Rabu, 23 Maret 2016

DI HARI KE-17

DI HARI KE-17

Tak pernah kubenci
Kurasa dirinya sedikit mengerti

Rasa hampa menghampiriku
Mencari teman dalam kekosongan
Perasaan ini, ....

Senja memanggil bintang
Termenung di balik bayangan karang
Kuputuskan untuk pergi perlahan
Mencari arti kehampaan

Amnesia di hari ini, renungan, ingatan, mencari arti pasti
Hari ini, hari ke-17-nya
Dengan tinta hitam ini, kutuliskan puisi untuknya
Berharap ia menemukan sesuatu yang dicarinya

Tak pernah kubenci
Kurasa dirinya sedikit mengerti
Puisi tersebut saya tulis pada April 2012, tanggal tepatnya lupa, mungkin tanggal 17. Ceritanya lagi iseng-iseng, cari karya yang pernah dipublikasikan di web/blog orang lain. Ternyata ketemu juga satu karya. Puisi dengan nama penulis yang dicantumkan hanya nama akhirku saja, Hadid. Dulu rasanya  malu-malu enggak jelas jika mencantumkan nama lengkap. Entah apa alasannya, mungkin kurang bangga sama nama sendiri, entahlah. Dengan hal iseng-iseng tersebut, saya dapat pelajaran baru, bahwa dunia internet mampu menyimpan berkas dengan baik. Padahal saya tidak punya dokumentasi sama sekali, karena harddisk komputerku sempat jebol. Namun, ada hal yang membuatku sedikit kecewa. Semua orang paham bahwa internet menawarkan kebebasan. Alhasil, ada beberapa pihak yang copy paste puisi tersebut tanpa mencantumkan penulis asli. Bahkan ada yang mengganti penulis puisi dengan nama orang lain, dan yang lebih lucu lagi adalah berani mengganti judul menjadi "dihari ke-15" dan "Di hari ke-18". Jika penasaran, cek situs dwydinata, hadiryangelisya, puisiontime, uryebobotoh1993, dan poetrapat2-asrulprikitiew. Sedikit kecewa sekaligus membuatku tersenyum, karena secara tidak langsung ada beberapa pihak yang suka dengan puisi saya, walaupun sebenarnya saya sendiri kurang menyukai puisi yang saya tulis.

Puisi tersebut ditulis untuk seorang teman. Teman lama yang mungkin sudah tidak mengingatku lagi ketika saya menulis puisi tersebut, dan mungkin sampai sekarang tidak ada memori tentang diriku yang tersisa di pikirannya. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Terakhir kali bertemu ketika beberapa tahun tidak bertemu, secara tidak sengaja kami bertemu, dan tidak saling menyapa. Dulu rasanya diriku kekanak-kanakan, marah/benci tanpa alasan yang jelas. Di April 2012, sambil merenung @indekos kesayangan, tiba-tiba saja teringat ingatan masa lalu, ingatan tentang sikap bodohku di masa lalu pada seorang teman. Ternyata, ada baiknya hidup merantau sendiri, bisa menyadarkan diri pada sikap buruk di masa lalu, melatih diri untuk bersikap bijak. Tentunya masih banyak lagi hal positif disebabkan merantau, tak perlu dibahas, setiap orang merasakan hal yang berbeda, lebih baik Anda rasakan sendiri dengan mencoba hidup merantau.

Dengan teringatnya kisah masa lalu, saya pun berniat untuk meminta maaf kepada teman lama. Permintaan maaf yang bingung diucapkan dengan cara apa, karena malu untuk menghubungi, dan memang tidak mempunyai kontak infonya. Maka puisi pun saya buat, dan dipublikasikan di beberapa blog/web yang bersedia menampung karya puisi, dengan harapan ada bantuan magis supaya tiba-tiba sampai kepadanya, ha... ha... kacau! Kebetulan masih ingat kapan tanggal lahir teman lama, dan hari ketika saya ingat dirinya terjadi dekat dengan tanggal lahirnya. Maka saya tentukan puisi dengan judul “Di Hari Ke-17”. Walaupun saya tidak suka merayakan ulang tahun, tetapi ada baiknya mengingat hal kecil tentang dirinya dengan menuliskan judul puisi sesuai dengan tanggal lahir. Hanya sekedar angka, tanpa kejelasan nama tanggal dan bulan. Sebenarnya permintaan maaf tersebut belum tentu sampai kepadanya, dengan alasan (1) saya tidak mencantumkan nama asli; (2) tidak adanya penjelasan tujuan isi puisi; (3) judul puisi dan isi yang masih abstrak; dan (4) tidak adanya nama orang yang dituju. Ambil positifnya, atas dasar ketidakjelasan tersebut, puisi dapat ditujukan pada apapun atau siapapun yang ada hubungannya dengan tanggal 17.

Ada beberapa kata yang sekarang saya kurang suka dalam puisi tersebut. Kata “senja”, mungkin dulu saya suka menggunakannya, tetapi sekarang menghindari pemakaian kata tersebut. Terjadi begitu saja, rasa kurang suka yang tidak bisa dijelaskan. Secara keseluruhan puisi, untuk sekarang saya kurang suka gaya bahasa dan diksi yang dipilih, dan entah mengapa dulu bisa menulis puisi dengan gaya yang sebenarnya saya tidak suka. Mungkin seperti itulah yang saya maksud “puisi hanyalah luapan jiwa yang penuh dengan nyanyian sastra”. Luapan jiwa yang sesuai dengan emosi penulis ketika menyusun karya, dan belum tentu di kemudian hari diri penulis sendiri menyukai karya yang telah disusunnya ketika emosinya berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar