Sabtu, 12 Maret 2016

TERKADANG ADA BAIKNYA BERPRASANGKA BURUK

Tipu muslihat, kata-kata yang dikhawatirkan Rasulku pada umatnya di akhir zaman. Cukup banyak sinonim yang berhubungan dengan tipu muslihat, salah satunya adalah fitnah. Jangan salah paham dengan istilah fitnah, karena sepengetahuanku kebanyakan orang memahami fitnah hanya sebatas menuduh kejelekan pada orang yang tidak melakukan kejelekan tersebut. Padahal fitnah bermakna luas. Bisa bermakna perkataan bohong untuk menjelekkan orang, menyesatkan, membelokkan, menghalang-halangi, menyeleweng, menyimpang, sesat, dsb, pokoknya sebagian besar aktifitas yang tidak sesuai dengan kebenaran dan merugikan pihak lain bisa dikatakan fitnah.

Tiba-tiba saja terpikirkan untuk menuliskan masalah ini, terjadi ketika lihat berita di tv tentang sampah kabel yang menghalangi gorong-gorong sampai menyebabkan saluran air terhambat. Sebenarnya tidak membuatku tertarik jika temanya hanya sebatas itu, karena sebagian masyarakat masih mempunyai hobi buang sampah sembarangan, jadi sampah di sembarang tempat bagiku bukan hal yang aneh. Yang membuatku tertarik adalah ketika dugaan polisi menyatakan bahwa sampah kabel tersebut merupakan hasil curian. Why!? Kenapa harus pencuri yang menjadi dugaan pertama? Supaya tidak ada yang salah paham, saya menulis ini tanggal 11 Maret 2016 ketika pelaku telah diketahui, dan pelakunya adalah enam orang pencuri. Memang sih di tahun 2015 ada kasus pencurian kabel, dan mungkin banyak kasus yang sama terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, kenapa tidak lebih dahulu menduga pihak terdekat? Seperti pihak bisnis yang dekat hubungannya dengan barang berupa kabel, tidak perlu disebutkan namanya secara jelas, toh masyarakat paham perusahaan apa saja yang dekat hubungannya dengan kabel, baik perusahaan milik negara ataupun swasta.

Mari sejenak berprasangka buruk dalam hal pelaku sampah kabel di gorong-gorong, dengan tujuan mencari kebenaran dan bukan merugikan pihak lain, walaupun nyatanya mau tidak mau harus merugikan pihak lain, tetapi yang penting mencari kebenaran. Saya bosan dibodohi. Mungkin semua orang juga tidak suka dibodohi. Seperti kasus kemarin tentang pembakaran hutan yang ternyata si pelaku dihukum tidak terlalu berat. Atau seperti para koruptor yang pelakunya “karyawan” negara dihukum hanya sebatas penjara beberapa tahun. Contoh-contoh kasus seperti itu bagiku adalah pembodohan masal, dan khusus saya sendiri merasa dibodohi oleh pihak hakim dan jaksa yang bertanggung jawab atas hukum-menghukum. Bagaimana tidak merasa dibodohi, nyatanya yang curi ayam saja bisa sekarat dipukuli warga, tetapi koruptor hanya dihukum beberapa tahun di tahanan kelas eksekutif tanpa sedikit pun merasa hampir sekarat dipukuli warga. Sebenarnya hal tersebut tidak ada hubungannya dengan hakim dan jaksa, karena pencuri ayam yang dikeroyok adalah hasil dari main hakim sendiri. Disebabkan saya kurang mengikuti berita, bingung memberikan contoh perbandingan, maka yang terlintas hanya antara koruptor dengan pencuri ayam.

Sekali lagi saya ulang, kenapa tidak lebih dahulu menduga pihak negara atau swasta terdekat yang bisnisnya berhubungan dekat dengan kabel? Sampah kabel sebanyak itu, siapa lagi jika bukan punya perusahaan besar? Mungkin juga pencuri yang melakukannya, tetapi kok sebelumnya tidak ada berita yang diekspos mengenai pencurian kabel di sekitar gorong-gorong yang bersangkutan? Apa mungkin perusahaan terlalu kaya, sehingga jika terjadi pencurian kabel, maka tidak perlu diusut. Bisa saja sampah itu dikarenakan oknum pekerja lapangan, dengan alasan malas buang sampah atau bisa saja dengan buang sampah sembarangan dapat menambah penghasilan karena hemat ongkos. Pekerja dan perusahaan adalah dua hal yang berbeda, tetapi tetap saja yang wajib bertanggung jawab adalah perusahaan yang menjadi tempat bekerja si pekerja.

Bisa saja dalam kasus ini terjadi tipu muslihat yang sangat besar karena korbannya ribuan pasang mata, maksudnya banyak pihak yang tertipu. Mari coba gambarkan apa yang terdapat pada bagian otak busuk saya. (1) Pihak kebersihan menemukan sampah kabel di gorong-gorong, dan menjadi berita booming karena jumlah sampah kabel yang cukup banyak. (2) Perusahaan yang bersangkutan menyadari hal tersebut karena berita, lalu dia menyiapkan sejumlah uang untuk menyuap polisi dan media sampai merencanakan tipu muslihat yang akan disajikan pada masyarakat. (3) Pihak yang terlibat dalam tipu muslihat membuat skenario sebaik mungkin, berawal dari pembuatan tersangka (tersangka yang dibuat-buat), kemudian menyiapkan hal pendukung seperti alat-alat pencurian kabel di gorong-gorong. (4) Taraaa...! Akhirnya pelaku berhasil ditangkap, mereka berjumlah enam orang dengan menggunakan baju tahanan dan kupluk ninja. (5) Kasus selesai dan perusahaan pun aman, semua pihak yang terlibat tipu muslihat diuntungkan dengan sejumlah uang dan nama baik.

Jika hal tersebut benar-benar terjadi, maka sayalah yang pertama kali mengatakan “jijik!”. Ketika uang dan jabatan lebih berkuasa daripada kebenaran, maka itulah yang dinamakan jijik. Bagiku terkesan mudah menangkap pelaku dalam kasus tersebut. Pencuri bukanlah orang bodoh, karena dia pintar (mencuri). Ketika berita sampah kabel gorong-gorong mulai heboh ke masyarakat, maka dapat memudahkan para pencuri untuk kabur ke luar kota, dan jika perlu ke luar pulau, supaya tidak ditangkap. Lagi pula para pencuri punya banyak uang hasil dari pencurian. Makanya, secara finansial kabur menjauh bukanlah masalah. Lumayan kan, seperti yang diberitakan bahwa pencuri hanya menjual tembaga dari kabel dengan harga sekitar Rp 40-60 ribu per kg, tinggal hitung saja dapat berapa kilo tembaga dari sekitar 26 truk kulitnya. Kenapa juga hanya menjual bagian tembaganya, memangnya kabel utuh harganya lebih murah daripada tembaga? Sangat mengherankan. Kata Pak Polisi di berita, alasan tidak bersama kulitnya karena tidak seimbang antara repotnya beban dan nilai ekonomi bagi si pencuri. Saya sendiri kurang paham masalah harga kabel termasuk pasarnya, apalagi kabel berukuran besar. Namun, berdasarkan pemikiran orang awam sepertiku, kabel utuh lebih mahal daripada hanya tembaga sebagai salah satu bagian dari kabel, dan bagi kebanyakan pedagang,  mendapatkan untung sedikit pun selalu dikejar.

Bagian otak busuk saya telah cukup bertindak liar, sehingga bagian otak lain ingin mendapatkan bagian dalam kasus ini. Tidak adil rasanya jika hanya berburuk sangka pada sebagian pihak. Kasihan para polisi yang citranya sudah jelek jika terus-terusan diduga jelek. Kasihan juga pihak perusahaan, jika pihak tersebut jadi tersangka, maka tidak bisa lagi berfoya-foya. Mari bedah apa yang terdapat pada bagian otak tidak busuk saya. Ada benarnya juga dugaan jika sampah kabel disebabkan pencuri. Lagi pula untuk apa pihak perusahaan lepas kulit kabel, kan kabelnya mau digunakan untuk keperluan proyek. Saya sendiri tidak paham bagaimana proses pemasangan kabel bawah tanah, apa mesti buka kulit kabel atau digunakan kabel secara utuh. Berdasarkan logika orang awam sepertiku, untuk keperluan proyek jangka panjang, tentunya digunakan kabel utuh tanpa cacat sedikit pun, supaya awet dan perusahaan pun untung besar.

Sekian, otak tidak buruk saya hanya mempunyai sedikit cerita. Memang manusia itu lebih pintar mengomentari kejelekan pihak lain daripada kebaikannya. Sekarang tinggal Anda yang memilih, antara percaya pihak kepolisian dan media, atau menolaknya dan meminta keterangan yang jelas dari mereka. Pesan saya, jangan mudah percaya pada polisi dan media, karena zaman sekarang uang hampir seutuhnya menjadi dewa, dan dengan uang apapun terkesan mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar