Senin, 07 Maret 2016

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI

Sakit itu tidak enak, benar-benar tidak enak, dan tidak ada sakit yang enak kecuali bagi yang korslet jaringan jasadnya. Ceritanya baru pertama kali nunggu yang rawat inap di rumah sakit, pengalaman yang sangat berharga bagiku. Dengan semangat dan penuh kesadaran dari lubuk hati yang terdalam ingin menemani salah satu anggota keluarga yang jatuh sakit, karena dia adalah satu-satunya nenek yang aku kenal dan sedang mencapai usia tua yang rentan terkena penyakit lanjut usia. Entah apa penyakitnya, tetapi aku memaklumi dan paham tanpa bertanya, karena memang dia sudah tua.

Rawat inap tentunya diinfus. Sangat membuatku terpukul karena infusnya berupa darah, dan jika habis, maka diganti dengan natrium klorida, kemudian dilanjutkan dengan darah lagi. Perputaran antara infus darah dan natrium klorida, dan mungkin di kemudian hari jenis infusnya bertambah. Tidak hanya itu yang membuatku merenung, kondisi ruangan IGD tidak ada ekspresi kebahagiaan sama sekali. Keluhan, resah, gelisah, jeritan, tangisan, kesedihan, renungan, dan terkadang senyap. Pelakunya tidak hanya yang sakit, tetapi para kerabat si sakit pun meluapkan ekspresi tersebut. Lebih mengerikan daripada menghadapi dosen killer di kelas. Baru satu malam saja di IGD, semua ekspresi tersebut aku rasakan, bahkan di pagi hari sempat menyaksikan jeritan tangis orang lain karena ditinggalkan nyawa kerabatnya.

Salut bagi para pekerja di rumah sakit yang setiap harinya berurusan dengan hal yang bagiku miris.

Rencananya nenekku mau dipindahkan ke ruang entah di mana, karena mungkin ruangan IGD hanyalah tempat sementara bagi pasien yang baru datang, atau mungkin aku salah duga karena sama sekali tidak mengenal lingkungan rumah sakit. Sebenarnya cukup sering jenguk orang lain yang rawat inap di rumah sakit. Hanya sebatas jenguk, jadi aku tak paham apa yang terjadi di ruangan rawat inap. Belum lama satu-satunya kakekku rawat inap karena kecelakaan di rumahnya sendiri, dapat kabar dari ibu, dan sangat membuatku ingin pulang dari Yogya ke Bandung, tetapi dilarang sehingga tidak bisa menemaninya di rumah sakit. Untungnya kakek berjiwa Bima, lebih memilih untuk cepat-cepat keluar dari rumah sakit. Terserah jika ada yang menganggapku udik karena asing dengan lingkungan rumah sakit dan hanya baru sekali menginap di rumah sakit, bukan urusanku, yang penting aku bisa memetik pelajaran.

Aku sendiri anti rumah sakit, anti dokter, dan anti obat-obatan kecuali herbal. Kadang makan obat non-herbal, terutama jika sakit gigi kronis kambuh, dan jika sedang sakit ketahuan oleh ibu, lalu tiba-tiba bawa hadiah berupa obat sepulangnya dari kerja yang memaksaku harus memakannya. Sedang terkena penyakit tifus/tipes saja aku lebih memilih di rumah, dipaksa rawat inap ke rumah sakit aku menolaknya, padahal kondisiku kata ibu seperti orang mau mati. Ke dokter hanya awalnya saja, dan setelah dinyatakan tifus aku tidak mau kembali lagi ke dokter dan rumah sakit. Tidak salah kan? Toh penyakitnya sudah diketahui. Ada juga yang lain, beberapa kali gejala penyakit paru-paruku kambuh, tetapi aku lebih memilih untuk menutupinya. Malas ke dokter, paling dia bilang terkena paru-paru basah, dan harus berobat rutin selama 4-6 bulan. Cukup bagiku dua kali berobat rutin karena paru-paru. Untuk selebihnya aku atasi sendiri, lagi pula sudah paham bagaimana melakukan pertolongan pertama ketika penyakit paru-paru kambuh, dengan cara ngawurku sendiri, dan cukup ampuh walaupun belum tentu si virus musnah sampai ke akar-akarnya.

Baru-baru ini terkena gejala gula darah, sampai kakiku hancur karena dampaknya, dan aku atasi sendiri saja. Sayangnya tidak berhasil, karena dampak gejala gula darah yang cukup parah baru pertama kali aku rasakan, belum berpengalaman untuk mengatasinya oleh diri sendiri. Sampai akhirnya ketahuan juga oleh ibu, karena si adik kecilku suka bercanda dan sangat polos. Dia memberitahukan hancurnya kakiku ke ibu dengan kepolosannya, lalu ibu pun panik disertai marah khawatir penuh kasih sayang. Padahal aku sudah sangat menutupi penyakitku dari pihak lain. Hasilnya seperti biasa, dipaksa ke dokter yang berujung penolakan tegasku, dan akhirnya ibu sepulang dari kerja membawa oleh-oleh obat luar sekaligus obat dalam. Mungkin dia sempat diskusi dengan dokter, karena obat yang dia bawa berhasil mengobati penyakitku hanya dalam jangka waktu satu minggu, walaupun penyakit masih sisa sedikit. Sebelumnya aku sudah tersiksa sebulan lebih dengan penyakit itu, dengan menahan rasa sakit, makan menu yang kurang enak tetapi sehat, setiap hari berurusan dengan alkohol, anti septik, dan perban, bahkan minyak rem buat kendaraan aku jadikan obat. Terima kasih buat ibu tercinta, kepada para pembuat obat, untuk dokter jika benar-benar ibuku telah berdiskusi dengannya, dan tentunya kepada Tuhan yang mengizinkan segala hal, karena Tuhan melalui tangan merekalah diriku yang tersiksa penyakit hampir mencapai titik sembuh.

Hidupku urak-urakan. Kebiasaan dari kecil yang terbawa sampai sekarang. Makanya kondisi tubuhku sekarang sangat menyedihkan. Terkena berbagai gejala penyakit yang tidak ingin aku sebutkan, dan mungkin menyebabkan komplikasi di masa tua jika tidak berusaha memperbaikinya dari sekarang. Mungkin orang lain banyak yang menjauhiku karena penampilanku penyakitan. Sehancur apapun tubuhku, tetapi hatiku masih bisa mengimbanginya, sehingga berbagai gejala penyakit seakan-akan hanya angin lalu, tidak aku perhatikan sama sekali, bahkan aku merasa orang paling sehat dan kebal sedunia. Selalu ada kebaikan dari setiap hal. Karena hidupku yang tak teratur dan memberikan dampak buruk bagi tubuh, aku jadi paham makna mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebenarnya slogan yang terkesan nasihat tersebut tidak hanya berlaku bagi kesehatan saja, dalam berbagai hal menyikapi hidup pun kata-kata tersebut sangat berlaku. Sekarang pembahasannya penyakit tubuh, jadi tidak usah melebar ke pembicaraan lain walaupun aku sangat ingin, nanti saja di judul yang berbeda.

Tidak ada penyakit yang enak. Hanya ahli munafik yang mengucapkan lebih baik mengidap penyakit “anu” daripada penyakit “ini”. Termasuk aku sendiri di masa lalu mengucapkan kalimat tersebut, dan sekarang taubat sebenar-benarnya untuk tidak mengucapkannya lagi. Penyakit sederhana yang cukup menyiksa adalah flu, bergulat seharian dengan ingus dan bersin yang tak kunjung lenyap. Flu adalah penyakit sederhana, dan aku cukup tersiksa, makanya tidak ada satu pun penyakit yang enak.

Malas datang ke dokter salah satu alasannya karena takut menerima kenyataan hidup. Baru gejala penyakit yang belum pasti saja sudah membuatku murung, apalagi jika dokter menyatakan bahwa semua gejala yang aku rasakan adalah benar penyakit, pasti membuatku tidak semangat untuk melewati kehidupan, dan penuh kehati-hatian dalam melangkah. Jika itu benar-benar terjadi, maka sangat mungkin hidupku sulit berkembang, karena penuh rasa takut. Lebih baik sekarang melakukan pola hidup sehat sebaik mungkin. Berharap tidak ada sedikit pun penyakit di tubuhku. Karena jika di masa tua hidupku penyakitan, maka tidak hanya aku yang akan kesulitan, tetapi semua keluarga akan merasakannya.

Menjaga kesehatan itu perlu Pak! Itu adalah kata-kata dari orang sepertiku yang pernah bertahun-tahun tidak memperdulikan kesehatan, membiarkan segala racun masuk tubuh, baik yang berupa makanan-minuman ataupun buruknya gaya hidup yang berubah menjadi racun bagi tubuh. Jadi, tidak ada ruginya menjaga kesehatan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Lagi pula menjaga kesehatan sama halnya dengan bersyukur kepada Tuhan dengan cara merawat pemberian-Nya. Penyesalan itu selalu terjadi di masa depan ketika merasakan dampak yang telah diperbuat. Teratur membersihkan diri, memilah asupan makanan, dan olah raga sangatlah penting. Gejala gula darahku kambuh karena raga jarang diolah dan pandai menanam racun di dalam tubuh. Ingat! Indonesia itu telah sangat baik, bahkan rokok saja dibiarkan beredar untuk tidak merusak perekonomian rakyat, sekaligus menempelkan himbauan di bungkus dan iklan rokok supaya rakyatnya tidak terjebak dalam isapan rokok. Indonesia yang bijak (mungkin), tinggal setiap orangnya saja yang pandai memilih untuk mencapai kehidupan baik dan sehat. Bagiku tentang manusia, semua hal itu pilihan, bahkan berhak memilih masuk neraka atau surga dengan cara melakukan perbuatan yang dipilih.

Menurutku tidak baik jika segala hal disangkut-pautkan secara langsung dengan takdir tanpa usaha. Seperti mengeluarkan ucapan, “biarlah sakit, semuanya aturan Tuhan, jika sakit ya takdir, sekarang mari nikmati hidup”. Takdir itu urusan Tuhan, hal yang manusia tidak ketahui. Utamakan usaha, karena bagiku hampir setiap hal ada hubungannya dengan salah satu aturan Tuhan yang paling tua, yaitu sebab akibat. Jika belajar, maka paham. Jika usaha, maka kaya. Begitu juga dengan kesehatan, jika baik dalam menjaga raga, maka tubuh pun sehat. Untuk masa sekarang, manusia hanya bisa berusaha sebaik mungkin, dan berharap Tuhan memberikan apa yang kita inginkan. Adapun masalah hasil, jika tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, maka jangan berprasangka buruk kepada Tuhan. Dia Maha Tahu. Mungkin Dia bermaksud mengarahkan kita ke arah yang lebih baik.

Ok, kembali ke ruangan IGD. Tempatnya di rumah sakit umum Cicalengka, miliknya pemerintah Kabupaten Bandung, belum lama dibangun. Sebelumnya sudah berdiri kokoh Puskesmas Cicalengka sejak bertahun-tahun yang lalu, bahkan sudah mengalami renovasi yang sangat baik, tetapi mungkin kurang bisa menghadapi masyarakat penyakitan. RSUD Cicalengka cukup lengkap fasilitasnya. Chek up yang membutuhkan teknologi canggih saja sanggup ditangani, tetapi aku tidak paham sejauh mana rumah sakit mampu menangani berbagai keluhan penyakit. Sayangnya uang tetap berkuasa. Dengar dari ranjang sebelah yang katanya terkena usus buntu, harus mengeluarkan biaya 10 juta untuk melaksanakan operasi. Hal tersebut menandakan bahwa sehat itu mahal, makanya jangan pernah coba cari-cari penyakit. Kasihan, yang masuk ke rumah sakit sana mayoritas kalangan menengah ke bawah. Kalau orang berada mungkin larinya ke Singapura, minimal masuk salah satu rumah sakit besar di kota Bandung. Menurutku, sebaiknya untuk masalah pelayanan kesehatan masyarakat biayanya disederhanakan lagi, dan lebih baik lagi jika gratis. Pemerintah kan uangnya banyak, tidak perlu menyengsarakan rakyat dengan menjadikan sektor pelayanan kesehatan sebagai bisnis. Kecuali jika rumah sakit swasta, aku tidak mau berkomentar.

Dulu aku pikir orang sakit itu sangat jarang. Ternyata setelah menginap satu malam saja begitu banyak pasien yang berkunjung, tentunya dengan berbagai kisah yang mampu membuatku merenung. Infus darah cukup menarik perhatianku. Ternyata kantong darah tersebut adalah hasil dari donor orang-orang dermawan. Logis kan? Dan tulisan di kantong darah tidak mungkin berbohong jika itu bukan dari donor manusia. Masa donor dari binatang? Mustahil. Hebatnya setiap kantong darah mempunyai masa expired, jika tidak salah hanya satu bulan, mudah-mudahan mataku tidak rusak waktu baca tulisan di kantong darah. Pikiranku jadi berkhayal, mungkin setiap hari banyak orang mendonorkan darahnya. Terima kasih kepada orang-orang berjiwa besar yang bersedia mendonorkan darahnya, karenanya nenekku bisa diinfus darah.

Darah yang dijadikan infus bukanlah sembarangan darah. Akan tetapi, darah yang sehat, bersih dari berbagai virus penyakit. Pada kantongnya, terdapat tulisan bersih dari virus hbsag, sifilis, hcv, dan hiv. Virus hbsag dan hcv sangatlah asing bagiku, dan setelah cek internet ternyata masing-masing virus tersebut adalah jika tidak salah penyakit hepatitis B dan C. Berarti untuk mendonorkan darah harus benar-benar sehat. Aku jadi lebih bersyukur lagi kepada Allah. Karena-Nya aku diberi iman untuk menyembah-Nya dengan memeluk agama Islam sebagai agama langit terakhir dalam peradaban manusia. Islam mengajarkan berbagai kehidupan sehat. Seperti puasa wajib di bulan Ramadhan yang dari sudut pandang kesehatan sangat baik untuk tubuh. Bahkan Rasulku mencontohkan puasa sunat yang bisa dilakukan di setiap bulan di luar Ramadhan. Kemudian shalat yang secara kesehatan telah terbukti dapat menyehatkan tubuh, Anda cek sendiri saja di internet. Waktu shalat pun membuat sehat, karena diharuskan bangun sebelum matahari terbit.

Ada juga yang paling banyak terjadi di masa sekarang, adalah seks. Larangan seks bebas dalam aturan agama dapat menghindarkan dari penyakit sifilis dan hiv, karena lazimnya kedua virus tersebut muncul disebabkan seks bebas, dan ujungnya merambah pada keturunan. Maksudnya seks bebas adalah seks dengan banyak lawan jenis, dan tentunya di luar pernikahan. Jika di dalam pernikahan, sebanyak apapun istri yang digauli tidak akan menimbulkan virus mematikan, kecuali jika bergaul dengan banyak suami. Makanya dalam Islam poligami diberi keringanan, dan kurang diamini untuk poliandri. Saya mohon maaf sebesar-besarnya, dan sangat berharap untuk dimaafkan. Walaupun poligami diberi keringanan, tetapi aku tidak sanggup berniat sedikit pun untuk melakukannya. Bagiku hal tersebut tentang hati, (1) karena tidak berbakatnya untuk membagi hati secara adil, dan (2) karena wanita bagiku jenis manusia yang super pencemburu, karena dia sangat ingin dicintai sekaligus dimengerti. Jika cinta yang sama dapat dibagi, apakah hal itu masih layak disebut cinta sejati berpondasi keadilan? Boro-boro poligami, satu cinta saja ditinggal pergi, dan sangat mungkin penyebabnya adalah kesalahanku yang tidak aku sadari, mungkin aku tidak tegas-adil-bijaksana-beradab. Jika aku bisa membuatnya nyaman, maka tidak mungkin dia berniat untuk pergi, bahkan mungkin sangat nyaman sehingga tidak mau untuk jauh sedikit pun. Namun, ada loh orang yang pergi karena terlalu nyaman. Ah ... tidak paham, lagi pula pikiran orang lain tidak bisa aku baca, jadi jangan asal tebak. Kok jadi bahas asmara ya?

Pokoknya banyak lah yang mengharuskan diriku untuk bersyukur kepada Tuhan. Disebabkan aturan-aturan melalui agama yang sebagian tadi telah disebutkan, sampai larangan meminum arak (segala jenis minuman keras). Hepatitis hubungannya dengan hati, dan arak mampu merusak hati. Agama Islam lahir ketika teknologi medis tidak secanggih sekarang, tetapi ajarannya mampu dibuktikan sangat baik setelah dilakukan penelitian di masa modern. Yap, dengan melakukan aturan agama, tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi dapat membuka Tangan Allah untuk menerima kita di surga-Nya. Taubat Gusti, saya mohon ampun, Kau Maha Mulia, Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Adil, dan Maha dari segala Maha. Setan selalu membuatku lupa terhadap Tuhan, apalagi yang pernah jadi setan manisku yang sangat kucintai sampai sekarang, sehingga Tuhan sangat cemburu kepadaku dan aku merasa ditelantarkan-Nya. Mungkin Dia membuatku merasa ditelantarkan oleh-Nya supaya aku mengingat-Nya kembali. Walaupun aku merasa ditelantarkan, tetapi Dia tetap memberiku nafas, memang Dia Maha Pengasih.

Membicarakan agama jadi ingat dosa-dosaku di masa lalu. Aku minta maaf sebesar-besarnya kepada Allah, segala puji bagi-Nya yang Maha Tinggi. Juga minta maaf kepada semua orang yang bersama-sama melaksanakan dosa tanpa aku ingatkan dan mungkin aku yang ajak untuk melaksanakan dosa, itu juga jika Anda membaca dan sangat berharap dibaca, karena aku sedang minta maaf dan sangat berharap untuk dimaafkan. Pokoknya minta maaf sebesar-besarnya. Setiap hari aku selalu dihantui dosa-dosa masa laluku, dan mungkin itu terjadi karena ada orang yang belum memaafkanku. Sekali lagi minta maaf kepada semua pihak jika aku pernah melakukan kesalahan yang berujung dosa, bahkan jika Anda yang bersalah pun aku tetap minta maaf.

Aku jika bercerita suka ngelantur ya? Begitulah, apapun yang terlintas dipikiran, langsung seketika diabadikan, supaya tidak lupa, karena mungkin yang aku pikirkan adalah hal yang sangat penting. Mari kembali lagi ke masalah kantong darah. Darah yang diinfuskan ke nenek adalah tipe B. Aku terkejut, bahkan ketika basa-basi ke nenek dia langsung bilang ibu juga golongan darahnya B, semakin membuatku terkejut. Aku terkejut karena darahku juga B, dan hal tersebut menimbulkan sebuah fakta bahwa aku bukanlah anak pungut. Secara tipe darah, berurutan dari nenek, ibu, kemudian aku, semuanya golongan darah B. Terkadang dulu selalu terlintas dipikiran bahwa aku bukan anak orang tuaku, karena rasanya aku paling beda dari semua anggota keluarga. Mungkin hanya perasaan. Perasaan yang belum dewasa, belum matang. Sekarang pikiranku tentunya berbeda, setelah memperhatikan kebiasaan pendahuluku, dan memperhatikan ciri-ciri fisiknya, ternyata banyak kesamaan. Namun tetap saja aneh, kok rasanya hanya aku yang kulitnya hitam dan tidak tertolong untuk menjadi putih. Sesering apapun membersihkan diri, tetap saja kulitku kusam. Sebenarnya aku tidak suka menyebutnya dengan kulit hitam, tetapi warna kulitku adalah warna petualangan. Tak perlu takut terkena sinar matahari untuk menjadi seseorang yang hebat.

Ngomong-ngomong soal darah B, hal itu sedikit membuatku menyesal. Darahku mungkin tidak sebaik para pendonor darah, sangat keruh, gabungan dari beberapa virus penyakit. Mari mengabsen virus satu per satu, virus penyakit pada paru-paru; usus; lambung, dan yang belum jelas tetapi dampaknya mulai terasa, gejala penyakit pada ginjal; diabetes; hati; jantung, apakah dengan kehadiran penyakit tersebut darahku layak didonorkan? Belum lagi jika ternyata dokter menyatakan bahwa aku hiv dan sifilis, hmm... khusus yang dua ini saya ragu. Satu lagi virus terlewat diabsen, virus cinta, ciaaa... halah taik! Oh iya, satu lagi, virus malas, hmm... ok, yang satu ini layak dipertimbangkan. Intinya aku ragu pada darahku sendiri, ditambah lagi suka merasa terkena gejala anemia. Yang membuatku menyesal, apakah darahku layak didonorkan? Aku belum pernah donor darah, tidak tahu kondisi darah, dan sekalipun tidak mau cek darah, takut menerima kenyataan pahit bahwa aku benar-benar diserang segerombolan virus. Penyesalanku adalah ketika keluarga terdekatku sangat membutuhkan darah B, tetapi aku tidak dapat berbuat apa-apa karena darahku tak layak donor.

Aku berharap nenek tidak tersiksa dengan penyakit, dan semoga aku beserta keluarga selalu diberi kesehatan yang dimanfaatkan untuk aktifitas bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Semoga semua orang selalu diberi kesehatan. Mohon maaf kepada para dokter, para pembuat obat, dan para penyedia rumah kesehatan, karena dengan berdoa seperti itu keahlian Anda semua jadi tidak berguna, kan tidak mungkin menyembuhkan orang sehat. Tak peduli lah, biarkan Tuhan yang mengatur dengan segala kemisteriusan-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar