Kamis, 17 Maret 2016

(SYAIR TANPA JUDUL) TENTANG AKIBAT RAJIN DAN MALAS

Di suatu hari saya membuka kembali materi ilmu puisi untuk keperluan pribadi. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak bergumul dengan ilmu sastra, jadi wajar jika sedikit lupa. Tidak sengaja dapat contoh puisi yang membuatku tertarik. Kebetulan isinya berhubungan dengan pemalas sepertiku. Waktu itu juga saya abadikan dalam facebook, jika tidak salah tanggal 10 Oktober 2015, berharap dapat bermanfaat bagi banyak pihak dan terutama untuk diriku yang selalu berusaha melawan penyakit malas. Berikut puisinya:
Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas
(Iqbal)
Puisi yang unik, tanpa judul, hanya terdiri dari satu bait dan empat larik. Karya goresan pena tersebut ditulis oleh Iqbal. Entah sastrawan asal mana, saya cari informasi di internet tidak ada keterangan yang jelas. Namun, ada tulisan yang menyatakan bahwa terdapat sastrawan Indonesia yang sukanya menerjemahkan puisi bahasa asing. Setelah saya telusuri, ternyata ada sastrawan yang berasal dari tanah Arab bernama Iqbal. Apakah Iqbal tersebut sama dengan Iqbal yang menulis puisi di atas? Apakah sebenarnya puisi tersebut aslinya memiliki judul? Saya tidak paham, yang jelas puisinya memberikan pesan yang sangat baik, terutama berguna untuk saya sebagai pemalas akut.

Mari bedah pesan apa yang terdapat dalam puisi karya Iqbal. Larik pertama, “hari ini tak ada tempat berdiri”, bagiku merupakan penggalan larik yang bodoh. Dunia yang begitu luas, masa tidak ada sejengkal tempat pun untuk berdiri? Namun, jangan terlalu cepat menyimpulkan persoalan. Seperti kalimat di dalam paragraf, larik di dalam puisi pun saling terikat dengan larik-larik lain dalam satuan bait, bahkan berhubungan dengan keseluruhan larik dalam bait jika dalam puisi lebih dari satu bait. Larik pertama dalam puisi tersebut adalah keterangan pembuka. Jika diperhatikan secara keseluruhan, seperti memiliki alur maju, merangsang di bagian awal kemudian diikuti berbagai konflik. Anehnya, pemecahan konflik atau pemecahan persoalan dalam puisi tersebut justru berada di setiap bagian. Memang puisi bukanlah prosa yang beralur, tetapi puisi juga merupakan salah satu bentuk komunikasi atau penyampaian pesan yang mesti dimengerti oleh pihak selain pembuat puisi.

Yang dimaksud “hari ini tak ada tempat berdiri” adalah kapan pun dan di mana pun. Diksi yang hebat, untuk menuliskan waktu dan tempat yang tidak terbatas hanya ditulis dalam sepenggal larik yang pendek. Khusus pada bagian “tak ada tempat berdiri” memiliki makna lebih, bahwa manusia harus terus gerak, melakukan aksi, bukan berdiam diri tanpa ada aktifitas walaupun hanya sejenak. Jadi, penggalan tersebut tidaklah bermakna asli yang menyatakan bahwa benar-benar tidak ada tempat berdiri, melainkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan berbagai aktifitas yang baik. Berdiam diri untuk istirahat adalah baik, karena manusia memerlukan istirahat untuk mengumpulkan energi supaya aktifitasnya berjalan baik. Namun, jangan jadikan istirahat sebagai alasan yang menutupi niat buruk bermalas-malasan, karena banyak pihak terutama saya sendiri menyalahgunakan istirahat sebagai kesempatan untuk bermalas-malasan. Sebaiknya, jika raga terasa cukup berenergi, maka kerjakan apapun yang bisa dikerjakan. Dunia begitu luas, pasti selalu ada yang bisa dikerjakan walaupun tidak ada tugas sekolah ataupun tugas kantor. Malas itu penyakit, jika membuka ruang sedikit pun untuk menempatkan sikap malas, maka cepat atau lambat akan menjadi penyakit yang menggerogoti setiap bagian tubuh. Tidak ada obat yang cukup ampuh untuk melawan virus malas, hanya bisa dilawan dengan cara melawan diri sendiri, dan itu tidaklah mudah. Berbahagialah bagi yang tidak mengenal malas, dan jangan pernah coba untuk merasakan malas.

Larik kedua, “sikap lamban berarti mati”, sepenggal larik yang terlalu berlebihan. Kematian bukan disebabkan oleh sikap lamban, tetapi hal tersebut adalah urusan Tuhan. Memang sepertinya setiap larik berisi kata-kata yang berlebihan. Gaya bahasanya ekspresionisme, penuh tekanan yang ditekankan. Supaya tidak ada penjelasan yang diulang-ulang, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu bahwa sebagian besar pemakaian bahasa puisi tidaklah bermakna asli. Sebagian kata bermakna asli, tetapi dicampur dengan kata bermakna lain yang memerlukan konteks dan kemampuan menafsirkan. Penuh penggunaan diksi dan gaya bahasa yang berujung pada rima, dan akhirnya demi menjaga keindahan dalam bangun puisi yang utuh.

Penggalan “sikap lamban” bermakna asli sekaligus mewakili makna lain yang hampir serupa dengannya. Penggalan tersebut bisa bermakna asli sikap lamban, juga bermakna sikap bermalas-malasan seperti hanya berbaring seharian, berdiam diri, melamun, di depan layar tv dan gadget seharian, tidur bukan pada waktunya dan tidak sesuai porsi, ahli menunda, dan setiap aktifitas tidak berguna yang hanya membuang-buang waktu. Setiap orang bisa membedakan hal baik dan buruk, tetapi sensitifitasnya berbeda. Misal, setiap orang paham bahwa belajar adalah baik, dan bermain seharian tanpa belajar adalah buruk. Namun, ada baiknya dalam membedakan baik dan buruk untuk berdiskusi dengan orang terdekat, bisa kepada orang yang lebih tua karena pengalaman hidupnya lebih banyak, terutama kepada orang tua yang tidak akan memberikan nasihat buruk kepada anaknya.

Adapun penggalan “berarti mati”, merupakan akibat buruk dari “sikap lamban”. Mati dalam artian bahwa diri banyak mengalami ketertinggalan dalam hal apapun. Bahkan mungkin jika tidak segera diperbaiki, maka hanya akan menjadi gumpalan daging yang seumur hidupnya tidak berguna di dunia. Sulit mendapatkan pekerjaan, bingung memulai pekerjaan, tidak kreatif, dan ujungnya masuk pada dunia kemiskinan. Sudah tidak bermanfaat ditambah lagi miskin, lebih baik mati saja karena hanya mengotori indahnya bumi. Contoh realnya seperti di dunia perkuliahan, orang yang rajin garap skripsi tidak memerlukan waktu lama untuk lulus. Walaupun secara ilmu kurang menguasai, tetapi jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, maka setiap kesulitan bukanlah masalah. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkannya. Kata-kata tersebut tidak dibatasi hanya bagi sebagian pihak, berlaku bagi siapa pun yang melakukannya. Adapun orang yang suka menunda garap skripsi, maka akan jauh tertinggal dari teman-temannya. Temannya sudah lulus S2, bahkan ada yang sudah menggenggam kemapanan hidup, tetapi dia masih berkutat dengan skripsinya di S1. Secerdas apapun dalam penguasaan materi, tetapi jika tidak disertai dengan aksi, maka tetap saja tidak akan menghasilkan karya, hanya tetap menjadi bentuk perencanaan dalam dunia khayalan.

Larik ketiga, “siapa yang bergerak, merekalah yang di depan”, sepertinya tidak perlu dijelaskan lebih, contohnya seperti yang telah dijelaskan di atas mengenai mahasiswa skripsi di dunia perkuliahan. Bagi siapa pun yang melakukan aksi dengan sungguh-sungguh, dia akan bergerak jauh di depan meninggalkan orang pemalas yang kerjaannya ahli menunda dan melakukan aktifitas kurang bermanfaat.

Larik keempat, “yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas”, merupakan akibat dari larik kedua dan ketiga. Menurutku, secara keseluruhan struktur puisi tersebut sangat baik. Larik pertama adalah perangsang permalasahan, larik kedua adalah konflik negatif, larik ketiga adalah konflik positif, dan larik keempat adalah akibat dari larik kedua dan ketiga. Sebenarnya hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena seperti yang telah dijelaskan bahwa setiap larik adalah pemecahan persoalan, setiap larik memiliki pesan dan merupakan kesatuan makna yang tidak bisa dipisahkan. Penggalan “yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas” menunjukkan bahwa orang yang melakukan aktifitas pada larik kedua akan tergilas oleh orang yang melakukan aktifitas pada larik ketiga. Mirip hukum rimba, siapa yang terkuat dialah pemenang. Apalagi di era kapitalis dan liberalis seperti sekarang ini, mengharuskan setiap orang bersikap rajin dan cerdas, karena persaingan hidup sangatlah tinggi. Semakin modern, kehidupan manusia semakin menyerupai binatang. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, siapa pun yang melawan arus zaman, maka dia akan tergilas. Seperti ikan salmon yang melawan arus aliran sungai, maka tidak hanya arus sungai yang menjadi tantangan, melainkan harus menghadapi beruang yang selalu siap menangkap ikan salmon ketika meloncat kegirangan melawan arus. Setiap orang itu berbeda, berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Saya sendiri lebih memilih melawan arus zaman, entah di masa depan akan tergilas atau tidak, tidak terlalu dipedulikan karena masa depan itu misteri, yang penting melakukan aksi sebaik mungkin di masa sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar