Finally, ternyata kisah ini
tidak berakhir sebagai trilogi. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan,
khususnya tentang sudut pandang sikap kerabat terhadap “si sakit”. Jika sampai
empat bagian kisah, istilahnya apa ya? Quadrilogy kah? Jawaban internet
sih tetralogy, tetapi istilah tersebut sangat asing bagiku, baru tahu
ketika nulis ini. KBBI pun tidak kenal tetralogy, atau mungkin aku salah
cari karena tidak tahu bahasa Indonesianya apa, hanya mengalihbahasakan asal-asalan
menjadi “tetralogi”. Biasanya, sesuai dengan apa yang telah aku pahami, hal
yang berhubungan dengan empat bagian, istilahnya selalu diawali dengan “qua...”
(English). Kadang ditemukan kata quartet. Kadang ditemukan quadri-
sebagai morfem terikat yang diperlukan morfem lain dalam penggunaannya, seperti
kata quadriliteral, quadrilateral, dll. Mungkin aku salah duga
tentang morfem terikat pada quadri-, kan bahasa Inggrisku payah.
Pada bagian sebelumnya, aku
ceritakan bahwa nenek sudah pulang dari rumah sakit. Memang benar pulang,
tetapi tidak berlangsung lama. Keluarga besar kakek sepakat untuk membawanya
lagi ke rumah sakit. Aku tidak tahu banyak cerita tentang itu. Sangat
disayangkan bahwa aku tidak bisa menemaninya, gara-gara kambuhnya si paru-paru
kesayangan. Yang kambuh sih satu bagian raga, tetapi efeknya sampai ke seluruh
bagian tubuh, dan mental pun kena imbasnya, tak mampu aku menutupinya pada
pihak lain. Bahkan ibu menyangka jika aku terkena penyakit demam karena seluruh
bagian tubuhku terlihat sakit, tersadar ketika dia membawa kejutan oleh-oleh
obat tablet dari apotek yang sebenarnya lebih cocok bagi penyakit demam. Do
you know, obat paru-paru non-herbal penggunaannya rutin 4-6 bulan, dan itu
tidak hanya satu jenis obat.
Di rumah sakit untuk yang kedua
kalinya, di sana nenek tidak berlangsung lama, kurang lebih hanya satu minggu,
kemudian dipulangkan lagi ke rumahnya. Beberapa kali aku sempat jenguk ke
rumahnya -sebenarnya hanya sebatas mampir, rumahnya sudah seperti rumahku
sendiri, keluar masuk seenaknya-, dan yang mengejutkanku adalah kondisinya semakin
memburuk. Aku pikir pihak rumah sakit tidak mampu menjadikan nenek sepenuhnya sehat.
Hanya mampu membuatnya sedikit baik, mengusahakan supaya kondisinya tidak
terlalu gawat darurat seperti dulu. Aku tidak tega melihatnya. Hanya bisa
berekspresi bohong di depannya dengan penuh senyuman yang jauh dari kesedihan,
berharap bisa meringankan beban sakitnya. Lebih tidak tega lagi ketika keluarga sepakat untuk membawanya ke rumah sakit Santo Yusuf Bandung, tetapi malah berakhir di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung karena alasan yang aku sendiri tidak paham. Jadi, total keluar masuk rawat di rumah sakit adalah tiga kali, dan dilakukan dalam bulan yang sama. Aku sangat berharap supaya nenek dan semua anggota keluarga terutama untuk diriku sendiri, semoga semuanya tehindar dari kesengsaraan karena penyakit.
Hampir setiap hari sepulangnya
dari kerja, ibuku selalu pergi keluar rumah untuk menemani nenek. Anak-anak
nenek yang lain juga rutin datang jenguk, kecuali cucu-cucunya terutama diriku,
semoga kami -paguyuban cucu nenek- tidak termasuk golongan durhaka. Wajar jika khawatir,
baru kali ini keluarga besar dari ibu mendapatkan kejadian seperti ini. Lebih
tepatnya khusus untuk diriku, belum pernah merasa akan ditinggalkan salah satu
anggota keluarga terdekat. Dari keluarga bapak, hanya satu kali dihadapkan
kematian, dan dia adalah om yang aku anggap paling keren dibandingkan om lain
di keluarga bapak. Itu juga awalnya tidak dihantui rasa khawatir, karena aku
dapat info setelah beberapa jam dia meninggal. Kematian bisa datang kapan saja,
dan terkadang tanpa ada tanda. Adapun kakek nenek dari keluarga bapak, aku
tidak sempat mengenalnya, mereka berdua sudah tiada ketika aku terlahir di
bumi. Makanya, wajar jika aku lebih dekat dengan keluarga dari ibu, dan
membuatku khawatir jika salah satu dari mereka mengalami musibah.
Yang aku tekankan dari tulisan
ini adalah khawatir. Hampir semua kerabat si sakit merasakan perasaan khawatir.
Ekspresi bisa saja menipu, terlihat seperti biasa-biasa saja ketika kerabatnya
sakit parah, tetapi hati tidak bisa bohong. Sebagian contohnya adalah ibuku. Walaupun
dia terlihat biasa saja, selalu menghadapi segala aktifitas rutin di setiap
harinya, tetapi tetap saja menyempatkan diri untuk datang menemani nenek. Semua
kerabat pasti merasakan khawatir terhadap si sakit, kecuali bagi orang yang
rasa kemanusiaannya telah lenyap.
Hal tersebut mengingatkanku pada
masa lalu ketika terkena penyakit tipes/tifus. Karena keegoisanku, banyak
kerabat dekat yang merasa khawatir. Aku sendiri biasa saja, tetapi kok pihak
lain aku rasa sikapnya tidak biasa, lebih tepatnya bisa dikatakan bahwa aku
menyebabkan pihak lain repot. Semua kejadian disebabkan oleh kebodohanku. Berawal
dari pola hidup tak teratur sebagai penyebab sakit, ditambah ketika ada perasaan
tak beres di perutku, malah aku minta dijajanin kupat tahu pedas sama ibu, dan
hasilnya hari itu juga tubuhku ambruk. Bukan tanpa alasan, hari itu nafsu
makanku rasanya hilang, makanya aku minta kupat tahu supaya bisa makan banyak,
tetapi malah berujung bencana. Aku tidak suka dokter, selama masih dirasa cukup
kuat, maka aku tahan rasa sakit di rumah. Namun, nyatanya kodisiku memburuk,
sehingga mengharuskanku pergi ke dokter. Baru saja dokter menempelkan tangannya
di perutku, aku sudah kesakitan, padahal tidak ditekan sama sekali. Tanpa banyak
buang waktu, dokter pun langsung menyatakan bahwa aku tipes.
Dengan keegoisanku juga aku menolak
rawat inap di rumah sakit. Di tulisanku sebelumnya sudah pernah disinggung
bahwa aku tidak bersahabat dengan segala hal yang berhubungan dengan medis. Rasa
khawatir dari keluarga serumah pada diriku bukanlah hal yang aneh, jadi tidak
perlu diceritakan lebih banyak, yang jelas ibuku menganggap bahwa aku seperti
orang mau mati, walaupun aku sendiri merasa biasa saja. Yang membuatku terkesan
adalah rasa khawatir para kerabat dari keluarga bapak dan ibu sampai rela datang
menjenguk, padahal aku tidak menyebarkan undangan. Merepotkan sekali aku ini,
bahkan ada kerabat yang bawa jus cacing segala, dan aku minum sampai habis
sebotol penuh. Saking merasa khawatir, uak –panggilan untuk kakaknya orang tua-
menyuruhku untuk rawat inap di rumah sakit. Permintaan ibu sendiri saja aku
tolak, apalagi permintaan dari selain orang tua, jangan berharap aku merestui. Yang
selalu dipertanyakan sampai sekarang, apakah kondisiku sangat buruk sampai
mengkhawatirkan banyak pihak? Entahlah, aku sendiri merasa belum melawati batas
wajar, tidak ada perasaan dekat dengan kematian. Yang jelas untuk hal ini
banyak kerabat yang direpotkan. Mereka khawatir padaku melebihi rasa khawatirku
pada diriku sendiri. Rasanya konyol, di saat banyak yang khawatir padaku,
bahkan ada yang berkomentar bahwa aku dekat dengan kematian, malah aku masih tidak
peduli pada diri sendiri. Aku harap tidak terjadi hal sama untuk yang kedua
kali, dan aku harap semua orang khususnya diriku selalu menjadi lebih baik di
masa depan.
---
Jangan pernah menginginkan sakit. Jangan pernah melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan sakit. Karena bukan hanya diri yang akan dirugikan, melainkan banyak pihak merasa khawatir. Jika ternyata ditakdirkan untuk sakit, maka tak usah berkeluh kesah. Sebaik atau seburuk apapun kondisi diri, syukurilah, ambil hikmahnya, cari sisi positif, karena selalu ada kebaikan dalam setiap hal.
---
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (2)
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar