Sakit itu tidak enak, benar-benar tidak enak, dan tidak ada
sakit yang enak kecuali bagi yang korslet jaringan jasadnya. Ceritanya baru pertama
kali nunggu yang rawat inap di rumah sakit, pengalaman yang sangat berharga bagiku.
Dengan semangat dan penuh kesadaran dari lubuk hati yang terdalam ingin
menemani salah satu anggota keluarga yang jatuh sakit, karena dia adalah satu-satunya
nenek yang aku kenal dan sedang mencapai usia tua yang rentan terkena penyakit
lanjut usia. Entah apa penyakitnya, tetapi aku memaklumi dan paham tanpa
bertanya, karena memang dia sudah tua.
Rawat inap tentunya diinfus. Sangat membuatku terpukul
karena infusnya berupa darah, dan jika habis, maka diganti dengan natrium
klorida, kemudian dilanjutkan dengan darah lagi. Perputaran antara infus darah
dan natrium klorida, dan mungkin di kemudian hari jenis infusnya bertambah. Tidak
hanya itu yang membuatku merenung, kondisi ruangan IGD tidak ada ekspresi
kebahagiaan sama sekali. Keluhan, resah, gelisah, jeritan, tangisan, kesedihan,
renungan, dan terkadang senyap. Pelakunya tidak hanya yang sakit, tetapi para
kerabat si sakit pun meluapkan ekspresi tersebut. Lebih mengerikan daripada
menghadapi dosen killer di kelas. Baru satu malam saja di IGD, semua
ekspresi tersebut aku rasakan, bahkan di pagi hari sempat menyaksikan jeritan tangis
orang lain karena ditinggalkan nyawa kerabatnya.
Salut bagi para pekerja di rumah sakit yang setiap harinya
berurusan dengan hal yang bagiku miris.
Rencananya nenekku mau dipindahkan ke ruang entah di mana,
karena mungkin ruangan IGD hanyalah tempat sementara bagi pasien yang baru
datang, atau mungkin aku salah duga karena sama sekali tidak mengenal
lingkungan rumah sakit. Sebenarnya cukup sering jenguk orang lain yang rawat
inap di rumah sakit. Hanya sebatas jenguk, jadi aku tak paham apa yang terjadi di
ruangan rawat inap. Belum lama satu-satunya kakekku rawat inap karena
kecelakaan di rumahnya sendiri, dapat kabar dari ibu, dan sangat membuatku ingin
pulang dari Yogya ke Bandung, tetapi dilarang sehingga tidak bisa menemaninya
di rumah sakit. Untungnya kakek berjiwa Bima, lebih memilih untuk cepat-cepat
keluar dari rumah sakit. Terserah jika ada yang menganggapku udik karena asing
dengan lingkungan rumah sakit dan hanya baru sekali menginap di rumah sakit,
bukan urusanku, yang penting aku bisa memetik pelajaran.
Aku sendiri anti rumah sakit, anti dokter, dan anti
obat-obatan kecuali herbal. Kadang makan obat non-herbal, terutama jika sakit
gigi kronis kambuh, dan jika sedang sakit ketahuan oleh ibu, lalu tiba-tiba
bawa hadiah berupa obat sepulangnya dari kerja yang memaksaku harus memakannya.
Sedang terkena penyakit tifus/tipes saja aku lebih memilih di rumah, dipaksa
rawat inap ke rumah sakit aku menolaknya, padahal kondisiku kata ibu seperti
orang mau mati. Ke dokter hanya awalnya saja, dan setelah dinyatakan tifus aku
tidak mau kembali lagi ke dokter dan rumah sakit. Tidak salah kan? Toh penyakitnya
sudah diketahui. Ada juga yang lain, beberapa kali gejala penyakit paru-paruku
kambuh, tetapi aku lebih memilih untuk menutupinya. Malas ke dokter, paling dia
bilang terkena paru-paru basah, dan harus berobat rutin selama 4-6 bulan. Cukup
bagiku dua kali berobat rutin karena paru-paru. Untuk selebihnya aku atasi
sendiri, lagi pula sudah paham bagaimana melakukan pertolongan pertama ketika penyakit
paru-paru kambuh, dengan cara ngawurku sendiri, dan cukup ampuh walaupun belum
tentu si virus musnah sampai ke akar-akarnya.
Baru-baru ini terkena gejala gula darah, sampai kakiku hancur
karena dampaknya, dan aku atasi sendiri saja. Sayangnya tidak berhasil, karena
dampak gejala gula darah yang cukup parah baru pertama kali aku rasakan, belum
berpengalaman untuk mengatasinya oleh diri sendiri. Sampai akhirnya ketahuan
juga oleh ibu, karena si adik kecilku suka bercanda dan sangat polos. Dia memberitahukan
hancurnya kakiku ke ibu dengan kepolosannya, lalu ibu pun panik disertai marah khawatir
penuh kasih sayang. Padahal aku sudah sangat menutupi penyakitku dari pihak
lain. Hasilnya seperti biasa, dipaksa ke dokter yang berujung penolakan
tegasku, dan akhirnya ibu sepulang dari kerja membawa oleh-oleh obat luar sekaligus
obat dalam. Mungkin dia sempat diskusi dengan dokter, karena obat yang dia bawa
berhasil mengobati penyakitku hanya dalam jangka waktu satu minggu, walaupun penyakit
masih sisa sedikit. Sebelumnya aku sudah tersiksa sebulan lebih dengan penyakit
itu, dengan menahan rasa sakit, makan menu yang kurang enak tetapi sehat,
setiap hari berurusan dengan alkohol, anti septik, dan perban, bahkan minyak
rem buat kendaraan aku jadikan obat. Terima kasih buat ibu tercinta, kepada
para pembuat obat, untuk dokter jika benar-benar ibuku telah berdiskusi
dengannya, dan tentunya kepada Tuhan yang mengizinkan segala hal, karena Tuhan
melalui tangan merekalah diriku yang tersiksa penyakit hampir mencapai titik
sembuh.
Hidupku urak-urakan. Kebiasaan dari kecil yang terbawa
sampai sekarang. Makanya kondisi tubuhku sekarang sangat menyedihkan. Terkena berbagai
gejala penyakit yang tidak ingin aku sebutkan, dan mungkin menyebabkan
komplikasi di masa tua jika tidak berusaha memperbaikinya dari sekarang. Mungkin
orang lain banyak yang menjauhiku karena penampilanku penyakitan. Sehancur
apapun tubuhku, tetapi hatiku masih bisa mengimbanginya, sehingga berbagai
gejala penyakit seakan-akan hanya angin lalu, tidak aku perhatikan sama sekali,
bahkan aku merasa orang paling sehat dan kebal sedunia. Selalu ada kebaikan
dari setiap hal. Karena hidupku yang tak teratur dan memberikan dampak buruk
bagi tubuh, aku jadi paham makna mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebenarnya
slogan yang terkesan nasihat tersebut tidak hanya berlaku bagi kesehatan saja,
dalam berbagai hal menyikapi hidup pun kata-kata tersebut sangat berlaku. Sekarang
pembahasannya penyakit tubuh, jadi tidak usah melebar ke pembicaraan lain
walaupun aku sangat ingin, nanti saja di judul yang berbeda.
Tidak ada penyakit yang enak. Hanya ahli munafik yang
mengucapkan lebih baik mengidap penyakit “anu” daripada penyakit “ini”.
Termasuk aku sendiri di masa lalu mengucapkan kalimat tersebut, dan sekarang
taubat sebenar-benarnya untuk tidak mengucapkannya lagi. Penyakit sederhana
yang cukup menyiksa adalah flu, bergulat seharian dengan ingus dan bersin yang
tak kunjung lenyap. Flu adalah penyakit sederhana, dan aku cukup tersiksa,
makanya tidak ada satu pun penyakit yang enak.
Malas datang ke dokter salah satu alasannya karena takut menerima
kenyataan hidup. Baru gejala penyakit yang belum pasti saja sudah membuatku
murung, apalagi jika dokter menyatakan bahwa semua gejala yang aku rasakan
adalah benar penyakit, pasti membuatku tidak semangat untuk melewati kehidupan,
dan penuh kehati-hatian dalam melangkah. Jika itu benar-benar terjadi, maka
sangat mungkin hidupku sulit berkembang, karena penuh rasa takut. Lebih baik
sekarang melakukan pola hidup sehat sebaik mungkin. Berharap tidak ada sedikit
pun penyakit di tubuhku. Karena jika di masa tua hidupku penyakitan, maka tidak
hanya aku yang akan kesulitan, tetapi semua keluarga akan merasakannya.
Menjaga kesehatan itu perlu Pak! Itu adalah kata-kata dari
orang sepertiku yang pernah bertahun-tahun tidak memperdulikan kesehatan,
membiarkan segala racun masuk tubuh, baik yang berupa makanan-minuman ataupun buruknya
gaya hidup yang berubah menjadi racun bagi tubuh. Jadi, tidak ada ruginya
menjaga kesehatan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Lagi pula
menjaga kesehatan sama halnya dengan bersyukur kepada Tuhan dengan cara merawat
pemberian-Nya. Penyesalan itu selalu terjadi di masa depan ketika merasakan dampak
yang telah diperbuat. Teratur membersihkan diri, memilah asupan makanan, dan
olah raga sangatlah penting. Gejala gula darahku kambuh karena raga jarang
diolah dan pandai menanam racun di dalam tubuh. Ingat! Indonesia itu telah
sangat baik, bahkan rokok saja dibiarkan beredar untuk tidak merusak
perekonomian rakyat, sekaligus menempelkan himbauan di bungkus dan iklan rokok
supaya rakyatnya tidak terjebak dalam isapan rokok. Indonesia yang bijak
(mungkin), tinggal setiap orangnya saja yang pandai memilih untuk mencapai
kehidupan baik dan sehat. Bagiku tentang manusia, semua hal itu pilihan, bahkan
berhak memilih masuk neraka atau surga dengan cara melakukan perbuatan yang
dipilih.
Menurutku tidak baik jika segala hal disangkut-pautkan
secara langsung dengan takdir tanpa usaha. Seperti mengeluarkan ucapan, “biarlah
sakit, semuanya aturan Tuhan, jika sakit ya takdir, sekarang mari nikmati hidup”.
Takdir itu urusan Tuhan, hal yang manusia tidak ketahui. Utamakan usaha, karena
bagiku hampir setiap hal ada hubungannya dengan salah satu aturan Tuhan yang
paling tua, yaitu sebab akibat. Jika belajar, maka paham. Jika usaha, maka
kaya. Begitu juga dengan kesehatan, jika baik dalam menjaga raga, maka tubuh
pun sehat. Untuk masa sekarang, manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin, dan
berharap Tuhan memberikan apa yang kita inginkan. Adapun masalah hasil, jika
tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, maka jangan berprasangka buruk kepada
Tuhan. Dia Maha Tahu. Mungkin Dia bermaksud mengarahkan kita ke arah yang lebih
baik.
Ok, kembali ke ruangan IGD. Tempatnya di rumah sakit umum
Cicalengka, miliknya pemerintah Kabupaten Bandung, belum lama dibangun. Sebelumnya
sudah berdiri kokoh Puskesmas Cicalengka sejak bertahun-tahun yang lalu, bahkan
sudah mengalami renovasi yang sangat baik, tetapi mungkin kurang bisa
menghadapi masyarakat penyakitan. RSUD Cicalengka cukup lengkap fasilitasnya.
Chek up yang membutuhkan teknologi canggih saja sanggup ditangani, tetapi aku
tidak paham sejauh mana rumah sakit mampu menangani berbagai keluhan penyakit. Sayangnya
uang tetap berkuasa. Dengar dari ranjang sebelah yang katanya terkena usus
buntu, harus mengeluarkan biaya 10 juta untuk melaksanakan operasi. Hal tersebut menandakan
bahwa sehat itu mahal, makanya jangan pernah coba cari-cari penyakit. Kasihan,
yang masuk ke rumah sakit sana mayoritas kalangan menengah ke bawah. Kalau orang
berada mungkin larinya ke Singapura, minimal masuk salah satu rumah sakit besar
di kota Bandung. Menurutku, sebaiknya untuk masalah pelayanan kesehatan
masyarakat biayanya disederhanakan lagi, dan lebih baik lagi jika gratis. Pemerintah
kan uangnya banyak, tidak perlu menyengsarakan rakyat dengan menjadikan sektor
pelayanan kesehatan sebagai bisnis. Kecuali jika rumah sakit swasta, aku tidak
mau berkomentar.
Dulu aku pikir orang sakit itu sangat jarang. Ternyata setelah
menginap satu malam saja begitu banyak pasien yang berkunjung, tentunya dengan
berbagai kisah yang mampu membuatku merenung. Infus darah cukup menarik
perhatianku. Ternyata kantong darah tersebut adalah hasil dari donor
orang-orang dermawan. Logis kan? Dan tulisan di kantong darah tidak mungkin
berbohong jika itu bukan dari donor manusia. Masa donor dari binatang? Mustahil.
Hebatnya setiap kantong darah mempunyai masa expired, jika tidak salah hanya satu
bulan, mudah-mudahan mataku tidak rusak waktu baca tulisan di kantong darah. Pikiranku
jadi berkhayal, mungkin setiap hari banyak orang mendonorkan darahnya. Terima kasih
kepada orang-orang berjiwa besar yang bersedia mendonorkan darahnya, karenanya
nenekku bisa diinfus darah.
Darah yang dijadikan infus bukanlah sembarangan darah. Akan
tetapi, darah yang sehat, bersih dari berbagai virus penyakit. Pada kantongnya,
terdapat tulisan bersih dari virus hbsag, sifilis, hcv, dan hiv. Virus hbsag dan
hcv sangatlah asing bagiku, dan setelah cek internet ternyata masing-masing
virus tersebut adalah jika tidak salah penyakit hepatitis B dan C. Berarti untuk
mendonorkan darah harus benar-benar sehat. Aku jadi lebih bersyukur lagi kepada
Allah. Karena-Nya aku diberi iman untuk menyembah-Nya dengan memeluk agama
Islam sebagai agama langit terakhir dalam peradaban manusia. Islam mengajarkan
berbagai kehidupan sehat. Seperti puasa wajib di bulan Ramadhan yang dari sudut
pandang kesehatan sangat baik untuk tubuh. Bahkan Rasulku mencontohkan puasa
sunat yang bisa dilakukan di setiap bulan di luar Ramadhan. Kemudian shalat
yang secara kesehatan telah terbukti dapat menyehatkan tubuh, Anda cek sendiri
saja di internet. Waktu shalat pun membuat sehat, karena diharuskan bangun
sebelum matahari terbit.
Ada juga yang paling banyak terjadi di masa sekarang, adalah
seks. Larangan seks bebas dalam aturan agama dapat menghindarkan dari penyakit
sifilis dan hiv, karena lazimnya kedua virus tersebut muncul disebabkan seks
bebas, dan ujungnya merambah pada keturunan. Maksudnya seks bebas adalah seks
dengan banyak lawan jenis, dan tentunya di luar pernikahan. Jika di dalam
pernikahan, sebanyak apapun istri yang digauli tidak akan menimbulkan virus
mematikan, kecuali jika bergaul dengan banyak suami. Makanya dalam Islam
poligami diberi keringanan, dan kurang diamini untuk poliandri. Saya mohon maaf
sebesar-besarnya, dan sangat berharap untuk dimaafkan. Walaupun poligami diberi
keringanan, tetapi aku tidak sanggup berniat sedikit pun untuk melakukannya. Bagiku
hal tersebut tentang hati, (1) karena tidak berbakatnya untuk membagi hati
secara adil, dan (2) karena wanita bagiku jenis manusia yang super pencemburu,
karena dia sangat ingin dicintai sekaligus dimengerti. Jika cinta yang sama
dapat dibagi, apakah hal itu masih layak disebut cinta sejati berpondasi
keadilan? Boro-boro poligami, satu cinta saja ditinggal pergi, dan sangat
mungkin penyebabnya adalah kesalahanku yang tidak aku sadari, mungkin aku tidak
tegas-adil-bijaksana-beradab. Jika aku bisa membuatnya nyaman, maka tidak
mungkin dia berniat untuk pergi, bahkan mungkin sangat nyaman sehingga tidak
mau untuk jauh sedikit pun. Namun, ada loh orang yang pergi karena terlalu
nyaman. Ah
... tidak paham, lagi pula pikiran orang lain tidak bisa aku baca, jadi jangan
asal tebak. Kok jadi bahas asmara ya?
Pokoknya banyak lah yang mengharuskan diriku untuk bersyukur
kepada Tuhan. Disebabkan aturan-aturan melalui agama yang sebagian tadi telah
disebutkan, sampai larangan meminum arak (segala jenis minuman keras). Hepatitis
hubungannya dengan hati, dan arak mampu merusak hati. Agama Islam lahir ketika
teknologi medis tidak secanggih sekarang, tetapi ajarannya mampu dibuktikan
sangat baik setelah dilakukan penelitian di masa modern. Yap, dengan melakukan
aturan agama, tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi dapat membuka Tangan Allah
untuk menerima kita di surga-Nya. Taubat Gusti, saya mohon ampun, Kau Maha
Mulia, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Adil, dan Maha dari segala Maha. Setan
selalu membuatku lupa terhadap Tuhan, apalagi yang pernah jadi setan manisku
yang sangat kucintai sampai sekarang, sehingga Tuhan sangat cemburu kepadaku
dan aku merasa ditelantarkan-Nya. Mungkin Dia membuatku merasa ditelantarkan
oleh-Nya supaya aku mengingat-Nya kembali. Walaupun aku merasa ditelantarkan,
tetapi Dia tetap memberiku nafas, memang Dia Maha Pengasih.
Membicarakan agama jadi ingat dosa-dosaku di masa lalu. Aku minta
maaf sebesar-besarnya kepada Allah, segala puji bagi-Nya yang Maha Tinggi. Juga
minta maaf kepada semua orang yang bersama-sama melaksanakan dosa tanpa aku
ingatkan dan mungkin aku yang ajak untuk melaksanakan dosa, itu juga jika Anda
membaca dan sangat berharap dibaca, karena aku sedang minta maaf dan sangat
berharap untuk dimaafkan. Pokoknya minta maaf sebesar-besarnya. Setiap hari aku
selalu dihantui dosa-dosa masa laluku, dan mungkin itu terjadi karena ada orang
yang belum memaafkanku. Sekali lagi minta maaf kepada semua pihak jika aku
pernah melakukan kesalahan yang berujung dosa, bahkan jika Anda yang bersalah
pun aku tetap minta maaf.
Aku jika bercerita suka ngelantur ya? Begitulah, apapun yang
terlintas dipikiran, langsung seketika diabadikan, supaya tidak lupa, karena
mungkin yang aku pikirkan adalah hal yang sangat penting. Mari kembali lagi ke
masalah kantong darah. Darah yang diinfuskan ke nenek adalah tipe B. Aku terkejut,
bahkan ketika basa-basi ke nenek dia langsung bilang ibu juga golongan darahnya
B, semakin membuatku terkejut. Aku terkejut karena darahku juga B, dan hal
tersebut menimbulkan sebuah fakta bahwa aku bukanlah anak pungut. Secara tipe
darah, berurutan dari nenek, ibu, kemudian aku, semuanya golongan darah B. Terkadang
dulu selalu terlintas dipikiran bahwa aku bukan anak orang tuaku, karena
rasanya aku paling beda dari semua anggota keluarga. Mungkin hanya perasaan. Perasaan
yang belum dewasa, belum matang. Sekarang pikiranku tentunya berbeda, setelah
memperhatikan kebiasaan pendahuluku, dan memperhatikan ciri-ciri fisiknya,
ternyata banyak kesamaan. Namun tetap saja aneh, kok rasanya hanya aku yang
kulitnya hitam dan tidak tertolong untuk menjadi putih. Sesering apapun
membersihkan diri, tetap saja kulitku kusam. Sebenarnya aku tidak suka
menyebutnya dengan kulit hitam, tetapi warna kulitku adalah warna petualangan. Tak
perlu takut terkena sinar matahari untuk menjadi seseorang yang hebat.
Ngomong-ngomong soal darah B, hal itu sedikit membuatku menyesal. Darahku mungkin tidak sebaik para pendonor darah, sangat keruh, gabungan dari beberapa virus penyakit. Mari mengabsen virus satu per satu, virus penyakit pada paru-paru; usus; lambung, dan yang belum jelas tetapi dampaknya mulai terasa, gejala penyakit pada ginjal; diabetes; hati; jantung, apakah dengan kehadiran penyakit tersebut darahku layak didonorkan? Belum lagi jika ternyata dokter menyatakan bahwa aku hiv dan sifilis, hmm... khusus yang dua ini saya ragu. Satu lagi virus terlewat diabsen, virus cinta, ciaaa... halah taik! Oh iya, satu lagi, virus malas, hmm... ok, yang satu ini layak dipertimbangkan. Intinya aku ragu pada darahku sendiri, ditambah lagi suka merasa terkena gejala anemia. Yang membuatku menyesal, apakah darahku layak didonorkan? Aku belum pernah donor darah, tidak tahu kondisi darah, dan sekalipun tidak mau cek darah, takut menerima kenyataan pahit bahwa aku benar-benar diserang segerombolan virus. Penyesalanku adalah ketika keluarga terdekatku sangat membutuhkan darah B, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena darahku tak layak donor.
Aku berharap nenek tidak tersiksa dengan penyakit, dan semoga aku beserta keluarga selalu diberi kesehatan yang dimanfaatkan untuk aktifitas bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Semoga semua orang selalu diberi kesehatan. Mohon maaf kepada para dokter, para pembuat obat, dan para penyedia rumah kesehatan, karena dengan berdoa seperti itu keahlian Anda semua jadi tidak berguna, kan tidak mungkin menyembuhkan orang sehat. Tak peduli lah, biarkan Tuhan yang mengatur dengan segala kemisteriusan-Nya.
Ngomong-ngomong soal darah B, hal itu sedikit membuatku menyesal. Darahku mungkin tidak sebaik para pendonor darah, sangat keruh, gabungan dari beberapa virus penyakit. Mari mengabsen virus satu per satu, virus penyakit pada paru-paru; usus; lambung, dan yang belum jelas tetapi dampaknya mulai terasa, gejala penyakit pada ginjal; diabetes; hati; jantung, apakah dengan kehadiran penyakit tersebut darahku layak didonorkan? Belum lagi jika ternyata dokter menyatakan bahwa aku hiv dan sifilis, hmm... khusus yang dua ini saya ragu. Satu lagi virus terlewat diabsen, virus cinta, ciaaa... halah taik! Oh iya, satu lagi, virus malas, hmm... ok, yang satu ini layak dipertimbangkan. Intinya aku ragu pada darahku sendiri, ditambah lagi suka merasa terkena gejala anemia. Yang membuatku menyesal, apakah darahku layak didonorkan? Aku belum pernah donor darah, tidak tahu kondisi darah, dan sekalipun tidak mau cek darah, takut menerima kenyataan pahit bahwa aku benar-benar diserang segerombolan virus. Penyesalanku adalah ketika keluarga terdekatku sangat membutuhkan darah B, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena darahku tak layak donor.
Aku berharap nenek tidak tersiksa dengan penyakit, dan semoga aku beserta keluarga selalu diberi kesehatan yang dimanfaatkan untuk aktifitas bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Semoga semua orang selalu diberi kesehatan. Mohon maaf kepada para dokter, para pembuat obat, dan para penyedia rumah kesehatan, karena dengan berdoa seperti itu keahlian Anda semua jadi tidak berguna, kan tidak mungkin menyembuhkan orang sehat. Tak peduli lah, biarkan Tuhan yang mengatur dengan segala kemisteriusan-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar