Rabu, 30 Maret 2016

TRIBUTE TO RAPA’I IMABA FIB UGM

Tulisan ini adalah salah satu poject gagal untuk dibukukan. Sebenarnya tulisan belum selesai, karena tim project memutuskan untuk tidak melanjutkan, dan dampaknya membuatku malas untuk menyelesaikan tulisan. Daripada jadi sampah data di harddisk, lebih baik aku permak untuk mengisi blog, walaupun sebenarnya cerita masih belum selesai karena faktor malas. Tulisan ini juga merupakan perasaanku yang sebenarnya terhadap tim Rapa’i. Sekarang aku anggota pasif, sudah lama tidak kumpul tim, bahkan tidak kenal anggota baru. Namun, selalu ada rasa rindu untuk kembali bergabung. Mudah-mudahan tim tersebut masih menerimaku di kemudian hari. Berharap bisa bermain lagi. Terima kasih kepada tim yang sampai sekarang aku anggap masih menganggapku sebagai anggota, karena sampai sekarang aku masih diberi informasi lewat sms oleh tim, walaupun aku tidak pernah menanggapi informasi secara serius, dan tidak tahu siapa admin yang baru.
 
***
 
Rapa’i... !!? Bengong, aneh, dan segala bentuk keterkejutan yang selalu pakai tanda seru (!) muncul pada saat pertama kali dengar rapa’i. Memang agak alay sih ekspresinya, dan perlu diapresiasi dengan menampar penulis karena tulisan busuk ini, itu juga jika sempat tak sengaja ketemu di jalan. Aku salah satu anggota tim tari Rapa’i Geleng. Bagi sebagian orang, tim tari tersebut dikenal dengan sebutan iklan shampo. Sebutan itu hadir karena gerakan tarinya yang menggeleng-gelengkan kepala, sehingga membuat rambut para penari berkibar-kibar, melambai-lambai, bergejolak, berombak-ombak, atau apalah sebutannya pusing… (apalagi rambutku yang terawat indah dan selalu masuk salon tiap harinya, salon anjing maksudnya…).
 
Ceritanya aku melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta. Kebetulan saat masa orientasi ada segerombol anak muda yang menampilkan kesenian tari asal Aceh di atas panggung. Sebelumnya sudah tahu kalau itu tarian yang masyarakat umum asal Sunda mengenalnya dengan nama tari saman. Namun, saman yang ini agak aneh. Pada tariannya menggunakan alat musik seperti rebana. Tim tari Rapa’i Geleng menyebut alat itu dengan nama rapa’i. Pokoknya, waktu mereka tampil, para mahasiswa baru yang sedang mengikuti masa orientasi terpukau disertai tepuk tangan yang meriah.
 
Sedikit pun aku tidak tertarik dengan tarian itu. Tari apaan coba!? Bagi orang-orang sepertiku, tarian itu seperti tarian yang jika aku mempelajarinya bakal malu untuk menampakkan diri di depan umum, karena itu not cool1. Sampai ketika aku mengikuti awal perkuliahan, delegasi dari tim Tari Rapa’i Rampoe IMABA FIB UGM2 datang masuk kelas untuk memberikan informasi open recruitment3. Delegasi yang namanya tidak diketahui langsung menunjuk salah seorang dari mahasiswa untuk mengurus pendaftaran penerimaan anggota baru. Kegelisahan muncul antara kedua pilihan, daftar dengan konsekuensi berani menerima kehidupan baru yang jika dilihat dari sisi ekonomi, sosial, dan politik tidak memberikan keuntungan, atau memilih untuk tidak peduli tentang keberadaan tim Tari Rapa’i Rampoe IMABA FIB UGM.
 
---
1Cool: (1) Menurut orang alay, kata tersebut merupakan sinonim dari kata ganteng/keren; (2)Bagi orang berpendidikan yang alay, kata cool timbul dari sebuah government yang masyarakatnya terkena gejala penyakit selalu disukai banyak lawan jenis karena sebuah intuisi bawaan lahir dan faktor keturunan yang mendukung, dan di daerah Sunda kata tersebut sering disalahgunakan sebagai kata kasep/geulis; (3) Menurut kamus bahasa Inggris edisi lengkap sejuta kosa kata, kata cool berarti dingin.
2Tari Rapa’i Rampoe IMABA FIB UGM adalah nama (yang sangat panjang) bagi komunitas tari Aceh yang bermarkas di Sastra Arab distrik Fakultas Ilmu Budaya UGM. Adalah nama yang pertama aku kenal, dan tim tari Rapa’i adalah bagian dari komunitas tersebut. Konon nama komunitas yang panjang membentang tersebut sekarang telah diganti lebih pendek. Lagi-lagi dan lagi-lagi aku ketinggalan informasi. Wajar karena aku jarang kumpul karena faktor kegelisahan publik. Kegelisahan publik merupakan kegelisahan yang menimpa kelompok di dalam sebuah government, disebabkan sebuah intuisi yang disetujui oleh setiap individu kelompok tersebut. Di kalangan kampus, hal tersebut dikenal dengan sebutan acara. Acara yang menyibukkan mahasiswa sehingga nilai IPK terjun dari lantai gedung pertamina FEB UGM paling atas ke dasar laut.
3Hal yang patut digarisbawahi, bahwa open recruitment merupakan sebuah instuisi dalam sebuah government tatkala sebuah komunitas membuka peluang lowongan bagi mahasiswa yang ingin bergabung dengan komunitas tersebut. Pada saat itulah para komunitas memberikan informasi yang gombal serta janji manis untuk menarik massa lebih banyak. Waspadalah anak muda!
---
 
Salah satu tujuanku masuk perkuliahan adalah merubah idiologiku yang kolot. Juga membuktikan teori relatifitas pada kehidupanku yang memang sudah relatif enggak jelas. Memang aneh jika pernyataanku adalah melakukan hal yang aku sendiri tidak mau melakukannya. Namun, aku berhasil melakukannya. Bergabung dengan tim tari rapa’i merupakan langkah awal dalam merubah hidup ke sisi yang lebih baik. Disebut langkah awal karena memang itulah hal yang pertama dilakukan dalam melakukan hal yang aku tidak suka. Sampai ketika latihan pertama kali dengan para senior, salah seorang senior menanyakan alasan yang membuatku bergabung. Aku jawab pertanyaan itu sejujur mungkin, seadanya, seilmiah, serealitas, semampunya, sesanggupnya, di bawah panji agama dan bangsa, bahwa aku bergabung dengan tim tari untuk melakukan hal yang aku tidak suka. Jawaban yang membuat dia bengong. Mungkin dia menyangka bahwa masih ada saja orang sepertiku yang sok, agak tolol, dan beruntung masih bisa hidup di bumi pertiwi.
 
Masa awal latihan, gerakan tubuhku kaku. Mungkin penyebabnya rasa tidak percaya diri yang mempengaruhi aliran darah serta sel-sel otak, sehingga tumpukan daging yang digerakan oleh rohku yang lemah ini lupa untuk bergerak (sok jadi anak MIPA & pemuda masjid, busuk…!). Masalah ini memang harus dipecahkan, sampai teori relatifitas yang aku terapkan pada kehidupan baruku di kampus berjalan sempurna.
 
Belum satu semester di perkuliahan, bukannya belajar dengan baik dan benar supaya jadi manusia yang cerdas, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat, tetapi waktuku untuk belajar telah direbut oleh latihan tari rapa’i. Latihan yang menjadikan sempurna bagi pola hidupku di samping makan hidangan 4 sehat 5 sempurna4. Lumayan, hal itu bakal menjadi salah satu alasanku untuk membela diri dari terpuruknya ujian semesterku di kampus, sehingga ibuku segan untuk marah dengan nasihat yang panjang kepada anaknya yang terbaik ini.
 
---
44 sehat 5 sempurna: (1) nasi yang banyak; (2) telur; (3) sayur; (4) kuah gule tanpa daging biar gratis; dan (5) murah (perfect).
---
 
Tarian rapa’i mulai merebut perhatianku. Berawal dari sekedar latihan, sampai rasa ini berubah untuk mengincar penampilan di atas panggung. Yah, semua yang bergabung dengan tim Rapa’i pasti mempunyai rasa untuk mencoba tampil di atas panggung. Awalnya aku tidak tertarik untuk ikut-ikutan tampil. Sampai akhirnya ada perasaan tertantang oleh kawan yang belajar tariannya lebih cepat, dan aku harus mengejar ketertinggalan tersebut.
 
Masih belum sadar ketika hanya sebagian orang yang terus dilatih untuk benar-benar bisa. Aku dan kawan yang terpilih masih terus dilatih sampai bisa walaupun di hari libur. Ternyata kabar gembira baru masuk di telingaku, yang sebenarnya aku ketinggalan informasi (mungkin enggak fokus dengar waktu adanya penyampaian informasi), dan hanya menjawab “iya, bisa…” ketika diajak latihan. Latihan tersebut dimaksudkan untuk penampilan perdanaku di sebuah acara.
 
Tidak-tidak tapi iya5, perasaan itulah yang berulang-ulang disampaikan kepada senior ketika dapat informasi tampil. Namun, beneran loh, sebenarnya sifatku yang lembut ini lebih mengutamakan teman6. Lebih senang jika semua teman terlebih dahulu tampil di atas panggung, daripada senior mengurus pemalas sepertiku. Pemalas yang malas latihan mandiri di kamar, pemalas yang sering ketinggalan gerakan tari dari kawannya, pemalas yang selalu telat datang latihan. Atas dasar kesabaran dan kebaikan senior, mereka terus membimbingku untuk menemukan jalan yang lurus, sampai imanku kuat menahan bisikan setan yang terkutuk, terharu aku, apa sih...!!?.
 
---
5Tidak-tidak tapi iya, secara bahasa merupakan sinonim dari pribahasa malu-malu tapi mau. Secara istilah merupakan idioma dari penafsiran sebuah intuisi yang hinggap pada diri manusia dalam sebuah government, yang menyatakan ikut sertanya personal pada gagasan dan ajakan sebuah kelompok, tetapi bibir dari personal tersebut menyebutkan pernyataan “tidak”, dan tentunya bertolak belakang dengan kelakuan realistis yang bisa dikatakan bahwa personal tersebut menyatakan “iya”.
6Sifat lembut lebih mengutamakan teman yang dimaksud contohnya: (1) masalah kelompok, temanlah yang diutamakan untuk mengurusnya; (2) masalah nyontek ketahuan sampai se-RT ricuh, pasti teman yang disalahkan; (3) masalah iman sampai korek teman banyak yang hilang aku kantongin, malah setan yang disalahin. Busuk…!.
---

Tiba saatnya tampil di atas panggung. Itulah penampilan pertamaku bersama tim tari yang fenomenal. Penampilan yang mengharuskanku kelihatan sempurna sampai nongkrongin cermin lebih dari 5 menit. Penampilan yang membuat para penari bulak-balik kamar mandi hanya untuk basahin rambut. Penampilan yang ternyata harus melakukan hal paling jijik bagi para pejantan tangguh. Sampai bibirku harus mengeluarkan kata busuk “jiaaahhh…!!!”, ketika mukaku harus dilumuri powder berwarna putih (bedak), sampai dipaksa oleh seorang teman karena aku menolak dengan keras untuk membela diri. Aku sadar sih kalau kulitku yang lembut ini berwarna agak hitam. Akan tetapi, bukan berarti demi kenyamanan para penonton dan harga diri tim mengharuskanku untuk mengoleskan make up pada wajahku yang imut ini. Sampai terenggutnya harga diriku dan aku bingung dengan kesucianku yang sudah terambil, dengan pasrah mukaku yang selalu aku rawat sepenuh hati dilumuri serbuk-serbuk kimia spesialis mempercatik wajah yang laris di pasaran tradisional. Konyolnya, temanku yang berani make up sendiri, wajahnya jadi berwarna pink. Cocok mangkal di lampu merah MM UGM untuk menambah uang saku tim tari bilamana ongkos tampil tidak mencukupi untuk laundry baju yang basah karena keringat, kecuali bajuku yang tetap wangi bagaikan udara sejuk di pagi hari. Maka belilah pemoles wajah di apotek terdekat, supaya wajah Anda tetap sehat dengan perpaduan warna yang tepat.
 
Penampilan tari pertama di depan publik, mengawali penampilan-penampilan lain di tempat dan jam berbeda. Aku bukanlah penari profesional, tetapi tetap berusaha untuk selalu menampilkan yang sempurna di atas panggung. Sering tampil di depan publik bukan berarti terhindar dari kesalahan pada saat menari. Yah begitulah…, hampir di semua penampilanku selalu kacau karena banyak kesalahan yang benar-benar tidak direncakanan. Karena kejahatan itu terjadi bukan atas dasar niat pelakunya, tetapi karena adanya kesempatan. Maka ibu-ibu harus memahami konsep dasar psikologi, karena bagus untuk pertumbuhan si anak, ngawur...
 
Kesalahan penampilan di atas panggung tidak menjadikanku murung, malu, takut, meriang, flu, batuk-batuk, terganggunya pencernaan, dan gangguan janin. Karena aku orangnya government banget, sehingga intuisi dalam kehidupanku dapat diperhitungkan. Teringat ketika ibu tidak membelikanku mainan di waktu kecil. Dia dengan menahan tangis di hatinya memarahiku karena aku terus menerus minta mainan yang sedang trend di kampung. Sampai aku terpaksa dan senang hati mengumpulkan uang jajanku yang tidak seberapa, dan dibelikan mainan yang sangat aku impikan. Sekarang aku sudah dewasa (mungkin), mampu menentukan mana arah yang benar (dengan cara bertanya ke penduduk setempat), dan bisa memilih jalan hidupku sendiri. Aku mengerti bahwa ibuku dulu mendidik anak kesayangannya dengan cara yang sulit dimengerti oleh si anak. Aku mengerti dia melatihku supaya mandiri, dan menguatkan hati kecilku yang rapuh terhadap permasalahan sosial. Menguatkan hati karena di samping ibuku tidak membelikan mainan, teman kecilku di kampung mengejekku dengan ejekan yang dilarang oleh agama dan peraturan RT setempat. Inilah aku yang cakep, ramah, dan disayang mertua, semuanya terjadi karena pengaruh pelajaran-pelajaran ibuku di masa lalu. Walaupun sekarang aku sering melakukan kesalahan dalam tarian di atas panggung, tetapi aku tetap tegar di balik bayang-bayang kasih cinta seorang ibu terhadap anaknya.
 
Basi, busuk, tidak berkelas, tidak government banget, intuisi-nya terlepas, dan tidak layak dibaca masyarakat modern. Seharusnya tulisan ini lebih melankolis, dramatis, pokoknya harus Korea banget biar disukai pembaca. Semua itu ada saatnya, kisah ini belum sampai ke titik akhir. Diharapkan untuk tetap sabar dalam menghadapi segala penderitaan, karena Tuhan mencintai orang-orang yang sabar. Menjaga kebersihan tetap nomor satu.
 
Terhitung sudah lebih dari 9 bulan aku bergabung dengan tim Tari Rapa’i Rampoe IMABA FIB UGM, dan seharusnya ibu-ibu hamil sudah melahirkan anak yang dikandungnya. Mendali emas, perak, berbagai piala, dan uang tunai miliyaran rupiah sudah diraih7. Namun, aku bukanlah anggota DPR yang tidak pernah bosan nongkrongin masalah bangsa. Penyakit orang rajin dan cerdas sepertiku adalah malas, dan penyakit itu merusak hubungan harmonisku dengan tim. Aku malas latihan, malas datang tepat waktu untuk latihan, malas dengarin kata latihan, dan malas baca sms yang pasti isinya latihan. Latihan sudah menjadi mimpi buruk yang mengganggu tidur nyenyakku di atas kasur kesayangan berseni tinggi, tertera lukisan seperti awan di hamparan kasur busa dengan harga tidak diketahui di pasaran, maksudnya bekas iler. Berbagai faktor alasan yang kurang ilmiah digunakan untuk menghindari latihan. Mungkin jenuh dan butuh udara segar, sehingga perlu warna baru di dalam tim sebagai penyemangat. Namun, bukan hanya itu penyebab dari kemalasan tersebut. Adanya kegiatan lain sehingga sulit membagi waktu untuk kedua urusan adalah alasan paling utama.
 
---
7Ngarep banget…! Mohon kalimat yang berawalan “mendali” untuk digarisbawahi dan diterapkan teknik antonim sesuai pemahaman masing-masing.
---
 
Menjauh saat dekat, dan rindu saat tidak mendengar dentuman rebana (rapa’i) dalam tarian. Merasa kehilangan. Ada sesuatu yang hilang ketika waktu memisahkanku cukup lama dari tim. Tarian tersebut seperti narkotika yang menghipnotis pemakainya. Addict, sehingga ada rasa selalu ingin kembali untuk menari dan menabuh semua bagian rapa’i. Harusnya mahasiswa kedokteran meneliti tarian tersebut, sampai menghasilkan jawaban ada atau tidak adanya zat adiktif dalam tari saman rapa’i. Sangat disayangkan bahwa tarian tidak termasuk jenis obat-obatan atau penyakit. Mungkin rasa candu terhadap tari rapa’i hanyalah perasaanku saja, perasaan yang teman-teman dari tim belum tentu memilikinya. Aku percaya bahwa rasa candu ini tidak hanya aku yang mengalami. Aku akan kembali di saat aku pergi, karena tim ini adalah keluarga pertamaku di kampus.
 
 
 
Bersambung... Semoga di kemudian hari dapat dilanjutkan.
 
Special thanks to Toni Blank atas intuisi dan government-nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar