Ini bukanlah tentang lagu, tetapi kisah diriku bersama beberapa
bongkah gitar. Music is my soul, sebenarnya terlalu berlebihan jika
menyamakan musik dengan jiwa. Lebih tepatnya, bagiku musik seperti jati diri.
Apa bedanya jiwa dengan jati diri? Saya bingung, lebih baik saya pilih istilah
jati diri saja. Ketika semangat, musik cadas dimainkan, dan ketika agak
sedih, musik sendu mendayu dimainkan. Kok jadinya seperti suasana hati ya?
Memang itu suasana hati, tetapi dekat hubungannya dengan jiwa dan jati diri.
Namun, ada yang lebih menggambarkan jati diri terlepas dari suasana hati. Ahh...
sulit meluapkannya. Supaya lebih mudah dan tidak membuat saya bingung, mari bedakan
dahulu suasana hati dengan jati diri. Suasana hati adalah emosi, berupa senang,
sedih, marah, dsb. Adapun jati diri, lebih mengarah pada prinsip hidup. Misal,
ketika sedih, maka dipilih tegar sebagai ekspresi yang ditampakkan; ketika
senang, sedih, dan marah, maka ekspresi yang ditampakkan selalu datar; ketika
dikhianati, maka selalu pilih untuk memaafkan. Itulah sekilas ngawur dari saya
mengenai suasana hati dan jati diri.
Terus, bagaimana jati diri pada musik yang saya maksud?
Banyak aspek yang terlibat pada bagian ini. Ok, mari uraikan secuil demi
secuil. Pertama, berdasarkan aspek genre dan gaya nada. Saya bukan pecinta grup
band/penyanyi solo. Belum pernah dalam sejarah kehidupan pribadi menyukai
setiap lagu dalam satu album. Paling hanya menyukai beberapa lagu. Dengan kata
lain, saya menyukai musik, entah bergenre apa, dari pop sampai hardcore, yang
jelas ketika cocok di telinga maka saya suka. Musik yang disukai berdasarkan
penyaringan gaya nada. Tidak setiap pop saya suka, tidak setiap rock saya suka,
tidak setiap bossanova saya suka, hanya sebagian saja yang saka suka. Gaya nada
inilah yang tidak bisa saya jelaskan. Setiap orang menyukai gaya nada yang
berbeda. Seperti yang tadi sedikit disinggung, mungkin banyak orang lebih
menyukai lagu While My Guitar Gently Weeps ketika dibawakan oleh The Beatles,
tetapi saya lebih memilih ketika dibawakan oleh Santana feat. India Arie. Gaya
nada adalah tentang feel, taste, habit, addict, dan simbiosis
komensalisme, apa sih...!?
Kedua, berdasarkan suasana hati, hal yang terjadi karena
adanya hubungan dengan dunia luar. Mau tidak mau tetap saja dunia luar
dirasakan manusia, kecuali jika mati. Sudah dijelaskan bahwa suasana hati
adalah emosi. Jangan salah paham, banyak kalangan memahami emosi hanya sebatas
marah saja, padahal emosi adalah istilah bagi berbagai perasaan. Kadang musik
saya gunakan untuk menikmati kegalauan, kadang digunakan untuk keluar dari zona
galau, kadang untuk menikmati nada, kadang dipakai sebagai penyemangat
aktifitas. Getaran dan ritme musik mampu merangsang otak. Itulah yang saya
rasakan, dan mungkin dalam perangsangan otak sebagian besar dipengaruhi oleh
sugesti, bukan karena getaran dan ritme.
Ketiga, berdasarkan lirik. Ada beberapa lagu yang nadanya
kurang cocok di telinga, tetapi saya suka disebabkan faktor lirik. Seperti
itulah musik dalam sudut pandangku, di dalamnya terdapat beberapa unsur sebagai
pembentuk sebuah bangun. Setiap unsur saling melengkapi, membantu, mengganti
kekosongan. Sehingga ketika nada kurang pas, maka lirik pun muncul lebih
dominan demi menutupi kekurangan nada. Di balik itu, banyak juga yang nada dan
liriknya sama-sama enak, musik yang luar biasa. Saya banyak belajar menyikapi kehidupan
dari lirik, seperti lirik-liriknya Iwan Fals (termasuk Swami & Kantata). Lirik-lirik
Homicide, terutama Ucok a.k.a Morgue Vanguard baik ketika di dalam maupun di
luar Homicide. Ada juga lirik yang membuatku menjadi religius. Bahkan liriknya
Raisa pun saya jadikan pelajaran, ketika mengalami masa galau, Apalah (Arti
Menunggu), ya e laaaaaahhh...!
Mungkin masih banyak aspek lain yang belum saya sadari dalam
hubungannya dengan jati diri. Aspek-aspek tersebut menunjukkan bahwa saya
adalah korban, dan karena hal tersebut ujungnya malah merambah ke dunia alat
musik sebagai pelaku. Memainkan alat musik pun menjadi jati diri disebabkan
pengaruh musik yang biasa didengar. Gaya memainkan alat musik tentunya sama
dengan gaya nada yang biasa diterima telinga. Musik, baik ketika posisiku
sebagai korban ataupun pelaku, semuanya sudah seperti jati diri. Biar tidak ada
yang salah paham, maka saya tekankan kata SEPERTI, karena
jati diriku yang sebenarnya bukan hanya berupa musik, tetapi berbagai unsur tak
terhingga.
Saya cukup banyak terlibat dengan berbagai alat musik. Untuk
kali ini, gitarlah yang menjadi pokok pembicaraan. Memainkan gitar, gitar
dimainkan, dan gitar merasa dipermainkan, tiga sudut pandang yang tidak lazim
bagi kebanyakan orang. Biasanya hanya dua sudut pandang, memainkan dan
dimainkan, tanpa dipermainkan. Gitar akustik fender adalah gitar pertamaku,
saya beli bekas dari teman. Sudah lama saya menginginkan gitar, tetapi keluarga
kurang mendukung. Ketika ada kesempatan, baik dari segi finansial (hasil dari
menabung) maupun penawaran barang, maka gitar pun beralih ke tangan saya
sebagai majikan barunya. Fenderlah yang pertama kali membantuku sehingga jari
dapat menari sesuai aturan nada di atas neck gitar. Sayangnya, majikannya yang
dulu menginginkan kembali gitar tersebut, dan saya pun memberikannya, dengan
alasan sebagai ucapan terima kasih karena dulu mau menjual gitarnya dengan
harga murah. Tentunya dibarter dengan uang yang nominalnya persis seperti dulu.
Memang dasar seperti jati diri, sepertinya terasa ada yang
kosong jika tidak ada gitar. Gitar baru pun dibeli, merek abal-abal, identitas
kayu tidak jelas. Di toko rasanya benar memilih gitar, tetapi kok beda setelah
sampai di rumah. Fals, sangat sangat sangat fals. Kebodohanku mengembalikan
gitar yang bagus ke teman, dan membeli gitar baru yang tidak lebih murah dan
tidak lebih baik dari gitar pertamaku. Mau ditukar ke toko, males, sebenarnya
faktor kecewa, tidak mau lagi masuk ke toko tersebut walaupun hanya sebatas
tukar barang. Walaupun cacat, tetapi cinta, dan karena cinta itulah sampai
sekarang saya bersama gitar fals satu hati. Orang lain banyak mengeluh ketika
memainkan gitarku, tetapi saya menikmatinya sepenuh hati. Senada. Gitar yang
hanya tunduk pada majikannya.
Dari gitar itulah penguasaanku pada nada mulai berkembang.
Tidak hanya membuat jari menari di atas neck, tetapi menjadikan jari tangan
yang lain kenal memetik. Sampai akhirnya tertarik dengan gaya permainan klasik.
Bagiku itu sangat menarik, karena permainan gitar klasik cukup rumit. Seperti
adanya lebih dari satu gitar ketika memainkan satu gitar. Berbagai nada keluar
secara bersamaan dalam satu waktu pada satu gitar. Sayangnya, baru menguasai
beberapa judul permainan klasik, saya harus rela berpisah dengan gitar karena
mulai bosan.
Belum selesai dengan urusan permainan gitar klasik, malah
kepincut dengan gitar bass elektrik. Dari sinilah akar “dipermainkan” terjadi.
Bagaimana merasa tidak dipermainkan, gitar fals yang hanya tunduk pada majikannya
dikhianati oleh saya dengan membeli dan memainkan gitar bass elektrik. Jangan
salah paham, kisah sebenarnya akan dijelaskan. Saya maniak musik bukan
baru-baru ini. Dari TK sudah kenal dengan musik. Di masa SD sudah dengar musik
pop dan rock, bahkan sempat tertarik dengan musik metal yang didengar sore hari
di radio. Untuk pop, rock, ska, dll bahkan punya kasetnya, kaset tape yang pake
pita, dan tentunya ori. Teringat ketika suka dengar lagunya Padi, album
pertama, sampai diputar berulang-ulang. Dari sanalah mulai suka dengan bass,
terjadi begitu saja ketika dengar lagu Seperti Kekasihku. Sampai selalu
berkhayal, suatu hari saya akan memainkan bass pada lagu tersebut. Jadi,
sebenarnya gitar basslah yang pertama kali ingin saya miliki. Keinginan
tersebut tidak pernah hilang sampai benar-benar punya gitar bass elektrik.
Kata “dipermainkan” lagi-lagi terjadi. Berarti total
dipermainkan adalah dua kali. Apa mungkin saya berbakat untuk selingkuh? Hmmm...
tidak, pacar saja tidak punya, menyedihkan, bahkan dulu cinta pertama pun
menjauh, dan sekarang saya adalah sejenis manusia yang fobia asmara karena
trauma, tidak mau ada cinta kedua, ketiga, ataupun kesekian, hanya menginginkan
cinta terakhir. Belum selesai urusan dengan gitar bass, belum menguasai
berbagai nada dan teknik memainkan, malah dihadapkan dengan gitar elektrik.
Entah mengapa, rasanya tidak bisa melenyapkan perhatian pada gitar elektrik.
Mungkin inilah yang dimaksud dengan musik seperti jati diri. Apapun wujudnya,
semuanya dilahap. Jadi intinya yang saya inginkan adalah memainkan semua jenis
gitar dengan berbagai jenis teknik permainan, baik klasik, akustik, elektrik,
bass, dsb.
Pada dasarnya, saya tidak suka nge-band, tetapi selalu
berkhayal mempunyai grup band. Tidak suka nge-band karena bagiku itu tidak
sederhana. Mengumpulkan partner yang sehati tidaklah mudah. Sampai sekarang
belum menemukan yang sesuai. Maka dari itu, saya bikin sendiri saja, yang
personilnya adalah diri sendiri. Sekarang teknologi sudah maju, berbagai alat
musik dapat dimainkan satu orang, kemudian digabungkan menjadi satu bangun
musik, dan semua proses dilakukan sendiri. Bagiku tidak masalah sudah
mengkhianati gitar akustik dan bass elektrik sehingga keduanya merasa
dipermainkan. Toh ujung-ujungnya mereka bakal jadi satu bangun musik yang saya
kerjakan.
Pernah suatu hari saya menyatakan untuk menjauhi musik,
karena lebih banyak dampak negatif daripada positif. Memang dasar sudah seperti
jati diri, tetap saja kembali ke musik. Sulit untuk mengubah, seperti mengganti
kebiasaan kidal yang sudah akut ke tangan kanan. Tidak terlalu buruk, lagi pula
bisa garap musik kritik, musik yang mengarahkan pada suatu kebenaran di luar
roman. Asal porsinya tidak melebihi perhatian kepada Tuhan, keluarga, dan
kemanusiaan.
Untuk sekarang, perhatian dilebihkan pada gitar elektrik.
Kasihan, dia cacat, kurang gizi. Neck rengat, untungnya belum parah, tetapi
tetap saja khawatir, mungkin diberi baud biar umurnya sedikit panjang. Fret
sebagian besar aus, sudah semestinya refret, tetapi bisa diakali dengan
meninggikan saddles. Sempat berencana ganti neck, tentunya sepaket dengan fret,
tetapi rasanya sayang karena alasan neck kesayangan dengan jumlah fret 21 yang
cukup jarang di pasaran, lebih tepatnya kurang diminati. Semakin jarang,
semakin membuatku tertarik. Posisi dryer yang asal tempel, membuat mataku
perih, estetikanya kurang diperhatikan. Memang tidak bermasalah untuk senar,
tetapi tetap saja tidak nyaman ketika melihat dryer yang asal tempel.
Pemasangan bridge asal tempel, bahkan bengkok, tidak masalah untuk nada, tetapi
tetap bagiku tidak nyaman. Ditambah lagi settingan saddles yang tidak rapih,
naik turun mirip gunung, ditambah nada tidak pas yang mengharuskan tarik ulur
saddles. Cat secara keseluruhan adalah sangat buruk. Tidak perlu cat ulang, biaya
mahal, lebih baik saya bikin ukiran tanpa mengubah cat. Hasil ukiran tangan
lebih berkelas daripada air brush, itu juga jika ukirannya bagus. Wiring sangat
buruk, bahkan tidak ada ground ke bridge, tetapi anehnya soundnya rapih, memang
hebat orang yang dulu wiring si gitar. Potensio dan pick up tidak jelas,
kecuali untuk pick up agak lumayan.
Jadi ceritanya sekarang mau rombak habis-habisan si gitar
elektrik. Sebagian rencana rombak sudah disebutkan tadi. Yang lain, untuk body
benar-benar kacau, bikin rumah pick up seenaknya, tidak ada rapihnya sama
sekali. Sudah selayaknya dibuang, tetapi bukan rombak namanya jika harus
dibuang. Rumah pick up yang terlanjur dibuat asal-asalan oleh pemiliknya yang dulu
harus ditutup kembali, maksudnya dirapihkan selayak-layaknya. Caranya? Itu kan
kayu, bukan tembok yang seenaknya bisa ditambal. Bukan masalah, caranya bikin
adonan bubur kayu dengan campuran lem kayu, dibuat sekental mungkin. Cara gila
sekaligus menjadikan gitar sebagai kelinci percobaan.
Pick up bawaannya dua humbucker standar, dan tidak tahu mana
yang bridge serta mana yang neck. Bakal kacau. Tak usah panik, namanya juga
humbucker standar, jadi pakai di posisi mana saja tidak masalah, dari awalnya sudah
kualitas standar. Pokoknya, yang terlihat pick up agak berkelas ditaruh di
bridge, dan yang kurang menarik tampilan luarnya ditaruh di neck. Untuk masalah
pick up, sedikit mau bikin percobaan gila. Saya punya pick up bass bridge tidak
dipakai, kualitas lokal, bekasnya gitar bass. Rencananya mau pasang di gitar
elektrik posisi middle, dan mengharuskan untuk membuat rumah baru buat pick up
baru. Alatnya tidak ada, mungkin harus tunggu sebulan sampai bisa beli bor set
listrik. Pick up gitar yang diharuskan untuk bridge saja tidak layak untuk
dijadikan middle, kalau yang neck bisa dipakai di middle, sekarang masalahnya
pick up bass bridge mau dipakai di gitar elektrik posisi middle. Aneh bin
mustahil. Namun, tidak patut berkomentar sebelum dicoba. Bayanganku biar
soundnya agak ngebass, kayak sound gitarnya Metallica, jzeg.. jzeg.. jzeg..
jzeg... Sebenarnya masalah sound bass atau treble lebih didominasi oleh
pengaturan ampli. Dasar sayanya saja mau bikin kelinci percobaan pada gitar
cacat. Harapannya si gitar bisa bersaing dengan gitar les paul termahal sedunia,
ha.. ha.. khayal!
Untuk wiring akan dibuat jauh berbeda dengan bawaannya yang dulu, dan yang dulu buang saja karena identitas potensio yang misterius sekaligus jalur kabelnya yang seperti benang kusut. Rencananya akan membuat 3 pick up (neck, middle, bridge), 3 volume controls, 1 master tone control berkapasitor, dengan 3 way pick up selector. Sedikit tambahan aneh, dipasang switch on-off yang dipasang tepat dibawah pick up middle. Tujuannya supaya pick up middle yang diambil dari gitar bass bisa hidup mati, karena posisi pick up middle dengan 3 way pick up selector akan selalu hidup, dan untuk meminimalisir kekacauan sound karena perlakuan tidak lazim seperti memasang pick up bass bridge di gitar elektrik posisi middle.
Pembedahan gitar dilakukan sampai terurai semua bagian, kecuali bagian-bagian kecil yang tidak perlu diuraikan. Proses mutilasi dilakukan dengan alat sederhana. Yap.. saya miskin perkakas, jadi gunakan yang bisa digunakan dari dapur.
Sebagian Organ Gitar Beserta Perkakas (Dok. Pribadi)
Untuk wiring akan dibuat jauh berbeda dengan bawaannya yang dulu, dan yang dulu buang saja karena identitas potensio yang misterius sekaligus jalur kabelnya yang seperti benang kusut. Rencananya akan membuat 3 pick up (neck, middle, bridge), 3 volume controls, 1 master tone control berkapasitor, dengan 3 way pick up selector. Sedikit tambahan aneh, dipasang switch on-off yang dipasang tepat dibawah pick up middle. Tujuannya supaya pick up middle yang diambil dari gitar bass bisa hidup mati, karena posisi pick up middle dengan 3 way pick up selector akan selalu hidup, dan untuk meminimalisir kekacauan sound karena perlakuan tidak lazim seperti memasang pick up bass bridge di gitar elektrik posisi middle.
Pembedahan gitar dilakukan sampai terurai semua bagian, kecuali bagian-bagian kecil yang tidak perlu diuraikan. Proses mutilasi dilakukan dengan alat sederhana. Yap.. saya miskin perkakas, jadi gunakan yang bisa digunakan dari dapur.
Sebagian Organ Gitar Beserta Perkakas (Dok. Pribadi)
Sisanya, dijemur beberapa jam dan didiamkan beberapa hari, kemudian direndam beberapa menit dan dicuci menggunakan pasta gigi beserta sikatnya. Sudah kayak gigi aja ya, biar flek-flek hitam dan kuning hilang seketika, dan terlindungi dari kuman selama 12 jam ha.. ha... Apa mungkin kuman mempengaruhi kualitas suara ya? Karena dia bersifat menyerap suara, sehingga yang harusnya gitar bersuara nyaring, jadi kurang mantap suaranya. Alibi! Sudah jelas bahan gitar kurang bagus.
Pembersihan Sebagian Organ Gitar Dengan Pasta Gigi Beserta Sikatnya (Dok. Pribadi)
Bagaimana? Hasilnya
menyilaukan mata. Like new, it’s clean, I like it because it’s clean. Tetap
saja gitar butut. Masalah baru pun muncul, mesti dikeringkan sekering mungkin. Kayu
gitar yang baik adalah yang kering, bahkan sebagian produsen mengeringkannya
dengan cara dioven supaya mendapatkan tingkat kekeringan yang memuaskan. Adapun
saya, benar-benar dungu. Sudah bagus-bagus gitar kering, wajar kayu tua, malah
direndam dan dicuci seenaknya. Kan jadinya harus dikeringkan lagi Pak! Bukan
tanpa alasan, ini adalah bentuk kepedulian saya pada gitar, kasihan dia seumur
hidup belum pernah mandi. Biar sehat saja, kan dengan mandi bisa meningkatkan
sistem kekebalan tubuh.
Sepertinya bersambung saja... jika sempat, gambar dan
kelanjutan cerita akan menyusul.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar