Selasa, 08 Maret 2016

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (2)

Melanjutkan cerita sebelumnya, seperti dugaanku bahwa jenis infus bertambah lagi. Jenis infus yang berbeda, jika tidak salah bernama ringer laktat. Sepertinya infus tersebut tidak akan diganti lagi, karena aku lihat dua kali berturut-turut digunakan infus yang sama. Terjadi juga dugaanku jika ruang IGD hanyalah bagi pasien yang baru masuk, kemudian pasien dipindahkan ke tempat lain. Walaupun ada juga yang hanya sebatas di IGD kemudian pulang, karena menurutku penyakit pasien tidak terlalu berat, tidak membutuhkan rawat inap berhari-hari di rumah sakit. Seperti pasien di ranjang sebelah yang datang karena nafasnya sesak, hanya butuh perawatan beberapa jam, kemudian pulang setelah kondisinya cukup baik.

Datang di malam hari untuk menginap, ternyata posisi nenek sudah berpindah tempat. Sayangnya masih di IGD, atau mungkin bukan tempat rawat inap, karena itu hanyalah lorong tepat di belakang IGD. Aku kira bakal di tempat khusus untuk rawat inap, ternyata dugaanku tidak sepenuhnya benar. Memang berpindah tempat, tetapi masih di area yang bisa disebut masih sama. Namun, yang aku pikir bahwa dugaanku tidak sepenuhnya benar, ternyata itu juga tidak benar. Karena perawat bilang bahwa tempat yang dikhususkan untuk nenek masih belum siap untuk ditempati, jadi untuk sementara nikmati dulu lorong yang menjadi jalur mondar-mandir banyak orang.

Setelah perawat menyatakan siap untuk pindah, kami pun berbondong-bondong berpindah lokasi dan aku berangkat paling akhir tertinggal jauh. Dengan membawa cukup banyak barang, aku dengan percaya diri berangkat untuk menyusul yang sudah berangkat. Sayangnya rumah sakit asing bagiku, dan mungkin lebih parah lagi bahwa aku sama sekali tidak dipedulikan oleh rumah sakit, masing-masing pihak saling asing-mengasingkan. Belum 10 meter berjalan, langsung dibingungkan oleh berbagai jalur, dan bodohnya aku tidak paham nenek pindah ke ruang mana, jadi percuma lihat papan penunjuk karena tujuan yang aku tuju saja tidak tahu. Hanya diam berdiri sambil membawa banyak barang di tempat yang penuh kebingungan, kemudian memutuskan untuk kembali ke tempat asal.

Bodoh rasanya jika hanya berdiri menunggu kerabat yang aku anggap akan kembali, karena aku pikir tidak akan ada yang menjemputku. Dengan membawa barang sedikit dan menitipkan sebagian besarnya pada kerabat pasien sebelah, aku pun berangkat dengan gaya sok tahu. Di papan penunjuk ada tulisan arah ke ruang rawat inap, membuatku mengira bahwa semua pasien rawat inap dirawat di ruang rawat inap, maka aku ikuti jalurnya. Setelah berjalan cukup jauh dengan dibayangi ketidakpastian, ternyata taraaaaa... ada gedung Instalasi Ruang Inap! Lokasinya ternyata di samping barat daya masjid yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Aku masuk dengan perasaan bingung karena banyak sandal tak bertuan di luar pintu. Baru kali ini ada gedung umum yang mengharuskan lepas alas kaki. Sebenarnya bingung antara buka alas atau tidak, karena di pintu tidak ada perintah lepas alas kaki, dan biasanya di beberapa instansi pakai alas kaki ketika masuk gedung. Daripada dapat omelan kebencian dari para karyawan hanya karena sepasang sandal, lebih baik aku disebut anak kampungan dengan cara masuk gedung tanpa alas kaki. Ternyata memang diharuskan buka alas kaki. Namun, anehnya para pekerja memakai alas, bahkan tukang bersihin lantai saja pakai sepatu. Itu namanya kesenjangan sosial bung, harusnya para pekerjalah yang pertama kali menjadi suri tauladan bagi para tamu dengan cara membuka alas kaki, sehingga para tamu tanpa diperintah membuka alas kaki.

Tantangan selanjutnya adalah menemukan kamar tujuan. Sempat kebingungan sebentar, beruntungnya gedung tidak terlalu besar, dan kebetulan kerabat dan nenek belum masuk kamar karena nunggu kepastian dari perawat. Tidak hanya wanita yang dalam urusan asmara selalu membutuhkan kepastian, tetapi para pasien beserta kerabatnya pun memerlukannya, hadeeeuhh... lagi-lagi asmara. Daripada ikut-ikutan menunggu, lebih baik aku bawa barang yang belum dibawa. Bukan main, jumlah barang yang harus dibawa tidak sedikit, untungnya aku sengaja datang untuk membantu dengan dasar kepedulian dan penuh kesadaran diri. Seberat apapun barangnya, dapat aku bawa sekali berangkat dengan senang hati, lagi pula di kampus terbiasa jadi kuli, dan untuk mempraktekkan hasil dari kebiasaan gotong royong di Bantul, asik... padahal biasanya tidur di saat warga gotong royong. Baru saja sampai tujuan yang dilanjutkan dengan menata barang-barang karena nenek sudah masuk kamar, ternyata ruangannya salah. Haduhh.. bagaimana sih mbak perawat yang mempesona, kasihan nenek kami, dia sulit berjalan, dan sikapmu juga harus sedikit direnovasi, jangan membuat kami merasa terburu-buru.

Di ruangan yang sudah benar, kami menata barang, dan aku yakin tidak ada barang yang tertinggal. Ruangan yang baru sangat berbeda dengan IGD. Nyaman, kamar mandi dalam, hanya ada sekitar 4 ranjang, dan space yang cukup luas di setiap ranjangnya. Suasana berbeda membuatku ngantuk, padahal baru saja duduk, dan nenek juga merasakan hal yang sama denganku. Belum 1 jam di ruangan baru, aku sudah tertidur pulas sampai menjelang subuh, dan sepertinya setiap dari kami juga tertidur, termasuk nenek.  Jika hanya boboks, buat apa datang ke rumah sakit, tidak ada jaga-menjaga, lebih baik di rumah saja. Wajar aku tertidur, sebelumnya dua siang satu setengah malam sama sekali tidak tidur, dan faktor pendukungnya adalah ruangan yang cukup nyaman. Entah mengapa jadi sulit tidur, padahal sebelum nenek ke rumah sakit, aku biasa tidur kurang dari jam 9 malam. Ketika bangun menjelang subuh, terjadi sedikit masalah yang membuatku malu, karena tas hitam punya nenek sebagai tempat simpan uang dan beberapa barang kecil ternyata tidak ada. Kesalahanku karena kurang teliti, seingatku tidak ada barang yang tertinggal, dan ternyata tas tersebut ada di kamar yang salah ketika awal masuk. Untungnya tidak hilang, di dalamnya ada uang yang beberapa kali aku sindir mendadak jadi dewa.

Sekarang tentang nama setiap gedung, IGD dan IRI, harus kritis dong sebagai mahasiswa sastra dan bahasa. Untuk IGD (Instalasi Gawat Darurat), sebelumnya aku kira bernama UGD (Unit Gawat Darurat). Terlihat di depan gedung yang ada tulisan cukup besar entah dari bahan metal atau apalah aku kurang paham, ada bekas tulisan kata unit sebelum gawat darurat. Dengan cara kurang modal tetapi kreatif, pihak rumah sakit mencopot semua huruf pada kata unit kecuali huruf i. Aku coba gambarkan, UNIT GAWAT DARURAT menjadi - - I - GAWAT DARURAT. Sungguh terlalu, tetapi benar-benar kreatif. Sangat kreatif karena spasi dari I ke GAWAT bagiku sangat pas tanpa mengubah posisi asalnya. Jika dari kejauhan terlihat seperti I. GAWAT DARURAT. Sebelumnya ruang kosong hasil dari pencopotan huruf T (dalam UNIT) terlihat seperti diisi oleh titik sebagai penanda singkatan I (untuk INSTALASI).

Adapun IRI (Instalasi Republik Indonesia), mohon maaf IRI (Instalasi Rawat Inap), aku tidak paham apakah dulunya UNIT kemudian diganti dengan INSTALASI, atau dari dulu memang bernama INSTALASI. Tidak terlalu memperhatikan, karena kebetulan gelap, hanya terlihat tulisan I RAWAT INAP. Yang jadi permasalahan utama adalah unit dan instalasi, dan kedua gedung lebih memilih nama instalasi. Kenapa IGD dulunya UGD, membuatku berpikir mengenai perbedaan unit dengan instalasi, dan penasaran seperti apa pengaplikasian fasilitas di dalam gedung. Yang aku pahami, kata unit berarti kesatuan dari berbagai unsur. Jika seperti itu, maka UGD adalah tempat beserta setiap alat dan perawat selengkap-lengkapnya bagi semua pasien yang masalah kesehatannya sedang gawat sehingga menimbulkan darurat untuk segera diberi perawatan. Adapun instalasi, berdasarkan pemahamanku kata tersebut merupakan serapan dari bahas Inggris, installation ‘pemasangan’, berasal dari bentuk dasar install ‘pasang’. Dalam ilmu komputer, kata install menunjukkan istilah untuk melakukan aktifitas pemasangan suatu perangkat lunak pada sistem operasi. Intinya, maksud dari instalasi adalah bentuk pemasangan suatu hal pada sesuatu, dan bentuk pemasangannya sudah jadi, tinggal dinikmati oleh setiap pasang mata manusia. Jadi, IGD adalah pemasangan tempat beserta alat dan perawat bagi pasien yang masalah kesehatannya sedang gawat sehingga menimbulkan darurat untuk segera diberi perawatan.

Berdasarkan analisis tersebut, perbedaan keduanya dapat diketahui bahwa unit yang diikuti gawat darurat cakupannya lebih luas, sehingga segawat-darurat apapun segala persoalan kesehatan dapat diatasi. Adapun instalasi yang diikuti gawat darurat, cakupannya terbatas, hanya menyediakan fasilitas tanpa bisa menghadapi segawat-darurat apapun segala persoalan kesehatan, hanya mampu menghadapi sebagian persoalan. Setuju? Aku harap tidak, karena pemahaman tersebut kemungkinan besar sesat, ketiadaan yang diada-adakan, dan aku adalah pelakunya. Kata kawan, pemahamanku tersebut sesat, terbalik dengan realitas di masyarakat.

Hal lain yang menarik perhatianku adalah tentang rokok. Pada masa kini adalah wajar jika setiap gedung instansi untuk umum tidak memperbolehkan merokok di wilayahnya. Dari pertama masuk portal gerbang rumah sakit sudah dihadapkan dengan papan himbauan “bebas asap rokok”. Sepertinya di setiap sudut ruangan, gazebo, dan lorong-lorong ditempeli himbauan tersebut, bahkan ditambahkan “berdasarkan Perda...” aturan yang dibuat oleh pemerintah setempat. Hal tersebut menandakan bahwa tidak boleh ada asap rokok di setiap wilayah rumah sakit, bahkan termasuk portal masuk yang jaraknya masih beribu-ribu sentimeter menuju gedung.

Coba tebak apa yang terjadi ketika banyaknya papan himbauan mengenai rokok, dan bagaimana para pengunjung menyikapinya? Ada satu teori yang aku simpulkan dari pengalaman melaksanakan kehidupan, bahwa banyak orang semakin merasa tertantang ketika dihadapkan larangan. Semakin dilarang, semakin ingin melakukan hal yang dilarang. Bahkan beberapa pihak berani menyatakan bahwa aturan ada untuk dilanggar, pernyataan yang bagiku bodoh, tetapi ada baiknya jika melanggar aturan yang diperuntukkan bagi keburukan, sehingga ketika dilanggar, maka kebaikan pun bisa dilaksanakan. Sebagian besar larangan adalah nasihat supaya tidak mengalami keburukan, tetapi masih banyak juga yang tidak mau menuruti nasihat, termasuk diriku di masa lalu yang salah satu dampaknya tidak mampu menyelesaikan skripsi tepat waktu. Orang yang membenci nasihat hidupnya susah.

Beberapa faktor yang aku simpulkan hasil dari memperhatikan kehidupan mengenai larangan dan menyikapinya, di antaranya:

(1) Orang melanggar larangan karena di dalam hatinya terdapat secuil kesombongan, sehingga ketika berhasil melanggar aturan, maka dirinya merasa hebat, ingin diakui oleh banyak orang bahwa dirinya adalah penakluk yang mesti ditakuti, mesti dihormati, merasa dirinya keren;

(2) Masih berhubungan dekat dengan yang pertama, tetapi bagian ini lebih menunjukkan bahwa orang tersebut menginginkan perhatian lebih yang berbeda dengan “ingin diakui” seperti pada bagian pertama. Belum terdapat kedewasaan di dalam diri adalah kemungkinan terbesar penyebabnya, dan hal ini berlaku juga untuk bagian pertama, bahkan semua bagian dalam pembahasan ini kemungkinan besar ditentukan oleh kedewasaan. Ingat, pada tulisanku sebelumnya pernah dinyatakan bahwa dewasa bukan tentang umur, tetapi tentang sikap. Biasanya jenis orang pada bagian ini melanggar larangan pada orang terdekat. Contohnya, anak yang sering ngeyel pada orang tuanya. Sebagian besar penyebabnya adalah sifat manja untuk minta perhatian lebih, dan penyebab lain adalah ego yang berlebihan karena dididik kurang baik. Contoh lain, kekasih yang sering membuat kesal karena berulang kali melakukan hal sama yang menjadi penyebab pertengkaran asmara. Sebagian besar penyebabnya (penyebab pertama) ingin diperhatikan lebih, ingin dimanja, ingin menjadi satu-satunya di pikiran kekasihnya. Penyebab lain (penyebab kedua yang tidak boleh dilewatkan) adalah karena dia ingin mengakhiri hubungan asmara dengan kekasihnya. Jadi, berbahagialah bagi yang selalu dibuat kesal oleh kekasihnya, karena cintanya kepada Anda sangatlah dalam, itu juga jika penyebabnya adalah yang pertama, dan jika penyebabnya adalah yang kedua, maka “nikmatilah”, hadeeeuhh... lagi, lagi, dan lagi asmara;

(3) Orang melanggar larangan karena dirinya selalu diliputi rasa penasaran. Dirinya selalu mengejar jawaban dari apa yang dipertanyakan di dalam pikirannya. Hubungannya dengan kepuasan diri. Ketika jawaban didapat, maka seketika dia pun puas;

(4) Orang melanggar larangan karena faktor kebiasaan. Maksudnya bukan biasa melanggar, tetapi kebiasaan melakukan aktifitas yang sulit dihentikan dan kebetulan di pihak lain terdapat larangan bagi aktifitasnya. Dengan kata lain, belum tentu aktifitas berupa kebiasaan yang sulit dihentikan dilarang di lingkungan si pelanggar;

(5) Beberapa jenis larangan mengharuskan pihak lain untuk mengeluarkan sejumlah uang. Mungkin orang yang melanggar pada bagian ini secara finansial belum dapat menyanggupi hal-hal yang terdapat dalam larangan;

(6) Melanggar larangan karena isi dari larangan menuju pada hal keburukan. Orang yang memerangi larangan tersebut ingin menegakkan kebenaran. Misal, dilarang ibadah, yang seperti itulah larangan berisi keburukan, dan sebaiknya larangan itu berisi kebaikan, seperti dilarang mabuk oplosan secara berjamaah.

(7) Faktor terakhir adalah idiot yang sudah akut.

Kembali ke pembahasan rumah sakit, dengan banyaknya himbauan untuk tidak menimbulkan asap rokok, bagi sebagian pengunjung bukanlah kewajiban yang harus dituruti. Walaupun begitu, tetapi pengunjung masih mempunyai tingkat kewarasan yang cukup baik, mereka tidak merokok di dalam ruangan. Pengunjung hanya merokok di lorong semi-outdoor, teras masjid, halaman gedung-gedung rumah sakit, gazebo semi-outdoor, ada yang numpang di sekitar pos portal masuk, bahkan tiap malam di pos portal selalu ada yang jual minuman instan hangat beserta makanan ringan plus rokok eceran, dan yang paling hebat adalah penjaga portalnya merokok. Pokoknya tempat para perokok di tempat semi-outdoor dan outdoor murni dalam zona kekuasaan rumah sakit. Penyebabnya? Perhatikan faktor-faktor yang telah dipaparkan, sebagian besar penyebab perlawanan terhadap himbauan dilarang menimbulkan asap rokok adalah faktor (4), dan sebagian kecil adalah faktor (1) dan (7). Aku sendiri memaklumi kesalahan para pengunjung, karena aku pikir mereka belum siap menghadapi aturan baru yang mengharuskan mereka melepaskan kebiasaan akutnya. Aku, mewakili para pengunjung, menyatakan bahwa kami bukan bangsa kulit putih yang memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi. Pergaulan kami adalah lembaran daun tembakau di ladang, kemudian daun dirajang dan dikeringkan sehingga dapat menjadi gumpalan asap yang bisa dinikmati, dan rokok dapat menyebabkan kami memiliki ikatan sosial yang tinggi. Pergaulan kami adalah tanah, yang bagi orang kota lebih baik dibatukan supaya alas kaki tidak kotor sehingga bumi dikebiri yang sangat berpotensi menjadi penyebab pemanasan global dan banjir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar