Rabu, 24 Februari 2016

REALISTIS VS ROMANTIS

“Ketika sisi romantis menguasai sisi realistis, maka tunggulah keterpurukan setiap jiwa”.

Sudah semestinya berhati-hati dalam menuliskan pikiranku tentang hal ini. Takut jika salah penulisan tentang apa yang aku pikirkan sehingga menyebabkan kesalahpahaman. Menentukan alurnya saja sudah rumit, tidak mudah untuk dituliskan secara ringan supaya mudah untuk dipahami. Realitas yang berubah menjadi kekusutan di dalam pikiranku berasal dari introspeksi diri dan kehidupan orang-orang yang aku tahu, baik kenal dekat atau hanya sekedar tahu.
 
Realistis dan romantis adalah dua hal yang tidak lepas dari manusia. Mungkin banyak yang tidak merasakan ketika hidup sedang berada dalam sisi realistis  atau sisi romantis. Namun, yang aku rasakan sekarang banyak jiwa yang terjebak dalam sisi romantis. Sebenarnya tidak salah, romantis merupakan salah satu berkah dan sifat yang diwariskan Tuhan kepada manusia. Allah Maha Romantis. Masalahnya adalah ketika jiwa benar-benar lupa pada sisi realistis, dan tenggelam dalam khayalan romantis.

Apa yang dimaksud dengan realistis dan romantis? Dalam ilmu bahasa, hampir setiap kata yang silabel (suku kata) terakhirnya terdapat “is” menunjukkan sifat. Realistis berarti bersifat realis, dan romantis berarti bersifat roman. Realis dasarnya berasal dari hal-hal yang nyata. Adapun roman, jangan dulu salah paham, karena kata tersebut kaya akan sinonim. Roman yang dimaksud sekarang berdasarkan hal-hal yang indah dalam kehidupan, biasanya dalam percintaan, tetapi tidak hanya dibatasi dengan percintaan atau asmara, termasuk di dalamnya setiap khayalan indah di dalam kehidupan. Seperti khayalan yang mengarahkan pada ketenaran, terasa indah jika dipuja-puja oleh banyak pihak lain. Masih banyak lagi yang menjadi contoh roman jika satu persatu disebutkan, tetapi terlalu panjang jika dituliskan semua.

Cara berpikir manusia itu berbeda, dan yang aku pahami mengenai romantis sebaiknya berada di belakang realistis. Pada dasarnya romantis adalah realistis. Romantis terlahir dari realistis, dan muncul pada sela-sela realistis. Maksud kata “sela-sela” berarti porsi romantis lebih sedikit daripada realistis. Romantis hanyalah bumbu bagi realistis. Walaupun romantis terlahir utuh dan menjadi bagian terpisah dari realistis, tetapi tetap tidak dapat menandingi realistis dalam kehidupan, karena kehidupan itu realistis, nyata. Seperti halnya orang tua dan anak, tentunya anak tidak bisa melampaui orang tuanya, karena sampai kapan pun surga tetap berada di bawah telapak kaki ibu, dan Allah rida terhadap manusia jika orang tua (si manusia) rida.

Adakalanya menjadi baik jika romantis diletakkan di depan realistis, tetapi persentase aksi tetap harus lebih banyak realistis. Banyak pernyataan bahwa hidup berawal dari mimpi (maksud: keinginan). Benar sekali, jika tidak bermimpi, maka akan bingung tentang apa yang harus dilakukan. Setiap aktifitas diawali oleh mimpi atau khayalan. Seperti terlahirnya kita di bumi, salah satu penyebabnya berasal dari mimpi orang tua yang menginginkan keturunan. Atau ketika kita menginginkan sesuatu, tentu harus bermimpi dulu di masa kini, kemudian berusaha sampai mendapatkan yang diinginkan di masa depan. Apa yang terdapat di dalam mimpi adalah sesuatu yang berada di masa depan yang belum tentu bisa didapatkan, dan si pemimpi berada di masa kini. Semakin jelas, ada baiknya jika romantis berada di depan realistis, tetapi tidak bisa mengingkari bahwa si pemimpi berada dalam lingkup realistis, dan apa yang dimimpikan berada dalam lingkup romantis. Untuk mendapatkan romantis harus melaksanakan aktifitas realistis.

Jiwa yang tenggelam dalam sisi romantis dapat dikatakan bahwa dia adalah pemimpi. Lebih tepatnya, pemimpi yang setiap mimpinya hanya sekedar mimpi tanpa ada aktifitas realistis yang mampu menjadikan nyata setiap mimpi. Seperti itulah realitas kebanyakan manusia modern yang aku rasakan, dan mungkin diriku masih termasuk di dalamnya. Tidak salah jika sekarang terjadi banyak keburukan pada umat manusia. Banyak pengangguran, kebodohan, kemiskinan, miskin etika, penduduk penjara tidak pernah berkurang setiap detiknya, dan lain-lain yang merupakan keburukan. Sepatutnya modern dapat menjadikan manusia lebih baik dalam menjalankan kehidupan, tetapi realitasnya manusia semakin terpuruk dalam keburukan.

Modern adalah berkah dari Tuhan, tidak perlu dicacimaki, karena modern menandakan adanya kemajuan dalam kehidupan. Permasalahannya adalah sistem masyarakat dalam menyikapi kemodernan. Seperti menyikapi teknologi sebagai salah satu bagian dari modern. Sebaiknya dipertanyakan dulu kesiapan masyarakat jika disuguhi teknologi, apakah dapat menjadikan kehidupan lebih baik atau sebaliknya. Teknologi tidak pantas bagi jiwa pemalas, kecuali bagi yang menginginkan keterpurukan hidup. Pada dasarnya teknologi diproduksi untuk mempermudah aktifitas manusia, bukan untuk berfoya-foya. Banyak jiwa yang tenggelam dalam sisi romantis dikarenakan teknologi, seperti teknologi transportasi atau yang paling besar menjadi penyebab adalah teknologi digital. Tidak hanya itu, bahkan literatur pun dapat menjerumuskan manusia pada sisi romantis.

Banyak orang yang terjebak dalam sisi romantis dikarenakan alat transportasi. Biasanya yang paling sering terjadi berada di lingkungan instansi pendidikan, dan tentunya terjadi juga pada lingkup umum. Para siswa sekolah banyak yang tidak memikirkan kualitas otak. Yang penting adalah gaya. Entah tujuannya untuk apa, mungkin demi status sosial atau ketenaran. Datang ke sekolah bukan untuk mengasah otak atau menata etika di dalam diri, tetapi berlomba-lomba dalam membawa alat transportasi pribadi bermesin dan berbahan bakar minyak. Bagi jiwa yang terjebak dalam romantis mungkin itu keren, biasanya remaja. Akan tetapi, bagi para penganut realistis yang sudah mengalami berbagai pahit-manisnya kehidupan, itu adalah suatu kebodohan yang nyata. Biasanya penganut realistis adalah orang dewasa, entah umurnya masih belasan tahun, atau yang lebih lazim adalah orang-orang berumur lebih dari 25 tahun. Dewasa tidak bisa diukur oleh umur, tetapi berdasarkan cara berpikir dan menyikapi kehidupan.

Bukan masalah jika menggunakan alat transportasi pribadi atas dasar kebutuhan yang benar-benar dibutuhkan. Seperti jauhnya jarak rumah dengan sekolah, tidak ada transportasi umum, dan tidak memungkinkan untuk jalan kaki. Namun, yang tidak patut adalah jika jarak hanya beberapa meter, tetapi pergi menggunakan transportasi pribadi, ditambah lagi tidak ada niat untuk belajar di sekolah. Tujuannya buat apa jika bukan karena ingin diakui atau dipuji pihak lain. Dampaknya pengalaman bersosial minim, hanya mendapatkan pelajaran sosial dari teman-teman sepergaulan yang karakternya tidak jauh berbeda. Ingat pepatah, untuk menilai seseorang bisa dilihat dari temannya. Dampak lain, dari segi kesehatan tentunya tidak lebih baik dari pejalan kaki, raganya jarang diolah, dan berpotensi menjadi pemalas serta penyakitan. Dari segi moral, dia tidak mengenal kesederhanaan, tidak banyak paham tentang rendah hati, dan berpotensi memiliki etika buruk seperti kesombongan.

Jiwa pemimpi yang terjebak dalam sisi romantis. Hanya mengedepankan gaya karena khayalan status sosial atau ketenaran, tanpa mengasah pikiran dan sikap. Mudah ditebak masa depan orang seperti itu, kurang mampu bersaing di kehidupan dewasa yang keras. Semoga tidak terjadi, dan semoga Tuhan memberikan rahmat dan nasib yang baik.

Pasti ada penyebab yang membuat kaum muda seperti itu, dan mungkin salah satunya disebabkan teknologi digital. Menurutku teknologi inilah penyebab yang paling besar untuk saat ini. Entah itu melalui tv, gadget, atau internet sebagai penyedia berbagai program, semuanya dapat membuat orang tenggelam dalam sisi romantis. Dimulai dari tv sebagai yang lebih tua dari yang lainnya, banyak orang yang terpengaruh oleh program-program yang merusak pikiran dan mempengaruhi sikap. Menjadikan etika buruk dan menumbuhkan berbagai khayalan tidak baik pada masyarakat. Buktinya sekarang banyak anak-anak yang tidak hormat pada orang tuanya. Sebelum banyaknya program tv, generasi muda tidak banyak yang berani melawan orang tua, dan hormat kepada yang lebih tua. Berbagai program tv menyajikan visual romantis yang menampilkan bahwa pembangkang berada di pihak yang benar, dan karakter orang tua dipojokkan sebagai pihak yang salah. Membuat penonton berkhayal romantis, indah, bahwa dengan membangkang adalah suatu kebenaran.

Ada juga yang menyajikan program bahwa ketenaran adalah segalanya. Jika tenar, maka bisa mendapatkan apapun yang diinginkan, dipuja, dihormati, dan segala macam khayalan roman. Sampai masyarakat berlomba-lomba untuk menjadi tenar, entah itu dengan musik, peran, model, dll. Menjadikan ilmu pengetahuan rasanya tidak penting. Seperti itulah jiwa yang terjebak dalam sisi romantis, tanpa melihat sisi lain di samping ketenaran. Padahal kebanyakan orang-orang yang tenar di tv adalah terpelajar, minimal bahasa Inggrisnya bagus. Walaupun sebenarnya ada juga yang kurang terpelajar, bahkan orangnya masuk dunia politik tanpa ahli di bidangnya, dan bodohnya banyak masyarakat yang ingin menjadi sepertinya. Bagiku ketenaran hanyalah kekosongan jika tidak memberikan dampak baik pada pihak lain.

Di samping hal-hal tersebut, yang paling banyak mempengaruhi kaum muda adalah asmara. Hal yang paling dekat dengan istilah romantis. Ini adalah penyakit, manusia muda yang menjadi budak asmara tak terhingga. Bahkan anak SD sudah kenal cinta-cintaan. Tidak sepenuhnya salah, asmara adalah naluri dan berkah. Justru harus aneh jika tidak bisa merasakan asmara. Namun, rasanya tidak pantas jika belum dewasa sudah cinta-cintaan. Masa muda adalah tabungan (baik berupa harta, pengetahuan, keahlian, dsb), supaya ketika menikah dan berkeluarga bisa memanen tabungan untuk tidak kesulitan. Masa muda adalah masa untuk memantaskan diri, baik dari segi pengetahuan, etika, ataupun harta yang bisa meringankan beban ketika masuk dalam keluarga baru bersama istri yang dinikahi. Asmara bukan hanya cinta kamu, senang-senang, ciuman, tetapi bagaimana untuk membahagiakan, menafkahi, menjaga, memberikan rumah yang aman dan nyaman bagi yang dicintai. Memangnya dalam pernikahan mau dikasih makan cinta!? Dasar film yang mempertontonkan asmara kawula muda, sehingga banyak anak muda yang terpengaruh. Mengedepankan asmara, tetapi hal-hal atau tahapan yang dapat menghebatkan kehidupan asmara yang nyata disingkirkan. Sebaiknya hebatkan diri dulu, lalu lanjutkan dengan urusan asmara.

Tv sungguh mampu mengubah pola pikir manusia dengan mudah. Terdapat penyampaian doktrin yang tidak dirasakan oleh para penikmatnya. Cara kerjanya memang hebat, suatu pemikiran yang divisualisasikan pada layar, sehingga mudah menghipnotis berpasang-pasang mata. Hipnotis yang berupa hiburan, kesenangan, roman, menimbulkan campur aduk emosi, berhasil mengarahkan jiwa pada titik khayal tertinggi, dan ujungnya mengubah manusia menjadi hedonis. Hedonis yang menganggap lawan jenis berparas menarik lebih pantas dipilih, bukan lawan jenis berhati baik dan mampu menjaga setulus hati. Para penganut hedonisme yang menganggap bahwa petani dan peternak adalah kalangan rendah, karena lebih percaya hijrah ke kota untuk bekerja di gedung-gedung tinggi dengan alasan mampu meninggikan status sosial, cepat kaya. Memang kesannya miris, tetapi seperti itu realitasnya. Lihat saja para petani di sawah, sangat jarang ada pemuda. Padahal petani mampu lebih kaya daripada pekerja kota. Hitung saja persentase para petani dan pekerja kota yang memiliki rumah, untuk sementara yang aku ketahui lebih banyak petani yang memiliki rumah. Semua hal menjadi bersifat roman, dan lupa terhadap realistis.

Teknologi yang lebih muda dan canggih dari tv adalah gadget, baik berupa komputer desktop, laptop, ponsel, dsb. Pengaruhnya berpotensi lebih buruk dari tv, dan lebih heboh lagi ketika disandingkan dengan internet. Romantis adalah khayalan, mirip dengan internet, bersifat maya, ketiadaan, kenyataan yang tidak nyata, aktifitas kehidupan pada layar kaca virtual. Pusing menjelaskan, rumit, yang jelas hal ini memberi pengaruh romantis yang cukup kuat, karena informasi yang disediakan berasal dari dunia, tidak terbatas seperti tv. Manusia dapat dengan mudah tenggelam pada dunia khayalan, terjebak dalam dunia romantis hanya gara-gara gadget beserta internetnya. Sepertinya tidak perlu dijelaskan lebih jauh, Anda tafsirkan sendiri saja berdasarkan pemahaman romantis-realistis yang telah disebutkan.

Terus, apa hubungannya dengan literatur? Literatur merupakan sebutan paling umum dalam penyampaian informasi. Literatur dan tv adalah satu kesatuan, begitu juga satu kesatuan dengan gadget beserta internetnya. Sebelum masuknya digital, media informasi berupa tulisan pada lembaran kertas atau setiap media non-digital, dan sampai sekarang masih digunakan. Tidak sedikit yang tersanjung karena literatur sampai tenggelam di dalamnya. Apalagi jika gaya tulisan yang dipakai dalam literatur adalah romantisme ditambah bumbu-bumbu melankolis, berpotensi membuat pembaca jadi berkhayal.

Sepertinya bersambung saja, mulai bosan tulis-menulis, sebenarnya faktor bingung meluapkan apa yang ada di pikiran. Akhir yang buruk. Intinya romantis itu tidak buruk, suatu berkah, bumbu kehidupan, tetapi menjadi buruk ketika realistis dinomorduakan. Teknologi juga tidak buruk, sebagai penanda majunya peradaban, mempermudah pekerjaan, bukan penyebab dari tenggelamnya manusia pada sisi romantis, dan tentunya berkah yang patut disyukuri. Hanya saja menjadi buruk ketika masyarakat belum siap menerima teknologi, dan ketika teknologi disuguhkan maka sangat berpotensi merusak kehidupan manusia, membuat manusia terjebak dalam dunia romantis.

Realistislah dalam menyikapi hidup, karena kehidupan itu realistis. Utamakan belajar dan usaha, bukan mendahulukan kesenangan yang sebenarnya khayalan kekosongan. Biarkan sisi romantis tumbuh sendiri, tidak perlu dipaksa untuk tumbuh. Beberapa hal yang aku pelajari dari kehidupan, biasanya orang yang tidak mengharapkan romantis dan mengedepankan realistis, sisi romantisnya lahir sendiri tanpa diharapkan. Seperti kisah sepasang pemulung tua di pinggir jalan, ketika beristirahat dan makan hanya dengan nasi bungkus seadanya, terkesan damai, apalagi jika ditambah dengan canda dan senyuman di bawah remang-remang lampu kota, it’s very romantic. Romantis yang tanpa sengaja lahir dari realistis.

Romantis adalah khayalan yang akan menjadi nyata jika dilakukan aktifitas realistis sebagai dasar dari segala romantis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar