Di suatu hari saya membuka kembali materi ilmu puisi untuk
keperluan pribadi. Sudah bertahun-tahun lamanya tidak bergumul dengan ilmu
sastra, jadi wajar jika sedikit lupa. Tidak sengaja dapat contoh puisi yang
membuatku tertarik. Kebetulan isinya berhubungan dengan pemalas sepertiku. Waktu
itu juga saya abadikan dalam facebook, jika tidak salah tanggal 10 Oktober 2015,
berharap dapat bermanfaat bagi banyak pihak dan terutama untuk diriku yang
selalu berusaha melawan penyakit malas. Berikut puisinya:
Hari ini tak ada tempat berdiri
Sikap lamban berarti mati
Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan
Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas
(Iqbal)
Puisi yang unik, tanpa judul, hanya terdiri dari satu bait
dan empat larik. Karya goresan pena tersebut ditulis oleh Iqbal. Entah sastrawan
asal mana, saya cari informasi di internet tidak ada keterangan yang jelas. Namun,
ada tulisan yang menyatakan bahwa terdapat sastrawan Indonesia yang sukanya
menerjemahkan puisi bahasa asing. Setelah saya telusuri, ternyata ada sastrawan
yang berasal dari tanah Arab bernama Iqbal. Apakah Iqbal tersebut sama dengan
Iqbal yang menulis puisi di atas? Apakah sebenarnya puisi tersebut aslinya
memiliki judul? Saya tidak paham, yang jelas puisinya memberikan pesan yang
sangat baik, terutama berguna untuk saya sebagai pemalas akut.
Mari bedah pesan apa yang terdapat dalam puisi karya Iqbal. Larik
pertama, “hari ini tak ada tempat berdiri”, bagiku merupakan penggalan larik
yang bodoh. Dunia yang begitu luas, masa tidak ada sejengkal tempat pun untuk
berdiri? Namun, jangan terlalu cepat menyimpulkan persoalan. Seperti kalimat di
dalam paragraf, larik di dalam puisi pun saling terikat dengan larik-larik lain
dalam satuan bait, bahkan berhubungan dengan keseluruhan larik dalam bait jika
dalam puisi lebih dari satu bait. Larik pertama dalam puisi tersebut adalah
keterangan pembuka. Jika diperhatikan secara keseluruhan, seperti memiliki alur
maju, merangsang di bagian awal kemudian diikuti berbagai konflik. Anehnya,
pemecahan konflik atau pemecahan persoalan dalam puisi tersebut justru berada
di setiap bagian. Memang puisi bukanlah prosa yang beralur, tetapi puisi juga merupakan
salah satu bentuk komunikasi atau penyampaian pesan yang mesti dimengerti oleh
pihak selain pembuat puisi.
Yang dimaksud “hari ini tak ada tempat berdiri” adalah kapan
pun dan di mana pun. Diksi yang hebat, untuk menuliskan waktu dan tempat yang
tidak terbatas hanya ditulis dalam sepenggal larik yang pendek. Khusus pada
bagian “tak ada tempat berdiri” memiliki makna lebih, bahwa manusia harus terus
gerak, melakukan aksi, bukan berdiam diri tanpa ada aktifitas walaupun hanya sejenak.
Jadi, penggalan tersebut tidaklah bermakna asli yang menyatakan bahwa benar-benar
tidak ada tempat berdiri, melainkan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin
dengan berbagai aktifitas yang baik. Berdiam diri untuk istirahat adalah baik,
karena manusia memerlukan istirahat untuk mengumpulkan energi supaya
aktifitasnya berjalan baik. Namun, jangan jadikan istirahat sebagai alasan yang
menutupi niat buruk bermalas-malasan, karena banyak pihak terutama saya sendiri
menyalahgunakan istirahat sebagai kesempatan untuk bermalas-malasan. Sebaiknya,
jika raga terasa cukup berenergi, maka kerjakan apapun yang bisa dikerjakan. Dunia
begitu luas, pasti selalu ada yang bisa dikerjakan walaupun tidak ada tugas
sekolah ataupun tugas kantor. Malas itu penyakit, jika membuka ruang sedikit
pun untuk menempatkan sikap malas, maka cepat atau lambat akan menjadi penyakit
yang menggerogoti setiap bagian tubuh. Tidak ada obat yang cukup ampuh untuk
melawan virus malas, hanya bisa dilawan dengan cara melawan diri sendiri, dan
itu tidaklah mudah. Berbahagialah bagi yang tidak mengenal malas, dan jangan
pernah coba untuk merasakan malas.
Larik kedua, “sikap lamban berarti mati”, sepenggal larik
yang terlalu berlebihan. Kematian bukan disebabkan oleh sikap lamban, tetapi hal
tersebut adalah urusan Tuhan. Memang sepertinya setiap larik berisi kata-kata
yang berlebihan. Gaya bahasanya ekspresionisme, penuh tekanan yang ditekankan. Supaya
tidak ada penjelasan yang diulang-ulang, ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu
bahwa sebagian besar pemakaian bahasa puisi tidaklah bermakna asli. Sebagian kata
bermakna asli, tetapi dicampur dengan kata bermakna lain yang memerlukan konteks
dan kemampuan menafsirkan. Penuh penggunaan diksi dan gaya bahasa yang berujung
pada rima, dan akhirnya demi menjaga keindahan dalam bangun puisi yang utuh.
Penggalan “sikap lamban” bermakna asli sekaligus mewakili
makna lain yang hampir serupa dengannya. Penggalan tersebut bisa bermakna asli
sikap lamban, juga bermakna sikap bermalas-malasan seperti hanya berbaring seharian,
berdiam diri, melamun, di depan layar tv dan gadget seharian, tidur bukan pada
waktunya dan tidak sesuai porsi, ahli menunda, dan setiap aktifitas tidak berguna
yang hanya membuang-buang waktu. Setiap orang bisa membedakan hal baik dan
buruk, tetapi sensitifitasnya berbeda. Misal, setiap orang paham bahwa belajar
adalah baik, dan bermain seharian tanpa belajar adalah buruk. Namun, ada
baiknya dalam membedakan baik dan buruk untuk berdiskusi dengan orang terdekat,
bisa kepada orang yang lebih tua karena pengalaman hidupnya lebih banyak, terutama
kepada orang tua yang tidak akan memberikan nasihat buruk kepada anaknya.
Adapun penggalan “berarti mati”, merupakan akibat buruk dari
“sikap lamban”. Mati dalam artian bahwa diri banyak mengalami ketertinggalan
dalam hal apapun. Bahkan mungkin jika tidak segera diperbaiki, maka hanya akan
menjadi gumpalan daging yang seumur hidupnya tidak berguna di dunia. Sulit
mendapatkan pekerjaan, bingung memulai pekerjaan, tidak kreatif, dan ujungnya
masuk pada dunia kemiskinan. Sudah tidak bermanfaat ditambah lagi miskin, lebih
baik mati saja karena hanya mengotori indahnya bumi. Contoh realnya seperti di
dunia perkuliahan, orang yang rajin garap skripsi tidak memerlukan waktu lama
untuk lulus. Walaupun secara ilmu kurang menguasai, tetapi jika dikerjakan
dengan sungguh-sungguh, maka setiap kesulitan bukanlah masalah. Barang siapa
yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkannya. Kata-kata tersebut tidak
dibatasi hanya bagi sebagian pihak, berlaku bagi siapa pun yang melakukannya. Adapun
orang yang suka menunda garap skripsi, maka akan jauh tertinggal dari
teman-temannya. Temannya sudah lulus S2, bahkan ada yang sudah menggenggam
kemapanan hidup, tetapi dia masih berkutat dengan skripsinya di S1. Secerdas apapun
dalam penguasaan materi, tetapi jika tidak disertai dengan aksi, maka tetap saja
tidak akan menghasilkan karya, hanya tetap menjadi bentuk perencanaan dalam
dunia khayalan.
Larik ketiga, “siapa yang bergerak, merekalah yang di depan”,
sepertinya tidak perlu dijelaskan lebih, contohnya seperti yang telah
dijelaskan di atas mengenai mahasiswa skripsi di dunia perkuliahan. Bagi siapa
pun yang melakukan aksi dengan sungguh-sungguh, dia akan bergerak jauh di depan
meninggalkan orang pemalas yang kerjaannya ahli menunda dan melakukan aktifitas
kurang bermanfaat.
Larik keempat, “yang menunggu sejenak sekalipun pasti
tergilas”, merupakan akibat dari larik kedua dan ketiga. Menurutku, secara
keseluruhan struktur puisi tersebut sangat baik. Larik pertama adalah
perangsang permalasahan, larik kedua adalah konflik negatif, larik ketiga
adalah konflik positif, dan larik keempat adalah akibat dari larik kedua dan
ketiga. Sebenarnya hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena seperti yang
telah dijelaskan bahwa setiap larik adalah pemecahan persoalan, setiap larik
memiliki pesan dan merupakan kesatuan makna yang tidak bisa dipisahkan. Penggalan
“yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas” menunjukkan bahwa orang yang
melakukan aktifitas pada larik kedua akan tergilas oleh orang yang melakukan
aktifitas pada larik ketiga. Mirip hukum rimba, siapa yang terkuat dialah
pemenang. Apalagi di era kapitalis dan liberalis seperti sekarang ini,
mengharuskan setiap orang bersikap rajin dan cerdas, karena persaingan hidup
sangatlah tinggi. Semakin modern, kehidupan manusia semakin menyerupai
binatang. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, siapa pun yang melawan arus zaman,
maka dia akan tergilas. Seperti ikan salmon yang melawan arus aliran sungai,
maka tidak hanya arus sungai yang menjadi tantangan, melainkan harus menghadapi
beruang yang selalu siap menangkap ikan salmon ketika meloncat kegirangan melawan
arus. Setiap orang itu berbeda, berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Saya
sendiri lebih memilih melawan arus zaman, entah di masa depan akan tergilas
atau tidak, tidak terlalu dipedulikan karena masa depan itu misteri, yang
penting melakukan aksi sebaik mungkin di masa sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar