Tipu muslihat, kata-kata yang dikhawatirkan Rasulku pada
umatnya di akhir zaman. Cukup banyak sinonim yang berhubungan dengan tipu
muslihat, salah satunya adalah fitnah. Jangan salah paham dengan istilah
fitnah, karena sepengetahuanku kebanyakan orang memahami fitnah hanya sebatas
menuduh kejelekan pada orang yang tidak melakukan kejelekan tersebut. Padahal
fitnah bermakna luas. Bisa bermakna perkataan bohong untuk menjelekkan orang,
menyesatkan, membelokkan, menghalang-halangi, menyeleweng, menyimpang, sesat,
dsb, pokoknya sebagian besar aktifitas yang tidak sesuai dengan kebenaran dan
merugikan pihak lain bisa dikatakan fitnah.
Tiba-tiba saja terpikirkan untuk menuliskan masalah ini,
terjadi ketika lihat berita di tv tentang sampah kabel yang menghalangi
gorong-gorong sampai menyebabkan saluran air terhambat. Sebenarnya tidak
membuatku tertarik jika temanya hanya sebatas itu, karena sebagian masyarakat masih
mempunyai hobi buang sampah sembarangan, jadi sampah di sembarang tempat bagiku
bukan hal yang aneh. Yang membuatku tertarik adalah ketika dugaan polisi
menyatakan bahwa sampah kabel tersebut merupakan hasil curian. Why!? Kenapa
harus pencuri yang menjadi dugaan pertama? Supaya tidak ada yang salah paham,
saya menulis ini tanggal 11 Maret 2016 ketika pelaku telah diketahui, dan
pelakunya adalah enam orang pencuri. Memang sih di tahun 2015 ada kasus
pencurian kabel, dan mungkin banyak kasus yang sama terjadi di tahun-tahun
sebelumnya. Akan tetapi, kenapa tidak lebih dahulu menduga pihak terdekat? Seperti
pihak bisnis yang dekat hubungannya dengan barang berupa kabel, tidak perlu disebutkan
namanya secara jelas, toh masyarakat paham perusahaan apa saja yang dekat
hubungannya dengan kabel, baik perusahaan milik negara ataupun swasta.
Mari sejenak berprasangka buruk dalam hal pelaku sampah
kabel di gorong-gorong, dengan tujuan mencari kebenaran dan bukan merugikan
pihak lain, walaupun nyatanya mau tidak mau harus merugikan pihak lain, tetapi
yang penting mencari kebenaran. Saya bosan dibodohi. Mungkin semua orang juga
tidak suka dibodohi. Seperti kasus kemarin tentang pembakaran hutan yang
ternyata si pelaku dihukum tidak terlalu berat. Atau seperti para koruptor yang
pelakunya “karyawan” negara dihukum hanya sebatas penjara beberapa tahun. Contoh-contoh
kasus seperti itu bagiku adalah pembodohan masal, dan khusus saya sendiri merasa
dibodohi oleh pihak hakim dan jaksa yang bertanggung jawab atas hukum-menghukum. Bagaimana
tidak merasa dibodohi, nyatanya yang curi ayam saja bisa sekarat dipukuli
warga, tetapi koruptor hanya dihukum beberapa tahun di tahanan kelas eksekutif
tanpa sedikit pun merasa hampir sekarat dipukuli warga. Sebenarnya hal tersebut
tidak ada hubungannya dengan hakim dan jaksa, karena pencuri ayam yang dikeroyok adalah hasil
dari main hakim sendiri. Disebabkan saya kurang mengikuti berita, bingung
memberikan contoh perbandingan, maka yang terlintas hanya antara koruptor
dengan pencuri ayam.
Sekali lagi saya ulang, kenapa tidak lebih dahulu menduga
pihak negara atau swasta terdekat yang bisnisnya berhubungan dekat dengan
kabel? Sampah kabel sebanyak itu, siapa lagi jika bukan punya perusahaan besar?
Mungkin juga pencuri yang melakukannya, tetapi kok sebelumnya tidak ada berita
yang diekspos mengenai pencurian kabel di sekitar gorong-gorong yang
bersangkutan? Apa mungkin perusahaan terlalu kaya, sehingga jika terjadi
pencurian kabel, maka tidak perlu diusut. Bisa saja sampah itu dikarenakan
oknum pekerja lapangan, dengan alasan malas buang sampah atau bisa saja dengan buang
sampah sembarangan dapat menambah penghasilan karena hemat ongkos. Pekerja dan
perusahaan adalah dua hal yang berbeda, tetapi tetap saja yang wajib
bertanggung jawab adalah perusahaan yang menjadi tempat bekerja si pekerja.
Bisa saja dalam kasus ini terjadi tipu muslihat yang sangat
besar karena korbannya ribuan pasang mata, maksudnya banyak pihak yang tertipu.
Mari coba gambarkan apa yang terdapat pada bagian otak busuk saya. (1) Pihak
kebersihan menemukan sampah kabel di gorong-gorong, dan menjadi berita booming
karena jumlah sampah kabel yang cukup banyak. (2) Perusahaan yang bersangkutan
menyadari hal tersebut karena berita, lalu dia menyiapkan sejumlah uang untuk
menyuap polisi dan media sampai merencanakan tipu muslihat yang akan disajikan
pada masyarakat. (3) Pihak yang terlibat dalam tipu muslihat membuat skenario
sebaik mungkin, berawal dari pembuatan tersangka (tersangka yang dibuat-buat),
kemudian menyiapkan hal pendukung seperti alat-alat pencurian kabel di
gorong-gorong. (4) Taraaa...! Akhirnya pelaku berhasil ditangkap, mereka
berjumlah enam orang dengan menggunakan baju tahanan dan kupluk ninja. (5)
Kasus selesai dan perusahaan pun aman, semua pihak yang terlibat tipu muslihat
diuntungkan dengan sejumlah uang dan nama baik.
Jika hal tersebut benar-benar terjadi, maka sayalah yang
pertama kali mengatakan “jijik!”. Ketika uang dan jabatan lebih berkuasa
daripada kebenaran, maka itulah yang dinamakan jijik. Bagiku terkesan mudah
menangkap pelaku dalam kasus tersebut. Pencuri bukanlah orang bodoh, karena dia
pintar (mencuri). Ketika berita sampah kabel gorong-gorong mulai heboh ke
masyarakat, maka dapat memudahkan para pencuri untuk kabur ke luar kota, dan
jika perlu ke luar pulau, supaya tidak ditangkap. Lagi pula para pencuri punya
banyak uang hasil dari pencurian. Makanya, secara finansial kabur menjauh bukanlah
masalah. Lumayan kan, seperti yang diberitakan bahwa pencuri hanya menjual tembaga
dari kabel dengan harga sekitar Rp 40-60 ribu per kg, tinggal hitung saja dapat
berapa kilo tembaga dari sekitar 26 truk kulitnya. Kenapa juga hanya menjual
bagian tembaganya, memangnya kabel utuh harganya lebih murah daripada tembaga? Sangat
mengherankan. Kata Pak Polisi di berita, alasan tidak bersama kulitnya karena
tidak seimbang antara repotnya beban dan nilai ekonomi bagi si pencuri. Saya sendiri
kurang paham masalah harga kabel termasuk pasarnya, apalagi kabel berukuran
besar. Namun, berdasarkan pemikiran orang awam sepertiku, kabel utuh lebih
mahal daripada hanya tembaga sebagai salah satu bagian dari kabel, dan bagi kebanyakan
pedagang, mendapatkan untung sedikit pun
selalu dikejar.
Bagian otak busuk saya telah cukup bertindak liar, sehingga
bagian otak lain ingin mendapatkan bagian dalam kasus ini. Tidak adil rasanya
jika hanya berburuk sangka pada sebagian pihak. Kasihan para polisi yang
citranya sudah jelek jika terus-terusan diduga jelek. Kasihan juga pihak
perusahaan, jika pihak tersebut jadi tersangka, maka tidak bisa lagi berfoya-foya.
Mari bedah apa yang terdapat pada bagian otak tidak busuk saya. Ada benarnya
juga dugaan jika sampah kabel disebabkan pencuri. Lagi pula untuk apa pihak
perusahaan lepas kulit kabel, kan kabelnya mau digunakan untuk keperluan
proyek. Saya sendiri tidak paham bagaimana proses pemasangan kabel bawah tanah,
apa mesti buka kulit kabel atau digunakan kabel secara utuh. Berdasarkan logika
orang awam sepertiku, untuk keperluan proyek jangka panjang, tentunya digunakan
kabel utuh tanpa cacat sedikit pun, supaya awet dan perusahaan pun untung
besar.
Sekian, otak tidak buruk saya hanya mempunyai sedikit
cerita. Memang manusia itu lebih pintar mengomentari kejelekan pihak lain
daripada kebaikannya. Sekarang tinggal Anda yang memilih, antara percaya pihak
kepolisian dan media, atau menolaknya dan meminta keterangan yang jelas dari mereka.
Pesan saya, jangan mudah percaya pada polisi dan media, karena zaman sekarang
uang hampir seutuhnya menjadi dewa, dan dengan uang apapun terkesan mudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar