Senin, 22 Februari 2016

HOI SUNDA MUDA! KALIAN BERASAL DARI BANGSA YANG BESAR

Sebelumnya mohon maaf, bukan bermaksud untuk mengobarkan kebencian antar suku atau merendahkan suku non-Sunda. Ini hanyalah bentuk kepedulianku terhadap sesama manusia yang termakan gengsi dan malu atas asal-usulnya sendiri, khususnya bagi para pemuda. Padahal budaya itu kekayaan, identitas, dan bangsa yang hebat adalah ketika budayanya berpengaruh sekaligus mempengaruhi bangsa lain. Jangan disamakan budaya dengan kesenian saja, karena yang aku rasakan selama ini di media ataupun sosial sekitar menganggap bahwa budaya adalah hal yang berbau seni. Yang aku pahami dari pelajaran Antropologi di SMA mengenai budaya, bahwa budaya merupakan segala aktifitas dari suatu bangsa atau kelompok manusia, tidak dibatasi oleh seni. Itu hanya kesimpulanku saja dari apa yang aku pelajari, dan mungkin salah besar. Sumber yang aku pegang sampai sekarang berasal dari definisinya Koentjaraningrat mengenai 7 unsur kebudayaan universal. Terima kasih kepada Pak Nandang yang mengenalkan tokoh beserta ilmunya ketika belajar Antropologi di SMA Bina Muda Cicalengka. Tak perlu aku jelaskan apa isi dari 7 unsur tersebut, cari saja di google, dan Anda tafsirkan sendiri.

Sejarah cukup menarik perhatianku. Dulu sempat beranggapan bahwa ilmu tersebut tidak penting. Aku berpikir bahwa ilmu sejarah hanya mempelajari masa lalu dan membosankan. Beruntung sekarang pandanganku berubah, sejarah itu penting, sepenting apa yang harus dimasak untuk makan nanti malam. Mungkin membingungkan, sejarah dengan masak hubungannya apa? Itu hanya perumpamaan yang aku buat, dan mungkin masih banyak perumpamaan di luar sana yang lebih aneh. Sedikit aku jelaskan, merencanakan menu makan malam tidak semudah yang dibayangkan. Terdapat tiga masa dari hal tersebut, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Berpikir mengenai masakan untuk makan malam (yang berada dalam lingkup masa depan), berarti orang yang berpikir sedang berada di masa kini. Isi dalam pikiran adalah pertimbangan berdasarkan dana, selera, kebutuhan anggota keluarga, dan kebutuhan gizi. Untuk mempertimbangkan semua unsur tersebut tentunya harus berkaca pada masa lalu. Misalkan, jika di masa lalu (spesifiknya kemarin) harga telur Rp 500/butir dan masa kini hanya tersedia dana Rp 300, maka tidak mungkin beli telur dan tentunya menu makan malam pun bukan telur. Jika mempunyai udang untuk dimasak, tetapi telah mengetahui bahwa di masa lalu hampir semua anggota keluarga alergi udang, maka tidak mungkin udang dimasak dan tentunya menu makan malam pun bukan udang.

Jadi ingat candaan kawan ketika SMA, “pelajaran sejarah itu gak usah belajar, tanya saja sama kakek buyut di kuburan”. Para siswa durhaka, tetapi menyimpan kenangan yang menyenangkan.

Padanganku mengenai sejarah untuk saat ini adalah supaya menjadi hebat di masa depan dengan melakukan aktifitas di masa kini berdasarkan pertimbangan masa lalu. Orang yang tidak belajar dari sejarah ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan yang sama (salah satu kutipan yang aku lupa nama orangnya dan lupa dari sumber mana). Tidak hanya itu, pandanganku terhadap sejarah memiliki fungsi untuk menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri. Sebenarnya banyak juga fungsi lain yang aku rasakan, seperti menghilangkan rasa penasaran dengan cara menemukan jawaban, memanjakan hati ketika ingin membaca tulisan yang temanya bersinggungan dengan sejarah, dll.

Literatur mengenai satanic atau penyembah setan selalu menjadi tema yang menarik. Terhitung sejak lulus SMA sampai saat ini, lebih tepatnya dimulai ketika bergaul dengan internet. Entah itu berasal dari video atau tulisan yang kebenarannya dipertanyakan, semuanya aku lahap. Setelah menghubungkan dari berbagai sumber, hasilnya cukup memuaskan, mencengangkan, dan penuh misteri, walaupun sekarang masih penasaran karena kebenarannya masih diikuti tanda tanya. Satanic aku pilih sebagai label dari semua organisasi dan pemeluk yang dihubungkan dengan iblis, setan, dan segala sebutan bagi keduanya. Tak perlu diceritakan, rumit, pusing menentukan alur, tidak cukup dalam 5 lembar A4, dan memang tempatnya bukan dalam tulisan ini, tetapi sedikit ada kaitannya, khususnya mengenai Sunda. Setelah menelusuri mengenai dampak, perjalanan, dan sejarah satanic di berbagai situs internet, belum lama ini menemukan tulisan yang menghubungkannya dengan Sunda. Aku juga heran, itu teori konspirasi macam apa, Sunda hanyalah suku yang berdomisili di bagian barat pulau Jawa, tidak masuk akal jika dihubungkan dengan peristiwa besar dunia. Akan tetapi, sedikit ada benarnya juga jika dihubungkan dengan realitas kini.

Di luar tentang satanic, sejarah Sunda membuatku tertarik. Mulai dari kerajaan-kerajaan Sunda yang berkuasa di sebagian wilayah Nusantara, kemudian Tarumanegara sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang memakai bahasa Sunda dan Sansakerta, sampai yang menarik adalah perang Bubat. Kerajaan Sunda cukup kuat untuk menolak takluk pada Majapahit, tidak menyerah sampai nafas terakhir. Sampai akhirnya, terjadi tipu muslihat oleh Majapahit di tanahnya dalam perang Bubat, sangat tidak seimbang karena jumlah dari Sunda hanya sebatas iring-iringan pengantin. Konon tragedi tersebut terjadi bukan atas keinginan Hayam Wuruk, tetapi keserakahan Gajah Mada. Sangat tidak terpuji dan memalukan. Hebatnya, di saat keruntuhan Majapahit, Sunda masih berdiri di atas tanah kekuasaannya. Mirisnya, sebagai salah satu pemilik darah Sunda yang harus mengedepankan kehormatan, sekarang aku menimba ilmu di Gadjah Mada tanpa rasa dendam ketika sebagian saudara se-Sunda mungkin masih menyimpan dendam atas dasar harga diri. Mungkin peristiwa Bubat menyebabkan skripsiku tidak rampung sampai saat ini (pembelaan atas kebodohan pribadi).

Jauh dari cerita mengenai kerajaan, di internet ditemukan Sunda mengenai penyebutan wilayah dalam ilmu bumi yang mungkin sekarang tidak lagi berlaku. Kepulauan Sunda yang terbagi atas Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil, merupakan wilayah yang sangat besar. Kelompok Kepulauan Sunda Besar terdiri dari Kalimantan, Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Kelompok Sunda Kecil terdiri dari Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, Kepulauan Barat Daya, dan Kepulauan Tanimbar. Lengkapnya baca di kalangsunda.netwikipedia, atau cari sendiri. Alasan apa yang menjadikan wilayah sebesar itu dinamai kepulauan Sunda? Jika berdasarkan sejarah kerajaan Tarumanegara atau Sunda, jelas tidak mungkin karena kedua kerajaan tersebut wilayahnya tidak berpulau-pulau kecuali Jawa-Sumatra. Jika dulu wilayah sebesar itu dinamai Kepulauan Sunda, kenapa ujung-ujungnya dinamai Indonesia? Mungkin tujuannya untuk melunturkan dendam antar suku.

Betapa besarnya nama Sunda dalam sejarah. Sangat disayangkan ketika nama besar tersebut justru disikapi sebagai penyebab turunnya harga diri oleh sebagian pemuda Sunda sekarang. Rasanya malu jika memakai atribut Sunda (seluruh unsur kebudayaan) di kota-kota atau jika keluar daerah Sunda, terkesan kuno, ketinggalan zaman. Mulai bingung menentukan alur pembicaraan. Sebaiknya dimulai dari pakaian, bahasa, atau adat? Ok, dari bayi saja. Dimulai dari awal abad 21, sebagian besar anak kecil yang baru belajar bicara diajari bahasa non-Sunda oleh orang tuanya. Kenapa? Takut jika anaknya bisa bahasa Sunda? Jika masuk ke wilayah kota, walaupun masih di area Sunda, banyak pemuda lebih memilih bahasa non-Sunda, padahal yang diajak bicara orang Sunda. Tentang asmara, bukan aku loh, kisah teman sebelah, jika saling mengirimkan pesan atau telepon digunakan bahasa Ind.... maaf, non-Sunda, padahal mereka adalah pasangan Sunda. Tentang perantau Sunda, kisah nyata pribadi, awal kuliah dihadapkan pada beberapa muka yang aku anggap Sunda. Sedikit pancing tentang asal rumah mereka, dan ternyata daerahnya Sunda. Aku langsung tanya, bisa bahasa Sunda? Jawabannya, sebagian besar jawab tidak, dan sebagian kecil jawab bisa yang sampai sekarang jika ngobrol digunakan bahasa Sunda walaupun di depan kumpulan non-Sunda. Ok, tak apa sebagian besar jawab tidak, maklum biasanya daerah kota sudah luntur Sundanya. Akan tetapi, rasanya dibohongi ketika lambat laun waktu melaju ternyata satu persatu dari mereka kecolongan paham bahasa Sunda.

Tulisanku pun sekarang digunakan bahasa non-Sunda, apa sebenarnya aku tidak beda dari mereka? Tidak lah bung, ini mengacu pada keperluan lain. Ada saatnya Sunda dibanggakan, dan ada saatnya digunakan budaya lain dengan catatan Sunda sebagai kebanggaan.

Para pemuda Sunda yang tidak bangga dengan budayanya. Wajar jika penindasan, kebodohan, dan kemiskinan kerap terjadi. Mungkin bisa dijadikan pelajaran, Aceh pantang takluk pada pihak asing karena salah satu penyebabnya menjunjung tinggi adat. Begitu juga Bali, daerah yang sulit ditaklukan oleh pihak asing karena salah satu penyebabnya berpegang teguh pada adat. Jadi, atas dasar apa para pemuda tetap malu dengan identitas Sunda? Negara Indonesia tidak menyuruh melunturkan berbagai adat bangsanya sendiri. Buktinya sila ketiga adalah persatuan Indonesia, menandakan bahwa Indonesia dibentuk dari beberapa unsur. Jika alasannya karena Indonesia, menurutku tidak benar. Jika alasannya keinginan pribadi, menurutku itu benar sekali.

Menjadi bangsa terbelakang mungkin disebabkan tidak bangga pada budayanya. Tidak semua orang Sunda, tetapi sebagian besar yang aku lihat terkesan terbelakang. Harga diri, kehormatan bangsa, mental, semuanya hampir luntur. Pengangguran semakin banyak. Bagaimana tidak, sebagian besar yang aku lihat pemuda Sunda bergantung pada perusahaan kapitalis yang entah pemiliknya siapa. Sebagian besar pemuda Sunda bergantung pada pabrik-pabrik. Penghasilan dari semuanya tidak besar, tidak cukup untuk membangun rumah dalam jangka waktu 10 tahun, bahkan banyak yang dihantui PHK. Kenapa berani menggadaikan kehormatan sebagai bangsa Sunda hanya karena upah yang tidak besar? Tidak ingatkah bahwa Sunda itu bangsa yang besar, menjaga kehormatan dan harga diri, seperti pada perang Bubat yang berani melawan walaupun secara jumlah sangat tidak memungkinkan untuk menang. Seandainya budaya sendiri dipegang, terutama slogan harga diri dan kehormatan, seharusnya bangsa lainlah yang bergantung kepada Sunda, setidaknya memiliki pengaruh dan disegani. Entah kenapa budaya bisa luntur, sampai para pemuda Sunda hidupnya bergantung pada kaum kapitalis.

Kebodohan benar-benar terjadi pada bangsa yang besar ini. Seperti di daerah perkampungan, berani menjual tanah dan sawahnya kepada non-Sunda yang entah akan diolah jadi apa. Padahal sawah itu kekayaan, bisa lebih kaya dari orang yang hidupnya bergantung pada perusahaan kapital. Hal lain, jika orang terpandang tak jelas seperti turis atau blusukan datang ke daerah tersebut, maka reaksi yang terjadi adalah merendah diri. Benar-benar rendah, sampai cium tangan segala, keroyokan. Bangsa Sunda adalah bangsa ramah, tetapi jangan disamakan dengan rendah diri. Sebaiknya rendah hati, menjaga harga diri dan kehormatan, hanya menyapa dan menjamu dengan penuh wibawa. Jika si blusuk bersikap tak sesuai adat, sebaiknya sikapi dengan tegas sambil tunjukkan jari “Anda di daerah kami, hormati dan ikuti adat kami”.

Tidak sedikit juga yang mengidap kerusakan mental. Seperti halnya ketika ditawarkan untuk kuliah di perguruan tinggi ternama pada pemuda, dia hanya menjawab “aku hanya orang kampung, rasanya tidak pantas”. Ketegasan, harga diri, kehormatan, semuanya luntur, hanya tersisa kelemahan mental. Sebaiknya tidak peduli jika tanah bermukim berasal dari kampung, bukan masalah karena Sunda adalah bangsa yang besar, sudah terungkap dalam sejarah. Sebaiknya katakan, “aku dari Sunda, dan aku berhak jadi apapun di mana saja”. Tidak ingatkah ketika Sunda dengan tegas tidak akan menaklukkan diri sejengkal pun pada Majapahit, padahal pada masanya secara geografis 5 banding 1 (atau mungkin lebih), dan yang 1 adalah Sunda.

Hidup itu pilihan, tetapi lebih baik pilihlah yang baik-baik.

Sudah saatnya pemuda Sunda membuka mata dan bergerak. Junjung tinggi adat kebudayaan, harga diri, kehormatan, ketegasan, dan rendah hati. Tak perlu lagi menggantungkan hidup pada pihak lain. Sunda adalah bangsa mandiri, terbukti dengan besarnya nama Sunda dalam sejarah. Begitu juga bangsa-bangsa lain se-Indonesia, sebaiknya jadikan adat budaya sendiri sebagai prinsip hidup, tidak terbawa arus globalisasi. Supaya setiap bangsa bisa berkembang mandiri menjadi bangsa besar, kemudian disatukan dengan nama Indonesia, dan Indonesia pun menjadi negara super power yang tiang dan pondasinya adalah berbagai bangsa beserta budayanya. Entah cuman aku atau ada orang lain yang sependapat, bahwa hukum adat lebih baik daripada UUD yang carut marut berbenturan. Sepertinya tidak pernah dengar ada hukum adat yang menyengsarakan bangsanya sendiri.

Di balik itu semua, sebagai orang beragama aku lebih memilih jika umat manusia berada pada agama yang sama, agama Allah, taat kepada-Nya. Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kejelekan, walaupun sebagian agama ada yang disesatkan setan, dan yang disesatkan bukan agamanya, tetapi manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar