Ceritanya mau bikin kisah trilogi, biar kayak filmnya The
Godfather. Sebenarnya jarang-jarang menuliskan kisah satu tema dalam 3 judul.
Faktor tak sengaja, kebetulan harus jadi 3 judul, dan “mungkin” di masa depan
jadi lebih dari 3 judul. Aku bukanlah Tuhan Maha segala Maha, hanya bisa
menduga dengan menyertakan kata mungkin dkk. Ini adalah sajian spesial
dariku bagi siapa pun yang berkenan, karena sangat jarang fokus menuliskan satu
persoalan yang sama berjudul-judul. Harapannya dapat memberikan manfaat. Ambil
baiknya, dan jual buruknya, upss sorry... maksudnya jangan ikuti
buruknya, dan lebih baik lagi jika penulis diingatkan ketika menuliskan hal-hal
yang tidak faktual nan jauh dari logika sehat manusia normal, da aku mah apa
atuh... kasep.
Kondisinya semakin rumit. Menjadi rumit karena tidak mudah
membagi cerita tentang kesehatan dan tentang diriku. Biar eksis lah bung..., ceritain
diri sendiri, walaupun nyatanya bukan tentang eksis, tetapi karena setiap
satuan makna tertulis bedasarkan pengalaman pribadi.
Kondisi nenek cukup membaik. Memang tekanan darahnya masih
belum stabil, tetapi tidak seburuk ketika awal masuk rumah sakit, karena dulu
kondisinya aku anggap cukup mengenaskan. Seperti biasa, di pagi hari aku pulang
ke rumah, dan melanjutkan menemani nenek di malam hari. Aku butuh waktu
istirahat. Sebelum mengkhawatirkan kesehatan orang lain, lebih baik khawatirkan
dulu kesehatan diri sendiri. Masa harus sakit karena terlalu mengkhawatirkan
kesehatan orang lain, nanti keluarga bertambah repot karena yang sakit menjadi
dua orang, jadi aku pulang di siang hari untuk mengumpulkan energi supaya kuat
jaga di malam hari.
Belum sempat memejamkan mata, karena memang biasanya sulit
tidur siang, tiba-tiba di sore hari yang mendung kerabatku minta untuk segera
kembali ke rumah sakit. Dadakan sekali, kondisiku belum mandi dan belum makan
karena dari pagi tidak nafsu makan. Aku minta waktu setengah jam untuk
mempersiapkan diri dengan cara mandi dan makan seadanya, dan untungnya
diperbolehkan. Aku rela diburu-buru karena kerabatku harus ambil dua labu darah
untuk nenek. Pihak rumah sakit kehabisan stok darah, dan direkomendasikan jika
mau cepat maka ambil darah sendiri oleh kerabat pasien ke PMI yang ditunjuk
pihak rumah sakit. Jaraknya cukup jauh, dari kampung Cikopo ke Kecamatan Kopo.
RSUD Cicalengka tepatnya berada di daerah Cikopo, dan PMI yang ditunjuk ada di
Kopo. Sedikit unik, keduanya ada unsur nama Kopo, padahal dua daerah yang jauh
berbeda baik berdasarkan lokasi maupun jarak, walaupun sama-sama bagian dari
Kabupaten Bandung. Berdasarkan hal itu, dugaanku sebelumnya mengenai jenis
infus ringer laktat yang tidak akan diganti lagi ternyata salah total. Kasihan
nenek harus berurusan kembali dengan infus darah dan natrium klorida.
Ada baiknya mendengarkan saran ibu untuk tidak pergi ke
Cimahi di pagi hari. Pergi untuk ambil legalisir ijazah ibu yang sangat ingin
segera aku selesaikan. Dengan mencoba ikuti saran ibu untuk tidak pergi,
ternyata aku bisa lebih menjaga nenek yang mendadak butuh dua labu darah
menjelang sore. Cukup lama di hari sebelumnya aku ke Cimahi untuk ambil
legalisir ijazah, dan ternyata belum selesai. Dengan biaya administratif yang
tidak sedikit, pelayanan instansi bagiku masih kurang memuaskan. Padahal sudah
sampai batas waktu yang dijanjikan pihak instansi. Bahkan aku memilih hari opsi
kedua, karena pihak instansi memberikan opsi hari kamis dan jum’at. Sedikit
kecewa, menurutku instansi pendidikan sebaiknya memberikan contoh baik kepada
masyarakat mengenai kedisiplinan. Merasa kecewa juga karena aku memilih
menggunakan kendaraan umum untuk pergi, dan dari stasiun Cimahi ke tempat
tujuan aku memilih jalan kaki, kemudian dihadapkan dengan hasil yang tidak
diharapkan. Jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi cukup membuat wajahku berminyak
dan berkeringat. Aku pikir berprasangka baik adalah keputusan yang lebih baik,
mungkin belum selesai karena sibuknya pihak yang bersangkutan dalam hal
legalisir. Lagi pula aku bisa olah raga, cukup banyak langkah kaki yang aku
lakukan, mempraktekkan salah satu bagian mencegah lebih baik daripada mengobati
dalam hal kesehatan.
Perjalan kerabat mengambil darah cukup lama, sekitar 5 jam.
Jalur Cicalengka menuju Kopo terkenal macet, ditambah lagi terdapat banjir di
beberapa titik. Salut buat kerabatku, saat hujan pun dia rela pergi menggunakan
sepeda motor, karena dia adalah anak nenek, pamanku, makanya rela melakukan
apapun untuk ibunya. Bahkan dia jarang pulang, dan tentunya rela tidak mandi,
pulang juga hanya beberapa menit, tidak sepertiku yang pulang pagi menjelang
siang kemudian kembali ke rumah sakit di malam hari. Kerabat yang sering
berurusan dengan nenek di rumah sakit hanyalah aku dan pamanku. Di keluarga
besar, hanya dua orang yang mempunyai waktu luang cukup banyak, dan anggota
keluarga lain sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun mereka sibuk bekerja, tetapi
untuk datang menjenguk nenek bukanlah masalah, semua anggota keluarga sangat
cinta kepada nenek. Aku banyak waktu luang karena kebetulan sedang berada di
Bandung, menghindari skripsi dan berharap bisa garap skripsi di rumah.
Sebenarnya alasan utama adalah penyakitku, dan ujungnya dilanjutkan dengan
bermalas-malasan, karena nyatanya penyakitku sudah lumayan sembuh dalam jangka
waktu satu minggu dan mampu kembali ke Yogya. Ternyata ada baiknya untuk tidak
terburu-buru kembali ke Yogya, berguna untuk nemenin nenek di rumah sakit.
Sambil menunggu kerabatku pulang membawa darah, aku coba
mencairkan suasana di sekitar nenek.
Kebetulan banyak kerabat yang menjenguk, sehingga suasana sekitar nenek
cukup ramai. Senang rasanya bisa membuat nenek tersenyum karena obrolan
ngawurku, atau mungkin dia merasa sangat terganggu karena berisiknya ocehanku,
dan senyumnya adalah palsu. Aku ngawur tentang penyakitku. Nenek dan kerabat lain
cukup terkejut melihat bekas kakiku yang sempat hancur karena gejala gula
darah. Sampai aku ditakut-takuti oleh mereka karena khawatir kepadaku. Aku
hanya tersenyum dan cukup tenang, bahkan nenek bilang jika aku itu penyakitan
tetapi hidupnya biasa-biasa saja seperti kebanyakan orang sehat. Aku hanya
menanggapinya sengawur mungkin, disebabkan penyakit, aku merasa jadi orang yang
paling beruntung. Ngawur yang masuk akal, karena dengan penyakit aku jadi sadar
nasihat mencegah lebih baik daripada mengobati. Seandainya tidak terkena
penyakit, mungkin sampai tua malas olah raga yang dapat menyebabkan rusaknya
tubuh di usia tua. Karena penyakit, aku jadi sering ingat Tuhan. Seandainya
tidak berpenyakit, mungkin hidupku masih urak-urakan yang berpotensi melakukan
dosa sebanyak-banyaknya. Dengan penyakit juga hidupku bisa bermanfaat, dengan
cara membagikan kisah pribadi supaya tidak banyak orang bernasib buruk
sepertiku. Nenek hanya berkomentar, anak yang satu ini selalu ada-ada saja.
Banyak kebaikan yang dirasakan jika manusia pandai bersyukur dan menanggalkan
sikap keluh kesah. Aku berharap Tuhan berkenan menambahkan lagi sikap syukurku
kepada-Nya.
Berbahagialah bagi yang terkena penyakit. Jika Anda
bersyukur dan melihat pada sisi positif, maka akan merasa beruntung ketika
terkena penyakit. Bukan berarti harus sengaja sakit supaya ingat Tuhan dan
sadar akan kesehatan, karena itu namanya zalim pada diri sendiri,
menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, menyikapi hal secara berlebihan di
luar batas normal, dan katanya sih Tuhan murka pada orang-orang yang zalim.
Logis juga jika Tuhan memurkai orang zalim, karena si zalim tidak
mensyukuri nikmat sehat dengan cara sengaja membuat diri sakit.
Sepulangnya kerabatku dari PMI, satu per satu kerabat yang
menjenguk pulang ke rumah masing-masing. Kasihan mereka, banyak pekerjaan yang
harus dikerjakan esok hari. Tidak membutuhkan waktu lama, setelah infus darah
sudah terpasang, maka kami pun tertidur pulas sampai subuh hari. Kerabatku
terlihat capek, dan aku memang orang tukang tidur. Lagi-lagi tertidur, percuma
jika aku hanya tidur, tidak ada jaga-menjaga. Aku senang nenek bisa tidur
pulas, dan berharap dengan banyak istirahat nenekku cepat sembuh sehingga bisa
pulang ke rumah. Tidak ada orang yang mau sakit, dan rawat inap di rumah sakit
tidaklah nyaman. Beberapa kali nenek menyatakan lebih nyaman di rumah. Bahkan
pasien di ranjang sebelah seringkali meminta pulang kepada kerabatnya.
Ada kejadian yang membuatku sedikit malu ketika para kerabat
masih menjenguk. Dengan penuh semangat aku menyatakan bahwa esok hari minta
izin pulang, dengan alasan mau pergi ke Cimahi ambil legaliris ijazah ibu. Para
kerabat terheran karena esok hari adalah libur nasional. Aku kira mereka
bercanda, dan aku menanggapinya libur karena gerhana matahari. Masa gerhana
matahari menyebabkan libur nasional? Ternyata setelah dijelaskan, besok adalah
libur nasional nyepi. Terkesan bahwa aku adalah pengangguran sejati, sampai
tidak kenal tanggal. Kejadian sebenarnya tidak terlalu buruk, sudah sangat lama
aku tidak berurusan dengan kalender Indonesia. Paham tanggal hanya lewat ponsel
dan laptop yang tidak ada keterangan kapan adanya tanggal merah. Bahkan dulu
sempat beberapa kali berangkat kampus di tanggal merah, niatnya mau ke perpus,
ternyata libur nasional. Masa skripsi adalah masa tak kenal libur, atau mungkin
masa di mana libur dapat dilakukan kapan pun. Walaupun terkesan pengangguran,
tetapi nyatanya jadwalku cukup padat. Buktinya sebagian waktu dipakai nunggu di
rumah sakit, bantu ibu urus legalisir ijazah, dan tentunya di sela-sela
menunggu aku garap skripsi di atas kertas seadanya. Suasana rumah sakit cukup
memberikan inspirasi untuk garap skripsnying.
Libur nasional cukup membuatku bingung merencanakan
aktifitas. Rencana ambil legalisir ijazah sudah tidak mungkin dilakukan. Lebih
baik aku mengisi waktu dengan shalat gerhana matahari di masjid rumah sakit.
Shalat sendiri, dan setelah selesai ternyata ada beberapa orang yang melakukan
shalat gerhana berjama’ah. Kenapa tidak ada pengumuman? Kan jadinya aku malu
Pak! Takut disangka lebih mementingkan diri sendiri tanpa memedulikan orang
lain. Shalat gerhana lebih aku pilih daripada menyaksikan secara langsung
proses gerhana. Lagipula bisa lihat di youtube jika penasaran, kan sekarang
teknologi sudah maju. Lebih baik mendekatkan diri kepada Tuhan, takut bulan
tidak pergi ketika menghalangi matahari, dan berujung gelap sampai akhir kiamat
tiba. Allah Maha Segala. Bagi-Nya mudah untuk menghentikan perputaran bumi,
bulan, dan matahari. Rasulku saja terbirit-birit untuk melaksanakan shalat
ketika menyadari adanya gerhana, masa aku sebagai umatnya tidak merasakan takut
seperti dirinya. Padahal Rasul sudah dijamin masuk surga, tetapi tetap saja
pengabdiannya kepada Tuhan selalu besar. Aku sempat membaca sepintas judul
artikel yang kebenarannya belum aku telusuri, bahwa salah satu tanda dekatnya
hari kiamat adalah ketika manusia melakukan zina di saat terjadinya gerhana.
Apakah di saat gerhana kemarin ada yang melakukan zina, aku tidak tahu, yang
jelas banyak orang yang lupa Tuhan ketika proses gerhana terjadi. Buktinya
banyak orang yang berwisata untuk menyaksikan gerhana daripada mohon ampun
kepada Tuhan. Ada lagi yang aneh, beberapa stasiun tv mengadakan program proses
gerhana secara langsung, bukan menayangkan shalat gerhana berjama’ah seperti
yang biasa dilakukan di hari raya umat Islam. Pikiran burukku berprasangka
bahwa banyak pihak mengarahkan manusia untuk membangkang kepada Tuhan, entah
apa tujuannya, yang jelas hal tersebut adalah agendanya para satanic.
Malam harinya tidak ramai seperti biasa. Beruntungnya siang
hari bisa tidur cukup lama. Sebagai yang kesulitan tidur di siang hari, 3 jam
adalah waktu yang lama untuk tidur. Akhirnya, bisa juga begadang untuk
sepenuhnya jaga nenek. Bosan sih, tetapi mau bagaimana lagi. Untuk mengobati
bosan, maka beberapa kali aku keluar masuk gedung, perhatiin selang infus biar
tidak macet, dan garap skripsi semampunya. Supaya tidak berujung sakit, sekitar
menjelang subuh aku pun tidur, dan tidak lama bangun lagi karena waktu subuh
sudah tiba. Pagi hari langsung berpikiran untuk pergi ke Cimahi. Rasanya tidak
nyaman jika dihantui urusan yang belum selesai. Sebenarnya ibuku tidak
membutuhkan legalisir ijazah dalam waktu yang dekat. Akunya saja yang tidak
suka membiarkan urusan diselesaikan terlalu lama, lagi pula cepat atau lambat
aku bakal kembali ke Yogya.
Dengan tidak mengharapkan saran ibu, aku pergi ke Cimahi
dengan harapan legalisir dapat diambil. Seperti biasa menggunakan kendaraan
umum, dan merencanakan perjalanan secepat-cepatnya. Berangkat tengah hari dan
berharap sore bisa pulang. Sebenarnya tidak mungkin dilakukan sih, karena waktu
dari turun di stasiun Cimahi dan datang lagi kereta menuju Cicalengka di
stasiun Cimahi, hanya selang waktu sekitar setengah jam. Adapun jalan kaki dari
stasiun Cimahi menuju instansi tempat legalisir, memerlukan waktu sekitar 45
menit. Sebenarnya bisa menggunakan ojek setempat jika mau lebih cepat, tetapi
bagiku kurang menantang jika tidak jalan kaki. Jika seandainya tidak bisa kejar
kereta, bagiku tidak masalah, sekitar selang waktu 1 jam ada lagi kereta.
Perjalanan dilakukan dengan berjalan yang hampir seperti berlari, keringat dan
minyak menghiasi muka, tak peduli malu dilihat oleh mahasiswa sekitar, lagi
pula tak kenal sama sekali. Beruntungnya legalisir sudah dapat diambil, tidak
mengecewakan, tinggal berharap menuntaskan tantangan selanjutnya, mengejar
kereta api yang biasanya kehabisan tiket jika beli dadakan menjelang kereta api
tiba. Ternyata tantangan selanjutnya juga ditaklukan, dengan terbirit-birit
panik muka berkeringat dan berminyak
membeli tiket di kasir yang penjaganya seperti bidadari khayalan.
Satu urusan selesai, tinggal menyelesaikan urusan lain. Ada
kejadian yang membuatku benci pada orang lain, kejadian yang sering terjadi
termasuk salah satunya ketika perjalanan pulang dari Cimahi. Aku selalu kecewa
pada orang lain yang tidak mau mengingatkan hal sederhana, bukan tidak bisa
melakukan, tetapi bagiku itu benar-benar tidak mau mengingatkan. Aku sengaja
bawa satu lembar tisu dalam perjalanan Cicalengka-Cimahi, supaya tingkat
kekeringan muka dapat dikontrol, tetapi tisu tidak mampu mengontrol sampai
basah dan sobek yang sebagian sobekannya nempel di jidat. Sesampainya di
stasiun Cicalengka, aku berjalan menuju ATM terdekat. Mau bayar sesuatu yang
harus dibayar. Antrian hanya 3 orang, dan masing-masing dari kami saling
melihat. Satu lagi menunggu orang di ATM, lihat ke kaca, ternyata ada potongan
tisu yang nempel di jidatku. Fu*k! Hal yang sederhana seperti itu satu
orang pun tidak ada yang mengingatkan. Bahkan dari kereta sampai di ATM satu
orang pun tidak ada yang mengingatkan. Kejadian lain yang terjadi di luar
cerita adalah ketika tas terbuka karena lupa menutupnya, tetapi satu orang pun
tidak ada yang mau mengingatkan. Orang-orang seperti itu layak diacungkan jari
tengah sambil dikatakan gobl*k! Apa susahnya mengingatkan hal kecil,
lagi pula orang yang diingatkan bakal senang. Apa mungkin kebanyakan orang
sekarang tidak suka membuat orang lain senang dan lebih mementingkan diri
sendiri? Tak paham. Semoga macam orang seperti itu cepat disadarkan oleh Tuhan.
Aktifitas yang cukup melelahkan. Sampai-sampai ketiduran
setelah isya di depan tv. Padahal malam kemarin tidur sebentar di rumah sakit,
ditambah tidur ketika pulang pergi dalam kereta, tetapi tetap saja ketiduran.
Sebenarnya sudah siap berangkat ke rumah sakit, apa boleh buat, aku sudah tidak
bisa mengontrol ragaku. Nikmat rasanya bisa tidur karena kelelahan, hal yang
jarang aku rasakan di Yogya. Pagi hari langsung berangkat ke rumah sakit.
Dengan sedikit bersalah karena ketiduran, aku memberanikan diri muncul di
hadapan nenek. Tidak akan dimarahi, tetapi tetap saja merasa tidak enak. Tidak
lama aku di sana, seperti biasa memilih melanjutkan menemani di malam hari,
jadi siang aku pulang ke rumah. Kebetulan sore ibu pergi ke rumah sakit, dan
ketika pulang dengan singkat ibu berkata sudah pulang. Aku pikir ibuku
berkata mengenai aktifitas dirinya, karena ketika berangkat ibu juga berkata ibu
pergi, tetapi tidak biasanya dia bilang sudah pulang. Aku tidak
fokus karena sedang sibuk dengan aktifitas sendiri, dan setelah berulang-ulang
memikirkan perkataan ibu, aku baru sadar bahwa ada yang janggal. Setelah
memastikan dengan sedikit basa-basi bertanya ke ibu tentang kepulangan nenek,
ternyata sudah pulang yang tadi dikatakan adalah untuk nenek. Bersyukur
nenek sudah bisa pulang, belum tentu sembuh total, dan aku berharap dia bisa
sembuh sepenuhnya, karena tidak ada penyakit yang enak. Cukup melegakan,
ditambah bonus penyakit paru-paruku kambuh, mungkin karena aku terlalu bersemangat.
Sebelum mengakhiri cerita, ada sedikit hal yang aku jadikan
pelajaran di rumah sakit. Rasanya ikatan sosial antar kerabat pasien cukup
baik. Tidak hanya itu, ketika pasien tidak ditemani kerabat dan membutuhkan
bantuan, maka kerabat pasien lain pun membantu. Tidak peduli di lingkungan
asalnya adalah orang sombong atau sulit bersosialisasi, kebiasaan buruknya
luntur, karena di hadapan rumah sakit semua orang terkesan sama, sama-sama
sedang bersedih karena keluarganya sedang sakit.
Mengenai kedisiplinan rumah sakit yang sebelumnya telah
disinggung, bagiku tetap kurang disiplin. Namun, ketidakdisiplinan yang terjadi
adalah atas dasar kemanusiaan. Seperti jam besuk yang teramat bebas. Memang
pihak rumah sakit memberikan aturan jam besuk, bahkan ditempel di pintu, dan
secara tidak langsung peraturan tersebut menyatakan bahwa tidak boleh ada
kerabat pasien yang menginap. Akan tetapi, pihak keamanan dan semua pihak rumah
sakit memaklumi untuk dilanggar, sampai ada yang menginap dan bebas besuk baik
berdasarkan jam maupun jumlah orang. Setiap pasien ingin didatangi oleh
kerabatnya, begitu juga kerabatnya ingin mengunjungi pasien tanpa harus ada
aturan ini-itu. Yang perlu diacungi jempol, adalah ketegasan pihak rumah
sakit untuk tidak membawa anak di bawah umur 13 tahun. No compromise,
jika keras kepala bawa anak, maka titipkan di ruang tunggu.
Adapun mengenai masalah rokok, ternyata yang aku ceritakan
sebelumnya belum lengkap. Banyaknya perokok di lingkungan rumah sakit adalah hasil
dari kebaikan satpam sang penegak aturan yang penuh ketegasan sikap.
Kejadiannya seperti ini, tidak sengaja aku melihat satpam menunjuk dengan ramah
ke arah perokok di gazebo sambil berkata hal yang kurang jelas, dan perokok pun
langsung mematikan rokoknya. Mungkin pihak yang lebih tinggi jabatannya di
rumah sakit sedang berkunjung dan orangnya sangat suka aturan dilarang merokok,
karena satpam menunjukkan tangannya ke arah lain sambil seperti memberitahukan
ada si anu. Pihak rumah sakit memberi aturan, sekaligus
meringankan dengan syarat dan ketentuan. Saya acungkan jempol buat Pak Keamanan
dan pekerja lain yang terlibat, karena aku pikir mereka menyadari bahwa
masyarakat belum siap melepaskan rokok kesayangannya. Perlahan tetapi pasti,
berharap suatu hari orang-orang bisa melepaskan rokok.
Beberapa hal yang aku kecewakan adalah sebagian cleaning
servis yang etikanya perlu diservis. Tidak semua, tetapi ada beberapa yang anjr*t
sekali gayanya. Sudah kurang memperhatikan etika, ditambah lagi kurang
memperhatikan kebersihan. Jika tidak bisa menyapu dan mengepel lebih baik cari
kerjaan lain saja. Masa masih ada serpihan kotoran tertinggal dan hanya basah
saja ketika mengepel? Bukan bermaksud mencaci-maki, tetapi ada baiknya pihak
rumah sakit mengontrol para pekerjanya. Apalagi yang kerjaannya asal-asalan,
harus diberi pengawasan yang sangat ketat, supaya tidak memakan gajih buta, dan
menjaga kenyamanan para pengunjung.
Aku juga kecewa dihadapkan pada pengunjung yang sok mendewakan disiplin. Penuh keluh kesah yang membuat telingaku panas. Ceritanya ranjang sebelah diisi pasien yang baru pindah, dan aku tidak paham kapan pindahnya. Gayanya disiplin, tetapi bibirnya tidak bisa dijaga. Mengeluh karena kondisi ruangan sebelumnya terasa panas, sampai telingaku panas mendengar ocehan mereka. Kenapa tidak pindah rumah sakit saja? Jika tidak salah, asal rumahnya kan di Bandung kota, kenapa tidak dirawat di rumah sakit besar kota saja? Lalu dilanjutkan dengan keluhan bahwa suasana seperti pasar, katanya berbeda dengan rumah sakit Ranca Badak yang enak, nama rumah sakit yang dikatakan sedikit lupa, pokoknya terdengar ada kata badak. Bagiku itu mudah, tinggal pindah saja ke Ranca Badak, apa susahnya, jangan direpotkan dengan keluh kesah. Lagian mereka orang berada, terdengar dari pasien yang sibuk telepon membicarakan bisnisnya. Kemudian keluarganya ada yang besuk, dan berkomentar bahwa fasilitas RSUD Cicalengka paling gobl*k. Di dalam hati aku berbisik, A.S.U. (Javanese language), mereka sok disiplin, tetapi bibirnya tidak disiplin, dan aku sendiri yang tidak disiplin adalah hati. Untung yang ngomong kakek tua, dan si pasien adalah wanita karir yang menggoda, seandainya mereka lelaki masih muda, mungkin kejadiannya... biasa saja, lagi pula aku penakut. Aneh ya, mereka berkomentar seperti pasar, tetapi mereka yang paling berisik berjam-jam dari awal aku masuk rumah sakit sampai memutuskan pulang karena kesal.
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (2)
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (4)
Aku juga kecewa dihadapkan pada pengunjung yang sok mendewakan disiplin. Penuh keluh kesah yang membuat telingaku panas. Ceritanya ranjang sebelah diisi pasien yang baru pindah, dan aku tidak paham kapan pindahnya. Gayanya disiplin, tetapi bibirnya tidak bisa dijaga. Mengeluh karena kondisi ruangan sebelumnya terasa panas, sampai telingaku panas mendengar ocehan mereka. Kenapa tidak pindah rumah sakit saja? Jika tidak salah, asal rumahnya kan di Bandung kota, kenapa tidak dirawat di rumah sakit besar kota saja? Lalu dilanjutkan dengan keluhan bahwa suasana seperti pasar, katanya berbeda dengan rumah sakit Ranca Badak yang enak, nama rumah sakit yang dikatakan sedikit lupa, pokoknya terdengar ada kata badak. Bagiku itu mudah, tinggal pindah saja ke Ranca Badak, apa susahnya, jangan direpotkan dengan keluh kesah. Lagian mereka orang berada, terdengar dari pasien yang sibuk telepon membicarakan bisnisnya. Kemudian keluarganya ada yang besuk, dan berkomentar bahwa fasilitas RSUD Cicalengka paling gobl*k. Di dalam hati aku berbisik, A.S.U. (Javanese language), mereka sok disiplin, tetapi bibirnya tidak disiplin, dan aku sendiri yang tidak disiplin adalah hati. Untung yang ngomong kakek tua, dan si pasien adalah wanita karir yang menggoda, seandainya mereka lelaki masih muda, mungkin kejadiannya... biasa saja, lagi pula aku penakut. Aneh ya, mereka berkomentar seperti pasar, tetapi mereka yang paling berisik berjam-jam dari awal aku masuk rumah sakit sampai memutuskan pulang karena kesal.
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (2)
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (4)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar