobati rasa jenuh di samping penggarapan skripsi. Namun, setelah saya berkeliling menemui kawan, bagiku melakukan aktifitas lain adalah konyol. Kawan-kawanku yang tersisa di Yogya, mereka memiliki kepentingan pribadi selain menyelesaikan studi, sementara saya tidak. Jika seandainya saya mencari/melakukan aktifitas lain, maka hanya akan memperlambat penyelesaian skripsi, membuatku semakin terpuruk dalam menjalani hidup.
 
Walaupun masih banyak kawan, tetapi nyatanya saya merasa hidup sendiri. Dalam masa ini, saya merasakan tidak adanya kepedulian antar kawan, masing-masing fokus pada kegiatan pribadi. Omong kosong jika sebelumnya ada yang menyatakan teman seperjuangan saling berbagi manis-pahitnya kehidupan, karena pada nyatanya hampir setiap orang hanya fokus pada urusan pribadi, tak peduli nasib kawan. Tidak seperti ketika masih dalam masa perkuliahan, setidaknya sekali dalam seminggu kami berkumpul hanya untuk berbagi canda tawa, dan saling membantu jika ada satu orang yang merasa kesulitan.
 
Selama satu semester sebelumnya, saya merasa bertindak bodoh. Seperti merasa bahwa ada yang harus dipertahankan sehingga membuatku memutuskan untuk diam lebih lama di Yogya. Ujungnya, skripsi pun terlantar, kadang digarap, tetapi tanpa jiwa. Satu semester yang sia-sia, padahal sebenarnya saya mampu menyelesaikan di semester kemarin, karena pada dasarnya setiap orang mampu menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat jika dikerjakan sungguh-sungguh. Saya juga aneh kenapa dulu merasa ada yang mesti dipertahankan di Yogya, merasa harus memperlambat penyelesaian studi. Entah apa yang dulu saya pikirkan, sekarang pun saya sendiri tidak tahu alasan apa yang membuatku merasa ada yang mesti dipertahankan. Bahkan perasaan tersebut masih terasa sampai kemarin dalam perjalanan menuju Yogya. Bersyukur perasaan tersebut sirna ketika saya berkeliling menemui kawan-kawan. Mungkin itu rahasia Tuhan dalam mencintai makhluk-Nya. Pikiran positifku menyatakan bahwa Tuhan membukakan pintu kesadaran kepadaku yang sebelumnya tidak saya sadari.
 
Sebenarnya dulu saya pernah memutuskan untuk segera menyelesaikan skripsi, kemudian mengakhiri kehidupanku di Yogya. Namun, entah mengapa selalu datang perasaan bahwa ada yang mesti dipertahankan sehingga memperlama masa studi. Jika memikirkan masa lalu yang belum terlalu lama, saya merasa hidupku yang dulu berantakan. Padahal dulu saya merasa hidupku cukup tertata. Pacar tidak punya, kegiatan hanya garap skripsi, bisa dikatakan bahwa hidupku nyaman tanpa ada hambatan. Namun, bayanganku sekarang tentang hidupku yang dulu jauh berbeda. Saya merasa hidupku yang dulu sedang dipermainkan setan, tidak menyadari apa yang dinamakan “baik” sekaligus “benar” bagi diri sendiri, padahal saya lumayan sering menulis tentang baik dan buruknya kehidupan.
 
---
Baik dan benar adalah relasi makna sinonimi yang memiliki nilai makna berbeda. Baik belum tentu benar, dan benar belum tentu baik. Adapun panduan hidup yang saya pilih adalah baik sekaligus benar.
---
 
Tidak ada yang mesti dipertahankan. Realitas di Yogya yang saya rasakan sekarang bahwa tidak ada yang peduli keberadaanku, tidak ada satupun yang membutuhkan jasaku. Maka dari itu, tidak ada alasan untuk memperlama hidup di Yogya. Cukup sampai di sini permainan konyol yang tidak memberikanku keuntungan, serta kekonyolan yang membuatku tidak menghasilkan karya bermanfaat bagi banyak orang. Saya tidak mau jadi orang yang pandai membuang waktu dan tidak berguna di dunia.
 
Selamat datang skripsi, dimulai dari sekarang lembaran kertas kosongmu akan selalu dipenuhi kehangatan.
 
Tidak ada yang mesti dipertahankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar