Sebelumnya
mohon maaf, bukan bermaksud untuk mengobarkan kebencian antar suku atau
merendahkan suku non-Sunda. Ini hanyalah bentuk kepedulianku terhadap sesama
manusia yang termakan gengsi dan malu atas asal-usulnya sendiri, khususnya bagi
para pemuda. Padahal budaya itu kekayaan, identitas, dan bangsa yang hebat
adalah ketika budayanya berpengaruh sekaligus mempengaruhi bangsa lain. Jangan
disamakan budaya dengan kesenian saja, karena yang aku rasakan selama ini di media
ataupun sosial sekitar menganggap bahwa budaya adalah hal yang berbau seni.
Yang aku pahami dari pelajaran Antropologi di SMA mengenai budaya, bahwa budaya
merupakan segala aktifitas dari suatu bangsa atau kelompok manusia, tidak
dibatasi oleh seni. Itu hanya kesimpulanku saja dari apa yang aku pelajari, dan
mungkin salah besar. Sumber yang aku pegang sampai sekarang berasal dari
definisinya Koentjaraningrat mengenai 7 unsur kebudayaan universal. Terima
kasih kepada Pak Nandang yang mengenalkan tokoh beserta ilmunya ketika belajar
Antropologi di SMA Bina Muda Cicalengka. Tak perlu aku jelaskan apa isi dari 7
unsur tersebut, cari saja di google, dan Anda tafsirkan sendiri.
Sejarah cukup
menarik perhatianku. Dulu sempat beranggapan bahwa ilmu tersebut tidak penting.
Aku berpikir bahwa ilmu sejarah hanya mempelajari masa lalu dan membosankan.
Beruntung sekarang pandanganku berubah, sejarah itu penting, sepenting apa yang
harus dimasak untuk makan nanti malam. Mungkin membingungkan, sejarah dengan
masak hubungannya apa? Itu hanya perumpamaan yang aku buat, dan mungkin masih
banyak perumpamaan di luar sana yang lebih aneh. Sedikit aku jelaskan,
merencanakan menu makan malam tidak semudah yang dibayangkan. Terdapat tiga
masa dari hal tersebut, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Berpikir mengenai
masakan untuk makan malam (yang berada dalam lingkup masa depan), berarti orang
yang berpikir sedang berada di masa kini. Isi dalam pikiran adalah pertimbangan
berdasarkan dana, selera, kebutuhan anggota keluarga, dan kebutuhan gizi. Untuk
mempertimbangkan semua unsur tersebut tentunya harus berkaca pada masa lalu.
Misalkan, jika di masa lalu (spesifiknya kemarin) harga telur Rp 500/butir dan
masa kini hanya tersedia dana Rp 300, maka tidak mungkin beli telur dan
tentunya menu makan malam pun bukan telur. Jika mempunyai udang untuk dimasak,
tetapi telah mengetahui bahwa di masa lalu hampir semua anggota keluarga alergi
udang, maka tidak mungkin udang dimasak dan tentunya menu makan malam pun bukan
udang.
Jadi ingat
candaan kawan ketika SMA, “pelajaran sejarah itu gak usah belajar, tanya
saja sama kakek buyut di kuburan”. Para siswa durhaka, tetapi menyimpan
kenangan yang menyenangkan.
Padanganku
mengenai sejarah untuk saat ini adalah supaya menjadi hebat di masa depan
dengan melakukan aktifitas di masa kini berdasarkan pertimbangan masa lalu.
Orang yang tidak belajar dari sejarah ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan
yang sama (salah satu kutipan yang aku lupa nama orangnya dan lupa dari sumber
mana). Tidak hanya itu, pandanganku terhadap sejarah memiliki fungsi untuk
menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri. Sebenarnya banyak juga fungsi lain
yang aku rasakan, seperti menghilangkan rasa penasaran dengan cara menemukan
jawaban, memanjakan hati ketika ingin membaca tulisan yang temanya
bersinggungan dengan sejarah, dll.
Literatur
mengenai satanic atau penyembah setan selalu menjadi tema yang menarik.
Terhitung sejak lulus SMA sampai saat ini, lebih tepatnya dimulai ketika
bergaul dengan internet. Entah itu berasal dari video atau tulisan yang
kebenarannya dipertanyakan, semuanya aku lahap. Setelah menghubungkan dari
berbagai sumber, hasilnya cukup memuaskan, mencengangkan, dan penuh misteri,
walaupun sekarang masih penasaran karena kebenarannya masih diikuti tanda
tanya. Satanic aku pilih sebagai label dari semua organisasi dan pemeluk
yang dihubungkan dengan iblis, setan, dan segala sebutan bagi keduanya. Tak
perlu diceritakan, rumit, pusing menentukan alur, tidak cukup dalam 5 lembar
A4, dan memang tempatnya bukan dalam tulisan ini, tetapi sedikit ada kaitannya,
khususnya mengenai Sunda. Setelah menelusuri mengenai dampak, perjalanan, dan
sejarah satanic di berbagai situs internet, belum lama ini menemukan
tulisan yang menghubungkannya dengan Sunda. Aku juga heran, itu teori
konspirasi macam apa, Sunda hanyalah suku yang berdomisili di bagian barat
pulau Jawa, tidak masuk akal jika dihubungkan dengan peristiwa besar dunia.
Akan tetapi, sedikit ada benarnya juga jika dihubungkan dengan realitas kini.
Di luar tentang
satanic, sejarah Sunda membuatku tertarik. Mulai dari kerajaan-kerajaan
Sunda yang berkuasa di sebagian wilayah Nusantara, kemudian Tarumanegara
sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang memakai bahasa Sunda dan Sansakerta,
sampai yang menarik adalah perang Bubat. Kerajaan Sunda cukup kuat untuk
menolak takluk pada Majapahit, tidak menyerah sampai nafas terakhir. Sampai
akhirnya, terjadi tipu muslihat oleh Majapahit di tanahnya dalam perang Bubat,
sangat tidak seimbang karena jumlah dari Sunda hanya sebatas iring-iringan
pengantin. Konon tragedi tersebut terjadi bukan atas keinginan Hayam Wuruk,
tetapi keserakahan Gajah Mada. Sangat tidak terpuji dan memalukan. Hebatnya, di
saat keruntuhan Majapahit, Sunda masih berdiri di atas tanah kekuasaannya.
Mirisnya, sebagai salah satu pemilik darah Sunda yang harus mengedepankan
kehormatan, sekarang aku menimba ilmu di Gadjah Mada tanpa rasa dendam ketika
sebagian saudara se-Sunda mungkin masih menyimpan dendam atas dasar harga diri.
Mungkin peristiwa Bubat menyebabkan skripsiku tidak rampung sampai saat ini
(pembelaan atas kebodohan pribadi).
Jauh dari
cerita mengenai kerajaan, di internet ditemukan Sunda mengenai penyebutan
wilayah dalam ilmu bumi yang mungkin sekarang tidak lagi berlaku. Kepulauan
Sunda yang terbagi atas Kepulauan Sunda Besar dan Kepulauan Sunda Kecil,
merupakan wilayah yang sangat besar. Kelompok Kepulauan Sunda Besar terdiri
dari Kalimantan, Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Kelompok Sunda Kecil terdiri dari
Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Timor, Kepulauan Barat Daya, dan
Kepulauan Tanimbar. Lengkapnya baca di kalangsunda.net, wikipedia,
atau cari sendiri. Alasan apa yang menjadikan wilayah sebesar itu dinamai
kepulauan Sunda? Jika berdasarkan sejarah kerajaan Tarumanegara atau Sunda,
jelas tidak mungkin karena kedua kerajaan tersebut wilayahnya tidak
berpulau-pulau kecuali Jawa-Sumatra. Jika dulu wilayah sebesar itu dinamai
Kepulauan Sunda, kenapa ujung-ujungnya dinamai Indonesia? Mungkin tujuannya
untuk melunturkan dendam antar suku.
Betapa besarnya
nama Sunda dalam sejarah. Sangat disayangkan ketika nama besar tersebut justru
disikapi sebagai penyebab turunnya harga diri oleh sebagian pemuda Sunda
sekarang. Rasanya malu jika memakai atribut Sunda (seluruh unsur kebudayaan) di
kota-kota atau jika keluar daerah Sunda, terkesan kuno, ketinggalan zaman.
Mulai bingung menentukan alur pembicaraan. Sebaiknya dimulai dari pakaian,
bahasa, atau adat? Ok, dari bayi saja. Dimulai dari awal abad 21, sebagian
besar anak kecil yang baru belajar bicara diajari bahasa non-Sunda oleh orang
tuanya. Kenapa? Takut jika anaknya bisa bahasa Sunda? Jika masuk ke wilayah
kota, walaupun masih di area Sunda, banyak pemuda lebih memilih bahasa
non-Sunda, padahal yang diajak bicara orang Sunda. Tentang asmara, bukan aku
loh, kisah teman sebelah, jika saling mengirimkan pesan atau telepon digunakan
bahasa Ind.... maaf, non-Sunda, padahal mereka adalah pasangan Sunda. Tentang
perantau Sunda, kisah nyata pribadi, awal kuliah dihadapkan pada beberapa muka
yang aku anggap Sunda. Sedikit pancing tentang asal rumah mereka, dan ternyata
daerahnya Sunda. Aku langsung tanya, bisa bahasa Sunda? Jawabannya, sebagian
besar jawab tidak, dan sebagian kecil jawab bisa yang sampai sekarang jika
ngobrol digunakan bahasa Sunda walaupun di depan kumpulan non-Sunda. Ok, tak
apa sebagian besar jawab tidak, maklum biasanya daerah kota sudah luntur
Sundanya. Akan tetapi, rasanya dibohongi ketika lambat laun waktu melaju
ternyata satu persatu dari mereka kecolongan paham bahasa Sunda.
Tulisanku pun
sekarang digunakan bahasa non-Sunda, apa sebenarnya aku tidak beda dari mereka?
Tidak lah bung, ini mengacu pada keperluan lain. Ada saatnya Sunda dibanggakan,
dan ada saatnya digunakan budaya lain dengan catatan Sunda sebagai kebanggaan.
Para pemuda
Sunda yang tidak bangga dengan budayanya. Wajar jika penindasan, kebodohan, dan
kemiskinan kerap terjadi. Mungkin bisa dijadikan pelajaran, Aceh pantang takluk
pada pihak asing karena salah satu penyebabnya menjunjung tinggi adat. Begitu
juga Bali, daerah yang sulit ditaklukan oleh pihak asing karena salah satu
penyebabnya berpegang teguh pada adat. Jadi, atas dasar apa para pemuda tetap
malu dengan identitas Sunda? Negara Indonesia tidak menyuruh melunturkan
berbagai adat bangsanya sendiri. Buktinya sila ketiga adalah persatuan
Indonesia, menandakan bahwa Indonesia dibentuk dari beberapa unsur. Jika
alasannya karena Indonesia, menurutku tidak benar. Jika alasannya keinginan
pribadi, menurutku itu benar sekali.
Menjadi bangsa
terbelakang mungkin disebabkan tidak bangga pada budayanya. Tidak semua orang
Sunda, tetapi sebagian besar yang aku lihat terkesan terbelakang. Harga diri,
kehormatan bangsa, mental, semuanya hampir luntur. Pengangguran semakin banyak.
Bagaimana tidak, sebagian besar yang aku lihat pemuda Sunda bergantung pada
perusahaan kapitalis yang entah pemiliknya siapa. Sebagian besar pemuda Sunda
bergantung pada pabrik-pabrik. Penghasilan dari semuanya tidak besar, tidak
cukup untuk membangun rumah dalam jangka waktu 10 tahun, bahkan banyak yang
dihantui PHK. Kenapa berani menggadaikan kehormatan sebagai bangsa Sunda hanya
karena upah yang tidak besar? Tidak ingatkah bahwa Sunda itu bangsa yang besar,
menjaga kehormatan dan harga diri, seperti pada perang Bubat yang berani
melawan walaupun secara jumlah sangat tidak memungkinkan untuk menang.
Seandainya budaya sendiri dipegang, terutama slogan harga diri dan kehormatan,
seharusnya bangsa lainlah yang bergantung kepada Sunda, setidaknya memiliki
pengaruh dan disegani. Entah kenapa budaya bisa luntur, sampai para pemuda
Sunda hidupnya bergantung pada kaum kapitalis.
Kebodohan benar-benar
terjadi pada bangsa yang besar ini. Seperti di daerah perkampungan, berani
menjual tanah dan sawahnya kepada non-Sunda yang entah akan diolah jadi apa.
Padahal sawah itu kekayaan, bisa lebih kaya dari orang yang hidupnya bergantung
pada perusahaan kapital. Hal lain, jika orang terpandang tak jelas seperti
turis atau blusukan datang ke daerah tersebut, maka reaksi yang terjadi
adalah merendah diri. Benar-benar rendah, sampai cium tangan segala, keroyokan.
Bangsa Sunda adalah bangsa ramah, tetapi jangan disamakan dengan rendah diri.
Sebaiknya rendah hati, menjaga harga diri dan kehormatan, hanya menyapa dan
menjamu dengan penuh wibawa. Jika si blusuk bersikap tak sesuai adat,
sebaiknya sikapi dengan tegas sambil tunjukkan jari “Anda di daerah kami, hormati
dan ikuti adat kami”.
Tidak sedikit
juga yang mengidap kerusakan mental. Seperti halnya ketika ditawarkan untuk
kuliah di perguruan tinggi ternama pada pemuda, dia hanya menjawab “aku
hanya orang kampung, rasanya tidak pantas”. Ketegasan, harga diri,
kehormatan, semuanya luntur, hanya tersisa kelemahan mental. Sebaiknya tidak
peduli jika tanah bermukim berasal dari kampung, bukan masalah karena Sunda
adalah bangsa yang besar, sudah terungkap dalam sejarah. Sebaiknya katakan, “aku
dari Sunda, dan aku berhak jadi apapun di mana saja”. Tidak ingatkah ketika
Sunda dengan tegas tidak akan menaklukkan diri sejengkal pun pada Majapahit,
padahal pada masanya secara geografis 5 banding 1 (atau mungkin lebih), dan
yang 1 adalah Sunda.
Hidup itu pilihan,
tetapi lebih baik pilihlah yang baik-baik.
Sudah saatnya
pemuda Sunda membuka mata dan bergerak. Junjung tinggi adat kebudayaan, harga
diri, kehormatan, ketegasan, dan rendah hati. Tak perlu lagi menggantungkan
hidup pada pihak lain. Sunda adalah bangsa mandiri, terbukti dengan besarnya
nama Sunda dalam sejarah. Begitu juga bangsa-bangsa lain se-Indonesia,
sebaiknya jadikan adat budaya sendiri sebagai prinsip hidup, tidak terbawa arus
globalisasi. Supaya setiap bangsa bisa berkembang mandiri menjadi bangsa besar,
kemudian disatukan dengan nama Indonesia, dan Indonesia pun menjadi negara super
power yang tiang dan pondasinya adalah berbagai bangsa beserta budayanya.
Entah cuman aku atau ada orang lain yang sependapat, bahwa hukum adat lebih
baik daripada UUD yang carut marut berbenturan. Sepertinya tidak pernah dengar
ada hukum adat yang menyengsarakan bangsanya sendiri.
Di balik itu
semua, sebagai orang beragama aku lebih memilih jika umat manusia berada pada
agama yang sama, agama Allah, taat kepada-Nya. Tidak ada satu agama pun yang
mengajarkan kejelekan, walaupun sebagian agama ada yang disesatkan setan, dan
yang disesatkan bukan agamanya, tetapi manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar