Orang-orang sekitar termasuk diriku sedang terkena demam kopi. Maunya aku bilang Indonesia, tidak dibatasi dengan “orang-orang sekitar”. Namun, apalah daya dan upaya, kakiku baru melangkah di tanah D.I. Yogyakarta dan Bandung Raya, belum berhak melibatkan nama Indonesia dalam cerita. Kopi bukanlah barang baru di tanah yang pernah aku tapaki. Hanya saja, aku rasa euforia dan gengsinya lebih meningkat sepanjang tahun 2011-2016. Mungkin aku salah duga, karena sebenarnya dari dulu sudah bertebaran kafe, baik yang berupa kelas atas, maupun hanya sekedar warung kopi atau angkringan pinggir jalan. Istilah kafe rasanya kebarat-baratan, karena memang merupakan kata serapan dari bahasa asing. Menurutku, istilah yang lebih tepat dan merakyat adalah warung kopi, tetapi sepertinya istilah tersebut tabu bagi pihak yang gengsinya gede, dan istilah cafe (English) atau kedai kopi lebih dipilih.
Aku sendiri bukanlah maniak kopi, baru mau masuk ke alam candu. Memang sih keluarga besarku khususnya kepala keluarga di masing-masing keluarganya adalah coffee addict, dan kopi adalah bagian dari paket harian kehidupan pelengkap rokok. Namun, kebiasaan tersebut tidak menurun pada keturunannya. Aku jarang lihat anggota keluarga yang belum jadi kepala keluarga minum kopi, hanya minum di sebagian waktu, tergantung momentum. Sebenarnya, waktu aku kecil sering lihat bibi –panggilan bagi adik perempuan orang tua- minum kopi, bahkan cukup banyak persediaan di rumahnya, sudah seperti warung saja. Namun, sekarang aku pikir yang dulu diminum bibi bukanlah kopi. Lebih tepatnya seperti sirup, karena rasa kopinya benar-benar hilang, dan mungkin tidak ada unsur kopi sedikit pun dalam komposisinya. Tahukah minuman apa yang dimaksud? Jika dalam bahasa Indonesia, nama mereknya adalah hari yang baik. Karena alasan tersebut, aku tidak menyebut bibi sebagai pecandu kopi, tetapi sebagai penikmat minuman hangat berbagai macam rasa.
Kopi tidak menjadi hobi sampai masuk dunia perkuliahan. Minum susu atau teh lebih aku pilih. Kadang minum kopi jika kumpul malam bersama kawan ketika SMA, tetapi bukan atas dasar permintaanku. Tidak suka kopi bukan berarti benci. Jika ada di depan muka, ya langsung aku teguk saja sampai mabuk, haha... emang minum kopi berkadar alkohol berapa!!? Sudah kuliah saja jarang minum kopi. At indekos kesayangan, aku lebih suka seduh teh, susu, jahe, dan campuran dari bahan-bahan tersebut (tak usah sebut merek). Di luar juga jarang jajan. Sebelum masuk semester akhir perkuliahan, aku hampir tidak pernah jajan, dan masuk kantin kampus pun hanya untuk sebatang rokok.
Aku mulai berkawan dekat dengan kopi di tempat kerja. Si bos kasih aku satu plastik kecil kopi Lampung, dan semuanya habis olehku dalam jangka waktu yang cukup singkat. Di tempat kerja cukup jenuh, lebih nikmat jika waktu diisi dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Kopi Lampung rasanya menggemaskan. Pahit, padahal campuran gulanya cukup banyak, tetapi semakin lama rasa pahit tersebut menjadi nikmat. Layaknya kenikmatan cabai yang terletak pada rasa pedas, atau seperti leunca dan paria –nama sayuran berbahasa Sunda- yang kenikmatannya berada pada rasa pahit.
Di semester akhir perkuliahan, aku mulai terlibat lebih jauh dengan kopi. Tidak jauh-jauh amat, masih sekedar kopi bungkusan di warung yang orisinalitasnya diragukan. Entah apa yang membuatku jadi sering minum kopi. Mungkin karena situasi-kondisi hidup, atau mungkin gaya hidup mulai berubah, yang jelas bukan karena gengsi. Semuanya diawali ketika aku memutuskan untuk pindah kontrakan ke Bantul yang iklimnya jauh berbeda dengan kawasan sekitar UGM. Mungkin aku jadi peminum kopi karena kondisi iklim. Entahlah, rasanya bukan itu alasannya, karena aku juga minum kopi di daerah kampus atau daerah kota. Di semester akhir juga aku jadi anak nongkrong kantin, dan jajanan favoritnya adalah minuman kopi atau teh. Gaya hidupku memang berubah, dan aku tidak paham penyebabnya apa.
Cukup banyak varian kopi yang telah aku cicipi, seperti kopi Lampung, Papua, Aceh, Lombok, Toraja, dan sebagiannya aku lupa. Sebagian besar kopi berkelas didapatkan secara gratis, dapat dari kawan sepulangnya dari wisata atau pulang dari kampung halaman. Aku sebut berkelas karena sebagian kopi yang diberikan kawan hanya dibungkus dengan plastik biasa. Bisa dikatakan bahwa kopi tersebut diproduksi sendiri, limited edition bung!. Aku tidak paham arabika atau robusta, bagiku semuanya sama-sama kopi, karena aku bukan maniak kopi. Kopi Lampung, Aceh, dan Papua aku rasa mempunyai pahit yang khas. Kopi Lombok bagiku paling beda, karena warnanya cokelat terang, dan rasanya seperti kacang tanah goreng. Rasa tepatnya aku tidak bisa mendeskripsikan lebih jelas, kurang lebih seperti itu yang aku rasakan. Khusus untuk kopi Toraja, di lidah rasanya unik. Kopi dan gula yang telah bercampur di cangkir, rasa keduanya berpisah ketika di lidah, tidak menyatu. Mungkin hanya aku yang merasakan seperti itu. Tak paham lah, aku bukan ahli kopi.
Ada satu kopi yang menurutku sedikit aneh. Dikasih kawan, dan katanya didapat dari jalan, jatuh dari sepeda motor orang lain. Dilihat dari bungkusnya, aku duga bahwa kopi tersebut adalah produk lokal yang biasa dijual di pasar tradisional. Desain bungkusnya pun kurang menarik, bahkan menurutku beberapa kata ditulis seenaknya tanpa aturan. Sebagian besar kawanku enggan meminumnya, katanya aneh, seperti kopi busuk. Bagiku kopi tersebut tidak bermasalah, karena aku pikir masing-masing kopi punya cita rasa tersendiri, dan wajar jika merasa sedikit aneh. Aku nikmati saja sampai bisa menemukan titik kenikmatannya. Sekitar setengah kilo aku habiskan sendiri, dan sisanya jadi minuman jamuan untuk tamu. Ternyata tamuku coffee addict, bahkan waktu mudanya pernah beberapa kali jajal kafe yang menawarkan harga cukup tinggi untuk secangkir kopi. Menurutnya, yang dirasakan aneh olehku dan kawan-kawan bukanlah masalah. Di setiap bungkusnya, kopi tersebut sudah dicampur cacao. Pantas saja aku rasa ada pahit yang khas seperti cokelat pahit batangan, rasa pahit yang membuatku penasaran untuk terus kembali mencobanya. Dulu aku pernah coba beberapa batang cokelat pahit, berawal coba dari sisa ibu bikin kue. Awalnya, memang cokelat tersebut rasanya pahit tak sedap. Namun, rasa pahit tersebut membuatku penasaran, sampai cokelat habis tak tersisa. Setelah cokelat habis, tetap saja rasa penasaran pada pahitnya cokelat belum terjawab, dan terus-menerus ingin kembali mencoba. Aneh.
Selain kopi-kopi tersebut, kopi sehari-hari yang aku minum adalah kopi bungkusan dari warung. Kopi hitam bermerek “Kapal dari negara Api di film kartun Avatar”, haha... saingan dari kopi Kapal Air. Bagiku kopi tersebut masih masuk akal. Walaupun sedikit ragu, tetapi rasa kopi aslinya masih ada. Bukan maksudnya tidak percaya pada kopi bungkusan di warung-warung yang diproduksi masal. Namun, logisnya, lama proses produksi kopi yang baik bisa bertahun-tahun. Jika memproduksi masal dalam waktu yang singkat, maka identitas kopi patut dipertanyakan. Rasa nikmat dan warna hitam pekat pada setiap kopi bungkusan di warung-warung mesti dipertanyakan.
Kopi yang aku suka tidak berwarna-warni atau berbagai rasa. Cukup hanya campuran air, kopi, dan gula. Aku pikir kopi rasa mocca, campuran susu, dan berbagai macam rasa kopi lainnya bukanlah kopi murni, dan identitasnya sudah bukan kopi lagi. Memang sih campuran kopi-gula juga bisa dikatakan bukan kopi murni, tetapi setidaknya keaslian kopi masih terasa.
Aku penikmat kopi rumahan (jangan salah baca jadi murahan), dan terkadang minum kopi di angkringan jika sedang mau menikmati udara malam. Mau kopi berkelas atau kopi bungkusan dari warung, rasanya lebih nikmat bikin sendiri. Apalagi jika kekasih yang buat, rasanya makin manis, dan sayangnya itu hanya sekedar khayalan. Atau dibuatin mantan, rasanya pun berubah jadi rasa kenangan, haha... Pernah coba masuk kafe dengan harga kopi yang tidak murah, paling murah sekitar 6-12 ribu rupiah per cangkir -penawaran harga di setiap kafe berbeda-, tetapi kesannya konyol, tetap saja yang aku minum rasa kopi. Dengan harga sebesar itu, aku bisa bikin kopi lebih dari lima cangkir di rumah. Memang diriku bukanlah maniak kopi yang rela berburu kopi sejauh dan semahal apapun. Gaya hidup setiap orang berbeda.
Kenal lebih dekat dengan kopi, membuatku merasakan gejala penyakit di tubuh. Aku tidak sekuat dulu, mudah kaget, jantung berdetak kencang, lemas, mudah masuk angin, dll. Baca di internet, ternyata beberapa gejala yang dirasakan dekat dengan penyakit jantung. Sedikit terpaksa, aku lepaskan kebiasaan minum kopi, padahal belum lama jadi minuman rutin sehari-hari. Wajar jika timbul beberapa gejala penyakit, karena dalam sehari biasa menghabiskan kopi tiga cangkir.
Kebiasaan lama minum teh kembali dilakukan sebagai pengganti kopi. Namanya juga kebiasaan, rasanya ada yang kurang jika tidak ada minuman selain air putih. Hampir setiap malam menghabiskan satu teko kecil teh manis. Seduh teh selalu tidak tanggung-tanggung, tidak seperti kopi yang hanya secangkir, disebabkan faktor finansial dan sifat dari kedua minuman tersebut. Di warung, teh lebih murah daripada kopi, dan jika menyeduh satu sendok kopi dan teh, maka hasilnya lebih banyak teh.
Kebiasaan tersebut tidak berlangsung lama, karena jasadku diserang gejala gula darah. Awalnya, aku terlalu sering kencing. Sepertinya, setiap gelas air yang diminum, tidak butuh waktu lama menjadi kencing. Aku kira itu sehat, dan sebenarnya sempat ragu, tetapi tetangga meyakinkanku jika sering kencing itu bagus. Dilanjutkan dengan gejala lain bahwa luka luarku sulit kering. Tidak seperti biasanya, karena dulu luka luar bagiku bukanlah masalah, cepat kering sebesar apapun lukanya. Namun, untuk kali ini aku dibuat khawatir, karena beberapa luka luar berukuran kecil pun tak kunjung kering. Puncaknya, ada satu luka yang lama kering dan semakin membesar, ditambah bengkak di sekitarnya. Semakin merasa ada yang tidak beres, luka tersebut tak sembuh-sembuh selama satu bulan lebih. Setelah tanya internet, ternyata teh dan kopi bukanlah penyebab utama berbagai gejala di tubuh, melainkan gula lah yang menjadi sumber penyakit. Porsi gula yang aku campur pada setiap minuman cukup banyak, bahkan sebagian kawan berkomentar terlalu manis. Sebenarnya gula tersebut bukan satu-satunya penyebab gejala penyakit. Lebih tepatnya, setiap gejala yang timbul dikarenakan jarangnya mengolah raga. Menurutku gula baik bagi tubuh, dengan syarat aktifitas yang dilakukan seimbang sesuai pasokan gula ke dalam tubuh.
Beberapa hari sempat berhenti minum teh dan kopi, tetapi tidak berlangsung lama. Kebiasaan yang berubah menjadi kebutuhan, sebentar lagi masuk ke alam candu. Minuman utama adalah kopi, dan penggantinya adalah teh jika persediaan kopi habis. Sebelum tubuh dan mentalku rusak parah, ada baiknya lihat penjelasan di beberapa artikel. Ternyata kopi tidak terlalu buruk bagi tubuh, bahkan sebagian ada yang menyatakan bahwa kopi bisa mengurangi gejala diabetes. Artikel tersebut rasanya jadi penolong lidah yang sedang rindu berat terhadap kopi. Akhirnya, kebiasaan minum kopi pun kembali dilakukan. Satu cangkir kopi adalah minuman rutin setiap hari. Berharap tidak berujung menjadi pecandu berat. Bedanya dari yang dulu, campuran gula pada kopi dikurangi, dan pahitnya kopi lebih kuat daripada manis gula, bahkan kerabatku bilang jika kopiku pahit tanpa gula. Dulu campuran tersebut bukanlah gayaku, tetapi sekarang malah lebih nikmat jika rasa pahit kopi cukup kuat di lidah, walaupun belum berani menghilangkan campuran gula sepenuhnya. Aneh, kebiasaan yang tidak bisa dijelaskan, begitu saja menyukai kopi agak pahit, dan lebih aneh lagi kebiasaan pahit tersebut berpengaruh pada penyajian teh.
Sepanjang tahun 2011-2016, aku rasa euforia dan gengsi lingkungan sekitar terhadap kopi makin meningkat. Mungkin dugaanku salah, dan memang salah karena dari dulu sudah banyak bertebaran kafe, tetapi bedanya sekarang makin meriah, sampai tersedia kafe buat kalangan menengah ke bawah dengan tawaran harga kopi paling murah sekitar 6-12 ribu rupiah per cangkir. Entah mengapa perhatianku pada dunia kopi jadi lebih dalam. Mungkin karena aku telah berkawan dengan kopi. Sesuai dengan apa yang aku perhatikan, dalam tahun-tahun tersebut mulai banyak bermunculan kafe kecil atau kedai kopi di Yogya, dan pengunjungnya pun tidak sedikit. Hampir saingan dengan angkringan dan burjo, padahal harga di angkringan lebih murah, ditambah bonus sikap kesederhanaan, ramah tamah, dan bersahabat dari pihak penjual maupun pengunjung lain.
Entah apa yang menyebabkan euforia kopi lebih meningkat di lingkungan sekitar. Mungkin hanya aku yang merasa seperti itu. Meningkatnya minat terhadap kopi, mungkin disebabkan oleh buku Filosofi Kopi karya Dee. Lebih meriah lagi ketika buku tersebut dijadikan film yang dirilis tahun 2015 lalu. Seperti itulah sebagian generasi muda Indonesia, lebih suka mengikuti tren yang sedang hangat di layar kaca. Seperti halnya ketika buku 5 cm difilmkan, mendadak banyak orang yang ingin mendaki gunung, termasuk di dalamnya para wanita.
Karena literatur Filosofi Kopi kah peminat kopi semakin meningkat? Entahlah, aku sendiri belum pernah baca buku Filosofi Kopi. Hanya cari informasi di internet untuk menghilangkan rasa penasaran, dan katanya buku tersebut merupakan antologi prosa. Filmnya pun belum pernah aku tonton, padahal pernah ditayangkan di tv, tetapi aku lebih memilih pergi keluar rumah, malas nunggu lama-lama di depan tv. Film tentang kopi yang pernah aku tonton adalah Coffee and Cigarettes, film yang bagiku absurd karena keunikannya, dan mungkin bagi orang lain cukup membosankan.
Peningkatan minat terhadap kopi, aku rasakan juga ketika salah satu stasiun tv menayangkan acara Viva Barista. Tayangan sabtu sore bergaya reality show atau film dokumenter. Bagiku, penyajian tayangan tersebut cukup berat, karakter penyajiannya terlalu kuat, sehingga tidak ringan untuk dinikmati. Walaupun demikian, tayangan tersebut bagiku menarik, daripada nonton drama roman yang menggelikan. Dua jempol bagi Viva Barista.
Peningkatan minat terhadap kopi disertai pula dengan gengsi, bahkan menjadi life style bagi sebagian pihak. Sekarang gengsi tidak hanya dimiliki oleh kalangan menengah ke atas, melainkan kalangan menengah ke bawah pun dapat ikut serta dalam adu gengsi. Hal tersebut dikarenakan banyak kafe bermunculan dengan penawaran harga kopi yang cukup terjangkau, walaupun nyatanya tidak lebih murah dari angkringan. Aku juga aneh, kenapa banyak pihak yang lebih memilih kafe daripada angkringan. Memang sih kafe menawarkan banyak varian kopi, tetapi jika bukan penikmat berat kopi dan hanya berniat adu gengsi, maka buat apa masuk kafe, lebih baik ke angkringan saja, irit ongkos. Modernitas membuat gaya hidup berubah. Biarlah, bukan hakku menentukan jalan hidup orang lain. Setiap orang berbeda dan berhak menentukan jalan hidupnya.
Aku sendiri bukanlah maniak kopi, baru mau masuk ke alam candu. Memang sih keluarga besarku khususnya kepala keluarga di masing-masing keluarganya adalah coffee addict, dan kopi adalah bagian dari paket harian kehidupan pelengkap rokok. Namun, kebiasaan tersebut tidak menurun pada keturunannya. Aku jarang lihat anggota keluarga yang belum jadi kepala keluarga minum kopi, hanya minum di sebagian waktu, tergantung momentum. Sebenarnya, waktu aku kecil sering lihat bibi –panggilan bagi adik perempuan orang tua- minum kopi, bahkan cukup banyak persediaan di rumahnya, sudah seperti warung saja. Namun, sekarang aku pikir yang dulu diminum bibi bukanlah kopi. Lebih tepatnya seperti sirup, karena rasa kopinya benar-benar hilang, dan mungkin tidak ada unsur kopi sedikit pun dalam komposisinya. Tahukah minuman apa yang dimaksud? Jika dalam bahasa Indonesia, nama mereknya adalah hari yang baik. Karena alasan tersebut, aku tidak menyebut bibi sebagai pecandu kopi, tetapi sebagai penikmat minuman hangat berbagai macam rasa.
Waktu masih kecil, aku hampir candu kopi, dan kopi yang aku minum adalah kopi hitam. Hebat kan? Sudah mirip orang-orang tua di keluarga, tinggal pegang rokok dan join-an bersama para tetua, haha... cari masalah nih anak. Anda sendiri paham, apapun yang rasanya manis, kebanyakan disukai anak kecil. Mungkin dulu aku maniak yang manis-manis, sampai rokok yang aku beli di warung untuk kerabat, aku jilati filternya, dan hampir patah/sobek karena basah. Sekarang juga masih suka yang manis-manis, terutama kamu hai wanita, ya e laaahh... busuk, always!. Bedanya, makanan manis hanya dapat menyebabkan diabetes dan gigi rontok, dan wanita manis berpotensi memasrahkan jiwa dan ragaku kepadanya, basi!.
Jika main ke rumah kakek, pasti dia harus membagi setengah kopinya ke gelas lain. Dia hanya senyum-senyum saja, dan sepertinya tidak keberatan. Wajar jika tidak keberatan, sekali seduh tidak hanya satu cangkir, melainkan pakai gelas besar 700 ml. Anehnya, kebiasaan minum kopi hanya terjadi jika main ke rumah kakek. Di rumah sendiri, sekali pun tidak tertarik minum kopi, tidak pernah minta kopi punya bapak, kecuali untuk mencelupkan roti/kue supaya rasanya bertambah laziz.
Kopi tidak menjadi hobi sampai masuk dunia perkuliahan. Minum susu atau teh lebih aku pilih. Kadang minum kopi jika kumpul malam bersama kawan ketika SMA, tetapi bukan atas dasar permintaanku. Tidak suka kopi bukan berarti benci. Jika ada di depan muka, ya langsung aku teguk saja sampai mabuk, haha... emang minum kopi berkadar alkohol berapa!!? Sudah kuliah saja jarang minum kopi. At indekos kesayangan, aku lebih suka seduh teh, susu, jahe, dan campuran dari bahan-bahan tersebut (tak usah sebut merek). Di luar juga jarang jajan. Sebelum masuk semester akhir perkuliahan, aku hampir tidak pernah jajan, dan masuk kantin kampus pun hanya untuk sebatang rokok.
Aku mulai berkawan dekat dengan kopi di tempat kerja. Si bos kasih aku satu plastik kecil kopi Lampung, dan semuanya habis olehku dalam jangka waktu yang cukup singkat. Di tempat kerja cukup jenuh, lebih nikmat jika waktu diisi dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Kopi Lampung rasanya menggemaskan. Pahit, padahal campuran gulanya cukup banyak, tetapi semakin lama rasa pahit tersebut menjadi nikmat. Layaknya kenikmatan cabai yang terletak pada rasa pedas, atau seperti leunca dan paria –nama sayuran berbahasa Sunda- yang kenikmatannya berada pada rasa pahit.
---
Salah satu kenikmatan kopi terletak pada sisi pahitnya.
---
Satu pelajaran dari si bos, rasa kopi akan lebih strong jika diseduh dengan air mendidih dalam satu cangkir, dan ditambah garam yang banyaknya seujung jari. Dia cukup pintar dalam hal minuman. Katanya sih pernah terlibat dalam dunia barista. Makanya, aku ikuti saja setiap saran yang berhubungan dengan minuman. Dikarenakan aku bukan pecinta kopi, maka sebaik apapun kopi yang aku buat sesuai saran si bos, rasanya tetap sama, tidak ada apresiasi lebih dariku terhadap kopi. Kopi Lampung tidak membuatku jadi candu, belum membuatku harus beli untuk menikmati, hanya minum jika ada kopi gratisan.
Di semester akhir perkuliahan, aku mulai terlibat lebih jauh dengan kopi. Tidak jauh-jauh amat, masih sekedar kopi bungkusan di warung yang orisinalitasnya diragukan. Entah apa yang membuatku jadi sering minum kopi. Mungkin karena situasi-kondisi hidup, atau mungkin gaya hidup mulai berubah, yang jelas bukan karena gengsi. Semuanya diawali ketika aku memutuskan untuk pindah kontrakan ke Bantul yang iklimnya jauh berbeda dengan kawasan sekitar UGM. Mungkin aku jadi peminum kopi karena kondisi iklim. Entahlah, rasanya bukan itu alasannya, karena aku juga minum kopi di daerah kampus atau daerah kota. Di semester akhir juga aku jadi anak nongkrong kantin, dan jajanan favoritnya adalah minuman kopi atau teh. Gaya hidupku memang berubah, dan aku tidak paham penyebabnya apa.
Cukup banyak varian kopi yang telah aku cicipi, seperti kopi Lampung, Papua, Aceh, Lombok, Toraja, dan sebagiannya aku lupa. Sebagian besar kopi berkelas didapatkan secara gratis, dapat dari kawan sepulangnya dari wisata atau pulang dari kampung halaman. Aku sebut berkelas karena sebagian kopi yang diberikan kawan hanya dibungkus dengan plastik biasa. Bisa dikatakan bahwa kopi tersebut diproduksi sendiri, limited edition bung!. Aku tidak paham arabika atau robusta, bagiku semuanya sama-sama kopi, karena aku bukan maniak kopi. Kopi Lampung, Aceh, dan Papua aku rasa mempunyai pahit yang khas. Kopi Lombok bagiku paling beda, karena warnanya cokelat terang, dan rasanya seperti kacang tanah goreng. Rasa tepatnya aku tidak bisa mendeskripsikan lebih jelas, kurang lebih seperti itu yang aku rasakan. Khusus untuk kopi Toraja, di lidah rasanya unik. Kopi dan gula yang telah bercampur di cangkir, rasa keduanya berpisah ketika di lidah, tidak menyatu. Mungkin hanya aku yang merasakan seperti itu. Tak paham lah, aku bukan ahli kopi.
Ada satu kopi yang menurutku sedikit aneh. Dikasih kawan, dan katanya didapat dari jalan, jatuh dari sepeda motor orang lain. Dilihat dari bungkusnya, aku duga bahwa kopi tersebut adalah produk lokal yang biasa dijual di pasar tradisional. Desain bungkusnya pun kurang menarik, bahkan menurutku beberapa kata ditulis seenaknya tanpa aturan. Sebagian besar kawanku enggan meminumnya, katanya aneh, seperti kopi busuk. Bagiku kopi tersebut tidak bermasalah, karena aku pikir masing-masing kopi punya cita rasa tersendiri, dan wajar jika merasa sedikit aneh. Aku nikmati saja sampai bisa menemukan titik kenikmatannya. Sekitar setengah kilo aku habiskan sendiri, dan sisanya jadi minuman jamuan untuk tamu. Ternyata tamuku coffee addict, bahkan waktu mudanya pernah beberapa kali jajal kafe yang menawarkan harga cukup tinggi untuk secangkir kopi. Menurutnya, yang dirasakan aneh olehku dan kawan-kawan bukanlah masalah. Di setiap bungkusnya, kopi tersebut sudah dicampur cacao. Pantas saja aku rasa ada pahit yang khas seperti cokelat pahit batangan, rasa pahit yang membuatku penasaran untuk terus kembali mencobanya. Dulu aku pernah coba beberapa batang cokelat pahit, berawal coba dari sisa ibu bikin kue. Awalnya, memang cokelat tersebut rasanya pahit tak sedap. Namun, rasa pahit tersebut membuatku penasaran, sampai cokelat habis tak tersisa. Setelah cokelat habis, tetap saja rasa penasaran pada pahitnya cokelat belum terjawab, dan terus-menerus ingin kembali mencoba. Aneh.
Selain kopi-kopi tersebut, kopi sehari-hari yang aku minum adalah kopi bungkusan dari warung. Kopi hitam bermerek “Kapal dari negara Api di film kartun Avatar”, haha... saingan dari kopi Kapal Air. Bagiku kopi tersebut masih masuk akal. Walaupun sedikit ragu, tetapi rasa kopi aslinya masih ada. Bukan maksudnya tidak percaya pada kopi bungkusan di warung-warung yang diproduksi masal. Namun, logisnya, lama proses produksi kopi yang baik bisa bertahun-tahun. Jika memproduksi masal dalam waktu yang singkat, maka identitas kopi patut dipertanyakan. Rasa nikmat dan warna hitam pekat pada setiap kopi bungkusan di warung-warung mesti dipertanyakan.
Kopi yang aku suka tidak berwarna-warni atau berbagai rasa. Cukup hanya campuran air, kopi, dan gula. Aku pikir kopi rasa mocca, campuran susu, dan berbagai macam rasa kopi lainnya bukanlah kopi murni, dan identitasnya sudah bukan kopi lagi. Memang sih campuran kopi-gula juga bisa dikatakan bukan kopi murni, tetapi setidaknya keaslian kopi masih terasa.
Aku penikmat kopi rumahan (jangan salah baca jadi murahan), dan terkadang minum kopi di angkringan jika sedang mau menikmati udara malam. Mau kopi berkelas atau kopi bungkusan dari warung, rasanya lebih nikmat bikin sendiri. Apalagi jika kekasih yang buat, rasanya makin manis, dan sayangnya itu hanya sekedar khayalan. Atau dibuatin mantan, rasanya pun berubah jadi rasa kenangan, haha... Pernah coba masuk kafe dengan harga kopi yang tidak murah, paling murah sekitar 6-12 ribu rupiah per cangkir -penawaran harga di setiap kafe berbeda-, tetapi kesannya konyol, tetap saja yang aku minum rasa kopi. Dengan harga sebesar itu, aku bisa bikin kopi lebih dari lima cangkir di rumah. Memang diriku bukanlah maniak kopi yang rela berburu kopi sejauh dan semahal apapun. Gaya hidup setiap orang berbeda.
Kenal lebih dekat dengan kopi, membuatku merasakan gejala penyakit di tubuh. Aku tidak sekuat dulu, mudah kaget, jantung berdetak kencang, lemas, mudah masuk angin, dll. Baca di internet, ternyata beberapa gejala yang dirasakan dekat dengan penyakit jantung. Sedikit terpaksa, aku lepaskan kebiasaan minum kopi, padahal belum lama jadi minuman rutin sehari-hari. Wajar jika timbul beberapa gejala penyakit, karena dalam sehari biasa menghabiskan kopi tiga cangkir.
Kebiasaan lama minum teh kembali dilakukan sebagai pengganti kopi. Namanya juga kebiasaan, rasanya ada yang kurang jika tidak ada minuman selain air putih. Hampir setiap malam menghabiskan satu teko kecil teh manis. Seduh teh selalu tidak tanggung-tanggung, tidak seperti kopi yang hanya secangkir, disebabkan faktor finansial dan sifat dari kedua minuman tersebut. Di warung, teh lebih murah daripada kopi, dan jika menyeduh satu sendok kopi dan teh, maka hasilnya lebih banyak teh.
Kebiasaan tersebut tidak berlangsung lama, karena jasadku diserang gejala gula darah. Awalnya, aku terlalu sering kencing. Sepertinya, setiap gelas air yang diminum, tidak butuh waktu lama menjadi kencing. Aku kira itu sehat, dan sebenarnya sempat ragu, tetapi tetangga meyakinkanku jika sering kencing itu bagus. Dilanjutkan dengan gejala lain bahwa luka luarku sulit kering. Tidak seperti biasanya, karena dulu luka luar bagiku bukanlah masalah, cepat kering sebesar apapun lukanya. Namun, untuk kali ini aku dibuat khawatir, karena beberapa luka luar berukuran kecil pun tak kunjung kering. Puncaknya, ada satu luka yang lama kering dan semakin membesar, ditambah bengkak di sekitarnya. Semakin merasa ada yang tidak beres, luka tersebut tak sembuh-sembuh selama satu bulan lebih. Setelah tanya internet, ternyata teh dan kopi bukanlah penyebab utama berbagai gejala di tubuh, melainkan gula lah yang menjadi sumber penyakit. Porsi gula yang aku campur pada setiap minuman cukup banyak, bahkan sebagian kawan berkomentar terlalu manis. Sebenarnya gula tersebut bukan satu-satunya penyebab gejala penyakit. Lebih tepatnya, setiap gejala yang timbul dikarenakan jarangnya mengolah raga. Menurutku gula baik bagi tubuh, dengan syarat aktifitas yang dilakukan seimbang sesuai pasokan gula ke dalam tubuh.
Beberapa hari sempat berhenti minum teh dan kopi, tetapi tidak berlangsung lama. Kebiasaan yang berubah menjadi kebutuhan, sebentar lagi masuk ke alam candu. Minuman utama adalah kopi, dan penggantinya adalah teh jika persediaan kopi habis. Sebelum tubuh dan mentalku rusak parah, ada baiknya lihat penjelasan di beberapa artikel. Ternyata kopi tidak terlalu buruk bagi tubuh, bahkan sebagian ada yang menyatakan bahwa kopi bisa mengurangi gejala diabetes. Artikel tersebut rasanya jadi penolong lidah yang sedang rindu berat terhadap kopi. Akhirnya, kebiasaan minum kopi pun kembali dilakukan. Satu cangkir kopi adalah minuman rutin setiap hari. Berharap tidak berujung menjadi pecandu berat. Bedanya dari yang dulu, campuran gula pada kopi dikurangi, dan pahitnya kopi lebih kuat daripada manis gula, bahkan kerabatku bilang jika kopiku pahit tanpa gula. Dulu campuran tersebut bukanlah gayaku, tetapi sekarang malah lebih nikmat jika rasa pahit kopi cukup kuat di lidah, walaupun belum berani menghilangkan campuran gula sepenuhnya. Aneh, kebiasaan yang tidak bisa dijelaskan, begitu saja menyukai kopi agak pahit, dan lebih aneh lagi kebiasaan pahit tersebut berpengaruh pada penyajian teh.
Sepanjang tahun 2011-2016, aku rasa euforia dan gengsi lingkungan sekitar terhadap kopi makin meningkat. Mungkin dugaanku salah, dan memang salah karena dari dulu sudah banyak bertebaran kafe, tetapi bedanya sekarang makin meriah, sampai tersedia kafe buat kalangan menengah ke bawah dengan tawaran harga kopi paling murah sekitar 6-12 ribu rupiah per cangkir. Entah mengapa perhatianku pada dunia kopi jadi lebih dalam. Mungkin karena aku telah berkawan dengan kopi. Sesuai dengan apa yang aku perhatikan, dalam tahun-tahun tersebut mulai banyak bermunculan kafe kecil atau kedai kopi di Yogya, dan pengunjungnya pun tidak sedikit. Hampir saingan dengan angkringan dan burjo, padahal harga di angkringan lebih murah, ditambah bonus sikap kesederhanaan, ramah tamah, dan bersahabat dari pihak penjual maupun pengunjung lain.
Entah apa yang menyebabkan euforia kopi lebih meningkat di lingkungan sekitar. Mungkin hanya aku yang merasa seperti itu. Meningkatnya minat terhadap kopi, mungkin disebabkan oleh buku Filosofi Kopi karya Dee. Lebih meriah lagi ketika buku tersebut dijadikan film yang dirilis tahun 2015 lalu. Seperti itulah sebagian generasi muda Indonesia, lebih suka mengikuti tren yang sedang hangat di layar kaca. Seperti halnya ketika buku 5 cm difilmkan, mendadak banyak orang yang ingin mendaki gunung, termasuk di dalamnya para wanita.
Karena literatur Filosofi Kopi kah peminat kopi semakin meningkat? Entahlah, aku sendiri belum pernah baca buku Filosofi Kopi. Hanya cari informasi di internet untuk menghilangkan rasa penasaran, dan katanya buku tersebut merupakan antologi prosa. Filmnya pun belum pernah aku tonton, padahal pernah ditayangkan di tv, tetapi aku lebih memilih pergi keluar rumah, malas nunggu lama-lama di depan tv. Film tentang kopi yang pernah aku tonton adalah Coffee and Cigarettes, film yang bagiku absurd karena keunikannya, dan mungkin bagi orang lain cukup membosankan.
Peningkatan minat terhadap kopi, aku rasakan juga ketika salah satu stasiun tv menayangkan acara Viva Barista. Tayangan sabtu sore bergaya reality show atau film dokumenter. Bagiku, penyajian tayangan tersebut cukup berat, karakter penyajiannya terlalu kuat, sehingga tidak ringan untuk dinikmati. Walaupun demikian, tayangan tersebut bagiku menarik, daripada nonton drama roman yang menggelikan. Dua jempol bagi Viva Barista.
Peningkatan minat terhadap kopi disertai pula dengan gengsi, bahkan menjadi life style bagi sebagian pihak. Sekarang gengsi tidak hanya dimiliki oleh kalangan menengah ke atas, melainkan kalangan menengah ke bawah pun dapat ikut serta dalam adu gengsi. Hal tersebut dikarenakan banyak kafe bermunculan dengan penawaran harga kopi yang cukup terjangkau, walaupun nyatanya tidak lebih murah dari angkringan. Aku juga aneh, kenapa banyak pihak yang lebih memilih kafe daripada angkringan. Memang sih kafe menawarkan banyak varian kopi, tetapi jika bukan penikmat berat kopi dan hanya berniat adu gengsi, maka buat apa masuk kafe, lebih baik ke angkringan saja, irit ongkos. Modernitas membuat gaya hidup berubah. Biarlah, bukan hakku menentukan jalan hidup orang lain. Setiap orang berbeda dan berhak menentukan jalan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar