Kamis, 18 Februari 2016

ORANG GILA YANG LEBIH WARAS DARIPADA YANG DIANGGAP WARAS

Aku sendiri tersindir dengan judul yang aku pilih. Bukan tentang slogan “lebih baik menjadi orang gila yang sadar akan kegilaannya, daripada menjadi orang waras yang tidak sadar akan kewarasannya”. Akan tetapi, gila dalam arti sebenarnya, orang yang benar-benar terkena penyakit jiwa.

Pertengahan Februari 2016 aku pulang ke Bandung dengan mengendarai kendaraan umum. Bukan malas mengendarai sepeda motor, tetapi kakiku sedang terkena akibat dari penyakit dalam, tidak baik jika diajak berpetualang. Salah satu penyebabku pulang adalah penyakit tersebut, dan ada juga penyebab lain, bahkan lebih dari tiga penyebab, hal-hal yang mengharuskanku pulang untuk menghindari kehidupan monoton yang penuh kejenuhan. Entah harus pulang menggunakan bus atau kereta, yang penting perjalanan harus pagi. Pikiran dan hatiku berharap mudah-mudahan menemukan sesuatu yang baru, memaksakan diri untuk mendapatkan pelajaran di perjalanan.

Sudah lama tidak menggunakan kendaraan umum. Terkejut ketika cek tarif kereta dan bus melalui internet. Hampir dua kali lipat dari ongkos perjalanan menggunakan sepeda motor. Lebih terkejut lagi ketika melihat tarif kereta (ekonomi), harganya dua kali lipat dari tarif terakhir kali aku menaiki kereta, hampir sebanding dengan tarif bus kelas bisnis. Setelah timbang-menimbang, aku lebih memilih bus kelas bisnis andalan, Budiman, nyaman dan tidak terlalu jenuh seperti di kereta. Itu hanya seleraku, mungkin selera orang lain berbeda.

Perjalanan yang cukup menyegarkan pikiran. Dari awal mengharuskanku berangkat pagi. Mengendarai bus Trans Jogja yang jarang aku menaikinya ke terminal Giwangan. Terhitung, sampai saat ini baru tiga kali menaiki Trans Jogja, dan sampai sekarang tidak paham nomor bus yang harus dinaiki berdasarkan jalurnya. Kemarin saja ikuti saran dari penjaga halte dan kondektur untuk sampai ke Giwangan dari Kopma UGM.

Dalam perjalanan menuju Bandung tidak ada yang lebih menarik daripada isi pokok cerita dari judul tulisan ini. Selain itu, hanya beberapa membuatku sedikit tertarik, hal yang sebelumnya sudah aku ketahui tetapi masih ingin kembali melihatnya. Seperti kebun kecil pepaya california di pinggir jalan entah daerah mana. Pohon yang cukup menarik, ukuran pendek dengan buah pepaya yang begitu banyak di setiap pohonnya. Tidak banyak hal menarik, karena memang sudah sering melalui jalur menuju Bandung. Sebagian waktu digunakan untuk tidur, cukup sering, bukan lama karena tidurku sebentar tetapi beberapa kali. Padahal aku ingin menikmati setiap langkah perjalanan, untuk lebih mengenal jalur, karena mungkin si bus masuk ke jalur yang belum pernah aku lewati.

Menjelang sampai di Bandung, kebetulan ada orang gila yang menarik perhatianku. Mungkin di daerah Garut karena sudah cukup jauh meninggalkan markas besar Budiman di Tasik, dan mungkin juga masih daerah Tasik, pokoknya daerah sekitar sana lah. Alamat lengkap tidak sempat aku tulis, efek terkesima melihat si orang gila. Bahkan tidak terpikirkan untuk ambil gambar pada apa yang dilakukan si gila, padahal itu merupakan momentum yang tepat dan mungkin tidak pernah lagi ditemukan. Kebetulan si bus berhenti di sampingnya, jadi aku bisa melihatnya dengan mataku yang waras. Dasar sakit jiwa, kemana-mana baju compang-camping, badan kusam tingkat tinggi tak pernah mandi, urus diri sendiri saja tidak becus, tetapi kok hidup dan secara fisik terkesan sehat. Aku juga mungkin gila karena suka memperhatikan orang-orang sakit jiwa. Mereka adalah spesies unik, dan setiap individunya memiliki ciri khas sendiri. Ada yang suka telanjang bulat, ada yang suka minta rokok, ada yang sekilas waras tetapi langsung berubah ke habitatnya, ada yang ramah, dan ahh... perhatian sekali aku pada mereka. Adapun ciri khas dari si gila yang dimaksud adalah membawa sapu lidi dan kantong kresek yang lumayan besar. Jangan salah paham, dia bukan tukang jual sapu dan kresek, tetapi hanya si gila dengan atributnya.

Aku merasa gagal jadi orang waras. Perasaan itu muncul ketika melihat aktifitas si gila mengumpulkan sampah di pinggir jalan dengan sapu lidinya, kemudian memasukannya ke dalam kresek tanpa sedikit pun yang tersisa di tanah kecuali mungkin serpihan-serpihan kuman. Mulia sekali si gila itu, lebih mulia lagi ketika orang-orang waras di sekitarnya mengabaikan. Pengabaian yang mungkin terjadi karena anggapan bahwa si gila adalah orang sakit jiwa. Dia tidak meminta pujian, perhatian, upah, ucapan terima kasih, hadiah, hanya fokus pada aktifitasnya membersihkan sampah di pinggir jalan. Di negeri ini apa saja bisa terjadi (sepenggal lirik Mungkin – Iwan Fals). Orang gila yang semestinya diberdayakan di Indonesia ketika penduduknya mengidap penyakit konsumtif kurang disiplin dan gagal paham terhadap lingkungan.

Sebenarnya siapa yang gila? Bagiku tidak tepat jika si gila dianggap tidak waras. Ok, physically tidak nyaman dipandang, tetapi kesadarannya terhadap lingkungan cukup gila (maksud: hebat; mengagumkan). Mungkin dia malaikat atau orang kaya dermawan yang sedang menyamar. Tanpa dihantui gengsi dia berusaha membersihkan bumi dari kotoran orang-orang yang dianggap waras. Atau mungkin orang-orang waraslah yang tidak waras. Masih banyak masyarakat yang menganggap setiap jengkal bumi merupakan tempat sampah. Aku juga mengakui kesalahanku sering membuang puntung rokok sembarangan. Masih banyak orang-orang waras, berpendidikan tinggi, tetapi tidak lebih waras dari si gila. Para pengusaha tekstil membuang limbahnya ke sungai sampai menghitam bau busuk, ditambah masyarakat buang sampah (termasuk kotoran kimia) ke sungai sampai airnya tak layak pakai dan ikan-ikan mati. Ada yang disiplin buang sampah, tetapi hanya sekedar buang di depan rumah dan bayar supaya ada yang membawanya. Tidak tahukah mereka bahwa penampungan tempat bernaung sampah tersebut semakin menggunung.

Orang gila yang waras. Yang tidak waras adalah tukang gorengan di perhentian bus. Masa gorengan dihargai Rp 2000/biji. Di kota Yogya saja paling mahal yang pernah aku beli haganya Rp 1000/biji, dan itu adalah gorengan kelas A secara bobot, kelas B-nya adalah bakwan, tahu isi, goreng tempe, dll yang dihargai Rp 500/biji. Untung hanya beli tiga. Sebagai penikmat gorengan bagiku harga seperti itu tidak fair. Mungkin aku harus membentuk Asosiasi Gorengan Jawa Barat, AGJB saingannya LGBT, supaya bentuk, rasa, dan harga setiap gorengan selalu terpantau. Sebenarnya ini paragraf tak penting, hanya bentuk kekecewaanku, barang kali saja ada yang setia dan bersedia baca setiap keluh kesah.

Tidak ada ujungnya jika terus-menerus membahas kesalahan manusia, apalagi yang berada di bawah sistem sosial-politik yang tidak waras. Disebabkan si gila yang tidak waras itu, jadi terpikirkan olehku mengenai kebodohanku. Salah satu tujuan hidupku adalah seperti yang dilakukan si gila. Akan tetapi, pikiranku tentang aktifitas tersebut melangkah terlalu jauh. Padahal bisa memulainya seperti si gila, dimulai dari yang terdekat, membersihkan sampah di mana pun aku melihatnya. Aku terlalu banyak berpikir, menentukan lokasi penampungan sampah, perizinan pada pemerintah setempat, karyawan, teknologi pengurai sampah, dan yang paling menghambat adalah kapan skripsiku selesai supaya bisa mulai menjalankan tumpukan misi suci. 

Mudah-mudahan si gila yang diragukan ketidakwarasannya menjadi suri teladan bagi setiap orang yang melihat aksinya. Jika sebenarnya waras, aku berharap dia diberi rezeki yang baik di dunia dan mendapat kemenangan di akhirat. Mudah-mudahan setiap orang yang melihatnya menjadi waras, sadar akan lingkungan, membersihkan setiap sampah yang dilihat. Sehingga anak cucu generasi masa depan diwarisi sikap sadar lingkungan, membersihkan sampah sampai ke akar-akarnya. Dengan demikian sampah masyarakat pun semakin lama semakin berkurang, berharap hilang. Semoga hilang sampah masyarakat kelas non-organik, seperti plastik, kaca, seng, besi, dll. Semoga hilang sampah masyarakat kelas organik, seperti kulit pisang, sampah dapur, pepaya busuk, pencuri kelas teri, pencuri kelas kakap yang kursinya di gedung DPR, mafia migas, mafia kelapa sawit, pecinta kebakaran, dll. Semoga yang selama ini dianggap waras adalah benar-benar waras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar