Jumat, 25 Maret 2016

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (4)

Finally, ternyata kisah ini tidak berakhir sebagai trilogi. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan, khususnya tentang sudut pandang sikap kerabat terhadap “si sakit”. Jika sampai empat bagian kisah, istilahnya apa ya? Quadrilogy kah? Jawaban internet sih tetralogy, tetapi istilah tersebut sangat asing bagiku, baru tahu ketika nulis ini. KBBI pun tidak kenal tetralogy, atau mungkin aku salah cari karena tidak tahu bahasa Indonesianya apa, hanya mengalihbahasakan asal-asalan menjadi “tetralogi”. Biasanya, sesuai dengan apa yang telah aku pahami, hal yang berhubungan dengan empat bagian, istilahnya selalu diawali dengan “qua...” (English). Kadang ditemukan kata quartet. Kadang ditemukan quadri- sebagai morfem terikat yang diperlukan morfem lain dalam penggunaannya, seperti kata quadriliteral, quadrilateral, dll. Mungkin aku salah duga tentang morfem terikat pada quadri-, kan bahasa Inggrisku payah.

Pada bagian sebelumnya, aku ceritakan bahwa nenek sudah pulang dari rumah sakit. Memang benar pulang, tetapi tidak berlangsung lama. Keluarga besar kakek sepakat untuk membawanya lagi ke rumah sakit. Aku tidak tahu banyak cerita tentang itu. Sangat disayangkan bahwa aku tidak bisa menemaninya, gara-gara kambuhnya si paru-paru kesayangan. Yang kambuh sih satu bagian raga, tetapi efeknya sampai ke seluruh bagian tubuh, dan mental pun kena imbasnya, tak mampu aku menutupinya pada pihak lain. Bahkan ibu menyangka jika aku terkena penyakit demam karena seluruh bagian tubuhku terlihat sakit, tersadar ketika dia membawa kejutan oleh-oleh obat tablet dari apotek yang sebenarnya lebih cocok bagi penyakit demam. Do you know, obat paru-paru non-herbal penggunaannya rutin 4-6 bulan, dan itu tidak hanya satu jenis obat.

Di rumah sakit untuk yang kedua kalinya, di sana nenek tidak berlangsung lama, kurang lebih hanya satu minggu, kemudian dipulangkan lagi ke rumahnya. Beberapa kali aku sempat jenguk ke rumahnya -sebenarnya hanya sebatas mampir, rumahnya sudah seperti rumahku sendiri, keluar masuk seenaknya-, dan yang mengejutkanku adalah kondisinya semakin memburuk. Aku pikir pihak rumah sakit tidak mampu menjadikan nenek sepenuhnya sehat. Hanya mampu membuatnya sedikit baik, mengusahakan supaya kondisinya tidak terlalu gawat darurat seperti dulu. Aku tidak tega melihatnya. Hanya bisa berekspresi bohong di depannya dengan penuh senyuman yang jauh dari kesedihan, berharap bisa meringankan beban sakitnya. Lebih tidak tega lagi ketika keluarga sepakat untuk membawanya ke rumah sakit Santo Yusuf Bandung, tetapi malah berakhir di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung karena alasan yang aku sendiri tidak paham. Jadi, total keluar masuk rawat di rumah sakit adalah tiga kali, dan dilakukan dalam bulan yang sama. Aku sangat berharap supaya nenek dan semua anggota keluarga terutama untuk  diriku sendiri, semoga semuanya tehindar dari kesengsaraan karena penyakit.

Hampir setiap hari sepulangnya dari kerja, ibuku selalu pergi keluar rumah untuk menemani nenek. Anak-anak nenek yang lain juga rutin datang jenguk, kecuali cucu-cucunya terutama diriku, semoga kami -paguyuban cucu nenek- tidak termasuk golongan durhaka. Wajar jika khawatir, baru kali ini keluarga besar dari ibu mendapatkan kejadian seperti ini. Lebih tepatnya khusus untuk diriku, belum pernah merasa akan ditinggalkan salah satu anggota keluarga terdekat. Dari keluarga bapak, hanya satu kali dihadapkan kematian, dan dia adalah om yang aku anggap paling keren dibandingkan om lain di keluarga bapak. Itu juga awalnya tidak dihantui rasa khawatir, karena aku dapat info setelah beberapa jam dia meninggal. Kematian bisa datang kapan saja, dan terkadang tanpa ada tanda. Adapun kakek nenek dari keluarga bapak, aku tidak sempat mengenalnya, mereka berdua sudah tiada ketika aku terlahir di bumi. Makanya, wajar jika aku lebih dekat dengan keluarga dari ibu, dan membuatku khawatir jika salah satu dari mereka mengalami musibah.

Yang aku tekankan dari tulisan ini adalah khawatir. Hampir semua kerabat si sakit merasakan perasaan khawatir. Ekspresi bisa saja menipu, terlihat seperti biasa-biasa saja ketika kerabatnya sakit parah, tetapi hati tidak bisa bohong. Sebagian contohnya adalah ibuku. Walaupun dia terlihat biasa saja, selalu menghadapi segala aktifitas rutin di setiap harinya, tetapi tetap saja menyempatkan diri untuk datang menemani nenek. Semua kerabat pasti merasakan khawatir terhadap si sakit, kecuali bagi orang yang rasa kemanusiaannya telah lenyap.

Hal tersebut mengingatkanku pada masa lalu ketika terkena penyakit tipes/tifus. Karena keegoisanku, banyak kerabat dekat yang merasa khawatir. Aku sendiri biasa saja, tetapi kok pihak lain aku rasa sikapnya tidak biasa, lebih tepatnya bisa dikatakan bahwa aku menyebabkan pihak lain repot. Semua kejadian disebabkan oleh kebodohanku. Berawal dari pola hidup tak teratur sebagai penyebab sakit, ditambah ketika ada perasaan tak beres di perutku, malah aku minta dijajanin kupat tahu pedas sama ibu, dan hasilnya hari itu juga tubuhku ambruk. Bukan tanpa alasan, hari itu nafsu makanku rasanya hilang, makanya aku minta kupat tahu supaya bisa makan banyak, tetapi malah berujung bencana. Aku tidak suka dokter, selama masih dirasa cukup kuat, maka aku tahan rasa sakit di rumah. Namun, nyatanya kodisiku memburuk, sehingga mengharuskanku pergi ke dokter. Baru saja dokter menempelkan tangannya di perutku, aku sudah kesakitan, padahal tidak ditekan sama sekali. Tanpa banyak buang waktu, dokter pun langsung menyatakan bahwa aku tipes.

Dengan keegoisanku juga aku menolak rawat inap di rumah sakit. Di tulisanku sebelumnya sudah pernah disinggung bahwa aku tidak bersahabat dengan segala hal yang berhubungan dengan medis. Rasa khawatir dari keluarga serumah pada diriku bukanlah hal yang aneh, jadi tidak perlu diceritakan lebih banyak, yang jelas ibuku menganggap bahwa aku seperti orang mau mati, walaupun aku sendiri merasa biasa saja. Yang membuatku terkesan adalah rasa khawatir para kerabat dari keluarga bapak dan ibu sampai rela datang menjenguk, padahal aku tidak menyebarkan undangan. Merepotkan sekali aku ini, bahkan ada kerabat yang bawa jus cacing segala, dan aku minum sampai habis sebotol penuh. Saking merasa khawatir, uak –panggilan untuk kakaknya orang tua- menyuruhku untuk rawat inap di rumah sakit. Permintaan ibu sendiri saja aku tolak, apalagi permintaan dari selain orang tua, jangan berharap aku merestui. Yang selalu dipertanyakan sampai sekarang, apakah kondisiku sangat buruk sampai mengkhawatirkan banyak pihak? Entahlah, aku sendiri merasa belum melawati batas wajar, tidak ada perasaan dekat dengan kematian. Yang jelas untuk hal ini banyak kerabat yang direpotkan. Mereka khawatir padaku melebihi rasa khawatirku pada diriku sendiri. Rasanya konyol, di saat banyak yang khawatir padaku, bahkan ada yang berkomentar bahwa aku dekat dengan kematian, malah aku masih tidak peduli pada diri sendiri. Aku harap tidak terjadi hal sama untuk yang kedua kali, dan aku harap semua orang khususnya diriku selalu menjadi lebih baik di masa depan.

---
Jangan pernah menginginkan sakit. Jangan pernah melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan sakit. Karena bukan hanya diri yang akan dirugikan, melainkan banyak pihak merasa khawatir. Jika ternyata ditakdirkan untuk sakit, maka tak usah berkeluh kesah. Sebaik atau seburuk apapun kondisi diri, syukurilah, ambil hikmahnya, cari sisi positif, karena selalu ada kebaikan dalam setiap hal.
---
 
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (2)
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI (3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar