Mengenai cinta antara beda jenis tak sedarah, aku lebih
memilih istilah asmara untuk menyebutnya.
Sepertinya istilah asmara lebih pas. Alasan tidak memilih istilah cinta
karena kata tersebut sangat umum, bisa ditujukan pada Tuhan, keluarga, diri
sendiri, pekerjaan, dll. Asmara memang berjuta-juta rasanya. Tidak salah jika asmara
bisa membuat buta. Bukan buta dalam arti sebenarnya, tetapi maksudnya apapun
bisa terjadi karena asmara. Namun, ketika hubungan asmara berakhir, maka dunia
seakan runtuh, rasanya hal apapun tidak nyaman. Hal tersebut terjadi jika dilihat
dari sudut pandang orang yang masih mencintai kekasihnya. Jika dilihat dari
sudut pandang yang menginginkan berakhirnya hubungan, aku tidak paham,
masalahnya belum pernah coba.
Mungkin dari tulisan-tulisanku yang dulu tidak sengaja (semi-sengaja)
menuliskan kisah asmara pribadi, dan mungkin sedikit pun tidak ada pujian yang
dituliskan bagi teman asmara masa lalu. Sepertinya tidak hanya aku, termasuk yang
aku pelajari dari orang sekitar, ketika hubungan asmara berakhir, maka cerita
yang ingin diluapkan adalah kejelekan si mantan, dan merasa diri sendiri adalah
korban. Tak peduli sebanyak apapun kebaikan yang diberikan oleh mantan, rasanya
sedikit pun tidak ada kebaikan yang teringat, dan yang selalu diceritakan
adalah kejelekannya. Semoga tulisanku yang dulu tidak menyinggung kejelekan mantan,
dan aku minta maaf jika ada yang tersinggung karena tulisanku.
Untuk saat ini, khusus menuliskan kebaikan dari teman asmara
masa lalu. Mendendam dan membenci tidak ada gunanya, hanya membuat diri semakin
terpuruk. Lebih baik membuat senang orang lain, itu juga jika orang lain merasa
senang, dan berharap bisa bermanfaat bagi banyak pihak. Beberapa kali hatiku
berbisik bahwa berakhirnya hubungan asmara gara-gara dia, dia, dan dia, tanpa
sedikit pun instrospeksi diri. Memang pada kenyataannya ketika mantan ditanya
tentang penyebab berakhirnya hubungan, dia tidak mau terbuka, bahkan tidak ada
satu pun alasan yang menyatakan bahwa diriku bersalah. Namun, seharusnya aku
tidak cepat-cepat mengambil kesimpulan, mungkin saja karakternya untuk beberapa
hal tidak mau terbuka. Walaupun terikat asmara bertahun-tahun, tetapi belum
tentu menguasai setiap isi hati dan pikiran mantan. Oleh karena itu,
kemungkinan besar hubungan asmara berakhir adalah kesalahanku. Kesalahan yang
sangat besar dan tidak bisa dimaafkan. Pernah aku tanya mengenai kesalahanku,
dan aku minta maaf jika benar-benar bersalah, tetapi nyatanya tetap tidak mau
terbuka sehingga aku tidak tahu apa kesalahanku. Mungkin dia tidak mau aku
merasa kecewa jika kesalahanku yang sebenarnya disebutkan, karena mungkin
kesalahan yang aku lakukan teramat besar, dan dia lebih memilih mengakhiri
hubungan untuk kemudian tidak mau lagi berurusan dengan pembuat masalah
sepertiku.
Sebenarnya hubungan dengan mantan pernah membaik. Untuk mengantisipasi
kebodohan di masa lalu, maka aku sarankan untuk tidak terlalu sering
komunikasi, dan aku sarankan supaya bicarakan sedikit pun ketidaknyamanan yang
disebabkan masing-masing pihak. Untuk hal komunikasi, bagiku hal tersebut
penyebab terkuat terjadinya rasa bosan yang berujung pertengkaran. Komunikasi
yang dimaksud adalah komunikasi berlebihan secara waktu, terlalu sering, baik
melalui ponsel, social network, dll. Jarang bertemu bertambah rindu, dan sering
bertemu menyebabkan bosan, tetapi kalau cinta ya mau bagaimana lagi, maunya selalu
dekat. Oleh sebab itu, aku lebih menyarankan untuk menggunakan email, supaya
komunikasi tidak terlalu sering yang bisa menghindarkan dari rasa bosan, sekalian
belajar menulis, dan surat-menyurat secara klasik terkesan romantis. Jika rindu
tak terbendung, lebih baik bicara langsung empat mata. Sayangnya saranku ini
tidak berjalan lancar karena ada satu hal yang mengharuskan sering komunikasi,
dan penyebab lainnya berhubungan dengan yang akan dijelaskan berikut.
Saran yang kedua adalah membicarakan sedikit pun
ketidaknyamanan yang disebabkan masing-masing pihak. Keterbukaan adalah
penting. Sekecil apapun kesalahan yang berujung ketidaknyamanan terjadi, maka
alangkah baiknya langsung dibicarakan, supaya tidak terjadi pertengkaran yang
tidak perlu. Logikanya, jika cinta, maka jangan bertengkar, dan jika selalu bertengkar,
maka lebih baik jangan ada hubungan asmara –sebenarnya pertengkaran adalah
bumbu dalam hubungan, justru jika hubungan adem ayem saja, maka hubungan
dipertanyakan, karena pertengkaran adalah salah satu akibat dari cemburu, kecewa,
dsb yang terjadi atas dasar cinta di dalam asmara-. Saran yang kedua ini
ternyata tidak berjalan lancar, karena aku lebih mengutamakan sikap egois. Ketika
ada hal yang aku rasa tidak nyaman, aku lebih memilih memendam dan menikmatinya,
sehingga ketidaknyamanan berujung besar, maksudnya mungkin aku melakukan sikap
yang tidak nyaman kepada mantan disebabkan aku dibuat tidak nyaman. Asmara bisa
membuat seseorang bersikap kekanak-kanakan, walaupun dalam bidang lain sudah
dikatakan cukup dewasa. Karena egoislah aku lupa pada dua saran yang aku buat. Lupa
untuk kembali mengurangi jam komunikasi, dan lupa untuk membicarakan sekecil
apapun ketidaknyamanan. Akhirnya mantan pun memilih untuk pergi, padahal
sebelumnya aku sangat senang mantan bisa kembali. Sebenarnya ketika pikiranku
mulai jernih dengan menanggalkan sikap egois, aku coba menghubunginya,
menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena masalah apa. Mungkin dia
sudah sangat muak dengan sikap buruk si pembuat masalah sepertiku, sehingga
tidak mau membicarakan alasannya, dan memilih pergi untuk yang kedua kalinya tanpa
alasan yang jelas.
Aku harus berterima kasih kepadanya, setidaknya lewat
tulisan yang belum tentu dia baca. Karena dia, aku bisa merasakan asmara untuk
pertama kalinya. Ya, dia cinta pertamaku dalam urusan asmara. Aku bisa
merasakan bahwa kekuatan asmara itu sangatlah hebat, bahkan mungkin Tuhan hampir
dilupakan. Kata banyak orang, cinta pertama itu sulit dilupakan. Bullshit,
tetapi ada benarnya, nyatanya sampai lebih dari setahun berakhirnya hubungan,
tetap saja mantan masih ada di pikiran, walaupun tidak separah di setengah
tahun pertama. Tepatnya tidak hanya setengah tahun, tetapi hampir setahun
pertama, selama itu hidupku berantakan karena putus cinta Pak! Rasanya kehidupanku
hampa. Itu semua adalah masa lalu. Sekarang aku adalah diriku yang baru, dan
mumpung pikiran sedang bersih, kebaikan mantan pun ingin ditulis sebagai rasa
syukurku kepada Tuhan dan berharap dapat bermanfaat.
Dia mengenalkanku makna pengorbanan di dalam asmara. Pengorbanan
terjadi pada diriku dan dirinya. Entah mengapa, aku rela menunggu bermenit-menit
untuk bertemu dengannya, walaupun hanya sekedar mengantar dia pulang, yang
penting bisa bertemu. Rela jadi ojek pribadinya, ojek dengan bayaran ucapan
terima kasih. Rela menemaninya ngemil di angkringan (seringnya sih aku yang ajak),
rela jadi pemandu wisata lokal, kadang belanja, kadang sok jadi bagian keluarga
yang memberi nasihat dengan cara keras, dan mungkin menjadi setan sekaligus
malaikatnya. Itu semua dilakukan tanpa ada permintaan, terjadi atas kesadaran
sendiri, dan ujungnya hanya sekedar ingin bertemu. Bertemu dan pengorbanan dua
hal yang tidak bisa dipisahkan dalam asmara.
Pengorbananku tidak sebanding dengan hal yang dilakukannya
kepadaku, menurutku pengorbanan dia lebih besar. Tidak hanya aku yang suka
menunggu, tetapi dia juga sering menungguku, bahkan dia lebih sering tepat
waktu daripada aku. Dia rela jalan kaki dari kampus ke kontrakanku hanya karena
ingin bertemu. Dia rela berbohong ke orang tuanya di hadapanku hanya karena
ingin berlama-lama denganku, walaupun aku sedikit keberatan dan menasihatinya,
tetapi apa yang dia lakukan membuatku terharu. Dia rela pergi ke kampus dengan
kendaraan umum di hari libur hanya karena ingin bertemu. Dia selalu membuatku
nyaman, walaupun beberapa kali aku mengecewakannya. Dia rela memberiku makanan
di hari lahirku yang aku sendiri tidak peduli, sampai aku marah karena bagiku tidak
perlu membeli makanan hanya karena ulang tahunku, tetapi sikapnya membuatku
semakin mencintainya. Tulisan ini berharap jadi hadiah ulang tahun seumur hidup
untuknya, aku tidak berani mengatakannya secara langsung. Karena salahku juga,
pesan terakhirku kepadanya “jangan pernah hubungi aku lagi walaupun kamu butuh”.
Pesan terakhir yang kekanak-kanakan. Tegas, tetapi kurang mencerminkan sikap
dewasa. Mengatakan hal yang sebenarnya tidak ingin dikatakan, dan berujung
penyesalan. Seperti itulah salah satu penyakit asmara, membuat diri tidak
bersikap dewasa.
Dia adalah orang baik. Seorang wanita yang bangga pada
kekasihnya, membuat diriku terkesan hebat di mata orang lain, padahal aku
orangnya payah. Dia mengatakan tentang diriku kepada orang lain, bahwa aku bisa
ini bisa itu. Wanita yang hebat adalah wanita yang bisa menjadikan pasangannya
hebat. Tidak peduli dia menjelekanku di hadapan orang lain setelah berakhirnya
hubungan asmara, yang penting sekarang harus aku ucapkan terima kasih kepadanya,
karena ketika masih terikat hubungan dia selalu bersikap baik kepadaku. Dia
juga membuatku merasa hebat di depannya. Rasanya, apapun yang aku lakukan hanya
dikomentari olehnya “hebat” sambil tersenyum. Padahal dia lebih cerdas daripada
aku. Dia wanita cerdas dan disiplin. Bahasa Inggris dan ilmu eksak bukanlah masalah
baginya. SMA-nya saja cukup ternama di daerah Yogya. Jika aku coba bertanya
dengan maksud mengetesnya, dia pura-pura tidak tahu sambil senyum, dan kadang
kecolongan bisa jawab sambil senyum. Rendah hati.
Ketika kami terikat hubungan asmara, dia adalah wanita
sederhana. Tak peduli latar belakangnya orang berada, tetapi jika diajak makan
di angkringan dan pergi pakai sepeda motor bukanlah masalah. Pakaiannya saja
tidak berlebihan. Jika di luar hari akademik, hanya memakai kaos dan celana
jeans. Sederhana, tetapi dengan kesederhanaannya terkesan mewah. Pakaian yang
dia pakai dan menjadi favoritku adalah batik lengan pendek warna gelap dengan
celana katun tebal. Kesederhanaan yang paling aku suka darinya adalah muka
tanpa make up. Dia tidak tomboy, tetapi tanpa make up terlihat cantik. Pernah dia
pakai make up, dan hasilnya makin cantik. Dia juga lebih suka ambil makanan dan
minuman dari rumah. Hal yang sangat jarang dilakukan orang Indonesia, anak SMP
saja mungkin malu bawa makanan dari rumah ke sekolah.
Asmara membuatku membocorkan semua kisah hidup kepadanya sampai
hal yang terkecil. Hampir tidak ada rahasia yang tersisa. Hal yang sangat
jarang aku lakukan adalah menjadi terbuka kepada orang lain. Karena bagiku
semakin sulit ditebak orang lain, maka hidup semakin hebat. Hal tersebut entah prinsip
hidup macam apa, tetapi jadi misterius itu menyenangkan, membuatku tersenyum jika masing-masing dari dua orang teman
memberikan kesaksian yang berbeda tentang diriku. Akan tetapi, bagiku tidak
baik jika banyak merahasiakan hal dari kekasih. Kebiasaan buruk diriku yang
paling buruk pun harus dia ketahui. Kekasih tidak layak dibohongi, dan jika
dibohongi, maka sebenarnya membohongi diri sendiri, kan dia adalah belahan
jiwa. Lagi pula, jika di masa pacaran banyak kebohongan terjadi, cepat atau lambat
setelah nikah bakal ketahuan.
Asmara adalah undangan bagi para setan. Entah berapa setan
yang mendatangi undangan, yang jelas masalahku cukup banyak. Kesalahanku adalah
tidak mampu melawan para setan untuk membuat mantan merasa nyaman. Seandainya imanku
cukup kuat, mungkin mantan tidak akan menjadi mantan, mungkin sampai sekarang masih
jadi kekasih. Yang membuatku salut kepadanya adalah dia yang selalu
mengingatkanku ketika terjerat ajakan setan, padahal secara religi aku lebih pandai
daripada dia. Segala keburukan termasuk pertengkaran merupakan program yang
ditawarkan setan. Dikarenakan hal ini, aku tidak mau mengulang lagi keburukan
yang terjadi atas dasar ajakan setan.
Sekarang dia adalah teman asmara masa lalu. Beruntung dia
mengakhiri hubungan sebelum masuk pernikahan, karena perceraian (dalam pernikahan)
adalah aksi yang dibolehkan tetapi dibenci oleh Tuhan. Sampai sekarang kadang
terlintas di pikiran tentang dirinya, dan aku akui masih tersisa rasa cinta. Mencintai
tidak selamanya harus memiliki. Wanita baik, cantik, cerdas, disiplin, rendah
hati, dan sederhana seperti dia lebih layak mempunyai pasangan hidup yang sepadan,
lebih baik lagi jika pasangannya dapat melebihi dalam hal apapun. Sekarang aku
merasa tidak layak jika seandainya menjadi kekasihnya. Aku hanya pemalas, tidak
cerdas, secara fisik luar dalam buruk, dan kaya pun tidak. Jika memaksanya
untuk menjadi kekasihku, maka hanya akan membuat dirinya sengsara. Maka dari
itu, lebih senang jika dia mendapatkan pasangan yang sepadan atau lebih, bisa
menjaganya dalam hal apapun, baik secara finansial maupun kebutuhan hati.
Seperti yang pernah disebutkan, bahwa sekarang aku hanyalah
sejenis manusia yang fobia asmara karena trauma, tidak mau ada cinta kedua,
ketiga, ataupun kesekian, hanya menginginkan cinta terakhir. Pengalaman asmara
di masa lalu biarlah jadi pelajaran, supaya hebat di kehidupan asmara masa
depan. Anggap saja latihan untuk memuliakan seorang istri kelak. Orang yang
tidak belajar dari sejarah ditakdirkan untuk mengulanginya.
Maunya cerita dibuat 19 paragraf dengan 3 konflik yang dominan. Ternyata tidak mudah, lagi pula ini bukan cerpen ataupun novel.
Bahkan mungkin ini cerita yang paling tidak penting dan tidak ada satu orang
pun yang mau baca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar