Cukup sering saya dihadapkan penyalahgunaan bahasa di
masyarakat. Terkadang hal tersebut membuatku tersenyum sendiri. Walaupun
seperti orang gila karena bagi pihak lain saya tersenyum tanpa sebab yang
jelas, tetapi tidak sepenuhnya salah, dengan tersenyum bisa membuat orang lain
nyaman, atau mungkin mereka merasa terganggu karena melihatku seperti orang
gila. Yang jelas senyuman merupakan salah satu aksi rendah hati dan sikap ramah
terhadap orang lain.
Saya kurang banyak terlibat dalam dunia perjajanan. Dulu
sempat jadi orang maniak jajan, waktu masih kecil, tetapi setelah masuk umur
belasan tahun rasanya jadi malas jajan, mungkin bosan karena dulu sering jajan.
Setelah masuk dunia perkuliahan, kebiasaan jajan mulai terjadi lagi, itu juga
ketika masuk semester akhir. Di semester awal jarang jajan. Jajan juga paling
makanan berkarbohidrat tinggi, seperti gorengan dan roti. Sekarang mulai
terlibat jajan lagi, terutama jajan minuman.
Awalnya sempat dibuat bingung karena opsi yang ditawarkan
pedagang ketika membeli minuman, dan sekarang paham apa yang dimaksud pedagang.
Opsinya antara pakai plastik, cup, atau di sini (maksudnya pakai
gelas di tempat). Saya kurang paham dengan opsinya, terutama antara cup dengan
di sini yang sama-sama berupa gelas. Saya tidak mau direpotkan dengan
hal yang tidak terlalu penting, walaupun beli kopi hitam panas, tanpa berpikir
panjang saya memilih opsi pakai plastik.
Apa bedanya cup dengan gelas yang dimaksud oleh
pedagang? Selain kurang terlibat dengan dunia perjajanan, bahasa Inggris
saya juga terkenal payah. Bahasanya saja payah, apalagi pengetahuan budaya
secara keseluruhan pada masyarakat yang berbahasa ibu bahasa Inggris, jelas
sangat payah. Secara sosiolinguistik dalam masyarakat yang bahasa ibunya
Inggris, saya tidak paham kata cup bermakna apa atau digunakan untuk
menunjukkan apa. Akan tetapi, secara makna asli, kata cup menunjukkan
barang berupa gelas, atau lebih spesifiknya berupa cangkir, bahkan menunjukkan
barang berupa mangkok dan piala.
Tiba-tiba saja dalam dunia perdagangan jajanan Indonesia,
kata cup bermakna gelas plastik yang dapat dibawa bebas oleh pembeli. Indonesia
terlalu luas ya, memangnya saya sudah kemana saja sampai bawa-bawa nama
Indonesia? Lebih baik kerucutkan saja biar tidak terjadi salah paham, pelakunya
di daerah sebagian Yogya, sebagian Jawa Tengah, dan sebagian daerah Sunda. Sekali
lagi, secara sosiolinguistik dalam masyarakat yang bahasa ibunya Inggris, saya
tidak paham kata cup dimaksudkan untuk apa. Apa mungkin penggunaannya
sama dengan yang digunakan para pedagang jajanan di sebagian Indonesia? Yang
jelas, secara makna asli kata cup yang digunakan para pedagang adalah
penyimpangan penggunaan bahasa, karena mengkhususkan kata cup untuk
gelas plastik yang dapat dibawa pembeli, dan membedakannya dengan gelas-gelas
yang lain.
Hal tersebut membuktikan bahwa pengguna bahasa tidak
mau direpotkan dengan bahasa. Makanya bahasa selalu mengalami perubahan dan
perkembangan. Apalagi orang Indonesia, terkenal tidak mau repot. Buktinya banyak
penggunaan bahasa yang disingkat. Sedikit contoh, bandar udara menjadi bandara;
persatuan sepak bola Bandung menjadi Persib; tetapi menjadi tapi; dan
sebagainya menjadi dsb; dan lain-lain yang sejenis dengannya. Yang terpenting
dalam komunikasi adalah saling mengerti. Tak peduli semenyimpang apapun
penggunaan bahasa, yang penting masyarakat yang terlibat dalam dialog saling
memahami, baik dialog secara tatap muka ataupun secara tidak langsung seperti tulisan. Seperti halnya dalam asmara, mesti diutamakan saling memahami dan saling mengerti, supaya kekurangan masing-masing pihak dapat bersinergi, ya e laaahhh... kok rasanya setiap tulisan berhubungan dengan asmara?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar