Rabu, 16 Maret 2016

HADAPI SAJA

HADAPI SAJA

Relakan yang terjadi, takkan kembali
Ia sudah milik-Nya, bukan milik kita lagi
Tak perlu menangis, tak perlu bersedih, tak perlu tak perlu sedu sedan itu
Hadapi saja

Pasrah pada Ilahi, hanya itu yang kita bisa
Ambil hikmahnya, ambil indahnya
Cobalah menari, cobalah bernyanyi, cobalah cobalah mulai detik ini
Hadapi saja

Hilang memang hilang
Wajahnya terus terbayang
Berjumpa di mimpi
Kau ajak aku untuk menari, bernyanyi, bersama bidadari, malaikat, dan penghuni surga
Bagiku lirik tersebut sangatlah hebat. Maknanya dalam. Khusus untuk saya sendiri, lirik tersebut memberikan pelajaran berupa ajakan dan nasihat supaya menghadapi kenyataan terhadap sesuatu yang hilang dan mungkin tidak akan kembali, dengan cara merelakannya disertai pikiran positif.

Saya tidak paham si penulis lirik terinspirasi oleh apa. Berdasarkan rumor yang saya dapat dari orang lain, katanya lirik tersebut ditulis berdasarkan emosi yang dirasakan Iwan Fals. Dia begitu berat kehilangan nyawa anaknya. Bagiku setiap syair merupakan pengalaman kehidupan. Pengalaman yang terjadi karena adanya hubungan dengan dunia luar, karena jika tidak ada hubungan dengan dunia luar, maka namanya bukan kehidupan, tetapi mati. Supaya tidak bingung, maksud dunia luar adalah setiap hal yang bukan bagian dari diri, dan dirasakan melalui pancaindra. Termasuk di dalamnya tidak hanya pancaindra, adalah hati sebagai penghubung dengan dunia gaib. Hati tidak termasuk pancaindra, tetapi dengan hati kita bisa merasakan adanya hubungan dengan Tuhan dan segala hal yang dianggap gaib.

Jika lirik tersebut berdasarkan emosi Iwan Fals karena kehilangan nyawa anaknya, maka bisa dikatakan bahwa lagu yang berisi lirik tersebut merupakan lagu kematian. Ngeri, pantas saja nada yang terdengar cukup mengetuk hati, merinding, cukup sedih hanya dengan mendengar nadanya. Beberapa penggalan lirik yang berhubungan dengan kematian adalah (1) “ia sudah milik-Nya” pada larik kedua dalam bait pertama; dan (2) “bersama bidadari, malaikat, dan penghuni surga” pada larik keempat dalam bait ketiga. Kedua penggalan lirik tersebut menunjukkan bahwa nyawa telah diambil dari raga oleh Tuhan, dan telah dipindahkan ke dunia lain berupa surga yang ditemani bidadari, malaikat, dan penghuni surga. Optimis yang penuh harapan, karena setiap orang berharap kerabatnya yang meninggal masuk surga.

Merasa kehilangan penuh kesedihan karena kematian memang hal yang wajar. Apalagi jika yang mati adalah orang terdekat, entah memiliki hubungan keluarga atau tidak, yang jelas jika orang terdekat mati, maka mau tidak mau pasti sedih. Kecuali bagi orang yang rasa kemanusiaannya sudah lenyap, orang yang akal dan hatinya sudah rusak. Merasa kehilangan disertai kesedihan yang dalam menyebabkan orang yang ditinggalkan selalu memikirkan orang yang meninggalkan. Seperti pada penggalan lirik (1) “hilang memang hilang” pada larik pertama dalam bait ketiga; (2) “wajahnya terus terbayang” pada larik kedua dalam bait ketiga; (3) “berjumpa di mimpi” pada larik ketiga dalam bait ketiga; dan (4) “kau ajak aku untuk menari, bernyanyi” pada larik keempat dalam bait ketiga. Penggalan lirik-lirik tersebut menunjukkan bahwa yang ditinggalkan menyadari bahwa yang meninggalkan memang sudah hilang, tetapi karena kesedihan yang mendalam, menyebabkan selalu terbayang wujud yang meninggalkan di dalam pikiran orang yang ditinggalkan. Bahkan sampai terbawa mimpi, bahwa di dalam mimpinya bertemu dengan orang yang meninggalkan. Saking merasa kehilangan dan kesedihan yang dalam, dia bermimpi menari dan bernyanyi dengan orang yang meninggalkan, melakukan segala kesenangan yang semestinya dilakukan ketika masih berada di dunia.

Adapun pesan yang dapat menjadi pelajaran, terdapat pada penggalan lirik (1) “relakan yang terjadi, takkan kembali” pada larik pertama dalam bait pertama; (2) “bukan milik kita lagi” pada larik kedua dalam bait pertama; (3) “tak perlu menangis, tak perlu bersedih, tak perlu tak perlu sedu sedan itu” pada larik ketiga dalam bait pertama; (4) “pasrah pada Ilahi, hanya itu yang kita bisa” pada larik pertama dalam bait kedua; (5) “ambil hikmahnya, ambil indahnya” pada larik kedua dalam bait kedua; (6) “cobalah menari, cobalah bernyanyi, cobalah cobalah mulai detik ini” pada larik ketiga dalam bait kedua; dan (7) “hadapi saja” pada larik keempat dalam bait pertama dan bait kedua.

Sepertinya lebih banyak pesan baik yang disampaikan daripada memberitahukan kematian dan kesedihan. Penggalan lirik pemberitahuan kematian hanya berjumlah 2, perasaan sedih dan kehilangan berjumlah 4, dan pesan baik yang disampaikan berjumlah 7. Bagiku, lagu yang hebat adalah lagu yang bobot pesan baiknya lebih banyak dibandingkan informasi-informasi yang kurang penting seperti keluh kesah dan penyampaian kisah roman yang merusak. Tentunya dalam lagu Hadapi Saja tidak hanya hebat dalam liriknya, tetapi musik dan setiap nada yang menjadi kesatuan lagu pun menurutku sangat hebat.

Ketika kematian terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan oleh pihak yang ditinggalkan selain merelakan, karena orang mati tidak akan kembali ke dunia, tetapi kembali pada Pencipta, sudah bukan milik kerabat yang ditinggalkan. Sedih adalah wajar, tetapi tidak perlu berkepanjangan. Percuma terus-menerus diisi dengan tangisan, orang mati tidak akan kembali, lebih baik memasrahkannya kepada Tuhan yang mengambilnya. Lebih baik lagi jika diambil hikmah dari kematian yang terjadi. Hikmah yang bisa diambil dari kematian cukup banyak, sebagian di antaranya seperti mengingatkan kematian bagi yang masih hidup, sehingga memanfaatkan waktu sebaik mungkin, karena kematian tidak bisa dihindari. Atau seperti dapat menjadikan kita menghargai dan menjaga orang terdekat sebaik mungkin, supaya ketika orang terdekat telah hilang, maka tidak terlalu mengakibatkan diri penuh penyesalan, karena penyesalan itu selalu datang di akhir. Rasanya indah jika mensyukuri segala hal yang kita rasakan. Memang berat jika dihadapkan kematian orang terdekat, tetapi tidak baik jika tenggelam dalam kesedihan, hanya akan merusak diri. Orang mati tidak mau jadi penyebab rusaknya orang yang ditinggalkan karena terlalu bersedih (mungkin). Orang mati ketika hidup ingin melihat orang terdekatnya bahagia di dunia, bukan tenggelam dalam kesedihan. Cobalah untuk kembali menjadi periang, dengan cara menari, bernyanyi, atau apapun yang bisa menumbuhkan semangat hidup, supaya energi positif menyertai kehidupan, dan mungkin dengan hal tersebut bisa menghantarkan diri pada kebahagiaan. Hadapi saja setiap hal yang dirasakan di bumi, tak perlu dihindari, karena kehidupan ditakdirkan untuk menghadapi setiap hal, baik berupa kesenangan, kesedihan, kebaikan, keburukan, kemudahan, kesulitan, kegalauan, keresahan, dsb.

Perhatian utama dalam lirik Hadapi Saja adalah tentang menyikapi kehidupan dalam hal kematian. Namun, bagiku lirik tersebut bermanfaat untuk menyikapi kehidupan dalam berbagai hal, tidak terbatas dalam kematian. Bisa menyikapi kehidupan ketika mimpi yang diusahakan tidak tercapai, ketika kehilangan segala sesuatu yang penting bagi kehidupan pribadi, atau apapun bentuk kehilangan yang bagi diri sendiri sangat bernilai. Kisah yang paling berat merasakan kehilangan adalah ketika ditinggalkan orang yang dicintai dalam urusan asmara. Putus cinta rasanya bukan main, bisa merusak diri setahun penuh karena tenggelam dalam kesedihan, bahkan dapat menyebabkan trauma yang berkepanjangan. Diri menjadi rusak karena aktifitas positif yang dilakukan sangat minim, sehingga bisa dikatakan tidak ada perkembangan hidup yang menjadikan diri menuju kemapanan. Kehidupan hanya berputar dalam kesedihan, kehilangan, penyesalan, dan kerinduan yang mendalam. Campur aduk berbagai emosi. Daripada merusak diri, lebih baik pasrah dan merelakan kepergian orang yang dicintai. Mencintai tidak selamanya harus memiliki. Bisa merelakan orang yang dicintai pergi untuk merasakan kebahagiaan dengan orang yang lebih dipilihnya, hal yang seperti itu adalah salah satu bentuk mencintai, kan salah satu unsur cinta merupakan keinginan untuk melihat orang yang dicintai bahagia. Belum tentu dengan memaksakan diri untuk memilikinya membuat dia bahagia, bahkan mungkin membawakan dia pada jurang kesengsaraan. Jadi, hadapi saja berakhirnya asmara, pasrah, relakan, coba tumbuhkan kembali semangat hidup, hebatkan diri dengan harapan dia bisa kembali atau Tuhan memberikan pengganti yang lebih baik, ambil hikmahnya, dan jangan lupa untuk selalu bersyukur supaya keindahan setiap detik nafas tetap terjaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar