“Ketika sisi romantis menguasai sisi realistis, maka
tunggulah keterpurukan setiap jiwa”.
Sudah semestinya berhati-hati dalam menuliskan pikiranku
tentang hal ini. Takut jika salah penulisan tentang apa yang aku pikirkan
sehingga menyebabkan kesalahpahaman. Menentukan alurnya saja sudah rumit, tidak
mudah untuk dituliskan secara ringan supaya mudah untuk dipahami. Realitas yang
berubah menjadi kekusutan di dalam pikiranku berasal dari introspeksi diri dan kehidupan
orang-orang yang aku tahu, baik kenal dekat atau hanya sekedar tahu.
Realistis dan romantis adalah dua hal yang tidak lepas dari
manusia. Mungkin banyak yang tidak merasakan ketika hidup sedang berada dalam
sisi realistis atau sisi romantis.
Namun, yang aku rasakan sekarang banyak jiwa yang terjebak dalam sisi romantis.
Sebenarnya tidak salah, romantis merupakan salah satu berkah dan sifat yang
diwariskan Tuhan kepada manusia. Allah Maha Romantis. Masalahnya adalah ketika
jiwa benar-benar lupa pada sisi realistis, dan tenggelam dalam khayalan
romantis.
Apa yang dimaksud dengan realistis dan romantis? Dalam ilmu
bahasa, hampir setiap kata yang silabel (suku kata) terakhirnya terdapat “is”
menunjukkan sifat. Realistis berarti bersifat realis, dan romantis berarti
bersifat roman. Realis dasarnya berasal dari hal-hal yang nyata. Adapun roman,
jangan dulu salah paham, karena kata tersebut kaya akan sinonim. Roman yang
dimaksud sekarang berdasarkan hal-hal yang indah dalam kehidupan, biasanya
dalam percintaan, tetapi tidak hanya dibatasi dengan percintaan atau asmara,
termasuk di dalamnya setiap khayalan indah di dalam kehidupan. Seperti khayalan
yang mengarahkan pada ketenaran, terasa indah jika dipuja-puja oleh banyak
pihak lain. Masih banyak lagi yang menjadi contoh roman jika satu persatu
disebutkan, tetapi terlalu panjang jika dituliskan semua.
Cara berpikir manusia itu berbeda, dan yang aku pahami mengenai
romantis sebaiknya berada di belakang realistis. Pada dasarnya romantis adalah
realistis. Romantis terlahir dari realistis, dan muncul pada sela-sela
realistis. Maksud kata “sela-sela” berarti porsi romantis lebih sedikit
daripada realistis. Romantis hanyalah bumbu bagi realistis. Walaupun romantis
terlahir utuh dan menjadi bagian terpisah dari realistis, tetapi tetap tidak
dapat menandingi realistis dalam kehidupan, karena kehidupan itu realistis,
nyata. Seperti halnya orang tua dan anak, tentunya anak tidak bisa melampaui
orang tuanya, karena sampai kapan pun surga tetap berada di bawah telapak kaki
ibu, dan Allah rida terhadap manusia jika orang tua (si manusia) rida.
Adakalanya menjadi baik jika romantis diletakkan di depan
realistis, tetapi persentase aksi tetap harus lebih banyak realistis. Banyak
pernyataan bahwa hidup berawal dari mimpi (maksud: keinginan). Benar sekali,
jika tidak bermimpi, maka akan bingung tentang apa yang harus dilakukan. Setiap
aktifitas diawali oleh mimpi atau khayalan. Seperti terlahirnya kita di bumi,
salah satu penyebabnya berasal dari mimpi orang tua yang menginginkan
keturunan. Atau ketika kita menginginkan sesuatu, tentu harus bermimpi dulu di
masa kini, kemudian berusaha sampai mendapatkan yang diinginkan di masa depan.
Apa yang terdapat di dalam mimpi adalah sesuatu yang berada di masa depan yang
belum tentu bisa didapatkan, dan si pemimpi berada di masa kini. Semakin jelas,
ada baiknya jika romantis berada di depan realistis, tetapi tidak bisa
mengingkari bahwa si pemimpi berada dalam lingkup realistis, dan apa yang
dimimpikan berada dalam lingkup romantis. Untuk mendapatkan romantis harus
melaksanakan aktifitas realistis.
Jiwa yang tenggelam dalam sisi romantis dapat dikatakan
bahwa dia adalah pemimpi. Lebih tepatnya, pemimpi yang setiap mimpinya hanya
sekedar mimpi tanpa ada aktifitas realistis yang mampu menjadikan nyata setiap
mimpi. Seperti itulah realitas kebanyakan manusia modern yang aku rasakan, dan
mungkin diriku masih termasuk di dalamnya. Tidak salah jika sekarang terjadi
banyak keburukan pada umat manusia. Banyak pengangguran, kebodohan, kemiskinan,
miskin etika, penduduk penjara tidak pernah berkurang setiap detiknya, dan lain-lain
yang merupakan keburukan. Sepatutnya modern dapat menjadikan manusia lebih baik
dalam menjalankan kehidupan, tetapi realitasnya manusia semakin terpuruk dalam
keburukan.
Modern adalah berkah dari Tuhan, tidak perlu dicacimaki,
karena modern menandakan adanya kemajuan dalam kehidupan. Permasalahannya
adalah sistem masyarakat dalam menyikapi kemodernan. Seperti menyikapi
teknologi sebagai salah satu bagian dari modern. Sebaiknya dipertanyakan dulu
kesiapan masyarakat jika disuguhi teknologi, apakah dapat menjadikan kehidupan
lebih baik atau sebaliknya. Teknologi tidak pantas bagi jiwa pemalas, kecuali
bagi yang menginginkan keterpurukan hidup. Pada dasarnya teknologi diproduksi
untuk mempermudah aktifitas manusia, bukan untuk berfoya-foya. Banyak jiwa yang
tenggelam dalam sisi romantis dikarenakan teknologi, seperti teknologi
transportasi atau yang paling besar menjadi penyebab adalah teknologi digital.
Tidak hanya itu, bahkan literatur pun dapat menjerumuskan manusia pada sisi
romantis.
Banyak orang yang terjebak dalam sisi romantis dikarenakan
alat transportasi. Biasanya yang paling sering terjadi berada di lingkungan
instansi pendidikan, dan tentunya terjadi juga pada lingkup umum. Para siswa
sekolah banyak yang tidak memikirkan kualitas otak. Yang penting adalah gaya. Entah
tujuannya untuk apa, mungkin demi status sosial atau ketenaran. Datang ke sekolah
bukan untuk mengasah otak atau menata etika di dalam diri, tetapi
berlomba-lomba dalam membawa alat transportasi pribadi bermesin dan berbahan
bakar minyak. Bagi jiwa yang terjebak dalam romantis mungkin itu keren,
biasanya remaja. Akan tetapi, bagi para penganut realistis yang sudah mengalami
berbagai pahit-manisnya kehidupan, itu adalah suatu kebodohan yang nyata.
Biasanya penganut realistis adalah orang dewasa, entah umurnya masih belasan
tahun, atau yang lebih lazim adalah orang-orang berumur lebih dari 25 tahun.
Dewasa tidak bisa diukur oleh umur, tetapi berdasarkan cara berpikir dan
menyikapi kehidupan.
Bukan masalah jika menggunakan alat transportasi pribadi
atas dasar kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan. Seperti jauhnya jarak rumah dengan
sekolah, tidak ada transportasi umum, dan tidak memungkinkan untuk jalan kaki.
Namun, yang tidak patut adalah jika jarak hanya beberapa meter, tetapi pergi menggunakan
transportasi pribadi, ditambah lagi tidak ada niat untuk belajar di sekolah.
Tujuannya buat apa jika bukan karena ingin diakui atau dipuji pihak lain.
Dampaknya pengalaman bersosial minim, hanya mendapatkan pelajaran sosial dari
teman-teman sepergaulan yang karakternya tidak jauh berbeda. Ingat pepatah,
untuk menilai seseorang bisa dilihat dari temannya. Dampak lain, dari segi
kesehatan tentunya tidak lebih baik dari pejalan kaki, raganya jarang diolah,
dan berpotensi menjadi pemalas serta penyakitan. Dari segi moral, dia tidak
mengenal kesederhanaan, tidak banyak paham tentang rendah hati, dan berpotensi
memiliki etika buruk seperti kesombongan.
Jiwa pemimpi yang terjebak dalam sisi romantis. Hanya
mengedepankan gaya karena khayalan status sosial atau ketenaran, tanpa mengasah
pikiran dan sikap. Mudah ditebak masa depan orang seperti itu, kurang mampu
bersaing di kehidupan dewasa yang keras. Semoga tidak terjadi, dan semoga Tuhan
memberikan rahmat dan nasib yang baik.
Pasti ada penyebab yang membuat kaum muda seperti itu, dan
mungkin salah satunya disebabkan teknologi digital. Menurutku teknologi inilah
penyebab yang paling besar untuk saat ini. Entah itu melalui tv, gadget,
atau internet sebagai penyedia berbagai program, semuanya dapat membuat orang tenggelam
dalam sisi romantis. Dimulai dari tv sebagai yang lebih tua dari yang lainnya,
banyak orang yang terpengaruh oleh program-program yang merusak pikiran dan
mempengaruhi sikap. Menjadikan etika buruk dan menumbuhkan berbagai khayalan
tidak baik pada masyarakat. Buktinya sekarang banyak anak-anak yang tidak
hormat pada orang tuanya. Sebelum banyaknya program tv, generasi muda tidak banyak
yang berani melawan orang tua, dan hormat kepada yang lebih tua. Berbagai
program tv menyajikan visual romantis yang menampilkan bahwa pembangkang berada
di pihak yang benar, dan karakter orang tua dipojokkan sebagai pihak yang
salah. Membuat penonton berkhayal romantis, indah, bahwa dengan membangkang
adalah suatu kebenaran.
Ada juga yang menyajikan program bahwa ketenaran adalah
segalanya. Jika tenar, maka bisa mendapatkan apapun yang diinginkan, dipuja,
dihormati, dan segala macam khayalan roman. Sampai masyarakat berlomba-lomba
untuk menjadi tenar, entah itu dengan musik, peran, model, dll. Menjadikan ilmu
pengetahuan rasanya tidak penting. Seperti itulah jiwa yang terjebak dalam sisi
romantis, tanpa melihat sisi lain di samping ketenaran. Padahal kebanyakan
orang-orang yang tenar di tv adalah terpelajar, minimal bahasa Inggrisnya
bagus. Walaupun sebenarnya ada juga yang kurang terpelajar, bahkan orangnya
masuk dunia politik tanpa ahli di bidangnya, dan bodohnya banyak masyarakat
yang ingin menjadi sepertinya. Bagiku ketenaran hanyalah kekosongan jika tidak
memberikan dampak baik pada pihak lain.
Di samping hal-hal tersebut, yang paling banyak mempengaruhi
kaum muda adalah asmara. Hal yang paling dekat dengan istilah romantis. Ini
adalah penyakit, manusia muda yang menjadi budak asmara tak terhingga. Bahkan
anak SD sudah kenal cinta-cintaan. Tidak sepenuhnya salah, asmara adalah naluri
dan berkah. Justru harus aneh jika tidak bisa merasakan asmara. Namun, rasanya
tidak pantas jika belum dewasa sudah cinta-cintaan. Masa muda adalah tabungan
(baik berupa harta, pengetahuan, keahlian, dsb), supaya ketika menikah dan
berkeluarga bisa memanen tabungan untuk tidak kesulitan. Masa muda adalah masa
untuk memantaskan diri, baik dari segi pengetahuan, etika, ataupun harta yang
bisa meringankan beban ketika masuk dalam keluarga baru bersama istri yang
dinikahi. Asmara bukan hanya cinta kamu, senang-senang, ciuman, tetapi
bagaimana untuk membahagiakan, menafkahi, menjaga, memberikan rumah yang aman
dan nyaman bagi yang dicintai. Memangnya dalam pernikahan mau dikasih makan
cinta!? Dasar film yang mempertontonkan asmara kawula muda, sehingga banyak
anak muda yang terpengaruh. Mengedepankan asmara, tetapi hal-hal atau tahapan
yang dapat menghebatkan kehidupan asmara yang nyata disingkirkan. Sebaiknya
hebatkan diri dulu, lalu lanjutkan dengan urusan asmara.
Tv sungguh mampu mengubah pola pikir manusia dengan mudah. Terdapat
penyampaian doktrin yang tidak dirasakan oleh para penikmatnya. Cara kerjanya
memang hebat, suatu pemikiran yang divisualisasikan pada layar, sehingga mudah
menghipnotis berpasang-pasang mata. Hipnotis yang berupa hiburan, kesenangan,
roman, menimbulkan campur aduk emosi, berhasil mengarahkan jiwa pada titik
khayal tertinggi, dan ujungnya mengubah manusia menjadi hedonis. Hedonis yang
menganggap lawan jenis berparas menarik lebih pantas dipilih, bukan lawan jenis
berhati baik dan mampu menjaga setulus hati. Para penganut hedonisme yang
menganggap bahwa petani dan peternak adalah kalangan rendah, karena lebih
percaya hijrah ke kota untuk bekerja di gedung-gedung tinggi dengan alasan mampu
meninggikan status sosial, cepat kaya. Memang kesannya miris, tetapi seperti
itu realitasnya. Lihat saja para petani di sawah, sangat jarang ada pemuda.
Padahal petani mampu lebih kaya daripada pekerja kota. Hitung saja persentase
para petani dan pekerja kota yang memiliki rumah, untuk sementara yang aku
ketahui lebih banyak petani yang memiliki rumah. Semua hal menjadi bersifat
roman, dan lupa terhadap realistis.
Teknologi yang lebih muda dan canggih dari tv adalah gadget,
baik berupa komputer desktop, laptop, ponsel, dsb. Pengaruhnya berpotensi lebih
buruk dari tv, dan lebih heboh lagi ketika disandingkan dengan internet.
Romantis adalah khayalan, mirip dengan internet, bersifat maya, ketiadaan,
kenyataan yang tidak nyata, aktifitas kehidupan pada layar kaca virtual. Pusing
menjelaskan, rumit, yang jelas hal ini memberi pengaruh romantis yang cukup
kuat, karena informasi yang disediakan berasal dari dunia, tidak terbatas
seperti tv. Manusia dapat dengan mudah tenggelam pada dunia khayalan, terjebak
dalam dunia romantis hanya gara-gara gadget beserta internetnya. Sepertinya
tidak perlu dijelaskan lebih jauh, Anda tafsirkan sendiri saja berdasarkan
pemahaman romantis-realistis yang telah disebutkan.
Terus, apa hubungannya dengan literatur? Literatur merupakan
sebutan paling umum dalam penyampaian informasi. Literatur dan tv adalah satu
kesatuan, begitu juga satu kesatuan dengan gadget beserta internetnya.
Sebelum masuknya digital, media informasi berupa tulisan pada lembaran kertas
atau setiap media non-digital, dan sampai sekarang masih digunakan. Tidak sedikit
yang tersanjung karena literatur sampai tenggelam di dalamnya. Apalagi jika
gaya tulisan yang dipakai dalam literatur adalah romantisme ditambah bumbu-bumbu
melankolis, berpotensi membuat pembaca jadi berkhayal.
Sepertinya bersambung saja, mulai bosan tulis-menulis,
sebenarnya faktor bingung meluapkan apa yang ada di pikiran. Akhir yang buruk. Intinya
romantis itu tidak buruk, suatu berkah, bumbu kehidupan, tetapi menjadi buruk ketika
realistis dinomorduakan. Teknologi juga tidak buruk, sebagai penanda majunya
peradaban, mempermudah pekerjaan, bukan penyebab dari tenggelamnya manusia pada
sisi romantis, dan tentunya berkah yang patut disyukuri. Hanya saja menjadi
buruk ketika masyarakat belum siap menerima teknologi, dan ketika teknologi
disuguhkan maka sangat berpotensi merusak kehidupan manusia, membuat manusia terjebak
dalam dunia romantis.
Realistislah dalam menyikapi hidup, karena kehidupan itu
realistis. Utamakan belajar dan usaha, bukan mendahulukan kesenangan yang
sebenarnya khayalan kekosongan. Biarkan sisi romantis tumbuh sendiri, tidak
perlu dipaksa untuk tumbuh. Beberapa hal yang aku pelajari dari kehidupan,
biasanya orang yang tidak mengharapkan romantis dan mengedepankan realistis, sisi
romantisnya lahir sendiri tanpa diharapkan. Seperti kisah sepasang pemulung tua
di pinggir jalan, ketika beristirahat dan makan hanya dengan nasi bungkus
seadanya, terkesan damai, apalagi jika ditambah dengan canda dan senyuman di
bawah remang-remang lampu kota, it’s very romantic. Romantis yang tanpa
sengaja lahir dari realistis.
Romantis adalah khayalan yang akan menjadi nyata jika
dilakukan aktifitas realistis sebagai dasar dari segala romantis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar