Sabtu, 09 April 2016

KOTA IDAMAN

Kota idaman sakit
Udara tercemar, terkubur pepohonan
Air pipa rasanya pahit
Tanah membatu tak subur, menyamankan pijakan

Hijrah ke desa bukanlah pilihan
Pepohonan pasti ditumbangkan
Tanah subur dikeraskan
Air pipa pun jadi sumber kehidupan

Desakan saja kota idaman
Halaman rumah cukup untuk menumbuhkan beringin
Tanahkan kembali kakunya pijakan
Biar bumi tak jatuh miskin

-Marwan Hadid-
***
Puisi tersebut disusun untuk ikut serta dalam sayembara pembukuan antologi puisi, tetapi gagal diterima pada tahap seleksi. Dari dua puisi yang ditawarkan, hanya puisi Pohonku Bicara yang diterima, dan tidak tahu keberlanjutannya seperti apa, tidak ada informasi lebih lanjut mengenai antologi yang sudah dibukukan, tak paham bentuk bukunya seperti apa. Padahal dulu dapat undangan, tetapi saya malas datang, berat di ongkos, lagipula jika ada informasi penting bisa disampaikan lewat email.
Walaupun tidak ada informasi pembagian royalti, tetapi bersyukur satu judul puisi dapat diterima. Bahkan sangat beruntung karena saingannya sangat banyak, dan sebagian peserta sudah berpengalaman di bidang puisi yang di antaranya terdapat para sastrawan. Adapun saya, menulis puisi hanya kegiatan iseng-iseng saja, dan jelas bukanlah penyair yang mahir menyusun puisi.

Penulisan puisi tersebut tidaklah mudah, tidak biasanya disusun berhari-hari, karena emosiku sedang tidak sesuai dengan tema yang ditawarkan. Biasanya, saya menulis puisi dalam waktu singkat, karena tema puisi yang ditulis sesuai dengan kondisi hati. Jika menulis puisi dengan emosi yang tidak sesuai tema, hasilnya pun kurang memuaskan, walaupun disusun dalam waktu yang lama. Wajar jika puisi tidak lolos tahap seleksi, karena saya merasa bahwa kedua puisi yang diikutkan sayembara tidak enak dibaca, amburadul, terkesan memaksakan diri mengikuti aturan penulisan puisi, tidak lepas. Saya merasakan hal seperti itu ketika membaca ulang puisi setelah beberapa bulan tidak membaca. Salah satu caraku menilai tulisan sendiri adalah tidak membacanya dalam waktu yang lama, dan di kemudian hari dibaca lagi, pasti hasilnya ada beberapa kata yang tidak sesuai dengan kata hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar