Sabtu, 05 Maret 2016

WHILE MY GUITAR GENTLY WEEPS

Mohon maaf, bukan bermaksud untuk membahas lagunya The Beatles. Secara nada memang saya suka lagu While My Guitar Gently Weeps. Lagu yang pertama kali terdengar bukan dari penyanyi asalnya, bahkan awalnya tidak tahu jika itu lagunya The Beatles, dan sampai sekarang tidak cocok jika mendengarkan lagu tersebut dari The Beatles. Dulu secara tidak sengaja menemukan lagu tersebut ketika dibawakan oleh Santana feat. India Arie, dan langsung terpanah asmara sampai jadi salah satu playlist terbaik di telinga. Sekarang saya coba menghindari lagu tersebut. Bosan bukanlah penyebabnya, tetapi karena tersiratnya makna yang berhubungan dengan satanic, dan hal tersebut tidak mudah disadari jika tidak ditelusuri lebih detail. Sedikit pun tak sudi memuji setan, lebih tak sudi lagi jika memujanya, my biggest enemy. Setan sudah beberapa kali menghancurkan hidupku. Tidak ada sedikit pun ruang kosong untuk memaafkannya.

Ini bukanlah tentang lagu, tetapi kisah diriku bersama beberapa bongkah gitar. Music is my soul, sebenarnya terlalu berlebihan jika menyamakan musik dengan jiwa. Lebih tepatnya, bagiku musik seperti jati diri. Apa bedanya jiwa dengan jati diri? Saya bingung, lebih baik saya pilih istilah jati diri saja. Ketika semangat, musik cadas dimainkan, dan ketika agak sedih, musik sendu mendayu dimainkan. Kok jadinya seperti suasana hati ya? Memang itu suasana hati, tetapi dekat hubungannya dengan jiwa dan jati diri. Namun, ada yang lebih menggambarkan jati diri terlepas dari suasana hati. Ahh... sulit meluapkannya. Supaya lebih mudah dan tidak membuat saya bingung, mari bedakan dahulu suasana hati dengan jati diri. Suasana hati adalah emosi, berupa senang, sedih, marah, dsb. Adapun jati diri, lebih mengarah pada prinsip hidup. Misal, ketika sedih, maka dipilih tegar sebagai ekspresi yang ditampakkan; ketika senang, sedih, dan marah, maka ekspresi yang ditampakkan selalu datar; ketika dikhianati, maka selalu pilih untuk memaafkan. Itulah sekilas ngawur dari saya mengenai suasana hati dan jati diri.

Terus, bagaimana jati diri pada musik yang saya maksud? Banyak aspek yang terlibat pada bagian ini. Ok, mari uraikan secuil demi secuil. Pertama, berdasarkan aspek genre dan gaya nada. Saya bukan pecinta grup band/penyanyi solo. Belum pernah dalam sejarah kehidupan pribadi menyukai setiap lagu dalam satu album. Paling hanya menyukai beberapa lagu. Dengan kata lain, saya menyukai musik, entah bergenre apa, dari pop sampai hardcore, yang jelas ketika cocok di telinga maka saya suka. Musik yang disukai berdasarkan penyaringan gaya nada. Tidak setiap pop saya suka, tidak setiap rock saya suka, tidak setiap bossanova saya suka, hanya sebagian saja yang saka suka. Gaya nada inilah yang tidak bisa saya jelaskan. Setiap orang menyukai gaya nada yang berbeda. Seperti yang tadi sedikit disinggung, mungkin banyak orang lebih menyukai lagu While My Guitar Gently Weeps ketika dibawakan oleh The Beatles, tetapi saya lebih memilih ketika dibawakan oleh Santana feat. India Arie. Gaya nada adalah tentang feel, taste, habit, addict, dan simbiosis komensalisme, apa sih...!?

Kedua, berdasarkan suasana hati, hal yang terjadi karena adanya hubungan dengan dunia luar. Mau tidak mau tetap saja dunia luar dirasakan manusia, kecuali jika mati. Sudah dijelaskan bahwa suasana hati adalah emosi. Jangan salah paham, banyak kalangan memahami emosi hanya sebatas marah saja, padahal emosi adalah istilah bagi berbagai perasaan. Kadang musik saya gunakan untuk menikmati kegalauan, kadang digunakan untuk keluar dari zona galau, kadang untuk menikmati nada, kadang dipakai sebagai penyemangat aktifitas. Getaran dan ritme musik mampu merangsang otak. Itulah yang saya rasakan, dan mungkin dalam perangsangan otak sebagian besar dipengaruhi oleh sugesti, bukan karena getaran dan ritme.

Ketiga, berdasarkan lirik. Ada beberapa lagu yang nadanya kurang cocok di telinga, tetapi saya suka disebabkan faktor lirik. Seperti itulah musik dalam sudut pandangku, di dalamnya terdapat beberapa unsur sebagai pembentuk sebuah bangun. Setiap unsur saling melengkapi, membantu, mengganti kekosongan. Sehingga ketika nada kurang pas, maka lirik pun muncul lebih dominan demi menutupi kekurangan nada. Di balik itu, banyak juga yang nada dan liriknya sama-sama enak, musik yang luar biasa. Saya banyak belajar menyikapi kehidupan dari lirik, seperti lirik-liriknya Iwan Fals (termasuk Swami & Kantata). Lirik-lirik Homicide, terutama Ucok a.k.a Morgue Vanguard baik ketika di dalam maupun di luar Homicide. Ada juga lirik yang membuatku menjadi religius. Bahkan liriknya Raisa pun saya jadikan pelajaran, ketika mengalami masa galau, Apalah (Arti Menunggu), ya e laaaaaahhh...!

Mungkin masih banyak aspek lain yang belum saya sadari dalam hubungannya dengan jati diri. Aspek-aspek tersebut menunjukkan bahwa saya adalah korban, dan karena hal tersebut ujungnya malah merambah ke dunia alat musik sebagai pelaku. Memainkan alat musik pun menjadi jati diri disebabkan pengaruh musik yang biasa didengar. Gaya memainkan alat musik tentunya sama dengan gaya nada yang biasa diterima telinga. Musik, baik ketika posisiku sebagai korban ataupun pelaku, semuanya sudah seperti jati diri. Biar tidak ada yang salah paham, maka saya tekankan kata SEPERTI, karena jati diriku yang sebenarnya bukan hanya berupa musik, tetapi berbagai unsur tak terhingga.

Saya cukup banyak terlibat dengan berbagai alat musik. Untuk kali ini, gitarlah yang menjadi pokok pembicaraan. Memainkan gitar, gitar dimainkan, dan gitar merasa dipermainkan, tiga sudut pandang yang tidak lazim bagi kebanyakan orang. Biasanya hanya dua sudut pandang, memainkan dan dimainkan, tanpa dipermainkan. Gitar akustik fender adalah gitar pertamaku, saya beli bekas dari teman. Sudah lama saya menginginkan gitar, tetapi keluarga kurang mendukung. Ketika ada kesempatan, baik dari segi finansial (hasil dari menabung) maupun penawaran barang, maka gitar pun beralih ke tangan saya sebagai majikan barunya. Fenderlah yang pertama kali membantuku sehingga jari dapat menari sesuai aturan nada di atas neck gitar. Sayangnya, majikannya yang dulu menginginkan kembali gitar tersebut, dan saya pun memberikannya, dengan alasan sebagai ucapan terima kasih karena dulu mau menjual gitarnya dengan harga murah. Tentunya dibarter dengan uang yang nominalnya persis seperti dulu.

Memang dasar seperti jati diri, sepertinya terasa ada yang kosong jika tidak ada gitar. Gitar baru pun dibeli, merek abal-abal, identitas kayu tidak jelas. Di toko rasanya benar memilih gitar, tetapi kok beda setelah sampai di rumah. Fals, sangat sangat sangat fals. Kebodohanku mengembalikan gitar yang bagus ke teman, dan membeli gitar baru yang tidak lebih murah dan tidak lebih baik dari gitar pertamaku. Mau ditukar ke toko, males, sebenarnya faktor kecewa, tidak mau lagi masuk ke toko tersebut walaupun hanya sebatas tukar barang. Walaupun cacat, tetapi cinta, dan karena cinta itulah sampai sekarang saya bersama gitar fals satu hati. Orang lain banyak mengeluh ketika memainkan gitarku, tetapi saya menikmatinya sepenuh hati. Senada. Gitar yang hanya tunduk pada majikannya.

Dari gitar itulah penguasaanku pada nada mulai berkembang. Tidak hanya membuat jari menari di atas neck, tetapi menjadikan jari tangan yang lain kenal memetik. Sampai akhirnya tertarik dengan gaya permainan klasik. Bagiku itu sangat menarik, karena permainan gitar klasik cukup rumit. Seperti adanya lebih dari satu gitar ketika memainkan satu gitar. Berbagai nada keluar secara bersamaan dalam satu waktu pada satu gitar. Sayangnya, baru menguasai beberapa judul permainan klasik, saya harus rela berpisah dengan gitar karena mulai bosan.

Belum selesai dengan urusan permainan gitar klasik, malah kepincut dengan gitar bass elektrik. Dari sinilah akar “dipermainkan” terjadi. Bagaimana merasa tidak dipermainkan, gitar fals yang hanya tunduk pada majikannya dikhianati oleh saya dengan membeli dan memainkan gitar bass elektrik. Jangan salah paham, kisah sebenarnya akan dijelaskan. Saya maniak musik bukan baru-baru ini. Dari TK sudah kenal dengan musik. Di masa SD sudah dengar musik pop dan rock, bahkan sempat tertarik dengan musik metal yang didengar sore hari di radio. Untuk pop, rock, ska, dll bahkan punya kasetnya, kaset tape yang pake pita, dan tentunya ori. Teringat ketika suka dengar lagunya Padi, album pertama, sampai diputar berulang-ulang. Dari sanalah mulai suka dengan bass, terjadi begitu saja ketika dengar lagu Seperti Kekasihku. Sampai selalu berkhayal, suatu hari saya akan memainkan bass pada lagu tersebut. Jadi, sebenarnya gitar basslah yang pertama kali ingin saya miliki. Keinginan tersebut tidak pernah hilang sampai benar-benar punya gitar bass elektrik.

Kata “dipermainkan” lagi-lagi terjadi. Berarti total dipermainkan adalah dua kali. Apa mungkin saya berbakat untuk selingkuh? Hmmm... tidak, pacar saja tidak punya, menyedihkan, bahkan dulu cinta pertama pun menjauh, dan sekarang saya adalah sejenis manusia yang fobia asmara karena trauma, tidak mau ada cinta kedua, ketiga, ataupun kesekian, hanya menginginkan cinta terakhir. Belum selesai urusan dengan gitar bass, belum menguasai berbagai nada dan teknik memainkan, malah dihadapkan dengan gitar elektrik. Entah mengapa, rasanya tidak bisa melenyapkan perhatian pada gitar elektrik. Mungkin inilah yang dimaksud dengan musik seperti jati diri. Apapun wujudnya, semuanya dilahap. Jadi intinya yang saya inginkan adalah memainkan semua jenis gitar dengan berbagai jenis teknik permainan, baik klasik, akustik, elektrik, bass, dsb.

Pada dasarnya, saya tidak suka nge-band, tetapi selalu berkhayal mempunyai grup band. Tidak suka nge-band karena bagiku itu tidak sederhana. Mengumpulkan partner yang sehati tidaklah mudah. Sampai sekarang belum menemukan yang sesuai. Maka dari itu, saya bikin sendiri saja, yang personilnya adalah diri sendiri. Sekarang teknologi sudah maju, berbagai alat musik dapat dimainkan satu orang, kemudian digabungkan menjadi satu bangun musik, dan semua proses dilakukan sendiri. Bagiku tidak masalah sudah mengkhianati gitar akustik dan bass elektrik sehingga keduanya merasa dipermainkan. Toh ujung-ujungnya mereka bakal jadi satu bangun musik yang saya kerjakan.

Pernah suatu hari saya menyatakan untuk menjauhi musik, karena lebih banyak dampak negatif daripada positif. Memang dasar sudah seperti jati diri, tetap saja kembali ke musik. Sulit untuk mengubah, seperti mengganti kebiasaan kidal yang sudah akut ke tangan kanan. Tidak terlalu buruk, lagi pula bisa garap musik kritik, musik yang mengarahkan pada suatu kebenaran di luar roman. Asal porsinya tidak melebihi perhatian kepada Tuhan, keluarga, dan kemanusiaan.

Untuk sekarang, perhatian dilebihkan pada gitar elektrik. Kasihan, dia cacat, kurang gizi. Neck rengat, untungnya belum parah, tetapi tetap saja khawatir, mungkin diberi baud biar umurnya sedikit panjang. Fret sebagian besar aus, sudah semestinya refret, tetapi bisa diakali dengan meninggikan saddles. Sempat berencana ganti neck, tentunya sepaket dengan fret, tetapi rasanya sayang karena alasan neck kesayangan dengan jumlah fret 21 yang cukup jarang di pasaran, lebih tepatnya kurang diminati. Semakin jarang, semakin membuatku tertarik. Posisi dryer yang asal tempel, membuat mataku perih, estetikanya kurang diperhatikan. Memang tidak bermasalah untuk senar, tetapi tetap saja tidak nyaman ketika melihat dryer yang asal tempel. Pemasangan bridge asal tempel, bahkan bengkok, tidak masalah untuk nada, tetapi tetap bagiku tidak nyaman. Ditambah lagi settingan saddles yang tidak rapih, naik turun mirip gunung, ditambah nada tidak pas yang mengharuskan tarik ulur saddles. Cat secara keseluruhan adalah sangat buruk. Tidak perlu cat ulang, biaya mahal, lebih baik saya bikin ukiran tanpa mengubah cat. Hasil ukiran tangan lebih berkelas daripada air brush, itu juga jika ukirannya bagus. Wiring sangat buruk, bahkan tidak ada ground ke bridge, tetapi anehnya soundnya rapih, memang hebat orang yang dulu wiring si gitar. Potensio dan pick up tidak jelas, kecuali untuk pick up agak lumayan.

Jadi ceritanya sekarang mau rombak habis-habisan si gitar elektrik. Sebagian rencana rombak sudah disebutkan tadi. Yang lain, untuk body benar-benar kacau, bikin rumah pick up seenaknya, tidak ada rapihnya sama sekali. Sudah selayaknya dibuang, tetapi bukan rombak namanya jika harus dibuang. Rumah pick up yang terlanjur dibuat asal-asalan oleh pemiliknya yang dulu harus ditutup kembali, maksudnya dirapihkan selayak-layaknya. Caranya? Itu kan kayu, bukan tembok yang seenaknya bisa ditambal. Bukan masalah, caranya bikin adonan bubur kayu dengan campuran lem kayu, dibuat sekental mungkin. Cara gila sekaligus menjadikan gitar sebagai kelinci percobaan.

Pick up bawaannya dua humbucker standar, dan tidak tahu mana yang bridge serta mana yang neck. Bakal kacau. Tak usah panik, namanya juga humbucker standar, jadi pakai di posisi mana saja tidak masalah, dari awalnya sudah kualitas standar. Pokoknya, yang terlihat pick up agak berkelas ditaruh di bridge, dan yang kurang menarik tampilan luarnya ditaruh di neck. Untuk masalah pick up, sedikit mau bikin percobaan gila. Saya punya pick up bass bridge tidak dipakai, kualitas lokal, bekasnya gitar bass. Rencananya mau pasang di gitar elektrik posisi middle, dan mengharuskan untuk membuat rumah baru buat pick up baru. Alatnya tidak ada, mungkin harus tunggu sebulan sampai bisa beli bor set listrik. Pick up gitar yang diharuskan untuk bridge saja tidak layak untuk dijadikan middle, kalau yang neck bisa dipakai di middle, sekarang masalahnya pick up bass bridge mau dipakai di gitar elektrik posisi middle. Aneh bin mustahil. Namun, tidak patut berkomentar sebelum dicoba. Bayanganku biar soundnya agak ngebass, kayak sound gitarnya Metallica, jzeg.. jzeg.. jzeg.. jzeg... Sebenarnya masalah sound bass atau treble lebih didominasi oleh pengaturan ampli. Dasar sayanya saja mau bikin kelinci percobaan pada gitar cacat. Harapannya si gitar bisa bersaing dengan gitar les paul termahal sedunia, ha.. ha.. khayal!

Untuk wiring akan dibuat jauh berbeda dengan bawaannya yang dulu, dan yang dulu buang saja karena identitas potensio yang misterius sekaligus jalur kabelnya yang seperti benang kusut. Rencananya akan membuat 3 pick up (neck, middle, bridge), 3 volume controls, 1 master tone control berkapasitor, dengan 3 way pick up selector. Sedikit tambahan aneh, dipasang switch on-off yang dipasang tepat dibawah pick up middle. Tujuannya supaya pick up middle yang diambil dari gitar bass bisa hidup mati, karena posisi pick up middle dengan 3 way pick up selector akan selalu hidup, dan untuk meminimalisir kekacauan sound karena perlakuan tidak lazim seperti memasang pick up bass bridge di gitar elektrik posisi middle. 

Pembedahan gitar dilakukan sampai terurai semua bagian, kecuali bagian-bagian kecil yang tidak perlu diuraikan. Proses mutilasi dilakukan dengan alat sederhana. Yap.. saya miskin perkakas, jadi gunakan yang bisa digunakan dari dapur.

Sebagian Organ Gitar Beserta Perkakas (Dok. Pribadi)

Sisanya, dijemur beberapa jam dan didiamkan beberapa hari, kemudian direndam beberapa menit dan dicuci menggunakan pasta gigi beserta sikatnya. Sudah kayak gigi aja ya, biar flek-flek hitam dan kuning hilang seketika, dan terlindungi dari kuman selama 12 jam ha.. ha... Apa mungkin kuman mempengaruhi kualitas suara ya? Karena dia bersifat menyerap suara, sehingga yang harusnya gitar bersuara nyaring, jadi kurang mantap suaranya. Alibi! Sudah jelas bahan gitar kurang bagus.

Pembersihan Sebagian Organ Gitar Dengan Pasta Gigi Beserta Sikatnya (Dok. Pribadi)

Hasil Pencucian (Dok. Pribadi)

Bagaimana? Hasilnya menyilaukan mata. Like new, it’s clean, I like it because it’s clean. Tetap saja gitar butut. Masalah baru pun muncul, mesti dikeringkan sekering mungkin. Kayu gitar yang baik adalah yang kering, bahkan sebagian produsen mengeringkannya dengan cara dioven supaya mendapatkan tingkat kekeringan yang memuaskan. Adapun saya, benar-benar dungu. Sudah bagus-bagus gitar kering, wajar kayu tua, malah direndam dan dicuci seenaknya. Kan jadinya harus dikeringkan lagi Pak! Bukan tanpa alasan, ini adalah bentuk kepedulian saya pada gitar, kasihan dia seumur hidup belum pernah mandi. Biar sehat saja, kan dengan mandi bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh. 

Sepertinya bersambung saja... jika sempat, gambar dan kelanjutan cerita akan menyusul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar