Senin, 14 Maret 2016

PENYIMPANGAN BAHASA; PENGGUNAAN KATA CUP (ENGLISH)

Cukup sering saya dihadapkan penyalahgunaan bahasa di masyarakat. Terkadang hal tersebut membuatku tersenyum sendiri. Walaupun seperti orang gila karena bagi pihak lain saya tersenyum tanpa sebab yang jelas, tetapi tidak sepenuhnya salah, dengan tersenyum bisa membuat orang lain nyaman, atau mungkin mereka merasa terganggu karena melihatku seperti orang gila. Yang jelas senyuman merupakan salah satu aksi rendah hati dan sikap ramah terhadap orang lain.

Saya kurang banyak terlibat dalam dunia perjajanan. Dulu sempat jadi orang maniak jajan, waktu masih kecil, tetapi setelah masuk umur belasan tahun rasanya jadi malas jajan, mungkin bosan karena dulu sering jajan. Setelah masuk dunia perkuliahan, kebiasaan jajan mulai terjadi lagi, itu juga ketika masuk semester akhir. Di semester awal jarang jajan. Jajan juga paling makanan berkarbohidrat tinggi, seperti gorengan dan roti. Sekarang mulai terlibat jajan lagi, terutama jajan minuman.

Awalnya sempat dibuat bingung karena opsi yang ditawarkan pedagang ketika membeli minuman, dan sekarang paham apa yang dimaksud pedagang. Opsinya antara pakai plastik, cup, atau di sini (maksudnya pakai gelas di tempat). Saya kurang paham dengan opsinya, terutama antara cup dengan di sini yang sama-sama berupa gelas. Saya tidak mau direpotkan dengan hal yang tidak terlalu penting, walaupun beli kopi hitam panas, tanpa berpikir panjang saya memilih opsi pakai plastik.

Apa bedanya cup dengan gelas yang dimaksud oleh pedagang? Selain kurang terlibat dengan dunia perjajanan, bahasa Inggris saya juga terkenal payah. Bahasanya saja payah, apalagi pengetahuan budaya secara keseluruhan pada masyarakat yang berbahasa ibu bahasa Inggris, jelas sangat payah. Secara sosiolinguistik dalam masyarakat yang bahasa ibunya Inggris, saya tidak paham kata cup bermakna apa atau digunakan untuk menunjukkan apa. Akan tetapi, secara makna asli, kata cup menunjukkan barang berupa gelas, atau lebih spesifiknya berupa cangkir, bahkan menunjukkan barang berupa mangkok dan piala.

Tiba-tiba saja dalam dunia perdagangan jajanan Indonesia, kata cup bermakna gelas plastik yang dapat dibawa bebas oleh pembeli. Indonesia terlalu luas ya, memangnya saya sudah kemana saja sampai bawa-bawa nama Indonesia? Lebih baik kerucutkan saja biar tidak terjadi salah paham, pelakunya di daerah sebagian Yogya, sebagian Jawa Tengah, dan sebagian daerah Sunda. Sekali lagi, secara sosiolinguistik dalam masyarakat yang bahasa ibunya Inggris, saya tidak paham kata cup dimaksudkan untuk apa. Apa mungkin penggunaannya sama dengan yang digunakan para pedagang jajanan di sebagian Indonesia? Yang jelas, secara makna asli kata cup yang digunakan para pedagang adalah penyimpangan penggunaan bahasa, karena mengkhususkan kata cup untuk gelas plastik yang dapat dibawa pembeli, dan membedakannya dengan gelas-gelas yang lain.

Hal tersebut membuktikan bahwa pengguna bahasa tidak mau direpotkan dengan bahasa. Makanya bahasa selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Apalagi orang Indonesia, terkenal tidak mau repot. Buktinya banyak penggunaan bahasa yang disingkat. Sedikit contoh, bandar udara menjadi bandara; persatuan sepak bola Bandung menjadi Persib; tetapi menjadi tapi; dan sebagainya menjadi dsb; dan lain-lain yang sejenis dengannya. Yang terpenting dalam komunikasi adalah saling mengerti. Tak peduli semenyimpang apapun penggunaan bahasa, yang penting masyarakat yang terlibat dalam dialog saling memahami, baik dialog secara tatap muka ataupun secara tidak langsung seperti tulisan. Seperti halnya dalam asmara, mesti diutamakan saling memahami dan saling mengerti, supaya kekurangan masing-masing pihak dapat bersinergi, ya e laaahhh... kok rasanya setiap tulisan berhubungan dengan asmara?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar