Senin, 22 Februari 2016

BERANI BEDA DARI LIBURAN BIASA

Masih ada hubungannya dengan hari-hari Bertapa Di Musim Liburan. Jadi sebenarnya aktifitas yang dilakukan waktu itu cukup banyak, tidak hanya bertapa, sebagiannya liburan keluarga, Menelusuri Selatan Bandung, dan lain-lain yang tidak dituliskan. Aktifitas mayornya bertapa, dan minornya adalah aktifitas dadakan.

Entah kenapa, tidak biasanya di satu hari merasa ingin cepat-cepat mengakhiri pertapaan di Srewen. Kebetulan di rumah sedang ada keluarga kakak, mungkin aku rindu pada anaknya sehingga ingin cepat ke rumah, si Izz keponakan pertama yang belum bisa aku dekati sepenuhnya. Butuh proses tahapan pengenalan yang cukup lama, karena kami sangat jarang bertemu. Yang membuatku senang waktu itu adalah dia tidak terlalu takut, bahkan main bola bareng.
 
Setelah pulang dari pertapaan, di rumah sedang makan pagi bersama, dan tiba-tiba ibu mengajakku jalan-jalan. Dadakan sekali, bahkan aku sempat ragu, karena bagiku hal yang dilakukan dadakan disertai tergesa-gesa resiko kerugiannya sangat tinggi. Adik pertamaku tidak mau ikut, mungkin dia punya firasat buruk, atau mungkin tidak menarik baginya. Di tengah keraguan, aku pun memutuskan ikut dengan harapan penuh keberuntungan. Walaupun sempat hampir batal ketika melihat kondisi mobil tidak memungkinkan untuk ditambah satu orang sepertiku. Ditambah ragu ketika ke rumah nenek, ajak dia pergi malah menolak, padahal dia awalnya tamu istimewa, dan mungkin aku tamu yang tidak diharapkan untuk jalan-jalan. Waktu itu juga aku memutuskan tidak ikut, tetapi ibuku telepon untuk ikut, dan secara senang karena sedikit dipaksa aku pun ikut. Lagi pula jarang-jarang pergi ke luar bareng keluarga, kesempatan yang sangat jarang terjadi untuk wisata bersama.

Di tengah perjalanan menuju ke rumah kakak sudah disuguhi macet, pertanda buruk. Banjaran dan sekitarnya terkenal dengan macetnya. Perlu dijelaskan, awalnya kakak sekeluarga pulang terlebih dahulu ke Banjaran, dan kami menjemputnya, karena arah wisata sejalur dengan rumahnya. Tujuan wisata adalah Situ Cileunca. Sebelumnya aku tak tahu itu daerah mana, padahal masih dalam kawasan Bandung Raya, tidak menarik bagiku untuk mengunjunginya.

Situ Cileunca (Dok. Infobdg.com)

Indah bukan? Jangan lupa, gambar di era virtual sekarang bisa direkayasa, tingkat kejujuran dipertanyakan. Memang benar-benar menipu, sampai ke sana disuguhi mendung disertai hujan. Paling tragisnya, air di sana sama sekali kosong. Sebesar itu bisa kosong. Indah sekali, wisata hujan dengan kosongnya air di Situ Cileunca. Kami hanya makan di tenda pinggiran Situ dengan air hujan yang mampu tembus tenda sampai alas basah. Sayangnya aku tidak ambil gambar sebagai dokumentasi kenang-kenangan. Buat apa juga ambil gambar yang tidak layak diambil sebagai tempat wisata yang kebetulan sedang cedera. Setelah tanya ke penjaga setempat, ternyata bendungan sedang diperbaiki. Pelayanan yang kurang cerdas, kenapa juga tempat wisata harus dibuka jika sedang cacat, dan bodohnya lagi kami bayar untuk masuk ke area tersebut.

Di Situ Cileunca tidak lama, setelah makan langsung pulang walaupun kondisi masih hujan. Tujuan wisata langsung pindah ke tempat yang mungkin bisa mengobati rasa kecewa. Langsung menuju pemandian air panas Cibolang-Pangalengan. Jika tidak salah Situ Cileunca juga masih Pangalengan, tetapi jarak dengan Cibolang cukup jauh. Hampir sampai ke area pemandian air panas, perjalanan disuguhi hektaran perkebunan teh. Hebat sekali bung, lebih suka jika wisata di sana saja. Sayangnya aku hanya penumpang gelap yang hanya ikut tanpa layak berkomentar dan memberi saran sedikit pun. Alhamdulillah bisa sampai selamat ke Cibolang dengan membayar tiket yang nominal uangnya tidak kecil.

Pemandian Air Panas Cibolang (Dok. berduakelilingindonesia.com)
 
Pemandian Air Panas Cibolang (Dok. panoramio.com)

Berharap bisa berendam di kolam dengan waktu yang cukup lama, tetapi nyatanya dari awal datang sampai pulang disuguhi berkah hujan tanpa henti, ditambah kondisi air yang aromanya tidak lebih baik dari secangkir kopi. Mudah-mudahan hujan merupakan berkah bagi jutaan umat manusia. Bagiku hujan bukan masalah, masih bisa berendam sepuasnya. Tanpa persiapan yang layak, aku pun berendam hanya dengan celana tanpa cadangan. Tidak perlu bingung, bisa beli celana pendek di toko setempat, dengan sedikit kecewa karena harganya tiga kali lipat dengan harga di pasar. Wisata yang berujung perampokan keuangan keluarga. Bonusnya tidak mandi, fasilitas kamar ganti (plus mandi) tidak membuatku berselera. Sekali lagi, tidak mengambil gambar di Cibolang, karena tidak ada yang menarik untuk diabadikan.

Bagi yang lemah iman, mungkin bisa gila seminggu karena wisata yang “begitu menakjubkan”. Mungkin imanku juga lemah, tetapi aku senang-senang saja, wisata gratis bersama keluarga yang sangat jarang dilakukan, this is a moment. Begitu banyak kejutan yang membuatku merasa “inilah wisata luar biasa yang belum pernah aku lakukan seumur hidup”. Hujan dari pertama masuk Pangalengan sampai pulang, dikecewakan dengan kondisi tempat wisata yang ah... terlalu, dan banyak lagi kejadian fenomenal yang belum pernah aku alami ketika berwisata di waktu dan tempat lain. Hebatnya, ketika sampai pulang ke Cicalengka, sedikit pun tidak ada tetesan hujan, dan semakin membuatku tersenyum dengan senyuman mixed emotions.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar