Di bulan April 2016 aku merasakan kembali nikmatnya salah satu kuliner lokal. Kupat tahu, makanan terakhir sebelum beberapa jam kemudian aku terkena tipes/tifus di masa lalu. Sudah berbulan-bulan, bahkan mungkin beberapa tahun, aku tidak merasakan nikmatnya kupat tahu. Bukan tidak mau atau menjadi makanan terlarang yang tidak boleh aku makan, tetapi aku bukan penggila kuliner, jadi makan seperlunya saja, tidak mau repot cari makan jauh-jauh.
Main ke tempat kawan ternyata ada manfaatnya. Kebetulan kawanku penggila kuliner, bahkan untuk mengisi perut kosong saja harus jauh-jauh cari tempat makan yang sedang dia inginkan. Kadang makan di tempat terdekat, tidak selamanya cari tempat jauh hanya untuk sekedar makan. Dia ajak aku makan siang, dan langsung saja mulutnya mengeluarkan bunyi kupat tahu. Aku juga anggap saran dia adalah ide cemerlang, karena sudah lama aku tidak merasakan indahnya rasa kupat tahu.
Tukang kupat tahu yang kawanku sarankan berada di jalan Godean, cukup jauh ke arah barat Tugu Yogya. Seperti tukang kupat tahu pada umumnya, tempat jualannya pakai gerobak dengan tempat duduk seadanya. Kondisinya pun kurang bersih dan rapih, masih kalah jika dibandingkan dengan warung burjo. Kata kawanku, tukang kupat tahu yang paling dekat dengan kawasan kampus hanya berada di sana. Aku percaya saja, dia cukup handal dalam hal wisata kuliner, walaupun sedikit ragu karena aku pikir ada tukang kupat tahu yang lebih dekat dengan daerah kampus dan mungkin tempatnya agak tersembunyi di gang kecil.
Kupat tahu di sana menurutku tidak jauh beda dengan kupat tahu yang biasa aku makan di Cicalengka-Bandung. Membuatku merasa bernostalgia di masa lalu. Harganya pun masih terhitung dalam batas wajar, hanya 9 ribu sudah plus bakwan (@Sunda: bala-bala). Namun, dari segi rasa, aku rasa sedikit berbeda, dan nikmatnya pun lebih baik kupat tahu yang berada di kampung halaman. Mungkin lidahku Sunda, jadi lebih suka makanan buatan Sunda. Sedikit perbedaan yang aku rasakan adalah aroma dan rasa. Kupat tahu kampung halaman memiliki aroma yang khas, seperti aroma kacang atau rempah-rempah. Rasanya pun agak ada kacang-kacangnya. Semua itu tidak aku rasakan pada kupat tahunya Yogya. Sebenarnya tak peduli pada perbedaan tersebut, yang penting wareg dan cocok di lidah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar